Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Perasaan Yang Tak Terbendung


__ADS_3

David sangat heran karena Alana belum juga kembali dari kamar mandi apalagi Alana sudah pergi lama. David berinisiatif untuk menyusul tapi tidak jadi saat melihat Alana sudah kembali. Alana melihat ke belakang sesekali, seperti melihat seseorang di belakang. Tentunya David jadi curiga dengan gerak gerik gadis itu. Alana bahkan menghentikan langkahnya sejenak lalu melihat lagi ke belakang.


David memperhatikan gerak gerik Alana yang sangat mencurigakan dari tempat duduknya. Dia yakin jika ada yang ditemui oleh Alana, jika tidak maka dia tidak akan menunjukkan gerak gerik mencurigakan seperti itu. Apakah Stanley? Itu bisa saja terjadi dan bisa saja ada yang lainnya.


Alana melangkah mendekati meja dengan terburu-buru. Agar David tidak curiga, Alana tersenyum dengan manis saat David menatapnya tajam.


"Kenapa begitu lama?" tanya David basa basi.


"Maaf, perutku sedikit mulas," jawab Alana beralasan.


"Benarkah? Apa kau sudah tidak bisa memakan makanan mahal ini? Apa levelmu hanya sampai pada makanan fastfood?" cibir David.


"Bukan begitu," ucap Alana.


David semakin curiga, Alana yang suka membantah perkataannya tiba-tiba tidak membantah lagi. Gadia itu mendadak jinak seperti orang lain. Pasti ada yang sedang disembunyikan oleh gadis itu. Tanpa berkata apa-apa, David beranjak. Sudah saatnya pergi karena mereka sudah selesai makan. Alana pun beranjak dan mengikuti David namun dia kembali melihat ke belakang untuk mencari sosok yang telah berbicara dengannya tadi. Sesungguhnya dia sangat ingin tahu, siapa pria yang baru saja menemui dan menawarkan bantuan padanya?


"Apa kau menyembunyikan sesuatu dariku, Alana?" tanya David saat mereka sudah berada di dalam mobil.


"Tidak, aku tidak menyembunyikan apa pun darimu!" jawab Alana dengan cepat.


"Cih, gadis naif seperti dirimu ini apa kau kira kau bisa menipu aku?" David menatapnya dengan tatapan tajam, dia tidak suka dengan sikap Alana yang menipu dirinya seperti itu.


Alana juga menatapnya, dia sedang di dalam dilema. Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Kenapa tiba-tiba ada yang menawarkan bantuan agar dia terbebas dari David Douglas? Waktu itu Stanley dan sekarang entah siapa lagi. Apakah pria tadi adalah orang utusan Stanley?


"Kenapa kau diam saja?" tanya David.

__ADS_1


"Entahlah, aku tidak tahu," Alana tampak frustasi. Dia sungguh tidak mengerti kenapa banyak yang menawarkan bantuan padanya agar dia bisa terbebas dari David Douglas. Apakah ini hanya kebetulan semata ataukah ada maksud tertentu dari tawaran-tawaran yang dia dapatkan.


Entah kenapa dia merasa ada yang janggal dan yang menjadi pertanyaannya saat ini adalah, seharusnya tidak ada satu orang pun yang tahu jika dia bekerja dengan David tapi kenapa ada yang tahu? Apa David menyebarkan pada orang-orang jika dia sudah menjadi pelayan di rumah pria itu agar orang-orang tahu lalu mengejek dirinya?


"Kau tahu, Alana. Aku tidak suka seorang penipu!"


Alana tidak menjawab, dia justru melihat ke arah David sejenak lalu kembali berpaling. Apa yang sebenarnya terjadi? Dia benar-benar butuh jawaban dari banyaknya tanda tanya yang terus bermunculan di dalam hatinya.


"Kenapa kau diam saja?" David menarik tengkuknya sehingga leher Alana berputar dan wajahnya berpaling ke arahnya.


"Sakit!" teriak Alana marah.


"Jangan diam saja dan katakan padaku, apa kau menyembunyikan sesuatu dariku?" tanya David.


"Jangan coba-coba, Alana. Aku tidak akan memaafkan dirimu!"


"Jika begitu katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada perusahaan ayahku sebelum mereka bunuh diri? Kenapa seperti ada misteri di balik semua yang terjadi?" Alana menatapnya dengan air mata yang hampir mengalir. Kenapa tidak ada satu orang pun yang mau mengatakan padanya apa yang terjadi?


