Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Aku Pelayanmu!


__ADS_3

Veronica kembali sambil menahan amarah dan malu luar biasa akibat ditinggalkan begitu saja dan akibat tidak bisa membayar semua baju yang dia ambil. Padahal dia hanya ingin mengerjai Alana tapi justru dia yang mendapatkan sial. David juga begitu tega meninggalkan dirinya begitu saja padahal David sudah tahu jika dia tidak mungkin bisa membayar semua baju dengan harga fantastis itu.


Veronica pun mengadu pada sang nenek dan menyalahkan Alana yang sudah mengganggu waktunya dengan David. Semua yang terjadi padanya sudah pasti gara-gara mantan nona muda itu. Akan dia balas, pasti akan dia balas. Setelah malam ini dan setelah dia mendapatkan David maka dia akan menendang gadis itu keluar dari kehidupan David.


Malam pesta tentu sudah akan dimulai beberapa jam lagi, Veronica sudah harus bersiap-siap apalagi dia adalah bintangnya. Malam ini, apa pun yang dia inginkan harus dia dapatkan terutama David. Pria idamannya harus menjadi miliknya malam ini juga.


David yang sudah berada di rumah benar-benar enggan untuk pergi, jika bisa dia lebih senang tidur dari pada pergi ke pesta yang tidak penting itu. Alana pun berada di dalam kamar, dia sedang mengintai David pergi karena dia juga harus pergi bekerja. Sejauh ini aman, cukup aman dan dia harap David tidak pernah tahu jika dia sedang bekerja sampingan.


Masih ada waktu, dia harap David segera pergi tapi David justru melangkah mendekati kamar Alana untuk menghilangkan kebosanan. Dia butuh vitamin sebelum pergi ke pesta yang menyebalkan itu.


"Alana, keluar sekarang!" pinta David sambil mengetuk pintu.


"Mau apa? Aku sudah selesai bekerja!" jawab Alana sambil berteriak.


"Siapa bilang kau sudah selesai, sekarang keluar dan bantu aku memakai pakaian!" perintah David.


"Apa? Memangnya kau anak kecil!" teriak Alana namun Alana buru-buru menutup mulut karena dia bisa mengulangi kejadian yang sama gara-gara perkataannya.


"Sepertinya kau sangat senang memandikan aku, Alana. Aku tidak keberatan mandi lagi jika kau mau," goda David.


"Tidak sudi!" pintu kamar sudah terbuka, Alana menatapnya tajam dengan ekspresi tidak senang.


"Kau benar-benar menyebalkan!"


"Aku memang seperti ini, sekarang bantu aku mengenakan pakaian karena aku sudah harus pergi!" David meraih tangan Alana dan menariknya menuju kamar.


"Sebal, kenapa harus aku? Memangnya kau tidak bisa menggunakan pakaian sendiri!" rasanya sangat kesal, sepertinya David sengaja ingin membuatnya kesal.


"Aku bosan memakai baju sendiri jadi mulai sekarang kau yang harus memakaikannya!"


"What? Apa kau sudah gila?" teriak Alana kesal.

__ADS_1


"Tidak, mulai sekarang tugas barumu adalah memakaikan aku baju jika menolak maka potong gaji!"


"Ck, menyebalkan!" entah apa mau David tapi mengganggu Alana merupakan kesenangan sendiri bagi David.


Dengan perasaan dongkol, Alana mengambil baju yang David inginkan dari dalam lemari. Pria itu sudah menunggu dengan senyuman menghiasi wajahnya. David sudah berdiri di hadapan David dengan tatapan tajamnya.


"Cepat lepaskan!" ucap Alana kesal.


"Kau yang harus melepaskannya, Alana!"


"Ya, Tuhan. Aku benar-benar benci denganmu!" sungguh pria yang sangat menyebalkan, jangan sampai dia terlibat terlalu jauh dengan pria super menyebalkan itu.


"Jadi?" kedua tangan sudah direntangkan agar Alana bisa membuka baju yang dia kenakan.


"Cerewet, lepas ya lepas!" baju kaos yang dikenakan oleh David pun diangkat naik. Jantung Alana berdegup, walau pun dia sudah pernah melihat tubuh David tapi tetap saja dia masih merasa malu.


Setelah baju David terlepas, Alana mengambil kemeja yang ada di atas ranjang. Dia kembali mendekati David untuk memakaikan kemeja itu. Tidak ada yang berbicara di antara mereka berdua, napas Alana tampak memburu bahkan tangannya gemetar saat mengancingkan kemeja David. Sungguh situasi yang tidak dia sukai.


"A-Aku gugup!" ucap Alana karena dia memang gugup. Ini baru bagian atas, lalu bagaimana saat bagian bawah?


"Jika tidak mau memakaikan aku baju tidak apa-apa tapi sebagai gantinya berikan aku sebuah ciuman!" ucap David.


"Apa? Aku tidak mau!" tolak Alana.


