
David sudah membawa Alana ke rumah sakit. Para polisi pun sudah menangani mayat Stanley. Sungguh sebuah keuntungan, dia tidak perlu bersusah payah menyingkirkan mayat Stanley dan dia pun tidak perlu berurusan dengan apa pun setelah membunuh pria itu. Sekarang dia hanya perlu fokus pada Alana saja.
Alana masih belum sadarkan diri, David duduk di sisi Alana dan menggenggam tangan Alana. Dia tampak khawatir, dia harap Alana segera sadar. Entah apa yang telah Stanley katakan pada Alana, dia harap Alana tidak terpengaruh apalagi Alana sedang tidak ingat apa pun saat ini.
Meski Stanley sudah mati tapi dia khawatir pria itu telah mencuci otak Alana dengan perkataan yang tidak perlu. Semoga saja Alana tidak naif, semoga saja Alana tidak mudah terhasut oleh perkataan Stanley tapi sampai saat ini Alana belum juga sadar. Perasaan cemas dan takut memenuhi hati, semoga Alana cepat sadar agar kegelisahan yang dia rasakan segera pergi.
"Dasar bodoh, selalu membuat cemas," ucapnya dengan pelan. Tidak saja merasa cemas, dia pun merasa aneh. Setelah kejadian itu, Alana benar-benar memporak porandakan hatinya. Dia tahu memang ada yang salah pada dirinya tapi dia tidak mau mengakui jika dia sudah jatuh cinta pada pelayannya yang menyebalkan dan tidak bisa apa-apa itu.
Sekarang apa yang harus dia lakukan? Apa dia harus melamar Alana? Apa dia harus langsung saja tanpa basa basi? Lalu bagaimana jika Alana tidak mau? Sial, kenapa dia jadi gelisah seperti ini?
"David," Alana yang baru sadar memanggilnya dengan pelan.
"Aku di sini," David menggenggam tangan Alana dengan erat.
"Sakit," ucap Alana lagi.
"Di mana, katakan padaku?" David mengusap lengan Alana, juga mengisap wajahnya, "Di mana yang sakit, apa di sini?" David mengusap pipi Alana lalu mengusap yang lain sambil bertanya.
"Semuanya terasa sakit," ucap Alana.
"Sebentar lagi akan sembuh, bertahanlah."
"Apa yang terjadi padaku? Bukankah aku kecelakaan lalu Stanley hendak menjual aku?"
"Yeah, kau memang kecelakaan. Tunggu, apa kau mengenal Stanley?" tanya David.
"Tentu saja, dia yang telah membuat perusahaan ayahku bangkrut dan dia ingin menjual aku karena dia ingin membalas sakit hatinya pada ayahku."
"Alana, apa ingatanmu sudah kembali?"
"Apa maksud dari perkataanmu?" tanya Alana tidak mengerti.
"Kau hilang ingatan, apa kau lupa?"
Alana menggeleng, dia tidak ingat tapi memang ingatannya telah kembali karena Stanley membenturkan kepalanya di daun pintu dengan keras. Tidak saja memory lama dia dapatkan, ingatan saat dia sedang hilang ingatan pun dia dapatkan.
__ADS_1
"Apa kau tahu siapa aku?" tanya David.
"Tentu saja aku tahu. Kau bos cerewet dan menyebalkan, bos pelit dan penuh perhitungan. Aku benci setiap kali kau memberikan penalty untukku!"
David tersenyum, akhirnya Alana mendapatkan ingatannya kembali. Itu bagus, karena tidak perlu terlalu lama menunggu ingatannya kembali. Inilah yang dimaksud dengan dibalik musibah yang terjadi ada hikmahnya dan hikmah dari penculikan yang Stanley lakukan, ingatan Alana kembali lagi.
"Jadi aku hilang ingatan?"
"Yeah, tidak lama."
"Baiklah, lalu kenapa kau menipu aku dan mengatakan padaku jika aku adalah tunanganmu?" tanya Alana.
"Hm, untuk itu?" David berdehem, dia lupa dengan tipuan itu.
"Dasar jahat, memanfaatkan ketidakberdayaanku. Saat aku sudah pulih aku akan memperhitungkan semuanya!" ucap Alana.
"Boleh saja, aku juga akan memperhitungkan semua yang aku lakukan dan kau lihat tangan dan kakimu ini?" David menghentikan ucapannya dan tersenyum penuh arti, "Sepertinya yang akan mendapat banyak keuntungan adalah aku, Alana!" ucap David.
"Apa? Enak saja. Keadaanku seperti ini gara-gara Veronica, jadi kau harus bertanggung jawab padaku!" ucap Alana.
