
David terbangun namun dengan keadaan kurang baik. Kepalanya sakit, suhu tubuhnya pun cukup tinggi. David mengumpat, mengingat apa yang telah dia alami semalam. Kedua matanya terpejam, hukuman apa yang pantas Veronica dapatkan? Tidak saja Veronica, dia juga begitu kecewa pada sang nenek yang bersekongkol dengan Veronica.
Dia kira dia akan mati saat terbangun karena dia tidak bisa menyalurkan hasratnya akibat obat terkutuk itu tapi ternyata dia masih hidup. Entah obat apa yang diberikan oleh Alana tapi dia tidak ingat apa pun lagi setelah itu. David membuka matanya, saat suara pintu terbuka. Tatapan matanya tertuju pada Alana yang sedang membawa baskom dan yang sedang melangkah mendekatinya.
"Bagaimana keadaanmu, David?" tanya Alana. Dia tampak lega karena David terlihat baik-baik saja.
"Apa yang kau berikan padaku semalam, Alana?"
"Itu obat yang diberikan oleh dokter untuk mengurangi reaksi yang kau rasakan akibat obat yang kau konsumsi!"
"Lalu kenapa aku tidak sadarkan diri?"
"A-Aku tidak tahu," jawab Alana pura-pura tidak tahu. Jangan sampai David tahu jika ada obat tidur di dalam obat itu.
"Apa aku menyakitimu semalam?" David berusaha untuk duduk namun dia kesulitan. Alana menghampirinya dengan cepat untuk membantu. Beberapa bantal di tumpuk agar David bisa bersandar dengan nyaman.
"Apa aku menyakitimu, Alana?" tanya David lagi seraya memegangi lengan Alana.
"Tidak, tapi yeah... kau berat!" ucap Alana ketus.
David tersenyum, tatapan matanya tidak lepas dari Alana yang sedang melihat luka di pahanya. Karena sudah dijahit jadi sudah terlihat lebih baik. Setelah melihat luka itu, Alana duduk di sisi ranjang dan mengambil kompres yang dia bawa. Pria itu harus segera sembuh karena dia akan berada di dalam kesulitan. Jangan sampai David bertingkah seperti anak kecil yang tidak bisa ditinggal ke mana pun.
"Pria seperti dirimu, kenapa bisa mengkonsumsi obat aneh itu?" tanya Alana. Sungguh dia sudah sangat ingin tahu akan hal itu.
"Semua gara-gara Veronica!" amarah kembali menguasai hati David.
"Benarkah? Aku tidak menyangka kau bisa kalah dari wanita licik itu?" Alana meletakkan kompres di dahi David yang terasa panas.
"Jika tidak ada campur tangan nenekku, apa kau kira dia bisa menjebak aku, Alana?"
"Astaga, jadi nenekmu bekerja sama dengannya?" Alana memandangi David dengan ekspresi terkejut. Dia tidak akan terkejut jika Veronica yang menjebak David tapi neneknya? Dia tidak menduga nenek David justru ikut andil untuk mencelakai cucunya sendiri.
"Jika tidak ada campur tangan si tua bangka itu, aku tidak akan mengalami hal ini!" Kedua tangan sudah mengepal erat, David benar-benar kecewa. Jangan katakan ayah dan istrinya juga terlibat. Keluarganya benar-benar mengecewakan. Dia tidak akan bermurah hati lagi, sekalipun pada nenek dan ayahnya.
"Kenapa nenekmu melakukan hal seperti itu, David? Tidak mungkin dia mencelakai dirimu dengan obat itu, bukan?"
"Buktinya dia melakukannya! Nenekku benar-benar sudah dipengaruhi oleh Veronica. Entah apa yang membuatnya begitu mempercayai Veronica sehingga dia ingin aku menikah dengan Veronica!"
"Jadi karena hal itu nenekmu menjebak dirimu?"
"Apa ada yang lain?" David menatapnya tajam, dia akan membalas neneknya dan Veronica nanti.
"Wah, sayang sekali. Jika aku tahu tujuan nenekmu maka aku akan mendukungnya," ucap Alana.
"Apa maksudmu?"
__ADS_1
"Bagaimana ya, kau cocok dengan Veronica. Dia licik dan kau pelit. Kalian pasangan yang serasi," goda Alana.
"Jangan sembarangan, aku tidak sudi!" David meraih tangan Alana dan menariknya.
"Apa yang mau kau lakukan, David?" Alana berteriak apalagi dia sudah terjatuh di atas tubuh David. Pria itu pun memeluk pinggangnya erat sehingga Alana tidak bisa melepaskan diri walau dia sudah berusaha meronta.
"Jawab aku, ke mana kau semalam?"
Alana terdiam dengan tubuh membeku. Celaka, dia melupakan hal ini. Sekarang apa yang harus dia katakan pada David? David pasti akan murka apalagi situasi hatinya sedang tidak bagus.
"A-Aku pergi membeli barang, David. Kau tahu? Keperluan mendesak karena persediaan sudah habis," dustanya.
"Benarkah? Apa kau tidak sedang berbohong padaku, Alana?"
"Tentu saja tidak, David. Aku benar-benar pergi membeli barang," semoga saja David percaya.
