Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Tidak Bisa Menolak


__ADS_3

Mengurus David seharian benar-benar melelahkan. Alana bahkan berpikir lebih baik dia membersihkan rumah saja dari pada mengurus pria itu yang begitu cerewet dan banyak maunya. Dia benar-benar heran ada pria menyebalkan seperti itu di muka bumi.


Alana benar-benar menyerah, dia sudah tidak sabar agar malam cepat datang sehingga dia bisa menjauh dari pria menyebalkan itu tapi dia harus membohongi David agar pria itu tidak tahu jika dia hendak pergi bekerja. Semoga saja tidak ketahuan karena dia malas berdebat.


Suara telepon berbunyi saat Alana sedang melakukan sesuatu di luar. Alana melihat benda itu, rasanya enggan mengangkatnya tapi dia harus melakukannya.


"Hallo, Tuan Douglas sedang sibuk," ucapnya.


"Ini aku, bagaimana dengan keadaan David?" yang berbicara dengannya saat ini ternyata nenek David.


"Nenek?" Alana terkejut, dia tidak menduga yang menghubungi ternyata nenek David. Apa wanita tua itu ingin memarahi dirinya? Apa belum cukup dia melukai perasaan David?


"Bagaimana dengan keadaan David? Kenapa kau tidak menjawab?" tanya sang nenek lagi.


"Untuk apa Nenek bertanya akan keadaannya? Apa Nenek peduli dengannya?" tanya Alana pula.


"Kurang ajar, kau hanya orang luar dan seorang pelayan jadi jawab saja pertanyaanku dengan benar!" ucap nenek David kesal.


"Aku memang orang luar, Nenek. Tapi aku peduli dengan David, tidak seperti dirimu. Kau adalah nenek kandungnya tapi kenapa kau begitu tega menjebak cucumu sendiri?" entah mendapat keberanian dari mana, yang pasti dia sangat kesal dengan apa yang dilakukan oleh nenek David.


"Kau orang luar dan masih muda, apa hakmu menceramahi aku yang lebih tua darimu?" nenek David pun semakin kesal karena Alana begitu berani menceramahi dirinya apalagi dia hanyalah seorang pelayan.


"Aku memang masih muda, Nenek. Aku akui karena memang begitu kenyataannya tapi kau tidak bijak sebagai orangtua. Apa kau tahu apa akibat dari Perbuatanmu? David begitu kecewa padamu dan dia juga begitu marah padamu dan apa kau tahu, gara-gara hal ini dia tidak bisa pergi ke kantor dan aku sudah bagaikan mengurus bayi besar cerewet dan hutangku jadi bertambah banyak gara-gara hal ini!" entah kenapa jadi curhat, tapi memang dia sudah tidak tahan menghadapi sikap David yang memang disengaja.


Ellen diam, tidak bersuara. Alana jadi heran namun dia pun menyadari kelancangannya yang telah memarahi nenek David. Alana jadi tidak enak hati, dia pun segera meminta maaf.


"Maafkan perkataanku, Nenek. Aku tidak bermaksud tapi karena hal ini David begitu kecewa padamu," ucap Alena.


Ellen tidak menjawab, telepon ditutup sehingga membuat Alana heran. Celaka, jangan katakan jika nenek David marah dengannya. Alana bergegas menuju kamar, dia harus mengatakan hal ini pada David agar dia tahu jika neneknya peduli dengannya.


"Nenekmu baru saja menelepon," ucap Alana.


"Untuk apa dia menghubungi lagi?" David terdengar tidak senang.


"Jangan begitu, David. Dia mengkhawatirkan keadaanmu."


"Setelah semua yang dia lakukan, untuk apa dia mengkhawatirkan aku?! Tidak perlu berbasa basi denganku karena aku sudah tidak bersimpati lagi meskipun dia adalah nenekku!"

__ADS_1


"Jangan seperti itu, David," Alana menghampiri David dan duduk di sisinya.


"Nenekmu ingin tahu keadaanmu itu berarti dia sedang mengkhawatirkan dirimu. Mungkin saja nenekmu sudah menyadari kesalahan yang dia lakukan sehingga dia memikirkan keadaanmu. Oleh sebab itulah dia ingin tahu."


"Tidak perlu membujuk!" David menarik tangan Alana sehingga membuat Alana jatuh berbaring.


"David, kenapa kau senang menarik aku?" teriak Alana kesal.


"Mulutmu cerewet jadi kau memang harus diperlakukan seperti ini!"


"Sembarangan, kau yang lebih cerewet!"


"Jadi?" David memandangi wajah Alana sambil mengusap pipinya.


