
Alana menatap David dengan tatapan curiga saat pria itu menyuapinya makan. Jujur saja dia masih tidak mempercayai pria itu apalagi David benar-benar terlihat mencurigakan. Entah yang dikatakan oleh pria itu benar atau tidak, dia benar-benar harus mewaspadai pria yang masih sangat asing baginya itu karena bisa saja apa yang dilakukan oleh David saat ini demi sebuah tujuan.
David tahu jika Alana tidak mempercayai dirinya. Itu bagus, Alana memang harus seperti itu. Dia memang tidak boleh mempercayai siapa pun dengan mudah apalagi saat ini dia dalam keadaan tidak berdaya. Setidaknya dia memiliki pertahanan diri dibalik ketidakberdayaan dirinya.
"Apa benar kau tunanganku?" tanya Alana.
"Menurutmu, Alana?" David balik bertanya.
"Hei, aku bertanya padamu lalu kenapa kau justru bertanya balik?"
"Aku hanya ingin tahu, apa kau tidak merasakan sesuatu?"
"Merasakan apa? Aku tidak mengerti!"
"Apa kau tidak merasakan sesuatu terhadapku, Alana?" David menatapnya lekat, untuk tahu jawaban yang akan diberikan oleh Alana.
"Ck, kau benar-benar tidak menyenangkan, David. Apa benar kita sudah bertunangan?" sungguh dia tidak bisa mempercayai hal itu.
"Lagi-Lagi pertanyaan yang sama!" ucap David.
"Hm, baiklah,'" Alana membuka mulut untuk menerima suapan dari David. Tatapan Alana tidak lepas dari pria itu, dia sudah mencoba mengingat tapi dia tidak mendapatkan ingatan apa pun tentang kebersamaan mereka berdua.
"Apa kita tinggal bersama, David?" tanya Alana.
"Yes, kita memang tinggal bersama," David membenarkan karena memang itulah yang terjadi.
"A-Apa kita tidur bersama?" tanya Alana gugup.
"Tentu, kita berdua adalah tunangan. Sudah pasti tidur bersama, bukan?"
"Benarkah?" Alana menatap ke arahnya dengan tatapan tidak percaya.
"Aku tidak bohong, kita memang tidur bersama."
"La-Lalu, apa kita?" Wajah Alana memerah, dia jadi malu untuk melanjutkan perkataannya.
"Kita apa?"
"I-Itu?" Alana semakin gugup.
"Itu apa, bicara yang jelas!" David semakin sengaja menggodanya.
"Lupakan saja!" teriak Alana kesal.
"Apa kau mau tahu?" David meraih tangan Alana dan mengangkatnya. Tatapan mata mereka berdua bertemu, Alana menahan napas saat David mencium telapak tangannya. Jantungnya bahkan berdegup kencang. Tidak benar, kenapa dia merasa pernah mengalami hal seperti itu?
__ADS_1
"Ti-Tidak mau!" Alana menarik tangannya dengan terburu-buru serta menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Benar tidak mau, kita bisa ulangi sekarang juga jika kau mau," goda David.
"Cerewet, aku bilang tidak mau ya tidak mau!" teriak Alana kesal.
"Ucapanmu masih saja tetap sama!"
"Berisik, kenapa tidak ada yang datang? Mana ayah dan ibuku? Apa kau tidak mengatakan pada mereka akan keadaanku?" tanya Alana.
David diam, berpikir. Bagaimana caranya mengatakan pada Alana jika dia sudah tidak memiliki siapa pun lagi? Apa dia harus mengatakan pada Alana jika kedua orangtuanya sudah tiada akibat bunuh diri?
"Kenapa kau diam saja? Apa mereka tidak mau datang?" tanya Alana.
"Tidak, bukan begitu. Keluargamu tidak tinggal di sini, mereka tinggal di tempat yang jauh jadi aku merasa tidak perlu mengabari mereka apalagi butuh banyak waktu untuk datang," dusta David.
"Baiklah, aku kira aku sudah tidak memiliki keluarga lagi."
"Sudah, tidak perlu dipikirkan. Sekarang ganti bajumu dan beristirahatlah, aku akan menemanimu."
"Apa kau tidak pergi bekerja? Oh, apa pekerjaanmu?" tanya Alana.
"Pekerjaanku banyak dan sekarang, aku harus menjagamu!"
"Tidak, bajumu kotor dan tubuhmu bau!" ucap David.
"Enak saja, siapa yang bau!" Alana mengendus tubuhnya sendiri, sail. Ternyata badannya benar-benar bau karena keringat.
"Bagaimana, bau bukan?" tanya David.
"Tidak, enak saja!"
"Aku akan menggantikan bajumu. Lagi pula aku sudah pernah melihatnya jadi tidak perlu malu."
"Kau sudah melihatnya?"
"Tentu saja, kita adalah tunangan."
"Baiklah, apa kita sudah akan menikah?"
