
Veronica sudah menunggu dengan tidak sabar, dia dan nenek David memang sudah bersekongkol untuk menjebak David. Hanya nenek David saja yang bisa membantunya untuk mendapatkan pria itu. Oleh sebab itu dia sangat yakin jika malam ini David akan menjadi miliknya.
Ayah David sudah keluar dengan istrinya. Veronica semakin tidak sabar bahkan dia sudah berdiri di depan pintu dan setelah itu, nenek David pun keluar.
"Manfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin!" ucap sang nenek sebelum Veronica masuk ke dalam.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang nenek berikan!" ucap Veronica.
Ellen berlalu pergi, dia hanya melakukan yang terbaik untuk cucunya sedangkan Veronica masuk ke dalam ruangan. Dia masuk tepat pada waktunya karena ketika dia masuk, David sudah beranjak hendak pergi namun pria itu kembali jatuh terduduk.
David melonggarkan dasinya, dia merasa semakin panas. Veronica melangkah mendekati David dengan sensual dan tentunya sambil menurunkan gaun pesta yang dia kenakan.
"Apa yang kalian lakukan padaku, Veronica?!" teriak David murka.
"Aku tidak melakukan apa pun, David. Aku hanya ingin kau menjadi milikku saja!" gaun pun sudah jatuh ke atas lantai sehingga menyisakan pakaian dalam yang seksi saja.
"Jangan main-main denganku!" teriak David lagi. Sial, dia merasa tidak bisa bergerak. Tubuhnya lemas mendadak karena pengaruh obat mulai menguasai dirinya.
"Ayolah, David. kau adalah milikku karena hanya aku saja yang pantas untukmu!" Veronica naik ke atas tubuh David dan duduk di atas pangkuannya. Dia sengaja berlama sampai David tidak bisa menguasai dirinya lagi.
"Menyingkir dari atas tubuhku, Veronica!" David kembali berteriak. Tidak, dia tidak boleh kalah oleh obat terkutuk itu dan dia tidak boleh masuk ke dalam perangkap neneknya dan Veronica.
"Kau milikku, David. Kau adalah milikku!" Veronica membuka kancing jas yang digunakan oleh David dengan tidak sabar.
"Ja-Jangan menyentuhku Veronica!" David mengangkat kedua tangannya yang tidak bertenaga dengan susah payah dan dengan kekuatan yang dia miliki, David mendorong tubuh Veronica agar menyingkir dari atas pangkuannya.
Veronica terdorong ke belakang, tubuhnya bahkan jatuh ke bawah. Veronica berteriak, sedangkan David meraih sebuah gelas lalu memecahkan gelas itu.
"Apa yang mau kau lakukan, David!" Veronica beranjak dan berlari ke arah David untuk menghentikan David.
Tanpa mempedulikan Veronica, David menancapkan gelas yang sudah pecah ke atas pahanya. Veronica berteriak, David pun berteriak akibat rasa sakit tapi karena rasa sakit itulah membuat kesadarannya kembali dan membuatnya memiliki kekuatan untuk mengendalikan tubuhnya lagi.
"Apa kau sudah gila, David?!" ucap Veronica yang sudah menghampirinya.
__ADS_1
"Ja*ang!" teriak David seraya menampar wajah Veronica.
Veronica berteriak, tubuhnya bahkan terdorong ke belakang. David beranjak dengan darah yang mengalir dari paha. Kini dia bisa berdiri walau dengan susah payah.
"Jangan pergi, David. Aku mencintaimu oleh sebab itu aku melakukan hal seperti ini!" Veronica merangkak mendekat dan memegangi kaki David.
"Kau benar-benar kurang ajar, Veronica!" dengan emosi yang memenuhi hati, David menendang Veronica hingga tubuh Veronica terpental jauh. Teriakan Veronica kembali terdengar, apalagi tubuhnya membentur dinding.
"Aku akan membuat perhitungan dengan kalian nanti!" David melangkah pergi dengan satu kaki yang pincang. Dia harus pergi karena rasa sakit itu tidak akan menghilangkan efek obat. Pintu ruangan dibuka dengan kasar, sang nenek kira Veronica sudah selesai tapi nyatanya, David keluar dengan satu kaki yang terluka. Tentunya David terlihat begitu marah, apalagi saat neneknya menghampiri.
"Kenapa kakimu?" tanya neneknya.
"Beraninya kau, Nenek. Aku sungguh kecewa padamu!" setelah berkata demikian, David melangkah pergi. Akan dia buat perhitungan pada mereka semua tapi dia harus pergi dari sana.
"Tunggu, David!" teriak Veronica yang berlari keluar dari ruangan tentunya setelah dia memakai gaunnya. Bisa celaka jika David kembali dalam keadaan seperti itu, dia bisa membayangkan dengan siapa nanti David akan menyalurkan hasratnya.
"Jangan pergi, David. Sebaiknya tuntaskan dulu pengaruh obat itu!" ucap Veronica sambil menahan lengan David.
"Apa kau pikir aku mau menuntaskannya denganmu?!" David menepis tangan Veronica, dia justru semakin murka.
