Amita Arunya

Amita Arunya
Lulus sekolah


__ADS_3

BAB 11


Waktu seolah berputar begitu cepat. Hari ini Arunya telah lulus SMP dengan nilai yang bagus. Saat dirinya tengah berusaha mengetuk pintu langit disepertiga malam. Arunya hanya memohon untuk diberikan kemudahan serta dapat lulus dengan nilai yang memenuhi syarat masuk SMK favorit di tengah kota.


Keinginannya terkabul bahkan Arunya masuk 10 besar nilai terbaik.


Ibu orang paling bahagia mendengar pencapaian Arunya. ”Alhamdulillah, mbak. Selamat semoga nanti kamu dapat diterima di sekolah impianmu, ya.” Tami memeluk erat anak pertamanya dengan suka cita.


***


Pagi ini Arunya telah tiba di SMK N 1 di tengah kota. Berbekal keyakinan dia ingin memiliki keahlian dalam bidang tata busana. Setelah mengikuti serangkaian test tiba saatnya pengumuman akan diterima dan tidaknya.


“Diterima,” eja Arunya. Setelah membuka isi sebuah amplop pengumuman.



Akan tetapi setelah melihat syarat untuk daftar ulang keinginannya seolah diruntuhkan secara paksa. Melihat jumlah nominal yang harus di bayarkan membuat air matanya luruh begitu saja. Bahkan saat duduk di kursi penumpang dalam bus Arunya masih meratapi selembar kertas yang sejak tadi ia pegang.


***


Saat anak perempuannya datang dengan wajah lesu, Tami segera menghampiri Arunya. Lantas menerima sebuah amplop yang telah Arunya ulurkan kepada ibunya lalu membukanya memba perlahan.


Ibu dengan seksama membaca kata demi kata yang tertera dalam kertas pengumuman.


“Dua juta?” pekik Tami.


Arunya hanya mengangguk sebagai jawabannya. Sedangkan Tami hanya terdiam dengan pikiran carut marutnya. Memikirkan banyaknya biaya yang akan terus ia keluarkan jika meneruskan sekolah impian Arunya.


Malam harinya, saat akan tertidur, Tami menepuk pelan tangan Arunya sembari menenangkan.


Meminta maaf karena tidak dapat memenuhi permintaan Arunya.


" Maafkan keterbatasan ibu, ya, Mbak. Uang segitu bagi ibu sangatlah besar. Mbak bisa sekolah di SMK yang lain, ya."


Dengan hati lapang, Arunya berusaha tersenyum, menerima keputusan ibu. Hingga pilihan kedua jatuh pada SMK swasta, sebuah sekolah yang dilengkapi ilmu agama dan beberapa bidang keahlian.


***


Hari ketiga MOS pagi ini cukup merepotkan, bertepatan dengan kegiatan pramuka yaitu berlatih baris berbaris, melatih kekompakan, kerjasama juga kemandirian.


Arunya tak menyangka di sekolah barunya akan banyak mendapat teman. Walaupun dari berbagai daerah yang berbeda nyatanya mereka sangat friendly.

__ADS_1


“Sampai jumpa besok, ya, kalian,” Arunya melambai kepada ketiga teman barunya yang berbeda minibus karena wilayah tinggal mereka berbeda. Mereka adalah Tia, Dyah dan Novi.


Setiap hari Arunya berangkat naik minibus untuk berangkat dan pulang sekolah.


Siswa lain yang setiap hari menggunakan motor pun banyak. Sebagian dari mereka berasal dari keluarga menengah kebawah.


***


Pagi ini Arunya berangkat dengan tergesa. Pasalnya waktu telah menunjukkan pukul 06.45 WIB. Waktu yang sangat mustahil jika tidak berurusan dengan ruang BK.


Saat Arunya tengah menunggu datangnya minibus yang tak kunjung datang. Arunya bergerak gelisah.


Disisi lain Rayyan yang merasa kurang sehat tengah bersiap dengan motornya untuk berobat ke puskesmas terdekat.


Roda kian berputar seiring tarikan gas pada stang motornya. Rayyan tersenyum, melihat seorang gadis berpakaian seragam OSIS dilengkapi jilbab putih yang membalut rambutnya, melihat Arunya tengah menghentakkan kakinya yang berbalut sepatu snakers converse entah KW yang ke berapa.


Rayyan segera melajukan motornya untuk mendekati Arunya. “Hai. Perlu bantuan?”


Merasa terdesak oleh keadaan, Arunya segera memposisikan diri pada motor Rayyan. “Tolong anterin aku kejar minibus yang akan ke kota, ya.” Arunya mengatupkan kedua telapak tangannya, tanda memohon. Lupakan rasa malu dan harga diri, Arunya hanya tak ingin terlambat ke sekolah. Meski dalan hatinya, ia ingin sekali bersembunyi saja di balik selimut.