"Begitulah," jawab David. Sekali berbohong, maka dia akan terus berbohong. David beranjak, untuk mengambil handuk basah dan baju ganti untuk Alana. Alana yang tidak bisa mengingat apa pun hanya bisa mempercayai pria itu untuk saat ini, dia harap David tidak membohongi dirinya apalagi demi sebuah tujuan.
Alana pun membiarkan David membuka bajunya, lagi pula David sudah melihatnya jadi dia tidak perlu malu lagi. David menelan ludah setelah baju bagian atas Alana sudah terlepas. Bagus, dia seperti menggali lubang kuburnya sendiri.
"Sudah berapa lama hubungan kita berdua, David?"
__ADS_1
"Setahun, sepertinya seperti itu," jawab David asal. Dia tidak bisa fokus lagi, tatapan matanya bahkan tidak berpaling dari kedua benda kenyal yang membuat tangannya gatal untuk menyentuhnya.
"Hubungan kita masih baru tapi kenapa kita sudah bertunangan? Apa tindakan kita tidak terlalu terburu-buru?" hari ini Alana begitu banyak bertanya karena dia ingin tahu dan kebohongan yang dibuat oleh David justru semakin banyak.
"Tentu saja tidak, kita sudah sepakat untuk bertunangan karena kita saling mencintai."
"Benarkah?" tanya Alana heran. David tidak terlihat serius karena dia fokus ke tempat lain oleh sebab itu Alana tidak percaya.
"David, apa yang kau lihat?" Alana segera menutupi dadanya dengan cepat.
"Hm, tidak. Aku lihat dadamu semakin besar saja!" ucap David asal.
"Sembarangan, diajak bicara tapi justru lihat yang lain!" Alana tampak kesal.
"Baiklah, mata lelaki!" David segera mengelap tubuh Alana, sebaiknya dia bergegas jika tidak dia tidak akan bisa tidur semalaman.
Baju bersih diambil, David memakaikannya dengan hati-hati agar tidak mengenai tangan Alana yang cidera. David benar-benar memberikan perhatiannya pada Alana. Meski saat ini dia berbohong, tapi dia berharap Alana mengingat apa yang dia lakukan untuk gadis itu saat ini dan tidak marah dengan kebohongan yang dia ucapkan setelah ingatannya kembali.
"Sekarang berbaringlah lagi, aku akan menjagamu," ucap David.
"Thanks, maaf aku merepotkan dirimu."
"Tidak perlu berkata seperti itu, ini sudah kewajibanku!"
"Kau benar, terima kasih sudah berada di sini bersama denganku."
"Sttss... berbaringlah. Aku tidak suka melihatmu seperti ini, aku lebih suka kau memarahi aku dengan ucapan cerewet!"
"Ternyata kau sadar diri jika kau pria cerewet!"
"Aku memang cerewet tapi kau lebih cerewet lagi!" dagu Alana diangkat, kecupan lembut mendarat di bibirnya.
Alana terkejut, David mengusap wajah Alana dengan perlahan. Mereka berdua saling menatap satu sama lain namun tidak lama karena David kembali mencium bibir Alana. Alana pun tidak menolak, dia percaya dengan perkataan David jika mereka berdua adalah tunangan dan dia percaya jika mereka sudah melakukan hal yang lebih jauh dari pada ciuman.
Ciuman mereka terlepas saat mereka butuh mengambil napas. Tangan David kembali mengusap wajah Alana dengan lembut, mereka berdua pun kembali saling pandang. Entah kenapa David mulai menyukai keadaan mereka yang seperti itu karena Alana tidak menolak dan tidak ada iming-iming uang atas apa yang dia lakukan tapi tetap saja, dia lebih suka dengan Alana yang seperti biasanya. Cerewet dan juga menyebalkan.
"Sekarang berbaringlah, jangan sampai aku dikira menindas orang sakit," ucap David.
"Kau tidak akan pergi ke mana pun, bukan?" tanya Alana. Dia bertanya demikian karena dia takut David pergi meninggalkan dirinya.
"Tentu saja tidak, aku tidak akan peri ke mana pun!" David membantu Alana untuk berbaring dan setelah itu, sebuah ciuman mendarat di dahi Alana.
Senyuman manis menghiasai wajah Alana, David menggenggam tangannya dengan erat dan tidak pergi ke mana pun. Alana merasa aman oleh sebab itu kedua matanya mulai terpejam, dia tahu jika dia akan merepotkan David lebih dari pada ini dan dia harap David tidak bosan.
Tatapan mata David tidak lepas dari wajah Alana yang tertidur. Gadis itu, tidak akan dia lepaskan karena sejak awal Alana Meyyer sudah menjadi miliknya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun lagi mengganggu Alana namun Stanley yang menginginkan Alana, sudah mengetahui apa yang terjadi pada Alana dan pria itu tetap akan mendapatkan Alana menggunakan caranya.
__ADS_1