
Bekas gigitan rasanya sakit luar biasa, sebuah lingkaran tercetak indah di otot bagian dada kanannya. David memandangi bekas itu dengan perasaan kesal, rasanya sangat ingin memaki tapi Alana sudah berlari masuk ke dalam kamarnya begitu mereka tiba.
Alana bersembunyi bukan karena dia takut dengan David, tapi dia ingin menyendiri di dalam kamar. Perasaannya benar-benar kacau malam ini, dia merasa apa yang dia alami sangatlah tidak adil. Dulu dia memiliki segalanya tapi sekarang, apa pun tidak ada.
Keadaan seperti itu tidaklah mudah diterima, dia tidak menjadi gila itu sudah sangat bagus tapi entah kenapa dia mulai merasa lelah dengan apa yang dia alami. Sikap David yang tidak bersahabat sama sekali, semakin membuat penderitaannya yang dia rasakan semakin lengkap.
Kenyataan yang dia hadapi pun justru membuatnya lelah bahkan sekarang dia merasa kematian lebih baik untuknya. Apakah dia harus menempuh jalan yang pernah kedua orangtuanya tempuh? Entah kenapa dia merasa harus melakukannya.
Alana yang masih berada di dalam kamar pun mencoba menyelinap keluar, David tidak ada di luar jadi dia bisa keluar dengan mudah. Dua penjaga yang ada di depan pintu pun mengijinkan dia pergi. Tentunya setelah Alana memberi alasan jika dia ingin pergi membeli barang.
Tujuannya adalah makam kedua orangtuanya, mungkin dia sudah gila pergi ke makam saat tengah malam tapi dia ingin bersama kedua orangtuanya untuk sesaat saja. David tidak tahu dengan kepergiaannya dan setelah melihat bekas gigitan Alana, David keluar dari kamar. Dia ingin menghukum Alana, malam ini juga gadis itu harus mencuci semua mobil yang ada.
"Keluar!" teriak David sambil memukul daun pintu.
Suasana hening, tidak terdengar apa pun. David kembali berteriak memanggil tapi Alana tidak menjawab. Pintu kamar tidak dikunci, oleh sebab itu dia bisa masuk dengan mudah. Pria itu pun mencari Alana di dalam kamar namun gadis itu tidak ada sama sekali. David sangat marah, dia mulai curiga jika Alana melarikan diri dari rumahnya.
"Ke mana dia pergi?" David berteriak pada kedua penjaga yang ada di depan pintu.
"Nona Alana berkata dia hendak pergi membeli barang," jawab salah satu anak buahnya.
"Cari sekarang juga!" teriak David marah. Tidak, dia lupa dengan apa yang terjadi. Jangan katakan Alana pergi untuk menemui seseorang.
Kedua penjaga itu pergi, David pun pergi untuk mencari Alana. Mungkin dia sudah gila, dia sendiri tidak tahu kenapa dia mau melakukan hal itu. Rumah lama Alana menjadi tujuan, mungkin gadis itu ada di sana tapi nyatanya, Alana sudah berada di makam seorang diri dengan senter ponsel sebagai penerang.
Alana duduk di sisi makam kedua orangtuanya dan diam saja, tidak ada perasaan takut sedikit pun. Tatapan matanya justru menerawang jauh dan pikirannya benar-benar kacau. Cukup lama Alana seperti itu sampai pada akhirnya, napas berat pun dihembuskan.
__ADS_1
"Kenapa kalian begitu tega padaku?" pertanyaan itu dia lontarkan diiringi dengan tangisan.
"Kesalahan apa yang aku lakukan pada kalian sehingga kalian begitu tega padaku? Kenapa kalian tidak mengajak aku serta?" Alana menangis sejenak namun dia kembali berkata, "Aku sudah tidak tahan, kalian semua tidak berlaku adil padaku. Apa kalian pikir kalian saja yang bisa mati? Aku juga bisa melakukannya? Apa ini yang kalian inginkan? Jika begitu aku akan segera menyusul kalian!"
Rasa putus asa sudah membuatnya tidak tahan lagi dengan apa yang dia jalani sehingga dia menganggap kematian adalah jalan terbaik yang harus dia tempuh. Mungkin ini juga yang dirasakan oleh kedua orangtuanya oleh sebab itu mereka memutuskan bunuh diri tapi jika dia mati, bagaimana dengan hutang-hutangnya pada David?
Dia tidak peduli dengan hutang kedua orangtuanya tapi bagaimana dengan hutang barunya? Setidaknya dia tidak boleh mempersulit orang lain seperti yang kedua orangtuanya lakukan. Alana menangis sambil memikirkan hal ini, keputusan untuk mengakhiri hidup sudah dia ambil tapi dia harus tetap membayar hutangnya tapi bagaimana caranya?
