Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Keluarga Cerewet


__ADS_3

Jayden Douglas, itu nama untuk putra kecil David dan Alana. Kehadiran Jayden tentu menjadi kabar gembira untuk mereka semua. Ayah dan ibu tiri David bahkan sering datang untuk menjenguk Alana dan juga si kecil Jayden yang cengeng.


Setiap hari, David merasa sakit kepala. Setelah istrinya sudah tidak begitu cerewet lagi tapi sekarang putranya yang selalu menangis tiada henti. Sepertinya Alana mengajari putranya untuk membalas dendam karena Jayden akan berhenti setelah digendong oleh ayahnya.


Waktu tidur David bahkan berkurang, ternyata memiliki anak bukanlah perkara mudah. Walau Alana sudah turun tangan tapi tetap saja dia merasa kewalahan. David sedang menggendong Jayden yang menangis, saat itu waktu sudah menunjukkan pukul dua pagi. Alana sedang berada di dalam kamar mandi oleh sebab itu David sibuk menenangkan putranya yang menangis.


"Alana, apa kau belum selesai?" tanya David sambil sedikit berteriak.


"Sebentar, David. Aku belum selesai!" jawab Alana pula sambil berteriak.


"Jayden tidak mau berhenti menangis, jadi cepat keluar!"


"Coba kau ganti popok yang dia pakai, mungkin sudah penuh!"


"Apa? Aku tidak bisa!"  teriak David namun Jayden semakin menangis dengan keras akibat teriakan ayahnnya.


"Jika begitu tunggu aku keluar, dasar cerewet!" teriak Alana kesal.


"Sial!" David mengumpat lalu melangkah menuju ranjang. Putra kecilnya tidak juga berhenti menangis, hal itu membuat David sakit kepala.


Jayden pun dibaringkan, hanya mengganti popoknya saja, bukan? Dia rasa bukan perkara sulit. Tangisan Jayden belum juga berhenti, sedangkan Alana belum juga selesai. Jangan katakan istrinya sengaja. Mau tidak mau David mengambil popok yang baru dan setelah itu dia kembali mendekati Jayden.


"Jangan menangis, Boy. Kau benar-benar bikin sakit kepala!" ucapnya.


David mulai melepaskan popok yang Jayden gunakan, dia pernah melihat Alana melakukannya. Sepertinya tidak sulit, hanya membuka dan memasang. Yang dikatakan oleh Alana sangat benar, putranya menangis karena popok yang digunakan oleh putranya sudah penuh.


Dengan hati-hati dan pelan, David mengangkat kedua kaki putranya untuk menyingkirkan popok yang sudah penuh. Satu langkah sudah berhasil, sekarang tinggal langkah selanjutnya. Setelah menyingkirkan popok kotor, kini dia meletakkan yang baru. langkah kedua pun berhasil tapi dia ingat jika Alana selalu membersihkan putranya sebelum mengganti popok yang baru.


Baiklah, dia mulai ahli dalam melakukan hal itu. tangisan Jayden pun sudah terhenti. Anak baik, David benar-benar puas dengan hasil kerjanya.


"Apa sudah selesai?" tanya Alana yang baru saja keluar dari kamar.


"Sudah, aku tidak butuh dirimu!" ucap David.


"Yakin tidak perlu aku bantu?"


"Tidak perlu, tidur saja!"

__ADS_1


"Cih, pria tua emosian!" Alana melangkah menuju ranjang, disuruh tidur ya tidur.


"Cukup Daddy saja yang menjaga Jayden, benar bukan?" David tampak begitu percaya diri, popok yang sudah dipakai sudah akan dirapikan tapi sebelum David melakukannya, David harus dikejutkan oleh semburan cairan hangat yang menyembur ke wajahnya.


"Jayden!" David berteriak, satu tangan berusaha menahan semburan tidak menyenangkan.


Alana yang melihat itu tentu saja tertawa terbahak, Jayden paling pandai membalas ayahnya yang terlihat sangat kesal karena sudah basah kuyup akibat semburan air hangat pada malam hari. Jayden bahkan tertawa dan menendang kedua kaki kecilnya.


"Yakin tidak mau dibantu?" tanya Alana seraya melangkah mendekatinya.


"Berisik, segera tangani, aku mau mandi!" ucap David kesal.


"Makanya lain kali jangan sok bisa!" cibir Alana.


