Amita Arunya

Amita Arunya
Memerhatikannya


__ADS_3

Bab 9


Petikan senar gitar berwarna coklat muda semakin terdengar sumbang. Berkali-kali Rayyan memutar tuning gitar agar suara yang dihasilkan sesuai dengan melodi yang di inginkan.


Kembali memeriksa badan gitar barangkali ada yang berlubang. Namun, nihil, semua terlihat baik.


Mira yang melihat anaknya sedang berkutat dengan gitarnya menjadi gemas, karena tak kunjung menyuarakan syairnya dengan baik. Meletakkan kembali pot yang siap ditanami bunga Mawar, lalu menghampiri Rayyan.


“Dirumah aja nggak keluar, Ray?” tanya Mira kepada anaknya. Memposisikan duduknya dan meraih majalah yang tersimpan di meja.



“Nanti sore, Ray keluar, ya, Ma,” pinta Rayyan.


“Boleh. Papa sekarang juga jarang nanyain kegiatan kamu, kok. Meski begitu, kamu juga harus jaga kepercayaan papa, Ray.” Mira tersenyum menepuk bahu anaknya.


“Ray tahu, kok, Ma. Lagian, Ray juga kalau keluar paling ke tempat Arif.” Rayyan meletakkan gitarnya di kursi yang kosong.


“Ray mau mandi dulu, deh, gerah.” Beranjak dari duduknya lalu mengarahkan kakinya belalu dari teras rumahnya.


Mira hanya tersenyum seperginya Rayyan dari kursinya.


Setelah berbicara dari hati ke hati kepada suaminya, memberikan pengertian agar tak terlalu mengekang Rayyan, usahanya berbuah manis.


Kini bahkan nilai yang selalu dilaporkan oleh wali kelasnya terhitung membaik.


Mira yakin anaknya yang selalu terkekang membuat belajarnya kacau.


Dengan saran dari wali kelasnya untuk mendekati Rayyan selayaknya teman maka akan menambah kedekatan dan rasa terbuka kepada orang tua. Maka, jika rasa nyaman yang dirasakan anak akan mempengaruhi pola belajar yang nyaman.


***


Di dalam kamar bernuansa doraemon dari sprei dan bantal dengan warna senada. Arunya dengan senang hati mendengar curhatan dari Lela yang tengah mempunyai pacar.

__ADS_1


Bantal dan guling tengah menjadi sasaran pukulan gemasnya jika saja Lela sedang bercerita tentang temannya yang juga menyukai pacarnya. Lucunya cinta monyet.


"Si Mia, udah tau Sidiq itu pacar aku. Masih juga di deketin. Sebel kan aku." Lela menggerutu merebahkan badannya. Tangannya tak berhenti memukuli guling yang tidak bersalah.


Arunya menyimak dan sesekali memberikan masukan. Dirinya yang tidak pernah berpacaran, sedikit banyak semakin tahu permasalahan seputar cinta monyet yang membuat temannya begitu bersemu jika yang ia ceritakan tentang hal-hal manis.


Lela menyodorkan kotak berwarna pink kepada Arunya. Meski terkejut Arunya tetap menerima dan hendak membukanya.


“Wahh,, keren banget.” Arunya tersenyum sembari menggoyangkan boneka dolphin berwarna biru dan dua buah coklat silver queen varian mede, setelah mengeluarkan isi dalam kotaknya.


“Iya, itu dari Mas Wawan, baik banget, kan. Makanya aku gak tega buat menjauh dari dia. Aku menganggapnya sebagai kakak aja sih. Gila aja aku berpacaran sama orang yang udah siap nikah begitu.” Lela tampak lesu membenamkan wajah pada bantalnya.


“Meski sakit, jujur adalah pilihan tepat. Suka ya bilang suka, gak suka ya ngomong apa adanya. Jangan memberi harapan palsu.” Arunya merebut bantal Lela, spontan Lela mendongakkan kepalanya memperlihatkan wajah lesunya.


"Ingat, ya. Jujur sama dia. Kasian."


" Dih, sok bijak. Kaya' pernah pacaran aja," cibir Lela.


