
Setelah mengantar neneknya pergi, David bergegas masuk ke dalam untuk mencari Alana. Sekarang waktunya bertanya pada Alana apa yang dia bicarakan dengan neneknya. Dia harap Alana tidak menyembunyikan apa pun darinya dan mau berkata jujur.
David melangkah menuju kamar dan tanpa mengetuk lagi, pintu kamar pun dibuka. Alana yang sedang membuka pakaian dalam bagian bawahnya terkejut, begitu juga dengan David.
"Mesum!" teriak Alana, sebuah benda dia raih dari atas ranjang dan benda itu dilemparkan ke arah David.
"Tidak perlu berteriak dan melempar, waktu itu kau memperlihatkan secara cuma-cuma!" teriak David seraya menghindar.
"Waktu itu dan sekarang berbeda jadi keluar!" teriak Alana lagi sambil menutupi anggota tubuhnya.
"Ck, merepotkan!" David melangkah keluar dengan perasaan bergejolak yang sedang dia tahan. Dia sedang berusaha melupakan bayangan tubuh gadis itu tapi kini dia harus kembali melihatnya.
"Segera temui aku jika kau sudah selesai!" ucapnya sebelum menutup pintu.
Alana diam saja, dia tahu David pasti ingin tahu apa yang dia bicarakan dengan neneknya. Apakah dia harus mengatakan pada David apa yang ditawarkan oleh nenek David padanya? Dia rasa David tidak berhak mencegah keputusan yang dia ambil nantinya.
Kali ini bukan kesalahannya, tawaran yang sangat menggiurkan berada di depan mata jadi dia tidak boleh menyia-nyiakannya tapi apakah keputusannya sudah benar? Alana segera memakai baju, jangan sampai membuat pria itu menunggu terlalu lama sehingga dia murka.
Setelah bajunya dikenakan, Alana segera keluar dan mencari David. Pria itu sudah menunggunya di ruang tamu, Alana pun bergegas menemui pria itu dan berdiri tidak jauh.
"'Untuk apa jauh-jauh seperti itu?" tanyanya dengan dingin.
"Tidak jauh, aku masih bisa melihatmu dan mendengar suaramu!" jawab Alana sinis.
David menatapnya tajam tapi entah kenapa tiba-tiba dia seperti sedang melihat Alana tanpa sehelai benang pun. David mengerjapkan kedua mata lalu kembali melihat ke arah Alana yang melangkah dua langkah untuk mendekat. Sial, sepertinya otak dan matanya bermasalah.
"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya Alana heran.
"Hm, tidak!" David memalingkan pandangannya dengan cepat.
"Lalu, kenapa kau meminta aku untuk menemui dirimu?" tanya Alana.
"Ke mari, lebih dekat! Apa kau sedang berbicara dengan psikopat?" teriak David lantang.
"Kau memang psikopat menyebalkan!" teriak Alana pula namun dia pun melangkah mendekati David.
__ADS_1
"Siapa yang psikopat? Lebih dekat lagi!" teriak David pula.
Alana benar-benar kesal, dia kembali melangkah semakin dekat sampai berada tidak begitu jauh dari David. Mereka berdua saling menatap dengan api permusuhan yang memenuhi hati.
"Sudah puas atau belum?" tanya Alana.
"Bagus, jangan jauh-jauh. Aku malas berteriak!" ucap David beralasan.
"Tidak perlu basa basi, sekarang katakan padaku untuk apa kau ingin menemui aku?"
"Tidak perlu berpura-pura, sekarang katakan padaku apa yang kau bicarakan dengan nenekku?"
"Kami tidak membicarakan apa pun," dusta Alana.
"Jangan menipu, aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu!"
"Aku tidak menipu. Lagi pula kenapa kau bertanya padaku, kenapa kau tidak bertanya pada nenekmu tadi?"
"Jangan menguji kesabaran, Alana. Katakan padaku apa yang kalian bicarakan?"
"Kenapa diam?" tanya David sambil membentak sehingga Alana terkejut.
"Bisa tidak kau tidak berteriak seperti itu? Kau sudah meminta aku untuk mendekat tapi kau masih saja berteriak jadi buat apa aku mendekat? Sebaiknya aku berdiri jauh-jauh saja!" ucap Alana.
Alana beranjak pergi namun langkahnya terhenti saat David meraih tangannya. Alana terkejut dan berpaling, pria itu pun menatapnya dengan tajam.
"Sekarang katakan padaku, apa yang kau bicarakan dengan nenekku?" kini David bertanya dengan suara pelan.
"Dia," Alana agak ragu tapi dia rasa David memang harus tahu, "Nenekmu memberikan penawaran padaku," ucap Alana lagi.
"Penawaran apa, katakan?" tanya David tidak sabar.
