
Alana benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi tapi sebisa mungkin Alana membawa David yang sudah tidak berdaya keluar dari kamar mandi. Mereka berdua bahkan jatuh ke atas lantai karena Alana tidak kuat apalagi lantai menjadi licin akibat baju David yang basah. David yang berada di belakangnya pun jatuh menimpa tubuhnya yang kecil.
Alana berteriak, dia berusaha merangkak keluar dari tubuh David yang sedang menimpanya. Dia benar-benar bagaikan ikan kecil yang baru saja ditimpa oleh hiu besar. Alana mendorong bahu David sekuat tenaga sampai akhirnya dia bisa meloloskan diri. Napasnya pun terengah, dia butuh istirahat sebentar.
David sudah tidak sadarkan diri, dia tidak tahu apa pun lagi. Alana mengambil napas sebelum beranjak dan setelah itu dia menarik David sekuat tenaga menuju ranjang. Tidak bisa, dia tidak memiliki tenaga untuk mengangkat pria itu ke atas ranjang. Dia pun tidak bisa membiarkan David berbaring di atas lantai dalam keadaan basah. Tidak kehabisan akal, Alana meminta bantuan dua penjaga yang ada di luar dan sang supir. Mereka lebih mampu dari pada dirinya.
Alana juga meminta sang supir menghubungi dokter pribadi David karena keadaan pria itu sangat memperihatinkan, dia pun meminta dua penjaga itu mengganti pakaian David yang basah sedangkan dirinya mengambil kotak obat karena luka yang ada di kaki David harus segera diobati.
Luka akibat gelas yang pecah cukup lebar dan dalam, luka itu harus dijahit. Sambil menunggu dokter datang, Alana membersihkan darah kering yang terdapat di sisi luka. Sungguh dia sangat ingin tahu, apa yang terjadi dengan David?
Pakaian David sudah diganti, selimut tebal juga sudah menutupi tubuh pria itu. Dokter yang dipanggil pun sudah datang dan memeriksa keadaannya. Alana sangat terkejut saat dokter pribadi David berkata jika David baru saja mengkonsumsi obat per*ngsang. Rasanya tidak ingin percaya tapi itulah yang terjadi. Luka di paha sudah dijahit, obat pun ditinggalkan dan obat itu harus David minum saat dia sadar agar pengaruh obat yang dia konsumsi segera hilang.
Alana merasa sedikit lega, bersyukur dia tidak langsung pulang saat David meminta kembali karena dia tidak mau menjadi pelampiasan hasrat David yang sedang di bawah pengaruh obat tapi dia sangat ingin tahu, kenapa David bisa mengkonsumsi obat seperti itu?
"Tunggu sebentar!" pinta Alana pada sang supir yang hendak keluar.
"Ada apa, Nona?" tanya supir itu.
"Bukankah David pergi ke acara ulang tahun Veronica?"
"Benar, Nona."
"Lalu, bagaimana bisa?" kini dia justru berpikir buruk tentang Veronica.
"Aku tidak tahu tapi Tuan sudah seperti itu saat kembali."
__ADS_1
"Baiklah, terima kasih," Alana melangkah menuju kamar. Apa Veronica menjebak David menggunakan obat itu? Rasanya ingin menyangkal tebakannya sendiri tapi dia merasa tebakannya tidaklah salah. Wanita itu licik, sepertinya dia menggunakan cara kotor untuk mendapatkan David.
Alana kembali ke dalam kamar, dan menghampiri David yang berbaring di atas ranjangnya. Dia tidak menduga pria seperti David bisa di jebak seperti itu tapi rasanya memang aneh, tidak mungkin David bisa terjebak begitu mudahnya jika tidak ada campur tangan dari keluarganya.
David tampak mengigau, Alana buru-buru menghampiri karena dia harus memberi David obat yang ditinggalkan oleh dokter.
"David, apa kau bisa mendengar aku?" tanya Alana.
"Alana?" David membuka matanya yang berat namun seluruh tubuh terasa lemas apalagi dia merasa kedinginan.
"Ya, ini aku. Ayo minum obat terlebih dahulu," Alana mengambil obat serat segelas air.
"Tidur denganku, Alana. Aku menginginkan dirimu" perintah David.
