
David mandi dengan terburu-buru, tidak biasanya neneknya datang berkunjung ke rumahnya. Biasanya dia akan diminta untuk pulang jika neneknya rindu tapi hari ini, dia justru datang. Pasti ada sesuatu, dia benar-benar curiga dengan tujuan neneknya yang datang secara tiba-tiba.
Begitu keluar yang dia cari adalah neneknya tapi sang nenek tidak ada. Aneh, David pun mencari Alana tapi gadis itu pun tidak ada. Mobil neneknya masih ada di luar. David belum menaruh curiga, dia justru mencari Alana di dalam kamarnya karena dia pikir Alana sedang bersembunyi di dalam sana.
Alana yang baru mendapatkan penawaran menggiurkan dari sang nenek pun belum menjawab atas tawaran yang diberikan oleh nenek David. Wanita tua itu akan membayarkan semua hutang Alana asalkan gadis itu pergi dari sana. Semua itu dilakukan agar Veronica bisa dekat dengan David dan agar David tidak terpikat dengan pelayannya itu.
"Kenapa kau diam saja, bukankah ini tawaran yang sangat menguntungkan untukmu?" tanya sang nenek.
"Beri aku waktu untuk berpikir, Nyonya," pinta Alana.
"Apalagi yang mau kau pikirkan? Bukankah seharusnya kau senang dengan tawaran ini? Semua hutangmu pada David lunas dan kau tidak perlu menjadi pelayannya lagi!" Sesungguhnya dia sudah tahu sedikit dari Veronica akan hal ini tapi yang belum dia tahu adalah jumlah hutang gadis itu.
"Aku tahu, Nyonya. Ini memang tawaran yang sangat bagus untukku tapi aku harus memikirkannya dengan baik. Seseorang selalu berkata padaku jika tidak ada yang gratis di dunia ini jadi berikan aku waktu untuk memikirkannya," pinta Alana. Dia tidak mau mengambil keputusan yang salah. Jangan sampai dia terbebas dari David tapi dia justru terikat dengan yang lainnya dan yang lebih kejam dari pada David. Sesuatu yang diberikan secara cuma-cuma dalam jumlah banyak memang menggiurkan tapi dia takut, ada sebab yang akan terjadi di kemudian hari.
"Aku memberikannya tawaran ini padamu karena aku tidak suka kau berada di rumah David jadi kau tidak perlu takut. Tinggal sebut saja hutangmu maka semua lunas. Lagi pula uang itu akan jatuh di tangan cucuku jadi aku lebih tidak keberatan lagi!" ucap Ellen, Dia harap Alana menerima tawaran darinya dan segera pergi dari rumah cucunya.
"Apa hanya itu alasan Nyonya ingin membantu aku? Aku hanya pelayan biasa seperti yang lainnya bahkan aku yakin sebelum aku bekerja dengan David, pasti dia memiliki beberapa pelayan wanita lainnya jadi apa bedanya aku dengan mereka?"
"Tidak perlu bertanya kenapa, sekarang katakan saja berapa hutangmu. Berapa pun akan aku bayar jadi jangan mengulur waktu sebelum David mengetahui akan pembicaraan ini!"
Alana berpikir dengan keras. Selama ini dia memang sangat ingin terbebas dari David karena dia sudah tidak tahan dengan sifat pria itu. Apakah dia harus mengambil kesempatan emas ini? Semua hutangnya lunas dan dia tidak terikat lagi dengan siapa pun bahkan dia tidak perlu bekerja dengan David sampai seumur hidupnya.
David keluar dari kamar Alana karena dia tidak menemukan keberadaan gadis itu tapi dia terkejut saat mendapati, Alana masuk ke dalam dengan ekspresi lesu. David segera melangkah mendekati Alana dan berdiri di hadapannya, tentu saja gadis itu hanya menunduk dan tidak berani menatap wajahnya.
"Dari mana? Apa yang kau lakukan?" tanya David.
"Aku yang mengajaknya keluar sebentar!" ucap sang nenek yang juga melangkah masuk.
"Jangan mengganggu pelayanku, Nenek. Apa sebenarnya yang Nenek inginkan?" David menarik tangan Alana hingga Alana berdiri di belakangnya.
__ADS_1
"Tidak baik seorang majikan menyentuh tangan pelayannya!" ucap sang nenek sambil menatap ke Alana dengan tatapan tidak senang. Mungkin karena perlakuan David pada gadis itulah yang membuat Veronica meminta bantuannya.
