Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Perkelahian David Dan Stanley.


__ADS_3

Setelah pergi menemui Alana, Stanley kembali ke kantor. Entah apa yang dipikirkan oleh Alana sehingga gadis itu tidak mau menerima tawaran yang dia berikan tapi dia harap, Alana segera mengambil keputusan sehingga dia bisa cepat bertindak. Dia tahu, sulit bagi Alana mempercayai dirinya karena selama ini mereka tidak pernah bertemu.


Seharusnya dia meminta nomor ponsel Alana agar dia bisa menghubungi Alana dan agar dia bisa lebih mudah berbicara dengannya. Bodoh, dia sungguh tidak mengingat hal ini. Lain kali akan dia minta agar dia bisa menghubungi Alana setiap saat.


Stanley yang sedang memikirkan cara untuk bertemu dengan Alana lagi tidak tahu jika sudah terjadi keributan di bawah sana. David yang murka menerobos masuk ke dalam kantornya untuk memberi pria itu pelajaran karena sudah membawa Alana tanpa seijinnya. Beberapa security yang berjaga tidak bisa menahan David bahkan karyawan pria yang membantu menahan pria itu pun tak mampu.


Seorang karyawan berlari ke atas untuk mencari majikannya. Stanley terkejut saat pintu ruangan terbuka secara tiba-tiba dan seorang karyawan menerobos masuk ke dalam.


"Lancang! Apa kau sudah tidak mau bekerja di perusahaan ini lagi?" teriak Stanley murka.


"Sorry, Sir. Ada keributan di bawah karena David Douglas ini bertemu denganmu!" ucap Anak buahnya yang sedang berusaha mengambil napas.


"Apa?" Stanley terkejut dan beranjak. David? Beraninya pria itu mengacau di tempatnya? Tidak akan dia biarkan.


Stanley segera turun ke bawah, dia akan memberikan pelajaran pada David yang sudah mengacau di tempatnya. David sudah menunggu, sudah dia duga pria itu akan menemuinya. Setidaknya Stanley tidak seperti seorang pengecut yang melarikan diri.


"Beraninya kau mengganggu di tempatku, David?!" ucap Stanley yang sedang melangkah maju mendekati David namun pada saat itu, David yang sedang marah memukulnya tanpa ragu.


Stanley yang tidak menyangka akan mendapatkan pukulan itu, terpental ke belakang. Teriakan para karyawannya terdengar, dua security yang sedang berjaga membantu bos mereka dan berdiri di hadapan bos mereka. Stanley mengumpat, David benar-benar mengibarkan bendera perang padanya.


"Apa maksudnya ini, David. Kenapa kau memukulku tanpa sebab?" tanya Stanley.


"Tidak perlu basa basi. Seharusnya kau tahu kenapa aku datang ke sini dan memukulmu!" ucap David sinis.


"Jangan katakan kau datang gara-gara aku membawa Alana pergi,"


"Memang itu yang membuat aku datang, apa kau kira ada yang lain? Sudah aku katakan padamu, jangan mengganggunya tapi beraninya kau membawanya pergi tanpa sepengetahuanku?" kedua tangan sudah mengepal erat.  Alana adalah gadis yang naif sehingga mudah dipengaruhi, dia tidak suka ada yang mempengaruhi Alana di saat gadis itu belum mengetahui apa pun. Alana masih harus banyak belajar tapi Stanley justru ingin menghasutnya dengan perkataan manis yang dia yakini, perkataan yang Stanley ucapkan pada Alana hanya tipuan semata.

__ADS_1


"Kenapa kau harus marah? Apa hubungannya denganmu? Kau menjadikan dirinya sebagai seorang pelayan oleh sebab itu aku ingin membawanya pergi darimu!" teriak Stanley marah.


"Aku mau menjadikan dia pelayan atau menjadikannya istri tidak ada hubungannya denganmu! Kau hanya orang luar yang tidak perlu ikut campur!" teriak David pula.


"Oh, aku orang luar lalu kau? Apa kau kekasihnya ataukah kau calon suaminya?" cibir Stanley.


"Aku mau jadi apanya itu bukan urusanmu. Kau memang orang luar apalagi Angelo tidak mempercayai dirimu!"


"Tutup mulutmu!" Stanley berlari ke arah David, tidak akan dia biarkan pria itu berbicara sesuka hatinya. Stanley melayangkan tinjunya ke arah David, pria itu segera menghindar. Perkelahian antara kedua pria itu tidak terhindarkan. David benar-benar melampiaskan amarahnya di sana. Stanley yang sudah tersulut api emosi pun menggila.


