
Kabar keinginan David untuk menikahi Alana sudah di dengar oleh nenek dan ayahnya. Ellen Douglas langsung datang ke rumah sakit setelah tahu di mana David berada. Dia ingin berbicara dengan cucunya mengenai hal itu. Dia harap David hanya bercanda saja dan mempertimbangkan keputusannya kembali karena dia tidak setuju cucunya ingin menikahi pelayannya. Apa yang akan dikatakan oleh orang-orang nanti? Pelayan itu pasti sudah menghasut David sehingga David ingin menikahinya.
Saat Ellen datang, David sedang menyuapi Alana makan. Ellen tampak tidak senang, si pelayan itu sungguh sudah keterlaluan karena menjadikan David sebagai pelayannya saat ini. Sekarang pelaya itu semakin keterlaluan saja dan besar kepala.
"Apa-Apaan ini?" tanya Ellen dengan nada tidak senang.
"Nenek, setiap kali kau kau datang selalu saja membuat keributan!" David melirik ke arah sang nenek sebentar dan setelah itu dia kembali menyuapi Alana.
"Kenapa kau berkata demikian, David? lihatlah kalian berdua, kenapa jadi kau yang melayani dirinya? Apa tidak ada perawat yang menyuapinya makan?"
"Nenek selalu datang dengan tidak bersahabat, lebih baik Nenek jangan datang jika ingin membuat aku kesal. Lagi pula aku melakukan hal ini pada calon istriku jadi jangan cerewet!"
Ellen diam, namun tatapan matanya tidak lepas dari Alana. Pelayan itu benar-benar sudah menjerat David dan sialnya, dia justru berhasil membuat David menjadi budaknya.
"Kau benar-benar sudah teperdaya olehnya. Lagi pula aku datang untuk mencari tahu, apakah niatmu untuk menikahinya adalah benar?" tanya sang nenek tanpa melepaskan pandangannya dari Alana.
"Tentu saja benar, apa Nenek kira aku bercanda dengan hal ini? Aku sangat serius jadi jangan bertanya apakah aku serius atau tidak."
"Tidak, David. Kau sudah tertipu oleh rubah ini jadi pikirkanlah baik-baik, jangan sampai kau menyesal!"
"Apa maksud perkataan Nenek?" tanya Alana. Sepertinya nenek David belum bisa menerima dirinya tapi tidak seharusnya nenek David mengatakan perkataan itu seolah-olah dia yang memaksa David untuk menikahinya.
"Kau pelayan rendah, apa yang kau lakukan sehingga David ingin menikahi dirimu?" tanya sang nenek dengan nada tidak senang.
"Stop, Nenek. Jika nenek datang untuk menghina Alana sebaiknya pergi saja. Aku pun tidak perlu persetujuan dari Nenek atau pun Daddy jadi pergilah!" usir David.
"David, Nenek hanya takut ditipu olehnya? Bagaimanapun dia memiliki banyak hutang padamu, bagaimana jika dia meninggalkan dirimu setelah kau menghapus semua hutangnya?"
"Tidak akan, hutangnya tetap ada meski dia sudah menjadi istriku dan dia harus membayarnya sampai seumur hidup!"
__ADS_1
Alana terkejut, jadi hutangnya tetap akan ada meskipun dia sudah menikah dengan David? Menyebalkan, jika begitu dialah yang rugi dan pria itu untung banyak.
"Aku juga tidak mau menikahi cucumu yang sudah tua ini, Nenek!" ucap Alana kesal.
"Apa kau bilang?" sang nenek terkejut mendengarnya.
"Mulut cerewetmu ini!" David mencubit mulut Alana dan menariknya hingga maju ke depan. Alana memukul lengan David, sedangkan pria itu masih saja menarik mulutnya. Sang nenek hanya melihat, David memang tidak pernah terlihat seperti itu dengan wanita mana pun.
"Berani lagi kau berbicara aku tua, kau akan mendapatkan hukuman selama satu minggu!" ucap David kesal.
"Sakit, kau benar-benar menyebalkan!" teriak Alana sambil memegangi mulutnya yang sudah dilepaskan oleh David.
"Berani lagi mengatai aku tua, aku juga akan membuatmu cepat tua!" ancam David.
"Tidak mau, menyebalkan!"