"Baiklah, kau sudah melihat luka di pahaku, bukan?"
"Yes, apa hubungannya denganku luka itu?" tanya Alana heran.
"Jangan pura-pura tidak tahu, Alana. Lukanya cukup serius, aku sulit bergerak jadi?" David menghentikan ucapannya. Senyum penuh arti menghiasi wajah dan satu tangannya mengusap wajah Alana. Gadis itu menelan ludah, firasat buruk.
"Ja-Jadi apa? Jangan meminta aku memandikan kau lagi, aku tidak sudi!"
"Memang itu yang harus kau lakukan, Nona. Aku tidak bisa berjalan, jadi kau harus memandikan aku, menyuapi aku makan dan menemani aku tidur!"
"Boleh juga jika kau mau, aku tidak keberatan!" David kembali memperlihatkan senyumannya.
"Menyebalkan, dasar kau bayi besar! Lepaskan aku, aku mau membersihkan rumah!" Alana berusaha mendorong David namun pria itu justru semakin memeluk Alana dengan erat.
"Abaikan pekerjaan itu, sekarang temani aku tidur!"
"Jangan, David. Aku belum membuat sarapan jadi lepaskan aku!"
"Aku belum lapar jadi temani aku tidur!"
"David!" Alana masih berteriak dan meronta.
"Diam, jika tidak aku akan menciummu sampai kau diam!" ancam David.
"Menyebalkan!" teriak Alana kesal.
"Jadi?"
"Hm!" Alana mendengus dan membuang wajahnya. David kembali tersenyum, kini tangannya tak henti mengusap punggung dan kepala Alana.
__ADS_1
"Lepaskan aku David, aku akan menemanimu tidur tapi tidak dengan posisi seperti ini!" pinta Alana.
"Aku tidak akan melakukan apa pun, Alana. Jangan khawatir."
"Tapi aku berat dan kau masih sakit. Lebih baik kita tidak seperti ini."
"Stts... protes lagi maka aku akan benar-benar mencium bibirmu!" ancam David.
"Baiklah, baik. Dasar menyebalkan!" Alana hanya bisa pasrah, biarlah. Lagi pula dia memang masih mengantuk karena kurang tidur. Disuruh tidur ya tidur, anggap ini sebuah keuntungan. Sudah tidak perlu bekerja, dia pun mendapat pelukan hangat sehingga tidurnya dapat nyenyak.
Tangan David yang mengusap punggung dan kepalanya tiada henti semakin membuat kedua matanya terasa berat. Alana sudah tidak bisa tahan lagi oleh sebab itu dia pun terlelap tanpa menunggu lama.
"Ck, dasar pemalas. Bukankah tadi tidak mau? Sekarang malah kau yang tertidur terlebih dahulu!"
"David, kau menyebalkan!" gumam Alana.
David tersenyum namun senyuman itu sirna ketika mengingat apa yang Veronica lakukan padanya. Jika kedua kakinya tidak sakit, dia akan kembali ke rumah neneknya hari ini juga dan memberikan pelajaran pada mereka yang sudah membuatnya seperti itu.
Kedua mata David terpejam, dia butuh istirahat agar dia bisa cepat kembali untuk membalas Veronica dan neneknya. Alana pun sudah terlelap di atas tubuhnya. Rasanya menjadi menenangkan, dia lebih suka dengan suasana seperti itu walau dalam tidurnya pun Alana masih terdengar memaki dirinya sesekali.
Tidur Alana benar-benar pulas namun tidurnya harus terganggu karena suara teriakan Veronica yang memanggil dirinya. Alana mengangkat tubuhnya sedikit, ternyata David sudah terbangun.
"Alana Meyyer, keluar kau!" teriak Veronica.
"Ja*ang itu masih saja berani datang ke rumahku!" ucap David kesal. Amarah yang sempat padam sesaat kini kembali memenuhi hatinya.
"Aku rasa dia datang dengan nenekmu."
"Sangat kebetulan, aku memang ada urusan dengan mereka berdua!" David hendak beranjak tapi Alana menahannya.
"Tunggu, David."
"Ada apa?" David menatapnya dengan tatapan curiga.
"Kau masih tidak sehat, kakimu juga masih sakit jadi sebaiknya kau berbaring saja!" cegah Alana.
"Tidak, aku ingin memberikan pelajaran pada mereka berdua!"
"Tunggulah di sini, aku yang akan membawa Veronica masuk. Kau bisa memaki dirinya sesuka hatimu nanti."
"Apa yang kau rencanakan, Alana?"
"Aku ada ide bagus jadi tunggu di sini baik-baik! " pinta Alana sambil memperlihatkan senyuman penuh arti.
"Apa yang mau kau lakukan?" tanya David curiga.
__ADS_1
"Membuatnya kesal!" setelah berkata demikian, Alana beranjak dari atas tubuh David dan mengacak sedikit rambutnya. David sangat heran, apa yang hendak Alana lakukan? Alana pun melangkah keluar, seperti yang dia katakan, dia akan membuat Veronica kesal tapi David yang sudah dipenuhi dengan api amarah sudah tidak bisa menahan diri lagi.