
Akibat waktu istirahat yang berkurang membuat Alena bangun terlambat. Kerja saat malam hari ternyata begitu melelahkan apalagi untuk nona muda seperti dirinya yang tidak pernah bekerja sebelumnya. Tentunya dia harus beradaptasi dengan keadaannya saat ini.
David yang sudah terbangun terlebih dahulu sangat heran karena suasana rumah begitu sepi, tidak ada suara berisik seperti biasanya. Sarapan pun tidak ada. Aneh, pagi ini pelayannya yang super berisik itu tidak terlihat. David melangkah menuju kamar Alana, jangan katakan si malas itu masih tidur.
Pintu kamar terbuka, David menggeleng karena Alana memang masih tidur. Kedua kaki sudah melangkah mendekati ranjang. Bagus, sangat bagus. David sudah berdiri di sisi ranjang, tatapan mata masih tidak lepas dari pelayannya. Entah kenapa dia justru naik ke atas ranjang dan berbaring bersama dengan Alana.
Tatapan matanya tidak lepas dari wajah Alana, tangannya pun sudah berada di pipi Alana dan mengusapnya. Aneh, tidak seharusnya dia melakukan hal seperti itu. Alana bergerak mendekat, dia benar-benar mengantuk oleh sebab itu Alana tidak menyadari ketika dia memeluk David.
"Kau sungguh berani, Alana!" ucap David tapi sesungguhnya dia senang. Sekarang tidak saja tangannya tapi bibirnya pun sudah bermain di wajah Alana. Pipi yang menggoda membuatnya tidak bisa berhenti menciumnya.
"Hm," Alana bergerak, Pipinya terasa gatal seperti ada yang menggelitik.
David tidak juga berhenti, dia memang sudah tidak bisa berhenti. Jangan katakan dia mulai kecanduan dengan gadis itu. Bibir Alana pun menjadi objek terakhir yang berakhir di mulutnya. Kini Alana tampak gelisah, dia merasa ada yang aneh. David memainkan bibirnya, menggigitnya sampai membuat Alana membuka kedua matanya. Alana terkejut, kedua mata melotot karena wajah David yang begitu dekat dan karena pria itu sedang mencium bibirnya.
Rasanya ingin berteriak tapi tidak bisa, tangannya mulai memukul bahu David. Kenapa pria itu melakukan hal seperti itu? Alana masih memukul, kesal, dia kesal dan tidak suka diperlakukan seperti itu. Tidak ingin dicium tanpa henti, Alana melakukan pertahanan terakhir yaitu menggigit bibir David.
"Apa kau gila?" teriak David sambil memegangi bibirnya yang berdarah.
"Kau yang gila, kenapa kau menciumku?" teriak Alana marah.
"Itu hukuman karena kau terlambat bangun? Kau lihat sekarang jam berapa? Aku lapar jadi itu hukuman untukmu!"
"Astaga... Astaga, sekarang jam berapa?" Alana tampak panik dan mengambil ponsel yang ada di atas meja.. Kedua mata melotot, sial. Sudah jam sembilan. Alana berpaling ke arah David dengan perlahan, senyuman manis menghiasi wajah, semoga tidak ada penalty.
"Bos yang baik," Alana merangkak mendekati David dan berada di belakangnya. Kedua tangan sedang memukul bahu David, dia harus membujuk pria menyebalkan itu.
"Maaf jika aku terlambat bangun, Bos. Kau sudah menciumku jadi impas, tidak ada penalty," pintanya membujuk.
"Bagaimana ya," David memainkan jari di dagu, pura-pura berpikir.
"Ayolah, jangan pelit jika tidak kau akan sulit menemukan jodoh!"
"Apa hubungannya dengan masalah ini?"
"Please, Bos. Aku akan segera memasak sekarang!" Alana melompat turun dan berlari keluar.
__ADS_1
David tersenyum, dia belum puas mengganggu Alana. Gadis itu mulai pintar membujuk dan melarikan diri tapi dia tetap ingin mengajak Alana ke pesta ulang tahun Veronica agar dia ada teman. David keluar dari kamar, Alana mulai sibuk membuat sarapan. Semoga saja si raja neraka itu bermurah hati.
"Apa kau yakin tidak mau menerima tawaran dariku?" tanya David.
"Yang mana?" tanya Alana pula.
"Pergi ke pesta denganku, aku akan memberikan libur satu hari untukmu juga dua ribu dolar," ucap David.
"Tidak berminat!" tolak Alana.
