Anak Pilihan

Anak Pilihan
Desa wewe gombel


__ADS_3

"tapi kok belom kelihatan orangnya ya??? padahal suaranya dekat banget" ujar Ayu sambil lihat kanan kiri, kedepan dan ke belakangnya, namun sama Nihil juga


jantung Ayu dag dug dug rasanya, bulukudu berdiri semua karena merinding rasanya, perasaan cemas menyelimuti hati mereka berdua....


"lanjut saja yok... " ajak Ayu walaupun masih lelah, belom cukup untuk istirahat


"baru sebentar gak papa kamu??? " pastiin Arif


Ayu hanya menganggukan kepalanya mengiyakan ucapan Arif... mereka berjalan kurang lebih hampir 15 km itupun belom juga ketemu warga sekitar...


Harapan di hati Ayu semakin menciut, karena sepertinya tidak akan menemukan perkampungan, saat harapan mulai menipis, tak berapa lama berjalan kaki kurang lebih 20 menit akhirnya mereka sampai juga di perkampungan, tapi mereka tidak tau tepatnya dimana, yang mereka herankan rumah-rumah warga kebanyakan modelnya jadul jaman dulu seperti itu. bahkan di kampung situ ada 1 rumah keraton walaupun terlihat kuno namun rumah itu yang paling besar dan megah dari yang lainnya..


Ayu dan Arif saling pandang satu sama lain, mereka ragu untuk lanjut apa tidak, namun tak berapa lama, kami saling menguatkan dengan cara menepuk-nepuk pundak satu sama lain, kemudian kami turun dari hutan menuju pedesaan itu...


Rame sekali ternyata di desa ini, semua warga bergotong royong saling membantu, kumpul, ngrumpi sana sini, anak-anak desa bareng-bareng bermain, anak-anak itu mengingatkan aku sewaktu masih kecil, bermain tanpa memikirkan apapun, yang aku pikirkan hanya kesenangan belaka, Indahnya waktu kecil. mengingat itu membuat Ayu sedih, bahkan matanya berkaca-kaca ingin menangis, namun Ayu tahan itu, ia ingin kembali di masa kecil dulu, dimana orangtua selalu di sampingnya...


Ayu menundukkan kepalanya sejenak, sambil menyeka matanya


"kamu kenapa??? " tanya Arif tiba-tiba


"tidak ada cuman kena bedu tadi mataku, pedes rasanya, jadi aku menundukkan kepalaku... "bohong Ayu


"kita yakin sajalah ya, kita kesana, sepertinya ini bukan di tahun kita sekarang, melainkan ntah tahun berapa ini Yuk, soalnya jaman sekarang rumahnya sudah jarang yang berbentuk kuno seperti itu, rumah warga setempat ini semua kuno dan jadul, lagi ada rumah seperti keraton... " jelas Arif sambil jalan menuju desa itu dengan Ayu

__ADS_1


"kamu sadar itu??? jika kita tidak di dunia kita??? " penasaran Ayu


"ya sadar betul lah, bahkan semuanya aku inget waktu kejadian sebelum sampai sini, bagaimana bisa kita nyasar sampai sini, sedangkan jelas-jelas kita pulang lewat jalan yang sama seperti waktu kita berangkat tadi, aku cuman bisa berdoa di sepanjang jalan ini... " jelas Arif sangat pasrah semua di pasrahkan sama Tuhan


"kita percaya Tuhan akan menolong kita, pasrah saja.. benar katamu, jika kita memang di takdirkan terjebak di sini seterusnya ya sudah itu takdir kita, jika kita memang ditakdirkan untuk kembali ke jaman kita, tak berapa lama kita akan balik kesana lagi, dan jalanpun akan terlihat sendiri, hanya bisa berdoa yang kita panjatkan Rif... "tutur Ayu


Arif melihat Ayu hanya tersenyum mendengar kata-katanya, setidaknya kami saling menguatkan satu sama lain...


