
Veronica yang tidak terima pun pergi menemui seseorang, tentunya yang dia temui adalah nenek David. Karena dia dan David berteman sejak lama jadi dia kenal dengan seluruh anggota keluarga David. Ibu David memang sudah meninggal tapi ayahnya menikah lagi.
David yang tidak terima ibunya dibuang oleh ayahnya saat sedang sakit lebih memilih keluar dari keluarganya dan berbisnis sendiri. Dengan sedikit uang yang diberikan oleh mendiang ibunya, David memulai bisnisnya dari bawah dan dia bisa sukses setelah jatuh bangun selama bertahun-tahun oleh sebab itu, dia tidak suka dengan sikap Alana yang mudah menyerah. Dia pun sudah merasakan pahit manisnya kehidupan oleh sebab itulah dia bersikap keras pada Alana tapi Alana justru mengira pria itu menindas dirinya.
Veronica yang takut tidak bisa memiliki David memanfaatkan hal ini dengan baik, hanya Nenek David yang bisa membantunya dan dia pasti akan menendang Alana keluar dari rumah pria itu. Kedatangan Veronica tentu di sambut baik oleh keluarga David apalagi sang nenek yang memang sudah sangat menyayangi Veronica sejak dulu.
"Nenek, aku datang dan aku membawakan makanan kesukaan Nenek," Veronica meletakkan makanan yang ada di atas meja dan memeluk Ellen Douglas.
"Kenapa kau datang sendirian, mana David?" tanya Ellen sambil mencari keberadaan cucunya.
"Aku datang sendiri, Nenek," Veronica duduk di sisi Ellen, dia harus mendapatkan simpati wanita tua itu dan mendapatkan dukungan darinya.
"Kenapa? Apa David tidak mau menemani dirimu?"
"David?" Veronica menunduk dan terlihat sedih.
"Ada apa? Kalian tidak bertengkar, bukan?" tanya Ellen curiga.
"Tidak, Nenek. Hubungan kami baik-baik saja tapi David tidak peduli denganku akhir-akhir ini," ucap Veronica.
"Kenapa? Apa dia sudah punya kekasih? Apa kau belum bisa mendapatkan hatinya?"
"Bukan begitu, Nenek. David?" Veronica kembali terlihat sedih agar nenek David semakin iba dengannya.
"Katakan, apa yang sebenarnya terjadi? Nenek akan membantumu jika bisa."
"Apa benar? Apa Nenek mau membantu aku?" Veronica terlihat senang dan wajahnya pun terlihat berseri.
"Tentu saja, Nenek juga akan membantumu mendapatkan David jika memang perlu."
"Terima kasih, Nenek," Veronica benar-benar senang, akhirnya dia mendapatkan bantuan yang bisa menyingkirkan Alana dari kehidupan David.
"Jadi, katakan pada Nenek apa yang terjadi?"
"Nenek, apa kau benar-benar mau membantu?" Veronica mulai membujuk.
"Tentu saja," ucap Ellen.
__ADS_1
"Dengar, Nenek. Sebentar lagi aku akan berulang tahun. Apa Nenek mau membantu aku?"
"Sudah aku katakan aku pasti membantu jadi katakan saja."
Veronica tersenyum manis, namun dibalik senyuman manis itu tersimpan sebuah kelicikan. Seharusnya dia melakukan hal itu sejak dulu, dia sungguh tidak memikirkannya tapi sekarang, walau agak sedikit terlambat dia pasti bisa menjadikan David sebagai miliknya tentunya dengan bantuan sang nenek.
Tanpa ada yang tahu apa yang direncanakan oleh Veronica, David pergi ke kantor seperti biasa. Alana pun mendapat tugas untuk membawa makan siang, tentunya itu adalah kabar buruk bagi Alana karena dia tahu akan ada penalty lagi yang menanti.
Alana sangat kesal tapi dia tidak punya pilihan sehingga mau tidak mau dia harus pergi mengantar makanan. Semoga tidak ada protes yang menyebalkan, dia pun berniat langsung pulang setelah mengantar makanan itu namun perkataan David adalah perintah yang tidak terbantahkan.
"Duduk dan diam di sana!" perintah itu pun dibantah, jika langsung menurut tanpa berdebat terlebih dahulu bukan Alana namanya.
"Aku ingin pulang, pekerjaanku banyak!" ucap Alana.
"Aku bilang, duduk di sana!" ucap David seraya menatapnya dengan tajam.
"Cih, menyebalkan!" mau tidak mau Alana melangkah menuju sofa dan menunggu David sampai pria itu menyelesaikan pekerjaannya.
