
David terbangun terlebih dahulu, dia terbangun karena ada sesuatu yang menindih tubuhnya. Rasanya berat, David belum ingat dengan apa yang terjadi semalam. Kedua tangannya menyentuh bahu seseorang yang sedang berbaring di atas tubuhnya, David mengernyitkan dahi namun tidak butuh lama dia menyadari jika dia tidak sedang berada di dalam kamarnya dan dia pun menyadari jika yang sedang tidur di atas tubuhnya saat ini adalah Alena yang belum menggunakan sehelai benang pun.
David mengumpat. Sial. Gadis itu benar-benar menguji iman. Semoga dia bisa bertahan apalagi dia pasti akan terus teringat dengan tubuh polos Alana. Gadis itu pun tidak memiliki pertahanan diri, Alana tidur di atas tubuhnya dengan keadaan polos tanpa memikirkan keadaannya.
Dengan perlahan, David menyingkirkan Alana dari atas tubuhnya. Alana hanya bergerak sesaat, namun David semakin dibuat kesal karena Alana berbaring telentang dengan kedua kaki terbuka sehingga memperlihatkan kedua dadanya yang menggoda dan bagian yang benar-benar menggoda imannya. Astaga, dia harus segera keluar dari kamar itu. Harus, sebelum dia hilang kendali dan kali ini dia rasa dia tidak akan berhenti.
Selimut diambil dan di lempar untuk menutupi tubuh Alana, David buru-buru melangkah keluar dan lagi-lagi dia harus berakhir di bawah guyuran air dingin dan untuk kesekian kali, sasaran atas apa yang dia alami adalah dinding kamar mandi. Jika dinding itu bisa memaki, mungkin dinding yang tidak tahu apa pun itu sudah memaki.
David sangat kesal, sepertinya menjadikan Alana Meyyer sebagai pelayan di rumahnya adalah ide buruk tapi apalagi yang bisa dilakukan oleh nona muda tidak berguna itu? Pekerjaan rumah saja tidak becus apalagi pekerjaan kantor. Jangan sampai dia gila sebelum Alana bisa membayar hutangnya.
"Tidak!" teriakan Alana terdengar, David menggeleng dan memijit pelipis. Pelayan menyebalkannya sepertinya sudah bangun.
Alana terkejut melihat tubuhnya yang telanjang tapi setelah ingat dengan apa yang terjadi, Alana buru-buru menutup mulutnya. Sekarang dia benar-benar malu, bagaimana dia bisa menunjukkan wajahnya nanti pada David? Jika tahu akan jadi seperti ini bukankah sebaiknya dia melanjutkan rencana bunuh dirinya saja? Tapi perkataan David semalam justru teringat sehingga dia merasa jika tindakan yang dia lakukan adalah perbuatan bodoh.
Tidak seharusnya dia tidak memikirkan rencana bunuh diri lagi. Sudah cukup menangisnya, mulai sekarang dia harus menikmati hidupnya dan menguak kasus kematian kedua orangtuanya. Dia tidak akan berpikiran sempit lagi meskipun dia akan menjadi pelayan untuk seumur hidup. Siapa tahu ada keajaiban yang bisa merubah semua itu? Karena sudah siang, Alana bergegas mandi dan mengenakan pakaian. Dia harus segera membuat sarapan sebelum bos killer itu menambah hutangnya.
Alana tidak berani melihat ke arah David saat pria itu masuk ke dalam dapur. Alana pura-pura sibuk membuat kopi dan sarapan untuk pria itu. David pun tidak melepaskan pandangannya dari Alana sampai gadis itu mendekatinya sambil membawa kopi dan sarapan.
"Hm!" satu deheman David membuat Alana terkejut.
"Kenapa tidak berani melihatku, mana nyalimu yang mengebu itu?" tanya David mencibir.
"A-Aku," Alana menunduk, dia sangat malu untuk menatap mata David secara langsung.
"Mulai sekarang, bekerjalah dengan benar dan awas jika kau berani berpikir untuk bunuh diri lagi!"
"Untuk itu, aku minta maaf," Alana memberanikan diri untuk melihat wajah David, "Maafkan aku yang memiliki pikiran sempit. Benar yang kau katakan, kematian tidak akan menyelesaikan masalah," ucapnya lagi.
"Bagus, masih belum terlambat untuk memperbaiki semuanya. Aku ingin kau bekerja dengan baik, jangan banyak mengeluh. Cintai pekerjaan yang kau miliki saat ini!"
__ADS_1
"Aku.. Aku akan berusaha melakukannya dengan baik," Alana kembali menunduk.
"Bagus, kembali bekerja dan ingat, jangan berisik!"
Ekspresi wajah Alana jadi terlihat kesal setelah mendengar perkataan terakhir David. Siapa yang berisik? Apa pria itu mengira dia petasan?
