Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Banyak Pertanyaan


__ADS_3

Ellen yang baru saja dihubungi oleh Veronica, segera menghubungi David karena dia ingin mencari tahu apa yang terjadi dan bagaimana dengan keadaan pelayan David. Dia yakin David pasti murka karena hal itu oleh sebab itulah dia tidak mau membantu Veronica.


Lagi pula dia sudah mengecewakan cucunya satu kali dan dia tidak mau mengecewakan David lagi. David yang enggan menjawab panggilan dari neneknya karena dia sedang sibuk mengerjakan pekerjaannya saat itu. Karena dia tidak mau meninggalkan Alana sendirian, membuat David mau tidak mau membawa pekerjaannya ke rumah sakit.


"Berisik!" ucap Alana yang terganggu dengan suara ponsel David yang tiada henti terdengar.


"Apa kau tidak bisa menjawabnya? Telingaku sakit mendengarnya dan aku tidak bisa tidur!" ucap Alana kesal.


"Kau benar-benar jadi menyebalkan!" ucap David, dia lebih suka sifat Alana yang seperti biasanya dan dia jadi merindukan sifatnya yang seperti biasanya itu.


"Bukannya kau mencintai aku? Jadi kau harus menerima sifatku ini!"


"Aku tahu, tidak perlu cerewet!" dia benar-benar sudah terjebak dengan kebohongan yang dia katakan dan jangan katakan, setelah dia menikah dengan Alana nanti, dia yang akan menjadi budak Alana. Ck, kenapa dia jadi berpikir demikian? Sepertinya dia jadi aneh karena kebohongannya sendiri.


"Kau yang cerewet dan ponselmu juga berisik seperti dirimu!"


"Baik.. Baik, akan aku jawab!" ucap David kesal. Apa harus dia pukul kepala Alana agar ingatannya kembali? Sekarang posisi jadi terbalik, dia jadi pelayan Alana dan yang selalu mendapatkan perintah darinya. Awas saja nanti, saat ingatannya kembali maka penalty sudah menanti.


"Ada apa, Nenek? Aku sedang sibuk!"


"Nenek hanya ingin tahu, bagaimana dengan keadaan pelayanmu?"


"Kenapa Nenek bertanya demikian? Apa Nenek peduli dengannya sekarang?"


"Bukan begitu, David. Nenek dengar dia mengalami kecelakaan. Apa dia baik-baik saja?"


"Dari mana Nenek tahu?" David menegakkan duduknya, tidak mungkin ada yang mengatakan hal ini pada neneknya karena tidak ada yang tahu selain supir pribadinya.


"Jadi benar dia mengalami kecelakaan?" tanya neneknya lagi.


"Jawab pertanyaanku, Nenek. Dari mana Nenek tahu? Apa Veronica menghubungi Nenek dan meminta bantuan Nenek?" tanya David curiga. Dia rasa apa yang dia pikirkan saat ini sangatlah benar apalagi Veronica pasti mengira neneknya mau membantu.


"Yeah.. dia memang menghubungi Nenek dan meminta Nenek membantunya tapi Nenek tidak mau."


"Apa dia mengatakan di mana dia berada?" tanya David.


"Tidak, dia hanya meminta bantuan dariku saja dan tidak mengatakan padaku di mana dia berada."


"Sial, sungguh cerdik. Ingat perkataanku ini, Nenek. Jika sampai kau membantu Veronica, kali ini aku benar-benar tidak akan memaafkan dirimu dan jangan harap aku akan memanggilmu dengan sebutan nenek. Sekalipun ada dewa membujuk aku tidak akan memaaafkan dirimu!"

__ADS_1


"Aku tahu, kau tidak perlu mengancam!" ucap neneknya.


"Jika begitu, tanyakan di mana dia berada jika Veronica menghubungi nenek lagi!" ucap David. Dia harus mendapatkan Veronica, harus.


"Akan Nenek lakukan. Jadi? Bagaimana dengan keadaannya?"


"Baik-Baik saja, hanya mulutnya saja yang semakin cerewet!" jawab David sambil melihat ke arah Alana.


"Baiklah, nenek hanya ingin tahu saja. Maaf mengganggu!" usap sang nenek seraya mengakhiri pembicaraan mereka. Sepertinya David berada di rumah sakit tapi dia tidak mau pergi menjenguk karena Alana hanya pelayan saja meski begitu dia tahu, jika David mengkhawatirkan pelayannya itu.


"Dari siapa?" tanya Alana.


"Dari nenek, dia ingin tahu keadaanmu."


"Nenek?" Alana mengernyitkan dahi lalu kembali bertanya, "Nenekmu atau nenekku?"