***


Gadis manis berpakaian muslim dengan atasan lengan panjang dan bawahan celana kulot berwarna hitam, serta jilbab segi empat yang sudah dibentuk sedemikian rupa telah tersemat dengan manis membungkus tampilannya. Bersiap dengan apa saja yang hendak dibawa ke masjid untuk kegiatan mengaji di serambi masjid selama bulan puasa.


Begitulah setiap hari di bulan puasa setelah ashar Arunya salah satu remaja yang rajin pergi mengaji di masjid.


Seringnya bertemu di masjid dengan Rayyan pun membuat Arunya lebih bersemangat. Meski hanya dengan melihatnya dari kejauhan membuat Arunya begitu bahagia ,walau dengan hati yang berantakan.


Sejak Anna memperingatkannya untuk tidak mendekati Rayyan. Arunya sengaja menghindari Rayyan, bahkan jika sekalinya mata mereka besiroboh ia akan segera mengalihkan pandangannya.


"Tau nggak, Run. Rayyan pernah ribut sama papanya. Hanya karena pergi sama kamu. Kamu mau, Rayyan dalam masalah?" tanya Anna kala itu.


.


Arunya merasa bersalah akan hal itu. Kemudian ia mulai menjaga jarak.

__ADS_1


Jika tersadar akan semangatnya pergi ke masjid, Arunya segera menghapus pemikirannya tentang Rayyan.


Dia merasa bersalah pada diri sendiri. Arunya teringat akan sebuah nasehat dari ustad yang di mengisi kultum subuh dua hari lalu, “Jika ada niatan dari kita mengaji hanya untuk mendapatkan pujian atau yang lainya, maka amalan yang kita dapat akan berkurang. Maka, niatkan selalu langkah kita hanya untuk di jalan Allah.”


Jadi, tak ubahnya bagi Arunya yang bersemangat mengaji hanya karena dapat melihat Rayyan. Arunya segera memangkas perasaanya itu. Dia bertekad untuk lebih khusyuk dalam beribadahnya. Dia tidak mau jika rasa haus dan lapar karena ibadah puasanya akan sia-sia bahkan rusak amalannya hanya karena niatnya yang salah.


***


Saat berbuka, Arunya yang sangat menyukai kolak pisang, nangka juga kolang-kaling menjadi menu yang paling ia sukai.


Kolak, adalah sejenis sup buah dengan kuah santan yang telah di didihkan, di dalamnya dapat di beri berbagai macam buah atau sejenis umbi-umbian diberi sedikit garam dan gula menurut selera.


Menu ini juga menjadi favorit almarhum bapak yang seringkali membuat sudut hati Arunya terasa perih mengenang sosoknya.


Setetes air mata lolos begitu saja tanpa sanggup ia bendung.


”Semoga bapak tenang bersamaNya,” batin Arunya.


Tami yang melihat anaknya terdiam memandangi isi dalam mangkuk. Seolah tahu akan isi hati anaknya, ia segera mengalihkan perhatian dengan mengajaknya solat magrib bersama.


Tami juga selalu berpesan untuk selalu mendoakan bapak, kepada kedua anaknya. “Salah satu hal yang dapat kita perbuat untuk orang yang telah pergi mendahului kita, hanyalah doa.” Tami mengusap sayang kepala Arunya yang dibalut dengan mukena berwarna putih tulang. "Doakan ayah, dan yang dibutuhkan ayah saat ini hanya itu."


Saat tarawih Arunya yang menempatkan diri di serambi masjid dapat dengan jelas. Melihat siapa saja yang hendak memasuki masjid.


Hanya dengan melihat punggung Rayyan, hati Arunya merasa menghangat, masih saja selalu berdebar.


Tanpa Arunya sadari, Lela selalu memerhatikan raut muka Arunya.


"Ehem.."


Arunya segera mengalihkan perhatiannya dan tersenyum canggung. Rayyan selalu membuatnya terpesona. Hingga ia seringkali mengutuk dirinya yang masih saja memerhatikan Rayyan.


.

__ADS_1


__ADS_2