Rayyan dengan wajah pucatnya tersenyum tipis, gemas akan tingkah Arunya yang menggemaskan pagi ini. Melajukan kendali motornya secepat mungkin namun tetap hati-hati.


Lagi-lagi Rayyan hanya mencuri pandang lewat spion motornya melihat ekspresi panik dari wajah Arunya. ”Runya,” panggil Rayyan. Menyesuaikan keadaan jalan raya yang ramai, agar suaranya dapat terdengar oleh Arunya.


“Kamu cantik pakai jilbab,” ungkap Rayyan.


Arunya tentu mematung sejenak, berada duduk sedekat ini ditambah ungkapan pujian dari Rayyan membuat ia menahan nafasnya sejenak. ‘Ngomong apa barusan, apa dia sedang memujiku? Pasti aku salah dengar. Atau aku ke ge er an?’ batin Arunya.


Tidak ingin terlarut dengan pemikirannya sendiri Arunya mengawasi jalanan mencari minibus yang mungkin saja terlihat dari jangkauannya.


Saat sadar manik matanya melihat pantulan wajah pucat lelaki yang tengah ia paksa untuk mengantarkannya, “Ray, kok kamu kelihatan pucat. Kamu sakit?” tanya Arunya sengaja mengalihkan topik pembicaraan.


“Iya, aku gak enak badan. Ini aku mau ke puskesmas. Makanya sekalian jalan, 'kan,” papar Rayyan.


“Harusnya aku gak memaksamu buat nganter aku, Ray,” sesal Arunya.


“Gak apa, aku seneng kok bisa bantu kamu,” sanggah Rayyan.


“Tapi bagaimana dengan Anna. Pasti dia akan marah jika tahu,” cetus Arunya.


“Loh! Kok ke Anna, sih?”

__ADS_1


“Ya, karena dia kan pacar kamu.”


“Siapa yang bilang kalau Anna pacar aku?” tanya Rayyan merasa heran.


“Ya, banyak yang bilang seperti itu, Ray!”


“Dan, kamu percaya?”


Arunya hanya diam. Dia merasa enggan untuk mengakuinya.


“Eh, Ray, tolong kode minibus depan, aku naik minibus itu aja.” Mengabaikan pertanyaan Rayyan, Arunya menunjuk minibus yang kini tertangkap oleh sorot matanya.


Memangkas rasa kecewanya, Rayyan segera memberi kode pada sopir minibus. Setelah minibus berhenti Rayyan pun juga menepikan motornya.


Begitu turun dari motor Rayyan. Arunya menepuk punggung Rayyan yang berbalut sweater turtleneck berwarna navi. “Makasih banyak, ya, Ray.”


Setelah mendapat anggukan dari Rayyan. Arunya lekas menaiki minibus yang sudah menunggunya.


“Hati-hati, Runya.” Rayyan membalas lambaian tangan Arunya dari dalam minibus. Senyum tertahan mengantar perjalanan Arunya seiring menjauhnya minibus yang semakin jauh memangkas jarak mata keduanya.


Rayyan masih terdiam dengan percakapan singkat pagi ini dengan Arunya. Ia berdecak saat Arunya salah paham dengan mengira dirinya berpacaran dengan Anna.


“Mengapa kamu selalu menyimpulkan sendiri bahkan sebelum aku menjelaskannya, Runya.”


Arunya yang tengah berdiri di dalam minibus pun tak berhenti menatap Rayyan yang kian tak terasa jauh seiring berputarnya roda minibus yang ia tumpangi. Rona bahagia sekaligus merasa malu telah menghiasinya sepagi ini.


“Duh, senengnya yang di antar pacar,” goda kondektur minibus.


“Bukan pacar pakde,” sanggah Arunya. Tidak membenarkan prasangka kondektur bus yang telah berusia 40an. Dalam hati iya berdesir hebat. Ia yakin wajahnya juga memerah mengingat kebersamaan singkat dengan Rayyan pagi ini.


***


Bel masuk sekolah berbunyi tepat saat Arunya sampai pada gerbang masuk sekolah.


Dalam hati ia mengucap syukur berkali-kali. "Terimakasih Rayyan." Ia tersenyum kembali dan bersiap mengayun langkah menuju kelasnya.


________________________________________________________


Ciieeee ada yang pernah mengalami seperti Runya??? 🤭🤭🤭


Terimakasih banyak atas dukungan teman-teman. Untuk pembaca baru jangan lupa like dan komentarnya, ya. Kritik dan saran yang membangun sangat saya tunggu.😍

__ADS_1


.


__ADS_2