Rasanya jadi mengantuk, dia pun sudah menguap beberapa kali. Alana melihat ke arah David sambil menggerutu, sampai kapan dia harus menunggu pria itu? Kesal, padahal David bisa membiarkannya pulang sehingga dia bisa melanjutkan pekerjaannya.
David benar-benar sibuk, dia tidak menyadari jika Alana sudah terlelap dan setelah selesai, David melangkah menuju sofa dan menggeleng melihat si mantan nona muda tidur dengan begitu nyenyaknya. Bagus, sungguh bagus. Diminta untuk menunggu sebentar dia justru tidur. Suara dengkurannya bahkan terdengar.
Makanan sudah pasti dingin, tapi David tetap menikmatinya dan tidak membangunkan Alana. Biar saja gadis itu tidur karena ada penalty yang menunggu. Tidur Alana benar-benar nyenyak, dia bahkan tidak sadar jika David sudah selesai makan dan mengerjakan pekerjaannya di sofa sambil sesekali melihat ke arahnya.
"Pria jahat, pelit. Jika aku penyihir, akan aku sihir kau menjadi kurcaci gendut dan jelek!" ucap Alana dalam igauannya.
David memperhatikannya, sangat bagus. Dia ingin mendengar lebih banyak karena satu perkataan buruk tentang dirinya maka Alana akan membayar penalty nantinya. Alana masih saja mengoceh tidak karuan sampai akhirnya dia terbangun saat seseorang mengetuk pintu dan masuk ke dalam.
Alana terkejut, buru-buru bangun dan duduk tapi yang paling membuatnya terkejut adalah, David yang sedang memperhatikan dirinya. Air liur yang menetes pun diusap dengan cepat. Alana melihat sekitar dan mulai sadar jika dia masih berada di kantor David.
"Bagus, kembalilah tidur. Akan aku bangunkan saat mau pulang," ucap David mencibir.
"Ti-Tidak, aku tidak sengaja," semoga tidak penalty, semoga tidak. Dia sangat berharap karena itu juga bukan salahnya.
"Tidak apa-apa, aku sudah menghitung semua penalty yang harus kau bayar jadi tidurlah lagi."
"Apa? Aku tidak sengaja jadi jangan memberikan aku penalty," pinta Alana.
__ADS_1
"Tidak bisa, setiap kesalahan yang kau lakukan tetap diberi penalty!"
"Please, bos yang baik paling dan tampan. Untuk kali ini tidak ada penalty, oke? Kau akan semakin tampan jika berbuat baik" Alana berusaha membujuk dengan kata-kata manisnya.
"Tidak!" tolak David.
"Cih, sial!" Alana kembali kesal.
"Satu umpatan, seratus dolar. Bisnis yang sangat menguntungkan, Alana. Hutangmu sudah lebih dari dua juta dolar sekarang!"
"Apa?" teriak Alana karena terkejut.
"Tidak perlu berteriak seperti itu!"
"Apa kau sudah gila?" teriak Alana lagi.
"Tidak, kau bisa menghitungnya sendiri."
"Menyebalkan!" ucap Alana seraya beranjak.
"Mau ke mana?"
"Pulang, aku bisa gila jika terlalu lama bersama denganmu. Setiap detik, selalu penalty yang aku dapat jadi sebaiknya aku pulang saja!" ucap Alana kesal.
"Jangan lupa kerjakan pekerjaanmu dengan benar!" ucap David.
"Tidak perlu diingatkan!" teriak Alana kesal. Pintu hendak dibanting tapi tidak jadi karena berat.
"Hei, tempat makan. Jika tidak kau bawa pulang maka penalty menanti!" teriak David.
Alana kembali masuk ke dalam dengan perasaan kesal luar biasa. Dia bahkan tidak mau melihat ke arah David dan mengambil tempat makan yang ada di atas meja tentunya sambil mengomel. Alana benar-benar kesal namun David tersenyum tipis melihat Alana.
"Hm!" Alana mendengus dan melangkah pergi.
Senyum David semakin lebar, kenapa dia jadi merasa sangat menyenangkan membuat Alana kesal? Tapi sikap Alana yang seperti itu lebih baik dari pada sikapnya yang terpuruk dan putus asa. Alana kembali ke rumah sambil menghitung penalty yang dia dapatkan. Sial, benar-benar sudah banyak sampai dia sendiri tidak bisa menghitungnya.
Rasanya sangat kesal tapi ketika dia kembali, dia justru terkejut dengan seorang wanita tua yang sedang duduk di ruang tamu. Wanita tua itu menatap ke arahnya dengan tatapan tidak bersahabat. Siapa wanita tua itu?
__ADS_1