
Seorang pria sedang melakukan pengintaian di dekat rumah David. Tentunya pria itu adalah mata-mata yang diutus oleh Stanley untuk mencari keberadaan Alana. Rumah itu tampak sepi, hanya ada dua orang penjaga saja yang berjaga di luar sana. Mata-Mata itu cukup jauh, agar tidak ketahuan.
Sebuah teropong dia gunakan untuk mempermudah pekerjaannya, tidak ada yang boleh dia lewatkan bahkan saat sebuah mobil berwarna putih kembali ke rumah itu, sang mata-mata melihatnya tanpa henti. Itu adalah jemputan yang diutus David untuk menjemput Alana.
Gadis yang tidak tahu apa pun itu, bergegas keluar dari rumah. Dia tidak mau mendapatkan penalty lagi dari bos killer super cerewet dan menyebalkan oleh sebab itu, saat jemputan datang Alana langsung bergegas. Mata-Mata yang diutus oleh Stanley pun melihat keberadaan target yang sedang masuk ke dalam mobil.
"Dia ada di rumah David Douglas sesuai dengan dugaanmu," lapor sang mata-mata.
"Apa kau benar-benar melihatnya?" tanya Stanley memastikan.
"Aku tidak mungkin salah, aku sudah mengambil beberapa gambar dan akan aku kirimkan untukmu."
"Bagus, ikuti ke mana mobil itu pergi dan laporkan padaku!" perintah Stanley.
"Baik, Sir!" pembicaraan berakhir, mata-mata itu mulai mengikuti mobil yang membawa Alana.
Stanley sangat senang, akhirnya dia temukan. Namun dia merasa sangat kesal karena David menyembunyikan Alana Myyer darinya. Kali ini dia harus menemui Alana tanpa adanya gangguan dari pria itu. Dia akan berbicara dengan Alana agar mau ikut dengannya. Tinggal menunggu kabar dari mata-mata yang dia utus saja, maka dia bisa bertemu dengan Alana.
Alana yang tidak tahu jika dia diikuti melangkah dengan santai masuk ke dalam kantor David. Sang mata-mata pun memberi laporan pada Stanley. Pria itu pun bergegas, semoga saja kali ini dia bisa berbicara empat mata dengan Alana.
David yang sudah menunggu Alana sedari tadi sudah tidak sabar apalagi waktu sudah menunjukkan jam makan siang. Alana pun sudah tidak sabar, bukan tidak sabar bertemu dengan David tapi dia tidak sabar memberikan makanan yang dia bawa pada David sebelum makanan itu dingin.
"Sir, ada yang datang," ucap sekretarisnya sambil mengetuk pintu.
"Masuk saja!" dokumen diletakkan ke atas meja, kursi yang dia duduki didorong ke belakang agar dia bisa bersandar dengan nyaman.
"Masuk saja, Nona," sang sekretaris mempersilahkan Alana untuk masuk.
"Terima kasih, "Alana tersenyum dengan manis sebelum pintu tertutup dan ketika pintu tertutup rapat, senyuman itu sirna diganti dengan tatapan tajam ke arah David.
"Kenapa begitu lama?"
"Jika ingin cepat kenapa kau tidak mempekerjakan seorang ahli sulap yang bisa menghilang dan muncul dengan mudah!" ucap Alana kesal.
"Kemari!" perintah David.
"Tidak mau, aku mau istirahat!" tolak Alana seraya melangkah menuju sofa.
"Lima ratus dolar!" ancaman penalty pun digunakan.
"Apa?" Alana berteriak karena dia tidak percaya.
"Membantah sekali lagi akan menjadi dua kali lipat!"
__ADS_1
"Sial, bos menyebalkan!" teriak Alana kesal. Mau tidak mau Alana melangkah mendekati meja David. Pria itu tersenyum, sedangkan Alana melotot dengan tatapan galak.
"Sebaiknya menurut," tangan Alana diraih, gadis itu masih terlihat kesal.
"Ini makananmu," Alana memberikan makanan yang dia bawa.
"Simpan di sana!" perintah David.
"Menyebalkan. Cepat dimakan agar tidak dingin!"
"Nanti, sekarang temani aku sebentar."
"Tidak mau, tidak ada untungnya!" Alana menarik tangannya hingga lepas lalu berjalan pergi.
"Yakin tidak mau? Aku akan memotong penaltymu sebanyak sepuluh persen," ucap David.
"Apa?" langkah Alana terhenti sejenak.
"Sepuluh persen, jika tidak mau yang sudah!" David mengambil makanan yang ada di atas meja.
"Tuan Douglas yang baik hati," Alana sudah kembali melangkah mendekati David. Sepuluh persen sangatlah lumayan, "Apa mau aku pijitkan bahumu?" Alana sudah berdiri di belakang sambil memijit bahu David.
