
Sudah beberapa hari David tidak pulang, dia pun tidak tahu apa yang Alana lakukan. David pulang ke rumah neneknya, meski hubungannya dengan sang ayah dan istri kedua ayahnya tidak baik tapi dia lebih memilih berada di sana untuk beberapa hari.
Veronica sangat senang karena ulang tahunnya akan diadakan besok dan acara ulang tahunnya akan diadakan di sebuah hotel mewah. Tentunya itu hadiah dari nenek David. Veronica mengundang semua sahabatnya dan para putri pejabat yang rata-rata mengenal Alana dulu. Dia ingin menunjukkan pada semua orang, jika Ellen Douglas sangat menyayangi dirinya dan agar orang-orang tahu jika dia adalah calon istri David yang terpilih.
Pagi itu, David sedang sarapan dengan nenek dan ayahnya. Tidak saja mereka, istri baru ayahnya dan Veronica juga sarapan bersama. Veronica yang sering datang sudah akrab dengan ibu tiri David. Mereka membicarakan acara ulang tahun Veronica yang akan dilangsungkan besok, kecuali David. Dia malas mendengar basa basi itu.
"Bagaimana, David. Besok kau pasti datang, bukan?" tanya neneknya.
"Entahlah, aku malas!" jawab David dengan sinis.
"Apa maksudmu, David. Apa itu artinya kau tidak mau datang?" tanya Veronica.
"Tanpa aku pesta ulang tahunmu bukankah akan tetap berlangsung? Jadi jangan bersikap seolah-olah acara ulang tahunmu tidak bisa berjalan lancar jika tidak ada aku!"
"David!" sang nenek mengetuk tongkat ke atas lantai dan menatap cucunya dengan tatapan tidak senang.
"Jangan berbicara seperti itu pada Veronica!" ucapnya lagi.
"Jangan terlalu berlebihan, Nenek. Veronica memang sahabatku, dia juga bukan cucumu tapi kalian begitu berlebihan!"
"Diam, aku menyayangi Veronica dan aku lebih menyenangi dirinya dari pada gadis miskin itu!" teriak neneknya marah.
"Cukup! Alana tidak ada hubungannya dengan pembicaraan kita jadi jangan bawa-bawa dirinya!" teriak David pula.
"Diam!" ayah David memukul meja dan terlihat murka.
Veronica menunduk dan terlihat menangis. Ellen tampak kesal, sedangkan ayahnya pun sudah terlihat begitu murka sampai-sampai istrinya harus menenangkan emosi suaminya.
"Kalian selalu membahas acara ulang tahunnya sepanjang hari sampai membuat aku muak. Kalian pun sudah meminta aku untuk datang dan aku sudah mengatakan jika aku akan hadir nanti tapi kalian masih saja menanyakan hal yang sama. Apa aku orang pikun yang harus selalu diingatkan?" David benar-benar kesal. Dia sedang pusing akan hubungannya dengan Alana yang sedang tidak baik tapi mereka justru semakin membuatnya sakit kepala.
__ADS_1
"Bukan begitu, David. Nenek hanya ingin memastikan saja jadi jangan marah seperti itu," pinta Veronica.
"Tidak perlu sok manis, kau juga sama saja. Kenapa kau tidak pulang? Apa kau tidak punya rumah sehingga kau harus menginap di sini setiap hari?" karena ucapan pedasnya, Veronica malu luar biasa.
"David!" Ellen kembali berteriak, "Aku yang meminta Veronica untuk menemaniku jadi kau tidak perlu berbicara kejam seperti itu!" ucap sang nenek.
"Aku mau pulang. Nenek!" Veronica beranjak, dia benar-benar malu.
"Tidak perlu, David memang selalu berbicara pedas seperti itu jadi jangan diambil hati!" ucap sang nenek.
"Tapi, Nenek?" Veronica pura-pura ragu padahal dia senang nenek David menahannya.
"Tidak apa-apa, dari dulu kau tahu dia selalu seperti itu jadi jangan baru tersinggung sekarang."
"Setiap kau pulang, selalu saja membuat keributan!" ucap ayah David.
"Jika begitu aku tidak akan pulang lagi!" ucap David seraya beranjak.
"Ada apa lagi, aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan!" ucap David sinis.
"Ada, aku dengar kau mempekerjakan putri Angelo dan membiarkannya tinggal di rumahmu. Apa kau sudah gila melakukan hal itu? Apa kau lupa dengan apa yang Angelo lakukan pada kita dulu?"
"Tentu saja aku tidak lupa, aku tidak akan pernah lupa apalagi gara-gara hal itu kau meninggalkan ibuku yang sedang sakit demi wanita lain!"
"Diam, masalah itu jangan diungkit lagi!" teriak ayahnya murka.
