
Gaun pengantin sudah melekat di tubuh Alana karena hari ini hari pernikahannya dengan David. Tangannya memang sudah sembuh tapi tidak dengan kakinya. Oleh sebab itulah Alana masih membutuhkan kursi roda. Alana tampak ragu, jujur saja dia tidak yakin dengan pernikahan mereka.
Usia mereka yang berjarak jauh tidak jadi soal karena yang jadi soal adalah, apakah dia sudah siap menjadi seorang istri? Dia rasa dia masih muda dan belum saatnya untuk menikah, dia dan David juga selalu adu mulut walau hanya adu mulut ringan. Dia justru takut pernikahan mereka tidak bertahan lama karena dia masih egois dan seenaknya.
Tidak, dia tidak mau hal itu terjadi. Sebaiknya dia membicarakan hal itu pada David sebelum mereka mengucapkan janji suci dan sebelum semuanya terlambat.
Tatapan mata Alana jatuh pada buket bunga yang ada di tangannya. Dia merasa semua terjadi begitu mendadak. Apa dia sudah gegabah mengambil keputusan? Rasa takut kini dia rasakan dan dia pun tidak berani membayangkan apa yang akan terjadi pada mereka nantinya.
David yang sudah selesai masuk ke dalam kamar di mana Alana berada. Gadis itu terlihat cantik luar biasa tapi entah kenapa dia terlihat murung. David segera mendekati Alana dan duduk di sisinya, jangan katakan gadis itu berubah pikiran.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat murung?" tanya David.
"Apakah yang kita lakukan sudah benar, David? Apa kau tidak akan menyesal karena telah menikahi aku?" tanya Alana seraya menatap David dengan serius.
"Kenapa? Apa kau tidak mau melakukannya?" tanya David pula.
"Aku masih terlalu muda untuk menjadi istrimu, David. Kau tahu tempramenku akan mudah berubah. Aku masih egois dan kekanak-kanakan dan karena aku belum dewasa, jangan sampai kau menyesal karena telah menikahi aku!"
"Tidak akan, untuk apa aku menyesal? Aku yang ingin menikahi dirimu, tidak ada yang memaksa aku jadi jangan banyak berpikir. Lakukan saja dan jalani."
"Tapi aku takut," ucap Alana.
"Takut apa?"
"Takut menjadi istri dari pria pelit dan penuh perhitungan seperti dirimu!" ucap Alana.
"Jangan banyak alasan, tidak ada pria lain yang mau denganmu selain aku!" David sudah beranjak lalu menggendong Alana.
"Kau sungguh percaya diri, David. Bagaimana jika ada yang menyukai aku? Apa kau akan memukulnya?"
"Tentu saja, lewati dulu mayatku jika ingin mendekatimu!"
"Ck, kau sungguh pria yang menakutkan. Sepertinya aku akan rugi menikah denganmu!" kedua tangan sudah melingkar di leher David karena pria itu sedang menggendongnya keluar.
"Yes, kau akan rugi karena kau harus melahirkan anak untukku dan kau harus menemani aku untuk seumur hidupmu!"
"Untuk itu aku sudah tahu jadi tidak perlu kau katakan lagi, cerewet!"
David hanya tersenyum, yeah.. apa yang terjadi sungguh tidak terduga. Padahal dia enggan meminjamkan uang pada Angelo tapi sekarang dia justru mendapatkan putrinya yang tidak bisa apa-apa. Tidak apa-apa, dia tidak keberatan sama sekali karena dia memang menginginkan Alana.
__ADS_1
Alana di bawa sampai ke mobil, mereka akan pergi ke gereja untuk mengucapkan sumpah setia. Seperti yang David katakan, mereka tidak mengundang siapa pun dan yang hadir hanya nenek juga ayah David beserta istri keduanya. Alana yang sudah jatuh miskin tentu tidak mau mengadakan pesta karena dia tidak mau menjadi bahan gunjingan lagi. Jangan sampai ada yang menganggap dia menikah dengan David karena dia menginginkan uang pria itu.
Acara pengucapan janji sumpah setia berjalan dengan khidmat, walau sempat ragu tapi Alana mengucapkan sumpah setianya untuk menjadi istri David dan bersumpah akan selalu bersama dengan pria itu dalam suka mau pun duka tanpa adanya keraguan. Sekali lagi dia berpikir, mungkin ini yang kedua orangtuanya inginkan dan dia berharap mereka melihat apa yang sedang dia lakukan saat ini dari surga.
Sebuah cincin berlian indah sudah melingkar indah di jari manis Alana. Alana melihat cincin itu sejenak, cincin yang sudah mengikatnya untuk seumur hidup dan sekarang dia benar-benar sudah menjadi istri David. Kain tipis yang menutupi wajahnya dibuka, David tersenyum dan mendaratkan kecupan lembut di bibir Alana. Senyum Alana pun mekar, hari ini tidak saja terlihat cantik tapi dia juga terlihat bahagia.
Setelah selesai mengucapkan janji pernikahan, David membawa Alana yang sudah menjadi istrinya untuk menemui ayahnya. Alana jadi canggung apalagi dia mendapatkan tatapan tidak suka dari ayah David yang memang membenci ayahnya.
"Aku harap kau tidak menyesal menikahi putri dari musuh kita!" ucap ayah David.