"Aku tidak berisik!" ucapnya.
"Tidak berisik? Apa kau tidak tahu jika kau sudah seperti sirine pemadam kebakaran setiap pagi?"
"Enak saja, siapa yang sirine pemadam?" pembicaraan mereka justru jadi pertengkaran sehingga hubungan mereka seperti sedia kala dan tidak seperti telah terjadi sesuatu sebelumnya.
"Kau, siapa lagi?" David berpaling dan melihat ke arah Alana.
Mereka berdua saling pandang cukup lama namun Alana berpaling dengan terburu-buru karena perasaan malu kembali dia rasakan. Alana melangkah pergi, sebaiknya dia bekerja karena dia sedang malas berdebat tapi entah kenapa David kembali memulai seolah-olah dia lebih suka melihat Alana kesal.
"Apa?" teriak Alana. Apa dia tidak salah mendengar?
"Sudah aku katakan tidak ada yang gratis, Alana. Sebaiknya kau semakin memperbaiki sikapmu agar tidak ada penalty lagi!" ucap David.
"Dasar bos killer yang pelit dan perhitungan" teriak Alana kesal.
"Apa kau bilang?"
"Kau adalah bos killer yang pelit!" teriak Alana.
"Alana Meyyer!" David sudah beranjak dari tempat duduk namun Alana sudah lari keluar.
"Berhenti kau!" teriak David pula.
__ADS_1
"Karena aku harus membayar pelukanmu jadi aku tidak akan berterima kasih!" teriakan Alana dan sialnya, tidak ada yang menyadari jika Veronica sudah berdiri di depan pintu.
Veronica yang mendengar sangat terkejut. Pelukan? Apa yang telah terjadi pada David dan Alana Meyyer? Entah kenapa dia jadi takut membayangkannya apalagi ucapan David semakin membuatnya shock.
"Aku lebih suka uang dari pada ucapan terima kasih dan aku juga akan memberikan penalty karena kau sudah begitu berani membuka bajumu di hadapanku. Satu ciumanku pun sangatlah mahal, kau harus tahu itu!"
Kedua mata Veronica melotot. Jadi hubungan mereka sudah sejauh itu? Tidak bisa, Alana Meyyer sungguh cerdik. Dia pasti ingin menjerat David oleh sebab itu dia menggodanya dan dengan cara membuka bajunya. Sungguh mantan nona muda yang picik. Alana pasti ingin mendapatkan David agar dia bisa kembali hidup dengan nyaman. Tidak bisa, dia harus mencegah agar David tidak jatuh ke tangan orang yang hanya ingin menumpang hidup dengannya saja.
Tanpa membuang waktu, Veronica membuka pintu dengan lebar, Alana dan David yang masih berdebat melihat ke arah pintu di mana Veronica masuk ke dalam dan terlihat tidak senang.
"Kalian terlihat semakin akrab," sindir Veronica.
"Untuk apa kau datang sepagi ini?" tanya David.
"Tentu saja untuk bertemu denganmu, David. Apa kau kira aku ingin bertemu dengan gadis pelayan ini?" Veronica melirik ke arah Alana dengan lirikan mata seperti menghina dirinya.
Alana cuek saja, dia memilih untuk pergi dari pada berada di antara mereka. Lagi pula dia tidak mau ikut campur dalam masalah apa pun. Hidupnya sudah rumit dan dia tidak mau semakin mempersulit hidupnya lagi.
"Apa yang terjadi dengan kalian berdua, David? Kenapa aku terdengar akrab dengannya?" tanya Veronica. Dia sungguh ingin tahu apa yang terjadi dengan hubungan David dan Alana.
"Aku tidak akrab dengannya, jangan mengada-ada!" David melangkah pergi, sebaiknya dia segera pergi ke kantor.
"Jangan berpura-pura, aku bisa melihat jika kalian berdua sangat akrab!" ucap Veronica tidak senang.
"Aku sedang mendisiplinkan pelayanku jadi jangan sembarangan bicara!"
Kedua tangan Veronica mencengkeram erat. David tidak mau mengaku atau dia tidak menyadari kedekatannya yang semakin terlihat jelas dengan Alana Meyyer? Kedua matanya kini melihat Alana yang sedang membersihkan rumah. Gadis itu, benar-benar ancaman yang harus dia singkirkan tapi bagaimana caranya?
Alana bersikap acuh tak acuh, dia tidak tahu jika Veronica sedang cemburu padanya dan kecemburuan wanita itu semakin besar apalagi setelah mendengar perdebatannya dengan David. Sepertinya dia harus segera mendapatkan David dan jika tidak bisa, maka tidak ada satu orang pun yang boleh memiliki David dan dia akan menyingkirkan Alana agar gadis itu pun tidak bisa memiliki David.
__ADS_1