"Aku memang akan bertanggung jawab dan aku akan bertanggung jawab dengan cara menikahi dirimu!" ucap David tanpa ragu.
"Jangan bercanda, ini tidak lucu dan jangan melemparkan lelucon seperti ini!" ucap Alana.
"Apa kau pikir aku sedang bercanda, Alana?" David tampak kesal karena Alana tidak percaya.
"Bukankah demikian? Bukankah kau membenci aku selama ini? Aku pelayan tidak berguna dan manja, mana mungkin kau menyukai pelayan tidak berguna seperti aku ini!" ucap Alana tidak percaya.
"Ck... aku serius, Alana! Aku memang tidak menyukai dirimu ketika kau datang, kau menyebalkan. Kau mudah menyerah dengan keadaan dan tidak mau bekerja keras. Kau memandang rendah pekerjaanmu sebagai seorang pelayan padahal itu bukan pekerjaan hina. Aku benci denganmu setiap kali kau merasa tidak bisa, setiap kali kau berhenti berjuang dan putus asa oleh sebab itu aku bersikap keras padamu agar kau berubah!" ucap David.
"Jadi kau bersikap kejam padaku itu hanya pura-pura?"
"Siapa bilang aku pura-pura!" David menyentil dahi Alana menggunakan jari, sehingga membuat Alana sedikit berteriak.
"Sudah aku katakan aku melakukan hal itu agar kau berubah, tidak manja lagi dan bisa berdiri dengan kedua kakimu tapi mengenai hutangmu dan penalty itu aku serius!"
__ADS_1
"Menyebalkan, sebenarnya berapa sih semua hutangku padaku sekarang?" tanya Alana.
"Apa kau ingin tahu?" tanya David pula.
"Katakan saja, jantungku masih kuat saat mendengarnya!"
"Ingat, Nona. Dua juta dolarnya masih utuh!"
"What?" Alana terkejut karena hutangnya masih utuh.
"Dua benda antik yang kau pecahkan, aku belum menyebutkan berapa harga dua benda antik itu," ucap David. Alana menelan ludah, takut mendengarnya.
"Penalty yang kau dapatkan setiap kali kau melakukan kesalahan, aku rasa kau belum membayar hutangmu sedikit pun dan kau juga harus tahu, biaya rumah sakit dan juga waktu berhargaku yang terbuang untukmu dan semua perhatian yang aku berikan, wah... wah..," David tersenyum penuh arti, sedangkan Alana kembali meneguk ludahnya.
"Aku rasa uang yang kau dapatkan belum bisa membayar hutangmu 0,0001 persen pun!" ucapnya lagi sambil tersenyum penuh arti.
"Se-Serius?" tanya Alana gugup.
"Aku serius, Alana Meyyer. Jika kau mau aku akan menuliskannya di sebuah buku nanti."
"Oh.. tidak, kepalaku mendadak sakit," ucap Alana seraya memegangi kepalanya, "Oh.. tidak, kepalaku benar-benar sakit. Siapa kau, kenapa aku tidak mengenalmu. Oh ya Tuhan, sepertinya aku kembali hilang ingatan," ucap Alana. Dia jadi berharap tidak mendapatkan ingatannya kembali agar dia tidak ingat dengan hutang-hutangnya.
"Jangan pura-pura, Alana. Jika kau menipu maka aku akan memberikan lebih banyak penalty untukmu dan aku akan pastikan kau akan menua di rumahku bersama denganku!"
"Apa? Aku tidak sudi!" teriak Alana tidak terima.
"Sudi tidak sudi, kau tidak bisa mengelak karena kau sudah menjadi milikku sejak awal!"
"Cerewet, dasar kau kejam!" ucap Alana kesal.
"Jadi?"
"Ya sudah, hanya tua bersama denganmu saja apa susahnya lagi pula kau yang akan tua terlebih dahulu sedangkan aku belakangan!"
"Kenapa bisa begitu, hah?" tanya David tidak terima.
__ADS_1
"Tuan David yang terhormat, aku baru berusia dua puluh dua tahun sedangkan kau? Aku rasa usiamu tidak muda lagi dan kita sudah seperti paman dan keponakan!" ucap Alana asal.
David melotot, Alana baru berusia dua puluh dua tahun? Dia tidak menyangka ini, ternyata Alana masih begitu muda. Alana dua puluh dua dan dia sudah tiga puluh tiga tahun. Sial, ternyata usia mereka berbeda sebelas tahun dan kenapa dia merasa sudah tua dan apa yang diucapkan oleh Alana mengenai paman dan keponakan membuatnya tidak senang sama sekali.