"Perseteruan kita dengan Angelo, bukan dengan putrinya!" jawab David.
"Kau benar-benar sudah gila, David!" teriak ayahnya marah.
"Yeah, aku memang gila tapi aku tidak segila dirimu yang membuang Mommy demi mendekati wanita kaya untuk menyelamatkan perusahaanmu. Jangan katakan sebentar lagi kau akan memberikan aku seorang adik karena aku tidak sudi!" ucap David sinis sambil menatap tajam istri ayahnya yang masih muda.
"Tutup mulutmu, David. Kami saling mencintai!" ayahnya tampak marah dengan perkataan putranya.
"Jika begitu jangan mencampuri urusan kami karena aku dan Alana juga saling mencintai. Kita memiliki kehidupan masing-masing jadi jangan mencampuri urusanku!"
"Sudah, kalian selalu saja bertengkar!" ucap Ellen.
"Terima kasih kalian mau datang, sekarang kami mau pergi!"
"Apa lagi?" tanya David dengan nada tidak senang.
"Aku tahu kau tidak menyukai aku," istri ayahnya melangkah mendekati Alana dan memberikan sesuatu pada Alana, "Selamat untuk pernikahan kalian, semoga kau menyukai pemberianku ini," ucapnya.
"Terima kasih, Aunty," Alana memandangi ibu tiri David. Wanita itu sepertinya tidak jahat.
"Semoga kalian bahagia," ucapnya.
Alana tersenyum, David tampak tidak senang. Ibu tirinya kembali melangkah mendekati suaminya, kini Ellen yang mendekati Alana. Walau dia tidak suka tapi gadis itu sudah menjadi istri cucunya. Alana kembali mendapatkan hadiah dan ucapan selamat, dia jadi tidak enak hati saat David membawanya pergi karena mereka sudah selesai. Entah apa yang terjadi pada mereka tapi yang pasti, semua gara-gara ayahnya.
Seharusnya ayahnya tidak menghancurkan hubungan David dan ayahnya, seharusnya ayahnya tidak serakah. David membawa Alana pergi karena mereka akan langsung pergi berbulan madu. Alana sudah berada di dalam gendongannya saat David menaiki pesawat pribadi yang akan membawa mereka. Alana tidak bersuara, itu karena dia merasa bersalah pada David.
"Maafkan ayahku, David," ucap Alana saat David membawa Alana menuju kamar.
"Tidak perlu meminta maaf, yang sudah berlalu biarlah berlalu!"
__ADS_1
"Apa kau menikahi aku bukan untuk balas dendam?" tanya Alana.
"Tentu saja tidak. Apa aku sudah gila menikah hanya untuk balas dendam? Aku masih waras dan tidak sudi pernikahan dijadikan ajang balas dendam!"
"Baiklah, tapi apa yang kau lakukan?" tanya Alana karena David sedang membuka gaun pengantinnya.
"Menurutmu, Alana?"
"Apa? Jangan katakan kita akan melakukannya di dalam pesawat!"
"Tentu saja, kau sudah jadi istriku dan aku sudah tidak sabar jadi jangan halangi aku!"
"Tapi pesawatnya belum jalan, David!"
"Terus? Apa harus menunggu pesawat ini terbang terlebih dahulu?" David sudah membuka dasi yang dia kenakan.
"Sabuk pengamannya bagaimana?"
"Lupakan sabuk pengaman karena aku tidak suka memakai pengaman!" jas sudah terlepas, lalu kancing kemeja di lepaskan satu persatu.
"Sir, pesawat sudah akan lepas landas!" terdengar suara pramugari yang ada di depan pintu.
"Kau dengar, pesawatnya sudah mau lepas landas."
"Jangan dipikirkan, jas yang dia gunakan sudah terlempar entah ke mana. Alana semakin gugup tapi dia tidak bisa menghindarinya. Pesawat sudah lepas landas, David pun sedang sibuk mencium bibir Alana. Gaun pengantin yang dikenakan oleh Alana dilepaskan dengan perlahan lalu di lempar ke atas lantai.
(Sedikit warning)
Sekarang mereka sudah tidak menggunakan apa pun, rasanya terlalu cepat tapi David sudah tidak sabar menjadikan Alana sebagai miliknya apalagi dia sudah menahannya begitu lama. David melakukan apa yang dia mau, Alana pun menikmati apa yang David lakukan. Mereka berdua sudah terbakar api gai*rah, mereka pun sudah tidak bisa berhenti lagi.
"Sakit pria tua!" teriak Alana saat David melakukannya.
"Jangan memanggil aku pria tua, aku suamimu!"
"Sakit, lepaskan. Aku tidak mau lagi!" tolak Alana sambil mendorog bahu David.
"Berisik, hanya sebentar saja. Setelah ini kau yang minta duluan padaku!"
"Apa? Aku tidak?"
__ADS_1
"Cerewet!" David membungkam bibir Alana dengan ciumannya agar istrinya tidak cerewet. Seperti yang dia katakan, hanya sakit sedikit karena Alana mulai menikmatinya.
Pesawat sudah terbang di atas ribuan kaki, mereka berdua sibuk di dalam kamar. Mereka akan menikmati waktu mereka berdua karena setelah ini mereka akan memiliki banyak waktu berduaan tanpa ada yang mengganggunya.