Tidak ada yang berani melerai kedua pria yang sedang baku hantam tersebut. Kaca pintu sampai pecah saat David memukul wajah Stanley dengan sekuat tenaga hingga pria itu terpental ke belakang. Mereka tidak peduli dengan apa pun, mereka seperti memperebutkan seorang wanita saja. Mereka berdua masih saja baku hantam dan berhenti saat mereka sudah babak belur.


Darah sudah mengalir dari sela bibir kedua pria itu, mereka saling pandang dengan api permusuhan semakin membara di antara mereka. Baju mereka sudah basah akibat keringat, dada mereka pun turun naik akibat napas yang memburu.


"Jangan pernah menemui Alana lagi untuk mempengaruhi dirinya. Kau hanya ingin mencelakai dirinya saja, aku tahu itu!" ucap David.


"Kaulah yang ingin mencelakai dirinya. Aku akan tetap mengambil Alana darimu!" teriak Stanley marah.


Tidak bisa, dia tidak bisa membiarkan pria itu mempermalukan dirinya lagi. Stanley melangkah pergi, penghinaan yang tidak akan dia lupakan apalagi para karyawan melihat dirinya dipukul sampai babak belur.


David yang sudah pergi enggan kembali ke rumah. Dia tidak mau bertemu dengan Alana dalam keadaan marah seperti itu, David bahkan berniat tidak pulang untuk beberapa hari. Terserah Alana mau melakukan apa, untuk beberapa hari dia ingin menenangkan diri sebentar tapi mau tidak mau dia harus pulang untuk mengambil beberapa barang.


Alana yang berada di dalam kamar pun termenung, dia sedang memikirkan banyak hal. Entah ucapan Stanley benar atau tidak, dia tidak peduli. Yang sedang Alana pikirkan saat ini adalah, bagaimana caranya dia bisa mendapatkan uang lebih cepat agar dia bisa melunasi hutang-hutangnya. Dia bisa memanfaatkan waktu yang ada tapi apa yang bisa dia kerjakan?


Alana berpikir cukup keras sampai akhirnya dia mengingat seorang sahabat yang masih peduli dengannya. Sepertinya dia bisa meminta bantuan sahabatnya itu dan dia harap, sahabatnya mau membantu. Dia ingat nomor ponselnya, oleh sebab itu Alana segera menghubungi sahabatnya.


"Maria, apa itu kau?" tanya Alana saat sahabatnya yang bernama Maria menjawab panggilan darinya.

__ADS_1


"Benar, kau siapa?" tanya Maria pula.


"Ini aku, Alana. Apa kau sudah melupakan aku?"


"Alana, ya Tuhan. Apa kabarmu, di mana kau sekarang?" tanya Maria.


"Aku baik-baik saja, sekarang aku sedang bekerja."


"Aku sangat senang mendengarnya, kenapa baru menghubungi aku sekarang?" tanya Maria.


"Maaf, aku tidak punya ponsel. Kau tahu aku sudah tidak memiliki apa pun lagi."


"Oke, baiklah nona muda. Aku benar-benar senang kau baik-baik saja."


"Terima kasih tapi jangan memanggil aku seperti itu lagi. Aku sudah bukan nona muda. Aku menghubungi dirimu karena aku ingin meminta bantuanmu. Apa kau mau membantu aku, Maria?"


"Bodoh, kita adalah teman meskipun kau sudah tidak memiliki apa pun. Aku pasti akan membantumu. Sekarang katakan apa yang bisa aku lakukan?" tanya Maria.


"Tolong bantu aku mencari pekerjaan,Maria," pinta Alena.


"Apa? Bukankah kau berkata kau sedang bekerja?"


"Benar, aku butuh pekerjaan paruh waktu yang cepat menghasilkan uang. Kau tahu maksudku. bukan?"


"Baiklah, baik. Serahkan padaku," ucap Maria.


"Terima kasih, Maria," syukurlah Maria masih mau membantu dan tidak seperti sahabat lain yang sudah meninggalkan dirinya.

__ADS_1


Alana masih berbincang dengan Maria sampai dia dikejutkan dengan suara pintu. Itu pasti David, jangan sampai pria itu mendengar pembicaraannya. Alana menyudahi percakapannya dengan Maria, dia diam saja untuk mendengar apa lagi yang terjadi di luar sana. Cukup lama Alana diam sampai akhirnya suara pintu kembali terdengar ditutup.


Alana melangkah menuju jendela, melihat mobil David pergi. Napas berat pun dihembuskan, pria itu benar-benar marah padanya. Biarlah, akan dia buktikan jika dia bisa membayar hutangnya dengan hasil keringatnya sendiri. Bukan dari uang nenek David, bukan juga dari uang Stanley. Akan dia buktikan jika dia bukan pecundang seperti yang David kira dan dia harap, Maria segera menemukan pekerjaan sampingan untuknya.


__ADS_2