Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Kekalahan Stanley


__ADS_3

Alana berusaha meraih gagang pintu untuk keluar dari ruangan itu, dia baru saja keluar dari ruangan di mana dia di sekap namun ruangan itu terhubung dengan ruangan lainnya. Dengan keadaannya yang hanya bisa menarik tubuhnya, tentu membuat Alana kesulitan. Alana sudah berusaha, benar-benar sudah berusaha untuk keluar dari tempat itu tapi pada akhirnya dia akan kembali tertangkap.


Stanley segera melangkah mendekati Alana, akan dia beri pelajaran pada gadis itu, Alana terkejut saat pintu lain terbuka dan Stanley muncul dari ruangan itu. Alana mulai panik, dia pun berusaha menggapai handle pintu tapi Stanley sudah melangkah mendekatinya.


"Beraninya kau melarikan diri, Alana!" teriak Stanley sambil memegangi tongkat yang ada di tangan dengan erat.


"Biarkan aku pergi!" teriak Alana.


"Tidak akan aku biarkan!" Stanley yang sudah melangkah mendekat pun memukul tubuh Alana menggunakan tongkatnya. Alana berteriak, pria itu tidak berhenti karena dia sudah dikuasai oleh api amarah.


"Kau membuat pembeli itu lari, seharusnya kau sudah bersama dengannya pergi ke tempat pelacuran. Aku tidak akan memaafkanmu, penghinaan yang ayahmu berikan akan aku balas!" setelah berkata demikian, Stanley kembali memukul bahkan kepala Alana di benturkan ke daun pintu.


Alana yang tidak berdaya berteriak tapi karena teriakannya itu membuat David dapat mengetahui posisinya. David yang sudah berpisah dengan sahabatnya karena dia sudah tidak sabar mencari jalan lain secara diam-diam, dia meninggalkan sahabatnya yang sedang berusaha melawan para anak buah Stanley bahkan sahabatnya kembali meminta bantuan.


David bergegas ke arah datangnya suara teriakan Alana, dia berada di luar, mengintai ke dalam. David mencari, melihat ruangan itu dengan teliti sampai akhirnya dia melihat Stanley sedang memukuli Alana tanpa belas kasihan. Api amarah memenuhi hati, Pistol yang ada di tangan di cengkeram dengan erat dan tanpa membuang waktu, David menerobos ke dalam melalui jendela.


Stanley terkejut, Alana yang sudah tidak berdaya masih berada di tangan. Stanley berpaling dan pada saat itu David sudah mengarahkan senjata apinya ke arah Stanley.


"Wah.. Wah, ternyata pahlawanmu datang. Lihatlah, Alana Meyyer. Kau pasti senang melihat kedatangannya, bukan?" cibir Stanley.


"Lepaskan dia, Stanley!" pinta David.


"Berani menembak maka akan aku patahkan lehernya," ancam Stanley.


"Da-David," Alana mengulurkan tangannya seperti ingin menggapai.


"Kau sungguh banci yang hanya berani pada seorang wanita saja jadi lepaskan!" kedua tangan David sudah berada di tangan.

__ADS_1


"Tembak jika kau berani, David. Sekalipun aku mati, kau akan mendekam di penjara dan aku yakin, kau akan mendekam untuk seumur hidup dan gadis ini, tidak akan kau miliki pada akhirnya!" tubuh Alana di tarik hingga berada di depannya, sedangkan tangan masih berada di leher Alana. Itu dia lakukan agar David tidak menembaknya sembarangan.


"Apa kau pikir aku takut, Stanley? Apa kau kira aku tidak berani menembakmu?" tanya David tapi dia belum bisa menembak karena Alana bisa menjadi sasaran empuk dari timah panasnya. Ajak Stanley bicara sebentar dan menunggu dia lengah barulah dia menembak.


"Lakukan jika kau berani!" ucap Stanley.


"Lepaskan dia terlebih dahulu, pengecut. Kita berduel sesama lelaki, jangan hanya bisa berdiri di belakang seorang gadis yang tidak berdaya!" tatapan David tidak lepas dari Alana yang sudah babak belur, Alana bahkan sudah terlihat tidak sadarkan diri. Darah mengalir dari luka di kepalanya dan juga dari hidungnya. Itu semua ulah Stanley yang memukul dan membenturkan kepala Alana ke daun pintu. Rasanya sudah sangat ingin berlari dan memukul Stanley.


Stanley melangkah mundur, tidak bagus. Dia tahu David memiliki kekuasaan dan penjara tidak akan bisa mengurungnya. Sebaiknya dia pergi dari sana dan menggunakan Alana sebagai perisai. David melangkah maju, dia tidak akan melepaskan pria itu yang sudah membuat Alana tidak berdaya menjadi semakin babak belur.