"Aku mana tahu, kau tahu aku dan ayahmu adalah musuh jadi untuk apa aku ikut campur dalam masalah yang sedang dia alami?"


"Aku tidak percaya kau tidak tahu. Ayahku pasti mengatakan sesuatu padamu saat dia meminjam uang padamu!" teriak Alana dengan air mata yang mulai mengalir dengan deras karena dia sudah tidak tahan lagi.


"Aku memang tidak tahu, kenapa kau berkata seolah-olah kau mencurigai aku?" David terlihat marah dan tidak senang.


"Lalu kenapa kau setuju meminjamkan uang pada ayahku, kenapa?" Alana mulai memukul dada David, dia tidak tahan lagi dengan semua pertanyaan yang menyesakkan dada.

__ADS_1


"Kau tahu aku nona muda yang tidak berguna, kau tahu aku tidak bisa melakukan apa pun tapi kenapa kau setuju dengan jaminan yang ayahku berikan padamu sehingga kau mau meminjamkan uang padanya? Apa kau sengaja melakukannya untuk mengejek dan menghina aku?" teriak Alana, kedua tangan terus memukul tanpa henti.


"Jaga ucapanmu, jangan sembarangan menuduh!" David pun berteriak marah.


"Lalu katakan padaku, dari mana orang-orang itu tahu aku bekerja menjadi pelayan di rumahmu? Hanya kau saja yang tahu, kau pasti menyebarkan berita ini pada orang-orang agar aku dihina, agar orang-orang iba padaku oleh sebab itu mereka menawarkan bantuan untuk menghina aku!" teriak Alana lagi.


"Bodoh, apa aku sehina itu? Untuk apa aku memainkan trik licik seperti itu?"


"Kau melakukannya karena kau ingin menghina aku!" Alana tak henti memukul David untuk melampiaskan kekesalan hatinya.


David diam saja, membiarkan Alana memukulnya. Alana sudah tidak tahan dengan apa yang terjadi, dia bisa tahan dengan hinaan pria itu, dia bisa tahan dengan pekerjaannya sebagai pelayan tapi apa yang dia rasakan selama ini tumpah begitu saja.


David yang tadinya hanya diam tiba-tiba memeluk gadis itu, Alana sedikit terkejut namun pada akhirnya dia menangis meraung. Menumpahkan semua perasaan sesak yang dia rasakan selama beberapa hari belakangan di dalam pelukan hangat pria yang sangat dia benci.


"Menangislah sampai kau puas tapi setelah ini kau harus mengatakan padaku, siapa yang baru saja kau temui!" ucap David. Tangannya mengusap punggung Alana, memberikan ketenangan pada Gadis itu.


"Kenapa ayahku begitu jahat, kenapa mereka tidak mengatakan padaku apa yang terjadi? Seharusnya mereka mengajak aku mati sehingga kami mati bersama tapi kenapa mereka meninggalkan aku dalam keadaan seperti ini di mana hutang begitu banyak? Kenapa ayahku menjadikan aku sebagai jaminan?" pertanyaan Alana begitu banyak, tentunya pertanyaan yang selalu ingin dia tahu jawabannya.


"Menangislah sampai kau puas tapi setelah ini jangan pernah menunjukkan air mata dan kelemahanmu pada siapa pun. Kematian kedua orangtuamu yang janggal dan orang-orang yang ingin menolongmu secara tiba-tiba itu, kita bisa mencaria tahu apa tujuan mereka jika kau mau!" ucap David.


"Pria seperti dirimu, tidak mungkin mau membantu! Bukankah kau benci denganku? Sebab itulah kau memperbudak aku di dalam rumahmu!"


"Jangan salah paham, Alana. Apa yang aku tawarkan tidaklah gratis!"


"Menyebalkan!" teriak Alana. Pada akhirnya dia harus membayar dan hutangnya akan semakin banyak. Untuk melampiaskan kekesalan terakhirnya pada David, Alana menggigit dada David. Entah dapat keberanian dari mana yang pasti David berteriak Akibat gigitan gadis itu. Tubuh Alana di dorong namun Alana benar-benar melampiaskan kekesalan yang dia rasakan pada pria itu. Dia tidak peduli, semua yang dia rasakan ditumpahkan saat itu juga dan otot dada David menjadi korban atas pelampiasan yang sedang Alana lakukan.

__ADS_1


__ADS_2