"Nenekku dan sebentar lagi akan menjadi nenekmu!" jawab David seraya beranjak dan mendekati Alana.


"Lalu siapa Veronica?" tanya Alana lagi.


"Dia yang telah menabrakmu, dia menghubungi Nenek untuk meminta bantuannya."


"Kenapa dari mulut ini begitu banyak pertanyaan?" David menarik mulut Alana sampai maju ke depan. Alana sangat kesal, tangan David pun dipukul hingga bibirnya terlepas.


"Sakit, menyebalkan!" teriaknya marah.


"Aku kira tidak," goda David.


"Sepertinya kau harus mencobanya!" Alana menarik kerah baju David, pria itu berpikir Alana akan mencium bibirnya tapi bukan mendapatkan sebuah ciuman, Alana justru menggigit bibir David.


"Lepaskan, Alana. Apa kau sudah gila!"


"Kau bilang tidak sakit," ucap Alana.


"Ck, kau yang memancing terlebih dahulu!" David menunduk untuk memberikan sebuah kecupan di bibir Alana. Sekarang mereka sudah terbiasa melakukan hal ini dan yang pasti, David tidak perlu membayar lima ribu dolar. Semoga Alana ingat berapa kali David mencium bibirnya saat ingatannya kembali karena dia tidak boleh melewatkan bisnis yang menguntungkan itu.


"Apakah kita sudah merencanakan untuk menikah, David?" tanya Alana.


"Lagi-Lagi pertanyaan!" David tampak tidak senang dan gusar karena setiap kali Alana bertanya, dia harus memberikan sebuah kebohongan agar Alana mempercayainya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa aku tidak boleh bertanya?"


"Bukan begitu, bagaimana dengan keadaanmu saat ini? Apa kau belum mengingat apa pun?" tanya David.


"Aku bertanya kau larang, lalu bagaimana aku bisa mengingat apa saja yang telah terjadi padaku sebelum aku mengalami kejadian ini?"


"Baiklah," David naik ke atas ranjang dan berbaring di sisi Alana.


Alana melihat pria itu dengan serius, dia mencoba mengingat apa saja yang telah mereka lewati tapi tidak ada apa pun yang dapat dia ingat. Seharusnya dia  bisa mengingat dan seharusnya dai bisa merasakan sesuatu di antara hubungan mereka apalagi David berkata jika mereka adalah tunangan tapi sampai saat ini, tidak ada yang bisa dia ingat.


"Kenapa kau berbaring denganku?" tanya Alana.


"Aku ingin tidur denganmu sebentar!" tangan David sudah melingkar di tubuh Alana. Dia butuh istirahat sebentar.


"Kau belum menjawab aku, apa Nenekmu tidak menyukai aku? Apa dia tidak menyetujui hubungan kita?"


"Siapa yang bilang begitu? Tentu saja nenekku menyukaimu dan dia menyetujui hubungan kita berdua!" lagi-lagi sebuah kebohongan yang dia ucapkan. Semoga neneknya tidak datang dan bertemu dengan Alana di saat keadaan Alana sedang seperti itu.


"Baiklah!" Alana menatap langit kamar, akibat tangan dan kakinya membuatnya tidak bisa membalikkan badan.


David tertidur di sisinya, satu tangan Alana membelai rambut pria itu tiada henti. Dia benar-benar merasa aneh, sedangkan David merasa nyaman dan terbuai akibat belaian tangan Alana tapi sayang kebersamaan mereka harus terganggu karena suara ponsel David.


David mengumpat, mau tidak mau dia menjawab apalagi dari anak buah yang dia utus untuk mencari keberadaan Veronica.


"Ada apa?"


"Sir, kami sudah menemukan Veronica dan menangkapnya," ucap anak buahnya yang saat itu memang sudah menangkap Veronica yang hendak melarikan diri ke kota lain.


"Bagus, aku akan menemui kalian saat ini juga!" David beranjak dan duduk di atas ranjang.


"Baik, Sir!"


David mencengkeram ponselnya dengan erat, akhirnya Veronica di dapatkan juga. Akan dia pastikan Veronica mendapatkan ganjaran atas apa yang telah dia lakukan. Apa yang sedang terjadi dengan Alana saat ini, harus dialami oleh Veronica juga.


"Aku harus pergi sebentar," ucap David.


"Kemana? Apa akan lama?" tanya Alana.


"Tidak, hanya sebentar saja. Tidurlah, aku akan segera kembali!" sebelum beranjak, David memberikan kecupan di bibir Alana.

__ADS_1


Alana tersenyum tipis, tatapan matanya tidak lepas dari David yang melangkah pergi. Entah kenapa tiba-tiba dia merasakan firasat buruk dan memang, bahaya sedang mengintainya saat itu.


__ADS_2