Cukup lama dia berpikir sampai akhirnya sebuah ide gila pun dia dapatkan. Mau atau tidaknya David nanti, semua tergantung dengan pria itu. David yang mencarinya di segala tempat selain makam karena dia pikir tidak mungkin Alana berada di sana kembali dengan amarah tertahan. Dia benar-benar harus merepotkan diri untuk mencari nona muda yang tidak berguna itu.
Kedua anak buahnya masih pergi mencari, sedangkan dia memilih kembali karena dia mengira Alana sudah kembali. Ponsel yang dia berikan pada Alana pun tidak bisa dihubungi, hal itu tentu membuatnya semakin murka. David berniat pergi lagi tapi tanpa dia duga, Alana justru kembali dalam keadaan kacau.
David yang sedang marah melangkah mendekati Alana, gadis itu benar-benar sudah keterlaluan. Alana tidak mempedulikan David, dia justru melangkah menuju kamarnya.
Alana yang sudah mengambil sebuah keputusan nekad pun menghentikan langkah. David yang sedang murka menarik bahu Alana dengan kasar agar gadis itu berbalik.
"Bagus, Alana. Beraninya kau pergi dari rumahku tanpa sepengetahuanku? Apa kau pergi menemui Stanley? Atau kau pergi menemui pria lain?" teriaknya lantang.
Alana diam, dia sudah lelah dengan semua ini. Pertengkaran yang tiada henti, tiba-tiba dia merasa sangat lelah dan keputusan yang dia ambil adalah jalan terbaik baginya agar dia tidak selalu mendapat makian seperti ini lagi. Bagaimanapun dia manusia yang punya hati dan perasaan.
"Kenapa kau diam? Siapa yang kau temui?" teriak David marah. Dia curiga Alana pergi menemui seseorang apalagi gerak geriknya mencurigakan setelah dari restoran.
"Aku tidak menemui siapa pun," jawab Alana.
"Tidak perlu berdusta! Sekarang katakan padaku siapa yang kau temui?" teriaknya lagi.
__ADS_1
"Aku tidak menemui siapa pun, sungguh!"
"Apa kau kira aku akan percaya dengan apa yang kau katakan? Kau sudah bertingkah aneh setelah kembali dari restoran. Apa kau pergi menemui seorang pria yang bersedia membantumu dengan sebuah imbalan?" rasa curiga memenuhi hati karena dia tahu ada yang sedang disembunyikan oleh Alana darinya.
"Aku tidak pergi menemui siapa pun, aku berani bersumpah!" teriak Alana, air mata mengalir tanpa dia inginkan.
"Aku pergi ke makam kedua orangtuaku karena aku rindu dengan mereka. Jika kau tidak percaya, pergilah ke makam dan tanyakan pada hantu yang ada di sana apakah yang aku katakan benar atau tidak!" teriak Alana penuh emosi. Sudah cukup, dia benar-benar tidak tahan lagi.
"Apa aku bisa mempercayai ucapanmu, Alana Meyyer?"
"Percayalah padaku, aku tidak menemui siapa pun. Aku pergi ke makam kedua orangtuaku untuk berbicara dengan mereka karena aku sudah mengambil sebuah keputusan."
"Keputusan? Keputusan apa yang kau ambil?" David memandangi Alana dengan penuh selidik.
"Aku tahu aku nona muda yang tidak berguna," Alana melangkah menuju pintu dan menguncinya. David sangat heran dengan apa yang Alana lakukan.
"Aku tahu kau pun tidak tertarik dengan tubuhku," Alana melangkah mendekati David sambil melepaskan bajunya.
"Apa yang ingin kau lakukan, Alana ?" teriak David sambil melangkah mundur.
"Malam ini saja," penutup dadanya sudah jatuh ke atas lantai, Alana bahkan tidak ragu untuk melucuti semua pakaiannya dan setelah itu dia berdiri di hadapan David dalam keadaan tanpa sehelai benang pun, "Malam ini saja, David. Aku berikan tubuhku padamu dan besok, aku pelayan dan kau majikan," setelah berkata demikian, Alana meraih tangan David dan meletakkannya ke atas dadanya yang tidak ditutupi dengan apa pun.
David tidak bergeming, dia sedang membaca situasi karena dia ingin tahu kenapa Alana tiba-tiba melakukan hal nekad seperti itu tapi sebagai lelaki normal, dia mulai terbakar api na*su karena tubuh polos Alana.
"Malam ini saja, lakukan malam ini saja!" Alana melangkah mendekat lalu berjinjit untuk mencium bibir David. Yeah. malam ini saja karena setelah ini dia akan menyusul kedua orangtuanya. Tindakan nekad yang dia lakukan saat ini untuk membayar hutangnya karena dia tidak mau mati meninggalkan hutang.
__ADS_1