Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Makan Malam


__ADS_3

Gara-Gara semua baju yang dicuci rusak entah karena apa, Alana jadi tidak berani keluar dari kamar. Semua itu gara-gara ancaman David yang memintanya menjual ginjal. Sungguh dia takut pria kejam itu mengambil ginjalnya secara diam-diam lalu menjualnya.


Alana mengurung diri di dalam kamar, duduk di balkon kamar dan termenung melihat langit yang mulai gelap. Kedua tangannya terasa sakit, itu karena kuku-kuku jarinya mulai mengelupas akibat banyaknya pekerjaan yang harus dia lakukan. Beberapa luka di tangan akibat goresan pisau saat memasak menambah rasa sakit di kedua tangannya. Bagaimanapun semua yang harus dia lakukan tidaklah mudah apalagi dia belum pernah melakukannya.


Alana menghela napas, menjadi pelayan ternyata tidak semudah yang dia pikirkan. Tapi beruntungnya dia tidak pernah menghina pelayan di rumahnya dulu meskipun dia nona muda manja yang tidak bisa melakukan apa pun. Tatapan matanya masih melihat langit malam, langit yang sama namun keadaannya yang sudah berbeda.


Dia benar-benar harus membiasakan dirinya menjadi seorang pelayan tapi rasa sakit yang ada di tangan, membuatnya tidak tahan. Alana melihat kukunya yang mau copot sebagian, tinggal sedikit lagi lepas dan dia rasa lebih baik ditarik saja. Entah dapat keberanian dari mana, Alana memberanikan dirinya, dia hampir berteriak akibat rasa sakit. Air mata sudah pasti mengalir karena rasa sakit yang tidak tertahankan.


Semua pasti berlalu, dia akan segera terbiasa dengan keadaannya. Alana menangis dalam diam, menangisi nasibnya yang berubah drastis. Dia akan menangis sampai puas tapi saat di hadapan David, dia tidak akan menunjukkan air matanya pada pria kejam itu agar tidak semakin ditindas.


"Keluar!" terdengar teriakan David sambil menggedor daun pintu kamarnya.


"Jika tidak segera keluar aku akan menendang pintu ini sampai terbuka!" teriak pria itu lagi.


Alana buru-buru masuk ke dalam kamar dan berlari menuju pintu. Air mata pun dihapus dengan cepat agar David tidak melihatnya.


"Ada apa?" tanya Alana saat pintu kamar sudah terbuka.


"Mau mengurung diri sampai kapan?" tanya David sinis.


"Maaf, Tuan. Aku akan segera membuat makan malam," dia lupa dengan tugasnya.


"Tidak perlu, jika menunggu kau masak aku sudah menjadi tengkorak jadi segera bersiap dan ikut aku pergi!" ucap David, kedua kakinya sudah melangkah pergi.


"Pergi makan denganmu?" tanya Alana memastikan.


"Apa kau tuli? Lima menit, dalam waktu lima menit tidak juga siap maka aku akan menarikmu dalam keadaanmu itu!"


Alana tampak tidak mengerti, tatapan matanya tidak lepas dari David yang sudah melangkah pergi. Sebenarnya pria itu jahat atau baik? Lagi-Lagi pertanyaan itu muncul di hati. Seharusnya David bisa pergi makan sendiri tanpa perlu mempedulikan dirinya.


Karena tidak punya waktu yang banyak, Alana segera mengganti bajunya dan menyisir rambut agar rapi. Seperti itu sudah cukup. Alana bergegas keluar dan mendapati David sudah menunggunya.


"Kenapa begitu lama?" tanya David, tatapan mata pria itu pun tidak lepas darinya.


"Aku rasa tidak!" gara-gara tatapan mata David, Alana sampai melihat penampilannya karena dia takut penampilannya terlalu berlebihan.


"Cepat!" ucap David yang sudah melangkah pergi.

__ADS_1


"Tunggu, kau tidak meminta aku yang membayar makan malam kali ini, bukan?" tanya Alana, dia harus memastikannya.


"Bagaimana ya?" David pura-pura berpikir dan memainkan jari di dagunya.


"Hei, aku tidak punya uang!" protes Alana.


"Traktir aku makan malam atau ganti semua baju yang kau rusakkan!" ucap David.


"Oh, sial!" umpat Alana.


"Pilihan ada di tanganmu, Alana. Jika tidak ada uang aku bisa meminjamkan uang padamu untuk membayar makanan itu nanti!"


"Tidak mau, hutangku akan semakin banyak!" teriak Alana menolak.


"Oh, ternyata kau ada uang. Baiklah, malam ini aku ingin makan di Hotel Hilton!"


"What?" Alana terkejut mendengarnya. Hotel Hilton? Apa David tidak bercanda? Apa dia tidak tahu harga satu porsi makanan yang ada di sana?


"TuanĀ  David yang terhormat, aku hanya mampu mentraktirmu di restoran fastfood saja. Bagaimana jika kita makan McDonald's saja. Itu makanan paling enak bahkan menu di restoran mewah pun kalah," bujuk Alana.