"Nenekmu menawarkan bantuan untukku. Dia akan melunasi semua hutangku asal aku pergi dari sini," ucap Alana.
"Apa? Jadi nenekku menawarkan hal itu padamu?" Sudah dia duga, pasti ada yang tidak beres dengan kedatangan neneknya.
__ADS_1
"Ya," Alana berpaling dan menatap ke arah David yang sedang menatapnya tajam, "Dia akan membayar semua hutang-hutangku padamu asalkan aku pergi dari rumahmu ini, bagaimana menurutmu?" tanya Alana. Dia ingin lihat bagaimana dengan reaksi David.
"Jadi kau menerima penawaran yang nenekku berikan?" tanya David, dia sudah terlihat marah.
"Seseorang memberikan aku tawaran yang menggiurkan, apa aku harus menolaknya?" tanya Alana pula.
"Jadi kau menerimanya?" teriak David seraya beranjak.
"Tidak perlu berteriak. Aku justru bertanya padamu sekarang, apakah aku harus menerima tawaran dari nenekmu atau tidak? Aku tidak mau setelah aku pergi dari rumah ini aku justru terjerat di rumah lainnya yang semakin membuat aku terikat lebih lama tapi sesungguhnya aku tidak mempermasalahkan hal itu apalagi nenekmu akan memberikan aku secara cuma-cuma bantuan itu tapi aku ingin tahu, apakah kau mau menerima uang yang diberikan oleh nenekmu padaku sebagai pembayaran semua hutangku padamu?" tanya Alana. Jika David bersedia menerima uang itu maka dia juga akan menerima penawaran yang diberikan oleh nenek David.
"Tidak, aku tidak terima!" jawab David dengan cepat.
"Kenapa? Apa alasanmu tidak mau menerima uang yang akan diberikan oleh nenekmu padaku?" tanya Alana dengan cepat.
"Asal kau tahu, Alana. Uang yang dipinjam oleh ayahmu bukan uang orang lain tapi uangku, uang dari hasil jerih payahku sendiri dan aku ingin kau mengembalikan uang itu dengan hasil jerih payahmu sendiri jadi aku tidak terima uang instan seperti itu!"
"Cih, sudah aku duga!" ucap Alana sinis.
"Bagus, jadi sana siapkan makanan. Aku lapar!" ucap David seraya melepaskan tangan Alana dari pegangan tangannya.
"Bos menyebalkan, kau dan nenekmu sama saja!" gerutu Alana.
"Yang panas, aku tidak mau yang dingin!" ucap David sambil sedikit berteriak.
"Cerewet!" teriak Alana kesal.
David tersenyum tipis saat Alana melangkah pergi tapi senyuman itu sirna. Ternyata neneknya memberikan penawaran seperti itu pada Alana tapi kenapa Alana bertanya padanya? Padahal gadis itu bisa menerima penawaran dari neneknya yang menggiurkan tanpa perlu bertanya. Bukankah Alana bisa pergi dari rumahnya seperti yang dia inginkan selama ini? Tapi kenapa Alana justru bertanya padanya akan tawaran yang menggiurkan itu?
Awas saja nanti, dia akan membahas hal ini pada neneknya saat dia pulang nanti. Dia tidak suka neneknya ikut campur masalah dalam hidupnya dan dia yakin, Veronica telah mengadu dan membicarakan yang tidak-tidak pada neneknya.
David melangkah menuju dapur, di mana Alana sedang memanaskan makanan sambil mengomel. Sepertinya dia sudah gila harus bertanya pada David apakah dia harus menerima tawaran menggiurkan itu atau tidak padahal itu adalah kesempatan emas baginya untuk pergi dari rumah itu tapi sesungguhnya dia sengaja bertanya pada David karena sudah pasti dia akan menolak tawaran yang diberikan oleh nenek David.
Jika dia tidak memikirkan apa yang akan dia alami setelah pergi dari rumah pria itu, dia tidak akan ragu. Dia tidak memiliki tujuan setelah dia terbebas dari cengkeraman pria itu. Ke mana dia harus pergi? Ke mana dia harus tinggal? Untuk nona muda yang tidak berguna seperti dirinya, pasti akan sangat sulit menemukan pekerjaan apalagi sebagai pelayan saja dia tidak becus. Karena hal itulah, dia tidak bisa menerima tawaran dari nenek David.
David duduk di meja makan, tatapan mata tidak lepas dari Alana. Dia jadi ingin tahu, apa alasan Alana bertanya akan keputusan yang harus dia ambil atas tawaran yang neneknya berikan? Apakah Alana sudah betah tinggal di rumahnya ataukah ada yang lain. Jangan katakan Alana tidak berani menerima tawaran dari neneknya karena ada benda berharga miliknya yang dipecahkan lagi.
__ADS_1