
Alana yang masih keheranan dengan wanita itu karena dia tidak kenal mulai melangkah mendekati Ellen Douglas. Dia belum pernah melihat wanita itu tapi dia menebak jika wanita tua itu adalah nenek David Douglas. Tebakannya tidak mungkin salah, wanita anggun seperti itu sudah pasti anggota keluarga David.
Ellen tidak melepaskan pandangannya dari Alana. Tatapannya semakin sinis, Ellen jelas-jelas menunjukkan ketidaksukaannya pada Alana. Jadi gadis itu yang dimaksud oleh Veronica? Jadi gadis itu yang dibawa pulang oleh David dan dijadikan sebagai pelayan? Penampilannya tidak buruk tapi seorang pelayan tetaplah pelayan.
"Selamat siang, apakah kau nenek David?" tanya Alana.
"Tidak sopan!" Ellen mengetuk tongkat ke atas lantai dengan kencang. Alana sampai melonjak karena terkejut.
"Apa seperti itu caramu menyambut majikan?" Ellen kembali mengetukkan tongkatnya ke atas lantai.
"Ma-Maaf," Alana menunduk.
"Berlutut!" bentak Ellen lagi.
Alana kembali terkejut dan segera berlutut. Nenek-Nenek yang galak, pantas saja cucunya galak minta ampun. Ternyata buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.
"Katakan padaku, kenapa kau bisa menjadi pelayan David?" tanya Ellen dengan suara keras.
"Aku juga tidak tahu," jawab Alana.
"Kurang ajar, jawab yang benar!" lagi-lagi tongkat diketuk dengan keras ke atas lantai.
Untuk kesekian kali Alana kembali terkejut, tatapan matanya justru tertuju pada lantai marmer di mana sang nenek selalu mengetukkan tongkatnya sedari tadi. Yang Alana takut adalah ubin lantai itu, dia takut ubin yang terbuat dari marmer itu pecah. Jangan sampai David Douglas menyalahkan dirinya sehingga dia yang harus membayar penalty atas apa yang tidak dia lakukan.
"Kenapa tidak menjawab!" teriak Ellen lagi di susul oleh suara ketukan tongkat.
"Aku jawab Nenek, tapi tolong jangan ketuk lagi!" Alana merangkak mendekati Ellen. Ubin marmer tersayang jangan sampai pecah jika tidak hutangnya bertambah.
"Siapa yang nenekmu!" teriak Ellen lagi. Siapa gadis itu? Kenapa gadis tidak sopan seperti itu bisa dijadikan pelayan oleh David?
"Maaf, Nyonya," Alana menunduk sambil curi-curi pandang ke arah lantai.
"Katakan, kenapa kau bisa menjadi pelayan David?"
"Aku tidak tahu, Nyonya. David yang mau menjadikan aku sebagai pelayannya secara tiba-tiba."
"Jangan berdusta!" teriak Ellen lagi dan untuk kesekian kali tongkat kembali diketukkan.
__ADS_1
"Jangan Nyonya, jangan!" teriak Alana.
"Apanya yang jangan?" Ellen Douglas sangat heran.
"Tolong jangan diketuk begitu kuat!" pinta Alana.
"Apa?" Ellen benar-benar tidak mengerti.
"Tolong jangan memecahkan lantainya. Si Killer menyebalkan itu akan memberi aku penalty, aku tidak mau penalty yang aku dapat semakin banyak," Alana merangkak menuju sofa dan mengambil sebuah bantal lalu mendekati nenek David. Tongkat wanita tua itu pun diangkat lalu diletakkan lagi setelah Alana meletakkan bantal.
"Sekarang Nyonya sudah bisa mengetuknya sesuka hati," Alana tersenyum manis, sekarang sudah aman.
Ellen benar-benar kesal, apa gadis itu sedang mempermainkan dirinya? Sekarang dia semakin yakin akan meminta David untuk menendang gadis itu keluar.
"Jangan menguji kesabaran, sekarang katakan padaku kenapa kau bisa menjadi pelayan David?"
"Aku benar-benar tidak tahu, Nyonya. Kau bisa bertanya pada David saat dia kembali."
"Apa kau sedang mengajari aku!" teriak Ellen lagi. Kali ini Alana tampak lega karena ubinnya aman.
"Tidak, Nyonya. Sebaiknya langsung tanyakan hal itu pada David saja," Alana yang tadinya berlutut mulai beranjak perlahan karena dia mau lari. Dia tidak mau membuat masalah dengan nenek David. Lebih baik dia menghindar saja dari pada dia membuat kesalahan.