"Sebab itu kau harus mencobanya, kau akan ketagihan!" Alana masih tidak menyerah.


"Sudah aku katakan, aku tidak berminat!"


"Jahat, jangan membuat hutangku semakin banyak!" ucap Alana kesal.


"Aku tidak peduli!" David masih saja sengaja padahal dia tidak berniat meminta Alana yang membayar nanti.


Alana semakin kesal, tapi mereka tidak menyadarinya sama sekali jika saat ini mereka berdua tidaklah seperti majikan dan pelayan. Mereka bahkan masih berdebat saat berada di dalam mobil, tentunya Alana takut karena malam ini dia akan keluar uang banyak yang artinya, hutangnya semakin menumpuk.


"Hanya boleh pesan sayur, sayuran!" ucap Alana.


"Aku tidak makan sayur!"


"Jadi apa yang kau makan?"


"Tenderloin steak dengan kualitas terbaik. Tentunya diolah dengan daging wagyu yang mahal!" entah kenapa terasa menyenangkan melihat Alana yang semakin kesal.

__ADS_1


"Apa? Oh, tidak! Sepertinya jantungku tidak baik-baik saja!" Alana memegangi dada bagian kirinya.


Diam-Diam David tersenyum tipis namun Alana tidak melihatnya karena dia sedang sibuk mengomel sambil melihat keluar jendela. Pria yang kejam, dia benci.


Mereka benar-benar pergi ke hotel Hilton seperti yang David ucapkan, tentunya kedua kaki Alana terasa lemas dan sulit untuk melangkah. Jika keadaannya tidak seperti saat ini, dia akan masuk ke hotel itu dengan penuh percaya diri tapi sekarang? Untuk membayar satu gelas minuman yang ada di restoran hotel itu saja dia tidak mampu.


"Aku tunggu di mobil saja," ucap Alana.


"Masuk!" perintah David.


"Ck, menyebalkan!" mau tidak mau dia pun masuk. Terserah saja, mau bertambah atau apa dia tidak peduli. Lagi pula hutangnya memang banyak jadi biarkan saja bertambah banyak. Saat mereka masuk ke dalam lift, seorang pria justru tanpa sengaja melihat Alana sehingga pria itu pun mengikuti mereka. Sudah kebetulan bertemu maka tidak akan dia sia-siakan.


Alana yang sudah pasrah pun memesan makanan sesuka hati. Lagi pula dia yang bayar, dia berpikir demikian tapi nyatanya bukan. David pun tidak melarang dan membiarkan Alana memesan makanan apa pun yang dia mau. Melihat mereka berdua yang masih saja berdebat, tidak akan ada yang percaya jika mereka adalah atasan dan bawahan.


Alana pun makan dengan lahapnya tanpa mempedulikan David. Anggap saja pria itu sebagai patung tampan dan kejam yang menghiasi ruangan restoran.


"Apa sudah puas? Kau bisa memesannya sesuka hati, aku akan membayarnya tapi semua itu akan menjadi hutangmu," ucap David.


"Tidak mau, apa kau lintah darat?" Alana menatap pria itu dengan sinis.


"Aku memang lintah darat oleh sebab itu aku bisa sukses dan memiliki banyak uang!"


"Kau benar-benar menyebalkan!" Alana beranjak, dia sudah tidak tahan berada di dekat pria itu lagi.


"Mau ke mana kau?"


"Kamar mandi, mau ikut?" setelah berkata demikian, Alana melangkah pergi tanpa menyadari seorang pria juga beranjak dari tempat duduknya dan mengikuti Alana. Pria itu sudah sedari tadi menunggu kesempatan, tentunya yang dia incar sedari tadi adalah Alana.


David memanggil seorang waiters karena dia ingin membayar, dia tidak melihat seorang pria mengikuti Alana ke kamar mandi. Alana mencuci tangannya saat berada di kamar mandi, penampilan pun sedikit diperbaiki dan setelah selesai, Alana keluar namun dia dikejutkan oleh seorang pria yang menutup mulutnya dari belakang.


Tubuh pria itu besar, Alana mengira David yang melakukan tapi dari aroma tubuhnya sepertinya bukan. Lalu siapa pria yang sedang berdiri di belakangnya itu?


"Apa kau mau terbebas dari pria itu, Alana Meyyer?" bisik pria itu di telinga Alana.


"Jika mau maka aku akan membantumu terbebas dari pria itu. Tinggal katakan saja apa yang harus aku lakukan agar kau bisa lepas maka aku akan melakukannya!" ucap pria itu.


Alana belum menjawab apalagi mulutnya masih ditutup. Apa ini kesempatan untuknya agar bisa terbebas dari David Douglas? Tapi siapa pria itu? Apakah Stanley ataukah ada pria lain yang pernah dibantu oleh ayahnya? Dia sangat ingin tahu tapi pria itu tidak mengijinkan Alana melihat rupanya.

__ADS_1


__ADS_2