"Jika begitu gantikan semuanya, jangan ada yang terlewat!"


"Ka-kau gila!" Alana semakin kesal.


"Jadi?" dagu Alana sudah terangkat ke atas. Kedua tangan Alana berada di dada David, menahan tubuh pria itu agar tubuh mereka memiliki jarak.


"Ti-Tidak seharusnya kita melakukan hal ini, David. Aku pelayanmu!" ucap Alana.

__ADS_1


"Aku tidak peduli!" David memberikan kecupan ringan ke bibir Alana tapi itu tidaklah cukup.


Mereka berdua saling pandang, Alana sungguh tidak mengerti dengan apa yang David lakukan. Tidak mungkin pria itu menginginkan dirinya. Tidak, mereka adalah musuh dan dia adalah pelayan yang memiliki hutang. Dia rasa mereka berdua terbawa suasana saja.


Bibir Alana sudah berada di mulut David. Tubuh gadis itu pun didekap dengan erat sehingga tubuh mereka berdua tidak memiliki jarak. Kedua tangan Alana yang tadinya berada di dada David kini sudah melingkar di tubuh pria itu. Pikirannya benar-benar kosong. Seharusnya dia menolak ciuman David tapi dia justru terbuai dengan ciuman kasar pria itu namun memabukkan.


"David, bukankah kau mau pergi?" tanya Alana saat David sedang mencium pipinya.


"Nanti!" setelah menjawab David kembali mencium bibir Alana yang sudah membuatnya kecanduan bahkan dia merasa bibir gadis itu bagaikan vitamin.


Akibat ciuman yang David berikan, kedua kaki Alana sampai tidak mampu berpijak. Kedua kaki Alana lemas sehingga David harus menggendong Alana yang sudah bersandar di bahunya dengan napas yang berat. David tersenyum dan tampak puas, tangannya tak henti membelai rambut Alana.


"Yakin kau tidak mau ikut denganku?" tanya David.


Alana menggeleng, dengan pikiran kacau. Sebenarnya bagi David dia ini apa? Dia adalah pelayannya tapi kenapa David justru memperlakukan dirinya bagaikan kekasihnya saja? Apa dia yang terlalu murahan sehingga bisa dicium begitu mudahnya? Sepertinya begitu karena dialah yang telah menggoda pria itu terlebih dahulu.


"Aku mau kembali ke kamar," Alana mendorong tubuh David dan berpaling.


"Tunggu, kau belum selesai!"


"Hetikanlah, David. Jawab aku sekarang, Kau menganggap aku sebagai apamu? Apa kau menganggap aku sebagai orang yang spesial atau kau hanya menganggap aku sebagai pelayan yang bisa kau manfaatkan sesuka hatimu? Memang aku yang salah karena sudah menggoda dirimu tapi apa yang kita lakukan saat ini sudah melewati batasan antara pelayan dan majikan. Kau tidak mungkin jatuh cinta padaku, bukan? Aku yakin tidak mungkin karena sejak awal aku adalah putri dari musuhmu dan aku adalah mantan nona muda yang tidak berguna. Aku tahu kau tidak menyukai aku jadi tolong jangan melakukan hal ini lagi!" ucap Alana.


"Apa perlu aku jelaskan, Alana? Jawabanku sudah pasti bukan dan aku rasa kau tahu jawabannya!"


"Jika begitu berhentilah, jangan perlakukan aku seperti gadis murahan yang bisa kau cium sesuka hatimu!" Alana melangkah pergi, sudah cukup karena dia tidak mau terlihat seperti gadis murahan yang bisa dicium oleh David sesuka hatinya walau pun dia menikmatinya.


David diam, dia tidak mencegah Alana yang sedang melangkah menuju pintu kamar. Alana menghentikan langkah sejenak, dia merasa mereka sudah terlalu melewati batas oleh sebab itu mereka harus berhenti sebelum terlalu jauh dan kembali seperti semula dan tidak melupakan hubungan mereka yang sebenarnya.


"Tolong ingat, David. Aku adalah pelayanmu, jadi jangan perlakukan aku seperti ini apalagi kau tidak memiliki perasaan padaku!" Alana kembali melangkah keluar, David mengumpat saat pintu tertutup rapat. Apa yang terjadi dengannya? Kenapa dia merasa tidak senang?


Alana memang pelayannya tapi kenapa dia tidak senang sama sekali? David mengumpat dan memaki, apa yang terjadi dengannya? Padahal dia ingin menggoda Alana sebelum dia pergi tapi apa yang terjadi? Aneh, tiba-tiba dia merasa aneh. Dengan pikiran kacau, David pergi ke acara ulang tahun Veronica. Entah apa yang terjadi dengannya, dia akan memikirkan hal ini nanti dan setelah dia pergi, Alana pun pergi untuk bekerja. Dia harap, David tidak memperlakukan dirinya seperti itu lagi tapi malam mereka berdua masih panjang.

__ADS_1


__ADS_2