"Dia pelayanku, jadi terserah aku mau memperlakukannya seperti apa!"
"David, pelayan adalah pelayan bukan wanita yang bisa kau ajak tidur bersama!" teriak neneknya marah.
"Tidak perlu basa basi, sekarang katakan padaku apa tujuan nenek datang ke sini?"
"Hm, maaf jika aku menyela pembicaraan Tuan dan Nyonya. Bisakah aku permisi, aku belum selesai memasak," pinta Alana. Lebih baik da pergi dari pada berada di antara mereka dan mendengar perdebatan cucu dan nenek itu.
"Sungguh pelayan yang tidak sopan!" ucap sang nenek.
"Pergi, selesaikan pekerjaanmu!" David melepaskan tangan Alana, tentunya gadis itu langsung kabur.
"Sekarang katakan padaku, apa yang nenek bicarakan padanya?" tanya David seraya melangkah menuju sofa.
"Sejak kapan Nenek peduli akan hal ini dan dari mana nenek tahu aku mengambil pelayan baru. Apa Veronica mengunjungi Nenek?" tanya David curiga.
"Apa hanya dia saja yang bisa memberikan aku informasi? Apa yang lainnya tidak?"
"Sudahlah, jangan basa basi. Sebaiknya nenek pulang saja!"
"Cucu kurang ajar, beraninya kau mengusir nenek!" tongkat sang nenek kembali mengetuk di atas lantai karena amarah.
"Baiklah, baik. Nenek boleh menginap jika mau!"
"Bukan begitu, pulanglah ke rumah. Beberapa hari lagi ulang tahun Veronica jadi kau harus pulang."
"Apa hubungannya ulang tahun Veronica dengan kepulanganku?" tanya David heran.
__ADS_1
"Nenek ingin memberikan kejutan untuknya. Sebuah pesta ulang tahun yang meriah jadi kau harus pulang!"
"Nenek terlalu berlebihan, jangan memboroskan uang untuk hal yang tidak penting!"
"Apa maksudmu tidak penting? Veronica adalah sahabatmu, dulu neneknya juga teman baikku jadi dia pantas mendapatkan pesta ulang tahun yang meriah!"
"Terserah Nenek saja, aku tidak mau ikut campur!" David beranjak,
"Kau harus pulang, David. Awas jika tidak tapi ingat, kau tidak boleh membawa pelayan itu!" neneknya pun beranjak.
"Terserah aku mau membawa siapa, Nenek tidak berhak mencegah!"
"Jangan sampai mempermalukan keluarga kita hanya gara-gara kau membawa seorang pelayan!" Ellen mengatakannya dengan berteriak sehingga Alana dapat mendengar. Sungguh mulut yang pedas, seperti cucunya. Sepertinya mereka kurang makanan manis, apakah dia harus memberi David banyak makan gula mulai sekarang?
"Aku akan pulang nanti, Nenek. Jadi jangan membuat masalah di rumahku!"
"Kau benar-benar cucu yang kejam!" langkah Ellen terhenti karena David juga menghentikan langkahnya.
Alana meletakkan makanan terakhir yang dia buat, terserah mau dimakan atau tidak yang pasti tugasnya sudah selesai. Alana enggan melihat ke arah mereka, dia bahkan lebih senang tidak berada di dekat mereka berdua.
"Dari pada Nenek cerewet, lebih baik kita makan saja!"
"Tidak perlu, nenek mau pulang dari pada makan makanan yang sudah terlihat tidak enak itu!" ucap neneknya.
"Sudah aku katakan, jangan membuat keributan di rumahku!"
Ellen menatap ke arah Alana dengan tajam, tatapan matanya seperti memberikan sebuah isyarat agar gadis itu tahu diri dan segera pergi dari sana. Alana kembali menunduk, kedatangan wanita itu sungguh tidak terduga dan tentunya penawaran luar biasa dia dapatkan dari nenek David.
David mengantar neneknya sampai di depan pintu, sedangkan Alana masuk ke dalam kamar. Dia mau istirahat sebentar. Mungkin ini bisa menjadi hari terakhirnya di rumah itu dan mungkin saja tidak. David bergegas masuk ke dalam setelah mengantar neneknya, sekarang waktunya mencari tahu apa yang dibicarakan oleh neneknya dengan Alana. Dia yakin, ada yang dibahas oleh neneknya dengan Alana dan pembasahan itu tidak boleh dia tahu.
__ADS_1