"Jika begitu jangan ikut campur dengan apa yang aku lakukan!" setelah berkata demikian, David pergi. Sebaiknya dia ke kantor saja. Sungguh hubungan yang tidak sehat di antara mereka.
"David, jangan sampai kau tidak datang!" teriak neneknya lagi.
__ADS_1
David tidak peduli, dia malas berada di antara keluarganya karena mereka tidak pernah mendukung apa yang dia lakukan. Lagi pula dia lebih suka mereka tidak ikut campur tapi Veronica benar-benar sudah mengambil hati mereka semua sehingga mereka begitu mendukung Veronica. Terserah apa yang hendak mereka lakukan, dia tidak peduli.
"Bagaimana ini, Nenek. Sepertinya David tidak mau datang," ucap Veronica.
"Dia pasti datang, tidak perlu khawatir. David memang seperti itu, dia berbicara sesuka hati sehingga ucapannya terdengar menyakitkan tapi sesungguhnya dia tidak seperti itu. Kau seperti baru mengenalnya saja jadi kau tidak perlu khawatir," ucap neneknya.
"Apa benar putri Angelo menumpang hidup dengannya?" tanya ayah David.
"Sudah, kita tidak perlu ikut campur dalam masalah ini. David sudah membenci kita, jangan sampai dia semakin membenci kita!" ucap Ellen.
"Nenek, kau tahu aku menyukai David tapi sepertinya David hanya menganggap aku sebagai sahabatnya saja. Apa nenek bisa membantu aku?" pinta Veronica.
"Apa yang kau inginkan, Veronica? Nenek pasti akan membantumu."
"Terima kasih, Nenek. Aku tahu kau yang terbaik!" Veronica tersenyum. Di malam pesta ulang tahunnya nanti, David harus menjadi miliknya.
Setelah dari rumah neneknya, David berniat untuk ke kantor tapi dia urungkan. Dia sedang berada di depan rumahnya saat ini tapi dia berada di dalam mobil dan tidak meminta sang supir untuk membawanya masuk ke dalam. David justru memandangi rumahnya sendiri di dalam mobil.
Apa yang sedang dia lakukan? Kenapa dia tidak mau masuk? Apa dia sedang menghindari Alana ataukah dia tidak mau bertemu dengan gadis itu lagi? Jika demikian, bukankah dia bisa mengusir Alana dan membiarkannya pergi dengan Stanley?
Oh... bisa saja gadis itu sudah pergi bersama dengan Stanley karena dia tidak pulang beberapa hari belakangan. Bagus, benar-benar bagus. Dia akan menunggu Alana datang menemuinya untuk membayar seluruh hutangnya. Setelah itu dia tidak mau peduli lagi dengan Alana tapi sayangnya yang dia pikirkan saat ini salah besar.
Alana benar-benar bekerja dengan baik, tidak ada penalty lagi di kemudian hari. Dia tidak mau hutangnya semakin menumpuk apalagi dia sudah bertekad untuk melunasi hutangnya menggunakan uang dari hasil jerih payahnya sendiri.
Alana sedang menyimpan beberapa lembar uang dolar yang dia dapatkan dari pekerjaan sampingan yang baru saja dia kerjakan selama dua hari. Maria mengajaknya untuk bekerja di bar sebagai waiters. Gaji yang cukup tinggi dan tip yang didapat dari pengunjung cukup menggiurkan. Alana pun setuju apalagi jam kerja yang dimulai dari pukul delapan malam sampai jam dua pagi. Itulah yang dia inginkan, pekerjaan sampingan yang tidak mengganggu jam kerjanya sebagai seorang pelayan di rumah David. Karena dia memiliki kunci rumah jadi dia bisa pergi dan kembali secara diam-diam.
Senyum manis menghiasi wajahnya melihat lembaran uang yang ada di dalam kotak. Dua hari saja dia mendapatkan tip ratusan dolar dari pengunjung yang baik. Semoga dia bisa mengumpulkan lebih banyak uang walau waktu istirahatnya harus berkurang banyak.
"Kau pasti bisa, Alana!" ucapnya pada diri sendiri. Alana melangkah menuju jendela, dia tampak terkejut saat melihat mobil David berada di luar tapi tidak masuk ke dalam. Apa pria itu kembali? Alana masih memperhatikan saat mobil pria itu. Kini dia melangkah menuju pintu, semoga saja pria itu sudah kembali karena ada yang ingin dia bicarakan. Dia juga ingin mengatakan pada David perihal pekerjaan sampingannya tapi sayang, pria itu tidak ada di mana pun.
__ADS_1
Alana kembali melangkah menuju kamar dengan perasaan kecewa, sudahlah. David sudah membenci dirinya jadi apa lagi yang harus dia harapkan? Lagi pula mereka memiliki hubungan yang tidak sehat selama ini jadi lebih baik dia fokus bekerja untuk melunasi semua hutang-hutangnya.