"permisi buk, boleh tanya ya... " tanya Arif pada warga sekitar


"iya le, siapa ya??? " jawab ibu itu dengan menggunkan bahasa jawa kromo alus


"ini dimana ya buk???, enggak maksudnya ini daerah mana??? " tanya Arif lagi dengan ngoko alus


"sebenarnya kami tersesat buk, tidak tau arah jalan pulangnya, kami mencari perkampungan, kebetulan sampai di desa ini buk, kalo boleh tau ini tahun berapa buk??? " penasaran Arif


"gitu kok bisa tersesat gimana ceritanya le, ini tahun 1471 le... " terang ibu tersebut


Ayu dan Arif mendengar jawaban itu rasanya tidak percaya bahkan Ayu terasa lemas sekali kakinya, ia terdiam dengan tatapan kosong. dalam hati Ayu, "apakah kami bisa kembali di tahun kami, bagaimana ini bisa terjadi, padahal melihat hantu manusia di rantai besi sangatlah menakutkan tapi kenapa masih di tambah seperti ini..."


"le.. le... tole... nduk.. nduk.. genduk... " panggilan itu membangunkan lamunan Arif dan Ayu...


"iya buk" jawab Ayu

__ADS_1


"kalian orang mana??? dari asal negara mana??? berbeda dari kami..." tanya ibu itu


"dari daerah Jawa juga buk, namun desanya lupa apa namanya buk, kami lupa desa kami dimana buk, tersesat kami di sini buk... " jelas Ayu berbohong soal lupa nama desanya


"oalah kasiannya kalian..yaudah sini monggo mampir ke rumah emak, biar kalian bisa istirahat dulu. desa kami ini terpencil nduk, tidak banyak orang bisa kedesa kami ini... ", tutur misterius ibu itu..


Kami tidak menolak ajakan ibu tersebut, kami mengikuti ibu itu untuk singgah di rumahnya, kami mengikutinya dari belakang, ada sedikit keraguan di hati Ayu namun yasudahlah untuk sementara ini ngikutin aja maunya gimana...


Tak berapa lama kami sampai juga di rumah ibu itu, ternyata nama ibunya Soetiniah, biasa di panggil Tinah...


"emak tinggal sendiri disini nduk, anak ibu di culik wewe gombel untuk di jadikan tumbal mereka nduk le, apalagi dengan weton(hari lahir Jawa) tertentu pasti langsung dibuatnya tumbal, jika tidak wewe gombel akan merusak desa kami ini nduk Le... " jelas bu Tinah


"apa banyak di sini hal semacam itu buk??? apa tidak bisa di cegah??? " kata Arif


"sudah banyak warga sini yang melawan namun lebih kuat dari wewe gombel itu le, untuk kalian sampai sini masih keadaan sore hari, coba kalo gelap bisa-bisa kalian menjadi santapan jin demit dihutan itu yang kalian lewati... " jelas bu Tinah lagi sambil membuatkan teh anget, serta ubi kukus yang sudah dingin...


Mendengar cerita itu semakin membuat mereka ketakutan.


"jadi kalau mau balik kesana lagi harus pagi hari buk??? " tanya Arif dengan ragu-ragu karena mobilnya berada di sana


"ya warga desa sini jika mau keluar harus pagi hari, kembali lagi ke desa ini sebelum petang, jika mereka berani malam-malam melintasi hutan itu, pasti banyak yang tidak selamat, mereka pasti meninggal, tau-tau mayat mereka sudah di pinggir hutan itu... " sambil nunjuk hutan yang baru kami lewati ibu Tinah


Arif memakan singkong yang di suguhkan bu Tinah dengan lahap karena memang Arif sangat lapar, begitupun Ayu juga makan singkong rebus itu dengan lahap, ada rasa yang menjanggal di hati Ayu saat memakan singkong itu, rasanya aneh tapi mau gimana lagi, lapar makan saja, itu makanan sehat atau bukan urusan nantilah, yang penting kenyang dulu saja. Bismillah semoga Allah selalu melindungi kami....

__ADS_1


__ADS_2