Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Apakah Salah?


__ADS_3

Hawa nasf*u menguasai diri David dengan begitu cepat, dalam sekejap mata saja Alana sudah berada di dalam dekapannya dan bibir gadis itu sudah berada di dalam mulutnya. David sudah kehilangan kendali, bibir Alana dicium dengan buas.


Alana yang sudah pasrah tidak melawan sama sekali saat tangan David meraba tubuh bagian belakangnya yang sudah polos. Dia memang menginginkan David melakukan hal itu. Satu malam bergairah sebelum dia menyusul kedua orangtuanya.


David yang sudah dikendalikan oleh hawa nafsu, menggendong Alana dan membaringkannya ke atas ranjang. Tubuh polos Alana benar-benar membuat David tidak berpikir jernih. Pakaiannya pun dilepaskan dengan buru-buru lalu David menunduk untuk mencium bibir Alana kembali.


Tangannya bergerak bebas, menyentuh bagian tubuh Alana yang menggoda. Erangan Alana membuat David semakin tidak bisa menguasai dirinya lagi. Alana yang pasrah pun semakin membuatnya bebas melakukan apa pun. David menikmati tubuh bagian depan Alana, dua benda empuk tidak lepas dari bibir dan lidahnya. David menikmatinya cukup lama dan setelah selesai menikmati bagian itu, bibir David turun ke bawah.


Alana memejamkan matanya kuat-kuat, semua akan cepat berlalu. Apa yang dia lakukan saat ini akan segera berakhir. Dia tidak akan menyesalinya, tidak akan karena dia akan mati tanpa meninggalkan hutang tapi air mata yang mengalir tanpa dia inginkan itu, justru membasahi pipinya dengan perlahan bahkan isak tangisnya terdengar.


David yang sedang dibakar oleh api gairah pun tersadar dan terkejut dengan apa yang baru saja dia lakukan. Pria itu buru-buru berhenti, akal sehatnya pun kembali. David menjauhi Alana yang sudah berbaring pasrah, kini amarah justru menguasai dirinya.


"Beraninya kau menggoda aku, Alana?!" teriaknya lantang.


"Kenapa kau berhenti?" Alana mengangkat tubuhnya sedikit dan menumpunya dengan kedua tangan.


"Beraninya kau menggoda aku seperti ini, apa kau sudah gila?!" David benar-benar marah, api gairah sudah padam digantikan dengan api amarah yang meluap di dalam hatinya.


"Aku tidak menggodamu, David. Aku hanya ingin melakukannya denganmu, "Alana kembali merangkak mendekati David dan meraih tangannya, "Malam ini, biarkan aku merasakan bagaimana bercinta dengan laki-laki jadi biarkan aku merasakannya untuk malam ini saja," pinta Alana.


David mulai curiga dengan sikap yang ditunjukkan oleh Alana. Apa gadis itu sedang menjebak dirinya? Apa Alana merencanakan hal ini sesuai dengan permintaan seseorang? Sebaiknya dia waspada karena bisa saja, ini adalah sebuah jebakan yang akan membuatnya berada di dalam masalah.


"Tutupi tubuhmu, aku tidak berminat!" David melemparkan bajunya ke arah Alana.

__ADS_1


"Kenapa?" teriak Alana tidak terima, "Aku belum pernah disentuh oleh laki-laki, tidak pernah. Ini kali pertama bagiku dan aku ingin memberikannya padamu tapi kenapa kau menolak?" teriaknya lagi.


"Jangan main-main denganku, apa kau kira aku baj*ngan? Meskipun aku tergoda tapi aku masih memiliki akal sehat jadi jangan pernah melakukan tipuan menjijikkan seperti ini lagi!" David beranjak dari atas ranjang. Entah apa maksud Alana melakukan hal itu yang pasti dia tidak sudi.


"Kenapa?" Alana menangis, ternyata dia benar-benar tidak berguna.


"Apa aku benar-benar tidak berguna sama sekali sehingga melakukan hal seperti ini saja aku tidak bisa?"


"Apa maksud perkataanmu, apa ada orang yang meminta kau melakukan hal ini, Alana? Apa kau ingin menjebak aku dengan hal seperti ini?"


"Aku tidak menjebakmu, David. Tidak ada yang meminta aku melakukan hal ini, tidak ada. Aku yang menginginkannya jadi ayo kita lanjutkan," pinta Alana. Dia sudah duduk di sisi ranjang dan menangis, dia harap David mau agar rencananya tidak batal.


David menatap Alana dengan tatapan curiga, dia rasa ada yang direncanakan oleh gadis itu. Jika bukan menjebak dirinya, pasti ada sesuatu yang dia rencanakan. Alana masih menangis di sisi ranjang, rasa putus asa memenuhi hati. Keinginannya untuk mati pun tidak diijinkan, kenapa hidupnya begitu tidak adil?