"Apa tawaran yang aku berikan kurang?"
"Tentu saja kurang!" jawab Alana tanpa ragu.
"Katakan apa yang kau mau?" tanya David. Asal Alana mau pergi ke pesta ulang tahun Veronica maka akan dia berikan apa yang Alana mau.
"Kau akan terkejut jika mendengar apa yang aku inginkan!" jawab Alana seraya meletakkan gelas kopi untuk David.
"Katakan saja, kau mau apa?" David mulai terlihat kesal.
"Apa kau sudah gila?" teriak David murka.
"Tidak, jika tidak mau maka jangan mengajak aku pergi," ucap Alana sambil tersenyum.
"Sepertinya aku terlalu baik padamu, Alana!"
"Sebab itu jangan terlalu baik denganku karena aku jadi tidak tahu diri. Tolong, sekalipun kau memberikan aku uang yang banyak, aku tidak bisa pergi. Sudah aku katakan, aku tidak mau menjadi bahan cibiran siapa pun apalagi nenekmu dan Veronica tidak suka denganku."
"Sudah aku katakan jika tidak akan ada?"
"David!" Alana sedikit berteriak saat menyela ucapan David.
"Aku bersedia menerima apa pun bahkan penalty darimu tapi jangan paksa aku pergi ke pesta yang sudah jelas jika aku tidak terima di dalamnya. Aku mantan nona muda yang tidak berguna, seharusnya kau tahu semua orang pasti akan membicarakan aku nantinya."
David melangkah mendekat, dia bisa memaklumkan apa yang Alana khawatirkan. Sebaiknya dia tidak memaksa walau sesungguhnya dia malas pergi seorang diri. Pinggang Alana diraih, mereka berdua berdiri saling berhadapan dan saling tatap.
__ADS_1
"Baiklah, aku tidak akan memaksa tapi jangan lupakan tugasmu, Alana," kini tangannya sudah berada di pipi Alana.
"Tugas apa, sarapan sudah siap jadi tidak ada lagi selain membersihkan rumah," ucap Alana dengan ekspresi kebingungan.
"Sepertinya kau sudah lupa jika kau harus memandikan aku," ucap David, senyum lebar menghiasi wajahnya.
"So-Soal itu," Alana melangkah mundur dan mendorong tubuh David.
"Jangan mengelak, Alana!" David hendak meraih tangan Alana namun gadis itu menghindar.
"Aku sedang anti air!" teriak Alana sebelum dia mengambil langkah seribu.
"Jangan lari, Alana. Jika kau lari maka aku yang akan masuk ke dalam kamarmu dan aku yang akan memandikanmu!" teriak David.
"What?" Alana hampir jatuh terjungkal mendengar perkataan David.
"Pilihan ada di tanganmu," teriak David sengaja.
"Kau gila, aku tidak sudi!" teriak Alana.
David terkekeh, dia hanya bercanda karena dia sudah mandi. Rasanya tidak menyenangkan jika tidak menggoda Alana. Pagi yang menyenangkan tapi nanti malam, jujur saja dia malas apalagi Alana tidak mau ikut dengannya. Alana bersembunyi di dalam kamar, semoga saja dia tidak perlu memandikan David lagi karena dia takut dengan cacing yang bisa berubah wujud menjadi anaconda. Alana benar-benar takut apalagi saat David mengetuk pintu kamarnya.
"Nanti siang ke kantor dan temani aku pergi membeli kado untuk Veronica!" ucap David.
"Hanya itu?" teriak Alana.
"Apa kau benar-benar ingin mandi denganku?" tanya David pula.
"Enak saja, aku sudah mandi!"
"Jika begitu, datang ke kantor nanti siang!" setelah berkata demikian, David melangkah pergi.
Alana berdiri di depan jendela, untuk melihat kepergian David. Padahal pria itu bisa pergi sendiri tanpa mengajaknya, tapi entah kenapa David begitu ingin dia ikut. Apa David sengaja dan ingin melihat apakah dia bisa menerima setiap cibiran yang akan dia dapat nanti atau tidak?
Lupakan, sebaiknya dia tidak berpikir buruk karena yang pasti dia tidak mau pergi apalagi dia harus pergi bekerja tapi sesungguhnya David mengajaknya pergi agar dia memiliki teman di pesta itu. Pesta yang sebentar lagi akan membawanya ke dalam masalah akibat rencana Veronica yang ingin menjebaknya agar pria itu menjadi miliknya.
__ADS_1