"Cerewet, awas kau nanti!" ancam David.


Alana terkekeh, David memang suami siaga tapi dia harus diberi sedikit pelajaran seperti tadi tapi akibat semburan itu David harus mandi.


"Anak baik, pembalasan yang sempurna!" ucap Alana sambil terkekeh.


Alana menggendong putranya setelah selesai menggantikannya popoknya lagi. Suara air terdengar dari kamar mandi karena David sedang membersihkan dirinya. Sungguh menyebalkan, tapi dia tidak bisa memarahi putranya. Saat dia keluar, Alana sedang menyusui putranya sambil memainkan tangan kecilnya. Baiklah, walau mendapatkan semburan air hangat tidak terduga tapi dia suka melihat keluarga kecilnya yang seperti itu.


"Bagaimana dengannya?" tanya David.


"Ssttss, Jayden sudah hampir tertidur," ucap Alana.


"Berikan padaku jika sudah selesai, aku yang akan menggendongnya sampai tertidur!"


"Kau tidur saja, David. Bukankah kau ada pekerjaan penting besok? Jadi biarkan aku yang menidurkannya."


"Sudahlah, bagaimana dengan perutmu?" Tangan David sudah berada di perut Alana dan mengusapnya.


"Sudah lebih baik, aku rasa aku salah makan saja," ucap Alana.


"Besok Daddy dan istrinya akan datang untuk melihat Jayden," ucap David.


"Mereka jadi sering datang," Alana membaringkan Jayden yang sudah tidur di sisinya.

__ADS_1


"Biarkan saja, jangan mencegah mereka yang ingin melihat keadaan Jayden."


"Aku senang hubungan kalian kembali baik-baik saja," Alana sudah bersandar di bahu suaminya, sekarang dia benar-benar bahagia.


"Yeah... semua berkat mulutmu yang cerewet!"


"Tapi sekarang semua jadi lebih baik, bukan? Hubunganmu dengan keluargamu jadi lebih baik."


"Kau benar," tangan David tak henti mengusap rambut Alana dan ciumannya mendarat di dahi Alana tanpa henti.


"Apa kau tahu kenapa ayahku meminjam uang padamu, David?"


"Dia meminjam uang untuk membayar hutang, apa lagi!"


"Stanley berkata jika ayahku meminjam uang padamu dan menjadikan aku sebagai jaminan agar kau menjaga aku. Apa kau tahu hal itu?"


"Apa? Jadi aku telah ditipu oleh ayahmu?"


"Sepertinya, ayahku benar-benar pandai memanfaatkan situasi!"


"Menyebalkan, ternyata aku harus menjagamu padahal aku yang meminjamkan uang. Aku benar-benar rugi!" ucap David.


"Benarkah?" Alana memainkan jarinya ke dada dada David, "Apa kau benar-benar rugi, pria tua?" tanyanya lagi sambil menggoda suaminya.


"Tidak, karena aku mendapatkan daun muda sebagai istri!" setelah berkata demikian, David mencium bibir Alana dan membaringkannya dengan perlahan.


"Kau dapat daun muda tapi aku mendapat yang sudah tua!" ucap Alana.


"Cerewet, aku belum tua apalagi aku masih kuat. Kau saja sampai menjerit saat berada di bawahku!"


"Menyebalkan, jangan membahas hal seperti itu!" ucap Alana dengan wajah tersipu.


"Jadi? Apa masih mau menganggap aku pria tua?"


"Baiklah, baik. Kau pria tua yang menawan dan kuat," puji Alana.


"Apa ada maksud tertentu kau memuji aku seperti ini?" tanya David curiga.

__ADS_1


"Tidak ada, tidak mau dipuji ya sudah. Dasar pria tua cerewet!" Alana mendorong tubuh David, lebih baik dia tidur saja tapi David sudah meraih tangannya dan mengusap wajahnya.


"Kau lebih cerewet!" ucap David seraya mencium bibir istrinya lagi. Walau Angelo Meyyer memanfaatkan dirinya tapi dia tidak keberatan karena dia bisa menikah dengan Alana berkat uang yang dia pinjamkan. Seandainya dia menolak waktu itu, mungkin saat ini mereka tidak akan saling mengenal dan mereka tidak akan pernah menjadi suami istri dan Jayden tidak akan pernah hadir di antara mereka berdua.


__ADS_2