Alana yang masih menangis sangat terkejut karena tiba-tiba saja David memeluknya. Pria itu pun mengusap kepalanya dengan perlahan, seperti ingin menghiburnya.


"Apa yang sebenarnya kau pikirkan, Alana? Kenapa kau melakukan hal ini?" tanyanya.


"Aku menginginkannya, apakah ada yang salah?" tanya Alana pula.


"Jangan menipu, aku tahu ada yang aneh padamu. Katakan padaku, apa yang kau rencanakan? Waktu itu kau pernah berkata jika kau tidak sudi menyerahkan tubuhmu padaku tapi kenapa sekarang tiba-tiba saja kau memberikan tubuhmu secara cuma-cuma? Aku bukan orang bodoh yang bisa kau tipu dengan mudah!"


"Tidak ada, aku hanya ingin memberikan diriku padamu saja!" Alana masih juga berdusta. David tidak boleh tahu apa yang dia lakukan setelah mereka tidur bersama.

__ADS_1


"Jangan berbohong, Alana. Sudah aku katakan aku tidak bodoh jadi katakan padaku apa yang sedang kau rencanakan sehingga kau ingin menyerahkan dirimu padaku. Apa kau berniat mengakhiri hidupmu seperti yang dilakukan oleh kedua orangtuamu?" tanya David dan pertanyaan itu tepat sasaran.


"Apakah salah? Apakah aku tidak boleh melakukan hal itu?" Alana mengangkat wajahnya, "Apa aku tidak boleh mengikuti jejak kedua orangtuaku?" tanyanya lagi. Tatapan matanya tidak lepas dari David, dia sangat ingin pria itu berkata jika apa yang akan dia lakukan tidaklah salah.


"Bodoh, jadi benar kau ingin mengakhiri hidupmu setelah kau menyerahkan dirimu padaku?"


"Memang itu yang mau aku lakukan. Aku sudah lelah dengan semua yang aku alami, aku lelah. Aku memberikan tubuhku padamu sebagai pengganti hutang-hutangku padamu meskipun tidaklah cukup!"


"Bodoh!" teriak David, tubuh Alana di dorong dengan ke belakang. David menatap Alana dengan tajam dan tampak kecewa dengan apa yang diputuskan oleh gadis itu.


"Ternyata begitu mudahnya kau putus asa, aku sungguh kecewa padamu. Bukankah sudah aku katakan padamu, kau harus menerima keadaanmu tapi kau justru putus asa seperti ini? Apa kau mengira kematian bisa menyelesaikan segalanya?" ucapnya penuh emosi.


"Aku tidak punya pilihan lagi, David. Aku benar-benar sudah tidak punya pilihan!" teriak Alana. Dia benar-benar sudah putus asa dan merasa hanya itu jalan satu-satunya yang bisa dia tempuh.


"Sial!" David mengumpat, dia sangat ingin memukul sesuatu karena dia benar-benar kesal atas pikiran sempit Alana tapi dia berusaha menahan kekesalan hatinya.


"Aku sudah tidak tahan lagi," Alana mengusap air matanya yang masih saja terus mengalir, "Aku masih belum bisa menerima kematian kedua orangtuaku tapi kau sudah bersikap jahat dan menindas aku sesuka hatimu. Aku memang tidak berguna, aku tahu itu tapi jangan perlakukan aku seperti sampah yang tidak berguna!" Alana menumpahkan apa yang dia rasakan, mungkin saja perasaannya akan lebih baik setelah melakukan hal itu.


"Aku tidak menindas dirimu, tapi aku ingin kau berubah!"


"Tidak mungkin!" sangkal Alana.


"Aku bukan orang yang suka berbasa basi, sudah cukup pembicaraannya. Jika kau mau mati, aku tidak akan mencegah tapi jangan mati di rumahku dan membuat aku berada di dalam masalah. Pergi yang jauh jika ingin mati, aku tidak akan ikut campur karena itu kehidupanmu tapi cobalah untuk menghargai hidupmu saat ini karena selain dirimu, masih banyak orang yang mengalami kejadian buruk bahkan keadaan mereka lebih tragis dari apa yang kau alami!" setelah berkata demikian, David melangkah pergi meninggalkan Alana.

__ADS_1


Hampir saja, jika dia tidak sadar maka hal itu akan terjadi. Sekarang terserah Alana Meyyer, dia benar-benar tidak akan mencegah apa yang akan dia lakukan jika Alana memang ingin mati tapi setidaknya dia berharap, gadis itu menghargai kehidupannya meskipun sedikit.


__ADS_2