"Mau lari ke mana kau, Stanley?"


"Mau lari ke mana itu bukan urusanmu!"


"Kau sungguh pecundang, mengancam seorang gadis tidak berdaya dan hendak menggunakannya sebagai perisai. Aku bersumpah tidak akan membiarkan kau lari dan akan membunuhmu di tempat ini!"


"Percayalah, Stanley. Aku tidak akan di penjara karena aku sudah mendapatkan ijin untuk membunuh buronan seperti dirimu apalagi sebentar lagi para polisi yang ada di luar sana akan masuk ke dalam dan menangkapmu. Tinggal pilih, Stanley. Berakhir di tanganku atau berakhir di dalam penjara!"


"Apa?" Stanley terkejut, jadi David datang dengan polisi?


"Jangan membual, aku tidak akan percaya!" teriak Stanley.


"Aku tidak memintamu untuk percaya!" setelah mengatakan hal demikian, David melepaskan satu tembakan. Tentunya itu hanya tembakan gertakan. Stanley segera menggunakan tubuh Alana yang tidak berdaya sebagai perisai, gadis itu pasti akan mati di tangan David tapi sayangnya peluru itu tidak mengenai apa pun.


David kembali menembak, Stanley kembali menghindar namun dia mengalami kesulitan karena dia harus menarik tubuh Alana. Kali ini dia yakin Alana pasti akan tertembak namun nyatanya tidak. Stanley mengumpat, dia tidak akan bisa menghindari seperti itu terus menerus. Akal liciknya pun bekerja, Stanley melemparkan Alana ke arah samping, David yang melihat berlari ke arah Alana untuk menangkap tubuh gadis itu.


Stanley menggunakannya sebagai kesempatan. Saat David sibuk menangkap tubuh Alana, saat itu juga Stanley melarikan diri ke arah jendela. David menangkap tubuh Alana yang hendak membentur dinding dengan cepat, hampir saja tapi dia tidak menyia-nyiakan kesempatan. Saat Alana sudah berada di dalam pelukannya. David mengarahkan pistol yang ada di tangan ke arah Stanley.

__ADS_1


Pria itu sudah hampir melompat keluar dari jendela dan dengan cepat, David menembakkan pistolnya berkali-kali ke arah Stanley. Pria itu berlari semakin cepat, dia pun melompat keluar jendela tapi peluru-peluru yang di tembakan oleh David mengenai bahunya. Stanley jatuh tersungkur di luar sana, teriakannya terdengar. David tidak menyia-nyiakan kesempatan, dia meninggalkan Alana sebentar untuk berlari keluar.


Stanley berusaha untuk beranjak, dia harus lari. Pria itu bahkan merangkak untuk melarikan diri, namun David sudah melompat keluar jendela dan melangkah mendekati Stanley.


"Apa kau masih mau lari?" tanya David.


"Sial, aku akan membuat perhitungan denganmu nanti!" ucap Stanley kesal.


"Membuat perhitungan denganku?" David menginjak bahu Stanley di mana timah panas yang dia tembakan bersarang di sana. Stanley berteriak karena sakit tapi David menginjak bahunya dengan kuat.


"Aku rasa tidak akan bisa, Stanley," ucapnya lagi.


"No, David. No!" teriak Stanley namun David sudah melepaskan tembakannya ke arah kepala Stanley.


"Tidak!" Stanley masih berteriak namun peluru-peluru yang baru saja di tembakan mengenai kepalanya dengan tepat. Pria itu langsung mati terkapar, tidak bergerak lagi.


"Selamat tinggal, Stanley!" ucap David dengan ekspresi puas.


David melangkah mundur, lalu melompat masuk ke dalam ruangan melalui jendela. Pria itu pun berlari menghampiri Alana, dia benar-benar terlambat untuk menyelamatkan Alana.


"Maafkan aku, Alana!" ucapnya seraya memeluk Alana dan menggendongnya. Alana yang sudah babak belur, masih tidak sadarkan diri. David hendak membawanya keluar karena dia cemas dan pada saat itu para polisi masuk ke dalam begitu juga dengan sahabatnya.


"Di mana dia?" tanyanya pada David.


"Di luar jendela, aku serahkan sisanya padamu!" ucap David.


"Segera bawa mereka!" perintah sahabatnya pada beberapa anak buahnya untuk segera membawa David ke rumah sakit.

__ADS_1


Alana masih berada di dalam dekapan, dia harap gadis itu bisa bertahan dan untuk kedua kalinya dia harus melihat keadaan Alana yang seperti itu tapi setelah ini, dia bersumpah tidak akan membiarkan Alana mengalaminya lagi karena mulai sekarang dia akan menjaga Alana dengan baik.


__ADS_2