"Aku bukannya mau ikut campur tapi tidak baik marah terlalu lama apalagi pada nenekmu yang sudah tua. Bagaimana jika nenekmu jadi jatuh sakit gara-gara hal ini? Jangan sampai akibat emosi kau justru menyesal nantinya. Aku sudah tidak memiliki siapa pun, jadi aku tahu bagaimana rasanya tidak memiliki siapa pun!"


"Kau sudah mengatakannya jadi jangan cerewet!" dagu Alana sudah terangkat.


"Mau apa kau?" tanya Alana namun David sudah mencium bibirnya. Kedua mata Alana melotot, lagi? Alana sangat ingin memberontak tapi entah kenapa dia tidak melakukannya. Dia justru membalas ciuman yang David berikan, sepertinya dia sudah terbiasa dengan hal itu.


David semakin memperdalam ciumannya karena Alana tidak menolak. Dia pun tidak tahu kenapa tidak bisa berhenti dan semakin tergoda dengan gadis itu. David mengangkat tubuh Alana sehingga gadis itu berbaring di atas tubuhnya. Ciuman mereka masih tidak terlepas, mereka berdua justru semakin terbuai namun semua itu harus terhenti karena mereka butuh mengambil napas.


"Kenapa kita melakukan hal seperti ini, David? Tidak seharusnya kita seperti ini karena kita tidak memiliki hubungan apa pun."


"Apa kau tidak suka, Alana?"


"Tentu saja tidak, tapi aku tidak bisa menolak," jawab Alana tanpa ragu karena memang itulah kenyataannya.


"Apa itu berarti kau menyukai aku, Alana?"


"Sembarangan! Apa kau kira aku sudah gila menyukai pria pelit dan cerewet seperti dirimu? Mulai sekarang jangan mencium aku lagi jika tidak kau harus membayar lima ribu dolar untuk satu kali ciuman!" Alana beranjak, sudah cukup. Jangan sampai mereka kelewat batas lagi.


"Lima ribu dolar, kenapa begitu mahal?"


"Suka-Suka aku yang memberi harga oleh sebab itu jangan sembarangan mencium aku!"


"Ck, sekarang aku mau mandi!" ucap David.

__ADS_1


"Sana, pergi mandi sendiri!"


"Apa kau melupakan tugasmu, Alana?"


"Tugas apa?" tanya Alana heran.


"Memandikan aku, apa lagi?"


"Oh, No. Aku tidak mau!" tolak Alana.


"Kau tidak bisa menolak!" Sebelum Alana melarikan diri, David sudah meraih tangannya. Alana berteriak menolak, namun dia tetap kalah tenaga sehingga mau tidak mau harus membantu David mandi.


Teriakannya terdengar di kamar mandi, semua gara-gara pria itu. Cacing yang tidak mau dia lihat pun kini terpampang jelas di depan mata bahkan dia melihat cacing itu berubah bentuk menjadi anaconda. Alana berteriak tiada henti, sungguh dia sangat ingin melarikan diri dari kamar mandi. Alana keluar dengan napas memburu sedangkan David tampak puas.


"A-Aku mau pergi," ucap Alana seraya mengambil tasnya. Sudah waktunya pergi bekerja jadi dia sudah harus pergi.


"Sudah malam, kau mau pergi ke mana?" tanya David.


"A-Aku mau pergi membeli barang," dusta Alana.


"Membeli apa? Biarkan para penjaga itu yang pergi membelinya."


"Tidak bisa, aku mau membeli perlengkapan wanita."


"Bukankah semalam kau sudah membelinya?" tanya David. Kini dia jadi curiga.


"A-Aku melupakan sesuatu!" Alana melangkah mundur, dia sudah harus pergi.


"Apa kau menipu aku, Alana?" David semakin curiga.


"Tidak, aku sudah menyiapkan makanan. Aku harus pergi sekarang!" Alana keluar dari kamar dengan terburu-buru.


"Tunggu, Alana. Mau pergi ke mana kau?" teriak David yang melangkah keluar dari kamar dengan kaki yang pincang.


"Aku hanya sebentar!" Alana berlari keluar, mengabaikan teriakan David.


"Alana, jangan coba-coba kau pergi!" teriak David lagi namun Alana mengabaikan teriakannya.

__ADS_1


David berdiri di depan jendela menyaksikan kepergian Alana, pasti ada yang disembunyikan oleh gadis itu. Dia harus tahu. Jangan katakan Alana pergi menemui Stanley karena jika sampai hal itu terjadi, maka dia tidak akan mengampuninya.


__ADS_2