"Bagaimana ya, sepertinya aku sudah tidak berminat!"
"Tidak perlu membujuk, aku memang sudah tampan sejak lahir!" ucap David.
"Cih, narsis!" gerutu Alana.
"Apa yang kau katakan?"
"Tidak ada, kau salah dengar. Katakan apa yang harus aku lakukan, apa mau aku suapi?" demi sepuluh persen dia harus bisa.
"Sudah pulang sana, tawarannya batal!" David masih sengaja.
"Dasar pelit!" Alana melangkah pergi namun David menarik tangannya. Alana terkejut, tubuhnya pun jatuh ke atas pangkuan David. Kedua mata melotot, napas Alana pun tertahan.
"Ma-Mau apa?" tatapan mata Alan tertuju pada tangan David yang sedang mengusap wajahnya.
"Menciummu!" jawab David tanpa ragu, jarinya kini sudah berada di bibir Alana.
Napas Alana semakin berat, jantungnya pun berdegup kencang. Jari David tidak juga berhenti mengusap bibir bagian bawahnya, wajah pria itu pun mulai mendekat.
"Da-David!" Alana berusaha mendorong tubuh pria itu.
__ADS_1
"Stss!" jari yang tadinya berada di bibir kini sudah berada di bawah dagu Alana.
"Jangan banyak bicara!" ucapnya lagi dan setelah itu, David mencium bibir Alana tanpa membuang waktu. Alana yang tadinya diam saja, mulai membalas ciuman David. Kenapa mereka jadi melakukan hal seperti itu?
Tidak benar, apa yang mereka lakukan saat ini tidaklah benar apalagi ciuman mereka semakin dalam dan semakin panas dibandingkan dengan ciuman semalam. Mereka adalah pelayan dan majikan, apakah David melupakan hal ini? Apa David lupa jika dia adalah pelayannya yang tidak berguna?
Tangan David yang tadinya sedang mengusap punggung Alana, menyusup masuk ke dalam baju Alana. Tidak, dia tidak boleh membiarkan pria itu menyentuhnya sesuka hati. Alana mendorong David dengan terburu-buru dan setelah itu Alana beranjak dari atas pangkuan David.
"Aku mau pulang!" ucapnya.
"Tunggu, kita pulang bersama nanti!" ucap David seraya beranjak dari kursinya.
"Aku banyak pekerjaan. Kau tidak lupa siapa aku, bukan? Aku harap kau tidak lupa jika aku adalah pelayanmu!" Alana melangkah pergi, seharusnya mereka memang tidak melakukan hal itu dan tidak melupakan status mereka berdua. Semua gara-gara dirinya karena dia yang memulai terlebih dahulu.
David tidak mencegah kepergian Alana, dia kembali duduk namun tatapan matanya tidak lepas dari Alana sampai gadis itu keluar dari ruangannya. Benar yang Alana katakan, apa yang sebenarnya dia lakukan? Alana adalah putri dari musuhnya, seharusnya dia membalas dendam tapi kenapa dia jadi terbuai seperti ini?
"Sial!" David memukul meja, sepertinya ada yang salah dengannya.
Alana pun keluar dari tempat itu dengan terburu-buru tanpa tahu jika Stanley sudah menunggu. Mobil yang akan membawanya kembali sudah siap, Alana hendak masuk ke dalam tapi tiba-tiba saja seseorang meraih tangannya dan menariknya pergi.
Alana terkejut apalagi melihat seorang pria yang meneriknya. Siapa?
"Siapa kau dan mau apa?" tanya Alana.
"Alana, ini aku," ucap Stanley seraya berbalik.
"Stanley?" Alana kembali terkejut dan tidak percaya melihat pria itu.
"Ma-Mau apa kau?" tanya Alana.
"Ikut denganku, Alana. Jangan mau bersama dengan pria yang sudah jelas-jelas musuh ayahmu itu!" ucap Stanley.
"Aku tidak mau!" Alana berusaha menarik tangannya.
"Dengarkan aku, Alana. Aku diminta oleh ayahmu untuk menjagamu."
"Aku tidak percaya!" ucap Alana karena dia memang tidak percaya.
"Aku tidak bohong, ayahmu meninggalkan sebuah perusahaan untukmu dan dia meminta aku membantumu. Dia juga meminta aku menjaga dirimu terutama dari David Douglas karena dia sangat membenci ayahmu dan dia ingin membalas dendam pada ayahmu."
"Apa? Tidak mungkin?" ucap Alana tidak percaya.
"Ikut denganku, aku akan menjelaskan semuanya padamu!" ucap Stanley.
__ADS_1
Alana belum menjawab, sepertinya ada yang salah. Apakah dia harus mempercayai pria itu? Tapi bagaimana jika yang dia katakan oleh Stanley adalah sebuah kebohongan dan bagaimana jika yang Stanley katakan justru sebuah kebenaran.