"Da-David meminta aku membuat makanan oleh sebab itu aku harus bergegas!" Alana memilih mengambil langkah seribu dari pada membuat masalah. Hidupnya sudah rumit jadi dia tidak mau menambah masalah apalagi dia tidak tahu apa maksud kedatangan wanita tua itu.
"Kurang ajar, beraninya kau mengabaikan aku!" Ellen semakin murka. Alana benar-benar tidak mau berada di dalam masalah.
Ellen yang semakin murka pun menghubungi David dan memintanya untuk kembali. David yang masih berada di kantor terkejut mendengar perkataan Neneknya jika dia berada di rumahnya. David bergegas kembali, dia harap Alana tidak membuat masalah dengan neneknya karena dia tahu itu bukan hal baik.
Alana menyibukkan diri, dia tidak berani melihat ke belakang karena nenek David sedang melihatnya bekerja. Jantungnya jadi berdegup kencang, dia merasa seperti sedang diawasi oleh seorang juri. Mau bergerak ke kanan salah, ke kiri pun jadi salah.
"Nyo-Nyonya, bagaimana jika duduk saja. Aku akan segera menyiapkan makanan untuk nyonya," ucap Alana.
"Tidak perlu, aku tidak berminat!" Ellen melangkah pergi, sedangkan Alana mengomel dalam hati. Benar-Benar sangat mirip dengan sifat David.
Ellen kembali ke ruang tamu, menunggu David kembali. David yang sedang berada di perjalanan sungguh tidak sabar, dengan sifat Alana yang suka membantah bisa-bisa gadis itu dan neneknya bertengkar. David sangat cemas, lagi pula untuk apa Neneknya datang?
Begitu tiba, David bergegas. Tidak ada suara keributan sama sekali. Sepertinya yang dia khawatikan tidak terjadi.
__ADS_1
"Untuk apa Nenek datang?" tanya David seraya menghampiri neneknya.
"Nenek datang untuk berkunjung, apa tidak boleh?"
"Nenek tidak melakukan hal yang aneh, bukan?" David melihat sekitar, mencari Alana.
"Apa maksud dari perkataanmu? Apa kau kira nenek orang gila yang suka melakukan hal aneh?" tanya neneknya dengan nada tidak senang.
"Lalu untuk apa nenek datang?"
"Nenek ingin melihat keadaanmu! Kau pun begitu tega karena tidak pernah pulang untuk menjenguk nenek!" ucap neneknya.
"Tapi tidak perlu datang, bukan? Aku bisa pulang jika nenek memang merindukan aku."
"Ada apa denganmu? Kenapa kau berbicara seolah-oleh nenek tidak boleh datang?"
"Kedatangan nenek sangat mencurigakan!" jawab David.
"Hei, cucu kurang ajar. Aku sudah datang tapi kau terlihat tidak senang!" teriak neneknya marah.
"Aku mau mandi!" David melangkah pergi, tentunya sang nenek jadi semakin kesal.
"Nenek datang ingin tahu kenapa kau mempekerjakan gadis itu? Apa dia memiliki hutang padamu sehingga kau mempekerjakan gadis tidak tahu sopan santun itu?" teriak neneknya marah.
David diam, tapi dia kembali melangkah pergi. Ellen semakin kesal, ternyata yang dikatakan oleh Veronica sangat benar, David mempekerjakan gadis itu karena hutang. Jika begitu itu perkara mudah, dia akan menyingkirkan gadis itu dengan mudah. Tinggal berbicara dengan gadis dan memberinya penawaran. Dia yakin penawaran yang dia berikan tidak akan ditolak oleh gadis itu.
Alana benar-benar sibuk di dalam dapur, sekarang dia sudah bisa memasak beberapa menu tentunya semua itu berkat dua koki yang mengajarinya. Ellen Douglas melangkah mendekati Alana, dia kembali berdiri di dapur melihat Alana yang sedang bekerja. Alana sampai terkejut akibat kehadirannya yang tiba-tiba, apa wanita itu ninja yang tiba-tiba bisa muncul?
"Ada apa, Nyonya?" tanya Alana.
"Ikut aku, ada yang ingin aku bicarakan padamu," ucap Ellen.
"Sekarang atau nanti?" tanya Alana.
"Sekarang, apa kau kira tahun depan?!" teriak Ellen sambil mengetukkan tongkat ke atas lantai.
"Oke.. sekarang. Jangan mengetuk," pinta Alana.
__ADS_1
Ellen mendengus dan melangkah pergi, Alana mengelus dada dan tampak lega. Api kompor pun dimatikan, Alana mengikuti langkah Ellen yang membawanya menuju mobil karena Ellen tidak mau David mendengar pembicaraan mereka. Alana sangat heran, kenapa harus di mobil dan apa sebenarnya yang ingin dibicarakan oleh nenek David?