David meminta supir pribadinya untuk membawanya kembali, meski terkejut dengan keadaan bosnya tapi sang supir menjalankan perintah untuk membawa bosnya kembali. David semakin tidak bisa menahan diri dengan pengaruh obat itu, air yang ada di dalam botol pun sudah dituangkan di atas kepala tapi hal itu tidaklah cukup.
"Cepat!" teriak David. Dia butuh pelampiasan, segera.
Mobil dibawa dengan kecepatan tinggi sehingga mereka cepat tiba. David bergegas masuk dengan napas memburu, dia bahkan melangkah dengan sempoyongan. Alana, dia butuh gadis itu oleh sebab itulah, David melangkah menuju kamar Alana.
"Alana, keluar sekarang!" pintanya sambil membuka pintu tapi sayangnya Alana tidak ada di dalam kamar karena dia sedang bekerja.
"Alana, di mana kau?!" David masuk ke dalam kamar untuk mencari tapi sayangnya Alana tidak ada di mana pun.
"Sial, ke mana dia?!" ponsel pun diambil, David duduk di sisi ranjang sambil menahan gejolak yang semakin menjadi dalam dirinya.
Alana yang sedang beristirahat tanpa sengaja mendengar suara ponselnya yang ada di dalam loker. Karena dia ingin tahu siapa yang menghubungi jadi Alana mengambil ponselnya. Dia justru terlihat takut saat melihat nama David, celaka. Jangan katakan jika David sudah tahu bahwa dia sedang bekerja. Dengan keberanian yang ada, Alana pun menjawab.
__ADS_1
"Ada apa? Ini sudah malam!" ucap Alana.
"Di mana kau? Pulang sekarang!" perintah David. Alana sangat heran, David terdengar aneh. Napasnya terdengar memburu, tidak seperti biasanya.
"Ada apa denganmu?" tanya Alana.
"Segera pulang, Alana!" teriak David karena dia sudah tidak sabar.
"Cerewet, tidak perlu berteriak!" Alana mematikan ponselnya, tidak mau peduli dengan pria pemarah itu karena dia tidak tahu apa yang terjadi dengan David.
David mengumpat, berharap Alana cepat kembali tapi setelah sekian lama gadis itu tidak juga kembali. Sial, dia semakin tidak bisa menahan diri lagi. Tidak bisa seperti itu, pengaruh obatnya bisa sangat berbahaya jika tidak segera disalurkan tapi dia harus melakukannya dengan siapa?
"Sial, awas kalian semua!" David pergi ke dapur, mengambil es sebanyak mungkin lalu memasukkannya ke dalam bathtub. Setelah bathtub penuh terisi, David masuk ke dalamnya. Dinginnya air es tidak dia pedulikan demi meredakan hasrat akibat obat terkutuk yang menguasai dirinya.
"Cepatlah kembali, Alana. Aku butuh dirimu!" ucap David. Luka yang ada di kaki terasa perih, akibat air tapi berkat air es darah pun berhenti mengalir.
David menahan apa yang dia rasakan, tubuhnya sudah menggigil bahkan dia sudah seperti tidak sadarkan diri di dalam bathtup. Entah sudah berapa lama, dia tidak tahu karena malam itu dirinya terasa begitu menderita akibat pengaruh obat yang diberikan oleh Veronica.
Alana yang sudah kembali masuk dengan mengendap. Dia sudah membayangkan bos killer itu sudah menunggu, dia pun sudah membayangkan pria itu akan mengomel sepanjang malam tapi nyatanya, suasana begitu sepi.
Alana bergegas masuk ke dalam kamarnya, aman. Dia sampai mengelus dada. Walau malam ini aman tapi dia tahu besok tidak, urusan besok ya besok. Lebih baik dia segera mandi dan tidur. Alana masuk ke dalam kamar mandi namun dia terkejut saat melihat David sedang berada di dalam bathtub dengan.
"David, apa yang terjadi denganmu?!" teriak Alana seraya berlari ke arah David.
"Alana," David masih memiliki kesadaran diri.
"Ada apa denganmu? Kenapa kau berendam masih memakai baju seperti ini?" Alana panik namun tiba-tiba saja David menarik Alana dan mencium bibirnya.
Alana terkejut, apa yang terjadi dengan pria itu? Alana mendorong David, tidak butuh banyak tenaga bibir mereka sudah terlepas. David sudah tidak memiliki tenaga, dia terlihat tidak berdaya. Suhu tubuhnya justru sangat tinggi dan tubuhnya terlihat menggigil.
"Ada apa denganmu, David? Apa kau sudah gila berendam di air dingin seperti ini?" Alana berusaha mengangkat tubuh pria itu dari bathtub.
"Astaga, kau benar-benar berat!" gerutu Alana sambil berusaha mengangkat tubuh David.
__ADS_1
David yang masih di antara setengah sadar, mengutuk dalam hati. David mengutuki perbuatan Veronica dan neneknya, walau samar tapi dia bisa melihat jika Alana sedang bersusah payah membawanya keluar dari kamar mandi. Entah kenapa sekarang dia merasa, jika gadis itu saja yang waras. Dia harap malam ini dia bisa bertahan akibat pengaruh obat karena dia akan membuat perhitungan pada Veronica yang telah membuatnya seperti itu.