"Minum obat terlebih dahulu," ucap Alana seraya memberikan obat yang harus David minum. Seperti yang dokter katakan, pengaruh obat masih ada karena David belum menuntaskan hasratnya.
"David, jangan lakukan!" teriak Alana ketakutan.
"Aku sudah menahannya begitu lama, Alana. Jadi jangan menolak!"
"Tidak, David! Kau sedang tidak sadar dengan apa yang kau lakukan. Aku tidak mau melakukan hubungan itu tanpa adanya perasaan di antara kita. Satu kesalahan yang kita lakukan akan berakibat fatal. Bagaimana jika sampai aku hamil gara-gara hal ini?"
"Jangan banyak bicara, aku sudah tidak bisa tahan lagi!" David masih menarik tangan Alana.
"Tidak\, aku tidak akan pernah mau!" Alana memasukkan obat ke dalam mulut juga meneguk air dan setelah itu Alana mencium bibir David. Hanya itu yang bisa dia lakukan agar David mau meminum obatnya. David yang masih dibakar api ga*rah menyambut bibir Alana tanpa ragu. Obat sudah ditelan oleh David\, Alana membantu David meredakan gai*rah yang dia rasakan walau hanya dengan ciuman.
__ADS_1
Kini Alana sudah berbaring dengan David di atasnya dan membiarkan David mencium bibirnya tanpa henti. Dia sengaja karena dia menunggu obat yang dikonsumsi oleh David bereaksi dan tidak lama kemudian reaksi obat mulai bekerja. David tertidur karena dalam obat yang dikonsumsi olehnya ada obat tidur. Alana meminta obat itu untuk mencari aman, dia benar-benar tidak mau melakukan hubungan itu karena pengaruh obat.
"Pria seperti dirimu, ternyata bisa terjebak oleh wanita licik itu!" ucap Alana pelan.
Napas berat dihembuskan, David masih berbaring di atasnya. Tangan Alana tak henti mengusap tengkuk David, sungguh perbuatan keji telah memberikan obat pada pria itu. Entah apa yang dipikirkan oleh Veronica sehingga melakukan hal gila itu, Alana justru takut membayangkan kemarahan David setelah keadaannya pulih.
Tentunya yang merasa takut tidak Alana saja, yang paling takut adalah Veronica. Satu tamparan yang dia dapatkan cukup membuat pipinya memerah. Pesta ulang tahunnya sudah usai, hadiah yang dia dapatkan begitu banyak tapi Veronica tidak senang sama sekali. Seharusnya pesta itu membuatnya bahagia tapi pesta itu justru meninggalkan ketakutan.
"Bagaimana ini, Nenek. David pasti akan sangat murka," ucap Veronica.
"Kau yang bodoh, kenapa kau membiarkannya keluar dari ruangan?"
"Aku tidak menyangka dia akan memecahkan gelas dan melukai kakinya, Nenek. Seharusnya aku membuang kunci pintu sehingga dia tidak bisa pergi!"
"Lihatlah, satu kesalahan menghancurkan semuanya!" ucap sang nenek.
"Sekarang bagaimana? David pasti akan sangat murka dengan kita!" ucap Veronica yang tampak frustasi.
"Tidak perlu khawatir, besok kita pergi ke rumahnya untuk melihat keadaannya."
"Nenek yakin?" tanya Veronica karena dia tidak yakin sama sekali.
"Tentu saja, tidak perlu takut. Semarah-marahnya David pada kita, dia tidak mungkin memutuskan hubungannya dengan kita!"
Veronica mengangguk, sesungguhnya bukan itu saja yang dia khawatirkan. Sesungguhnya yang dia khawatirkan saat ini adalah, dengan siapa David menyalurkan hasratnya akibat pengaruh obat. Dia tidak mau menebak tapi hanya satu gadis saja yang ada di rumah David saat ini. Veronica enggan membayangkan, dia yang menjebak tapi Alana yang mendapatkan keuntungan dan rasanya sangat kesal.
__ADS_1
Dia akan mempermalukan Alana nanti, pasti akan dia permalukan di hadapan mantan teman-temannya agar gadis itu mendapat cemooh yang menjatuhkan mental dan harga dirinya. Jangan salahkan dirinya yang melakukan hal itu tapi salahkan Alana yang sudah menuai hasil dari apa yang dia rencanakan dengan susah payah.