"Dasar tidak tahu sopan santun!" ucap sang nenek.
Alana memandangi pria itu karena dia teringat dengan apa yang Stanley ucapkan. Apakah benar ayahnya menjadikan dirinya sebagai jaminan agar David menjaganya? Apakah pria itu tahu dan apakah David tahu jika ayahnya melakukan hal itu untuk memanfaatkan dirinya?
"Jadi kau akan tetap menikahi dirinya?"
"Yeah, Nenek lihat keadaannya ini? Semua gara-gara Veronica dan aku harus bertanggung jawab. Jika Nenek tidak mau datang juga tidak apa-apa, lagi pula aku tidak mengundang siapa pun dan kami hanya akan menikah di gereja saja!"
"Baiklah, baik. Walau aku tidak suka tapi itu pilihanmu. Kabari aku saat waktunya sudah tiba, aku dan ayahmu akan datang," setelah berkata Demikian, Ellen melangkah pergi. Jika memang itu yang diinginkan oleh cucunya, dia tidak bisa berbuat apa pun.
Setelah kepergian nenek David, Alana tampak lega namun tatapan tajamnya tidak lepas dari David. Pria itu paling pandai membuatnya kesal tapi dia jadi ingin tahu, ke mana Veronica dan Stanley pergi?
"Kenapa melihat aku seperti itu?" tanya David.
__ADS_1
"Menyebalkan, aku belum setuju untuk menikah denganmu tapi kau sudah mengabari hal ini pada nenekmu!"
"Kau sudah setuju menua bersama denganku itu berarti kau sudah setuju menikah denganku!"
"Apa? Aku hanya berkata ingin menua bersama denganmu saja bukan?" ucapan Alana terhenti karena David sudah mencium bibirnya.
"Jika mulut cerewet ini tidak bisa diam, maka akan aku cium sampai bengkak!" ancamnya.
"Apa?" Alana hendak protes tapi lagi-lagi David mencium bibirnya.
"Jangan banyak protes!" bisik David saat menghentikan ciumannya sebentar namun tidak lama karena dia kembali mencium bibir Alana.
Alana tidak melawan, lagi pula dengan keadaannya yang seperti itu dia tidak bisa melakukan apa pun. Setelah mencium bibirnya, David berbaring di sisinya dan memeluknya. Tangan pria itu pun tak henti mengusap kepala Alana dan memainkan rambutnya.
"Apa yang kau lakukan pada Veronica dan Stanley?" tanya Alana.
"Sebaiknya kau tidak tahu tapi yang pasti mereka tidak akan mengganggu dan menyakiti dirimu lagi karena mereka sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal atas apa yang mereka lakukan padamu!"
"Baiklah, tapi apa benar kau ingin menikahi aku?" tanya Alana memastikan.
"Aku memang akan menikahi dirimu jadi jangan bertanya lagi!"
"David," Alana memandangi wajah pria itu dengan lekat, "Apa kau tahu kenapa ayahku meminjam uang padamu?"
"Entahlah, yang aku tahu dia butuh uang dan menjadikanmu sebagai jaminan dan yang aku tahu saat ini kau sudah jadi milikku. Sejak hari itu, sejak kau masuk ke rumahku kau sudah jadi milikku dan kau tidak akan bisa pergi lagi dari rumahku."
"Menyebalkan, aku belum jadi milikmu!" ucap Alana namun dia berbaring dengan nyaman di dalam pelukan David.
Kematian kedua orangtuanya dan perseteruan mereka dengan Stanley biarlah menjadi rahasia. Lagi pula tidak semua rahasia harus terungkap jadi biarlah semua jadi rahasia yang dibawa pergi oleh ayahnya. Mungkin ayahnya menginginkan hal ini terjadi padanya, oleh sebab itu ayahnya lebih mempercayai David padahal mereka adalah musuh.
__ADS_1
Jika memang demikian, dia harus berterima kasih pada kedua orangtuanya karena mereka masih memikirkan keadaannya yang tidak bisa apa-apa dan juga yang tidak berguna. Seandainya David tidak menjadikannya pelan saat itu, dia pasti sudah jadi gelandangan jadi shukuri saja apa yang tekah terjadi karena tidak selamanya penderitaan itu dia rasakan. Seperti kata pepatah, habis gelap maka terbitlah terang.