Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Aksi Keji Veronica


__ADS_3

Veronica yang sedang dikuasai oleh api amarah membawa mobilnya kembali ke rumah David. Hari ini dia mengharapkan sebuah keberuntungan. Dia tidak akan membiarkan siapa pun memiliki David bahkan dia akan melakukan apa pun.


Veronica kembali mengintai rumah David dari kejauhan, dia akan menunggu keberuntungan itu datang dan hari ini akan menjadi hari sial Alana Mayyer. Dia tidak peduli dengan apa pun lagi yang penting tujuannya tercapai. Veronica masih setia menunggu, sampai akhirnya dia melihat mobil nenek David pergi. Bukan itu, target yang dia inginkan bukan itu.


Semoga target yang dia tunggu keluar dan selama menunggu, Veronica menyamar. Dia bahkan menutupi plat mobilnya agar tidak ketahuan. Bagaimanapun dia harus memiliki persiapan sebelum melancarkan aksi kejahatannya dan David tidak boleh tahu jika dia adalah pelakunya.


David dan Alana masih berada di dalam rumah. Alana baru saja menggantikan baju si bayi besar. Walau dia melakukan hal itu demi bisnis tetap saja melihat tubuh David terus menerus tidak bagus untuk kesehatan jantungnya. Alana yang sudah selesai langsung melarikan diri ke dalam kamarnya, sungguh dia tidak kuat.


Jantungnya masih terasa berdegup kencang, semua gara-gara bos killer menyebalkan itu. Huh, uang yang dia tawarkan memang menggiurkan tapi tidak juga bagus untuk kesehatannya. Alana melepaskan pakaiannya, sebaiknya dia bergegas sebelum bos killer itu berteriak lalu memberinya penalty dengan sengaja.


Baju ganti pun diambil tapi sebelum Alana memakainya, pintu kamar sudah terbuka. Alana berpaling karena terkejut, David yang masuk secara tiba-tiba pun terkejut. Mereka berdua saling menatap dalam diam namun tidak lama karena suara teriakan Alana sudah terdengar.


"Ke-Keluar!" baju yang ada di tangan pun dilemparkan ke arah David.


"Tidak perlu malu, aku sudah melihatnya!" David justru melangkah masuk ke dalam dan terlihat cuek saja.


"Enak saja, meskipun kau sudah melihatnya bukan berarti kau boleh melihatnya lagi!" ucap Alana kesal.


"Jadi? Aku sudah melihatnya, lalu apa yang mau kau lakukan?" David duduk di sisi ranjang dan tatapan matanya tidak lepas dari Alana yang sedang berdiri membelakanginya.


"Se-Seribu dolar, sekali melihatnya kau harus membayar seribu dolar!" tiba-tiba dia jadi matre tapi tidak jadi soal karena uang adalah hal yang paling sensitif baginya.


"Tidak jadi soal, aku tidak keberatan!" David tersenyum, hanya seribu dolar untuk sekali lihat, Alana sudah pandai berbisnis dan tidak menyia-nyiakan kesempatan.


"Menyebalkan, keluar sana!" usir Alana. Walau akan dapat uang tapi dia tidak mau tubuhnya di lihat seperti itu.


"Ayolah, cepat. Jangan membuat aku semakin terlambat ke kantor. Membuat aku menunggu selama sepuluh detik maka kau tidak akan sanggup membayar penaltynya Alana!" ancam David.


"Apa? Kenapa masih saja menyebalkan?" teriak Alana kesal.


"One," David mulai menghitung.


"Oh my God... Oh my God!" Alana panik apalagi saat David sudah menyebut angka dua dan tiga. Pria itu memandanginya dengan seringai lebar menghiasi wajah. Kepanikan Alana justru membuatnya senang.

__ADS_1


"Five!" David kembali menghitung.


"Jangan cepat-cepat, dasar kau menyebalkan!" Alana panik luar biasa, dia bahkan tidak tahu mau melakukan apa akibat panik.


"Six, Alana," David benar-benar semakin sengaja.


"Dasar kau jelmaan iblis berwajah tampan!" teriak Alana.


"Wah,jadi menurutmu aku tampan?" David memainkan tangannya di dagu.


"Ti-Tidak juga, tapi sedikit!" bagus, buat pria itu sibuk agar lupa menghitung.


"Bicara yang jelas, Alana. Tampan atau tidak?"


"Entahlah, jangan banyak bertanya!" celana sudah dia kenakan, hampir saja.


"Aku sudah selesai," ucap Alana.


"Bagus, lima belas detik. Lewat sepuluh detik jadi penalty sudah menanti."


"Jika sudah selesai, ayo pergi!" ajak David.


"Tunggu!" Alana mengambil tas jeleknya, satu-satunya tas yang dia miliki bahkan tas itu sudah begitu jelek. Jika dulu, tas itu pasti sudah masuk ke dalam tong sampah. David yang melihatnya menjadi iba, baju yang dikenakan oleh Alana pun sudah terlihat jelek.


"Setelah aku selesai rapat, ikut aku pergi!"


"Pergi, ke mana?" Alana sudah berada di sisi David untuk membantunya.


"Ikut saja tanpa perlu banyak bertanya!"


"Iya, cerewet!" jawab Alana kesal.


Mereka segera keluar dari kamar karena David sudah harus pergi ke kantor. Veronica yang mengintai sedari tadi tentu saja sangat senang. Akhirnya yang dia tunggu datang juga. Mesin mobil sudah menyala, mungkin sedikit seperti sinetron tapi biarlah, yang penting tujuannya tercapai.

__ADS_1


Target yang dia inginkan sudah masuk ke dalam mobil, gadis itu harus mati dan akan dia pastikan Alana Meyyer mati hari ini juga.


David tidak curiga sama sekali, dia tahu Veronica akan melakukan sesuatu karena dia tahu bagaimana watak Veronica yang tidak menerima kekalahan tapi dia tidak tahu jika hari ini Veronica akan melakukan aksi gilanya bahkan dia pun tidak akan menduganya.


Mobil sudah dijalankan, Veronica yang berada di kejauhan mulai mengikuti. Dia sengaja berada cukup jauh agar tidak ketahuan. Setidaknya dia sudah melihat bagaimana caranya dari sebuah drama yang baru saja dia lihat.


"David, apa kau masih tidak memperbolehkan aku bekerja di bar?"


"Tidak, aku sudah memberimu pilihan jadi pilih saja!"


"Tiba-Tiba aku memiliki firasat buruk," Alana mengusap tengkuknya, dia merasa aneh. Perasaan akan terjadi sesuatu tiba-tiba saja dia rasakan.


"Firasat apa? Kau akan mendapatkan penalty jika tidak bekerja dengan benar!"


"Sungguh, perasaanku tidak nyaman. Seperti akan terjadi sesuatu di antara kita berdua!"'


"Ck, sudahlah. Jangan terlalu banyak berpikir apalagi yang aneh-aneh!"


"Sepertinya kau benar, kau pasti akan memberikan aku banyak penalty hari ini karena aku tahu kau pria yang tidak mau rugi!" ucap Alana seraya melotot ke arah David.


"Kau benar, aku memang akan melakukannya!" ucap David sambil tersenyum.


"Sudah aku duga!" ucap Alana seraya memalingkan wajahnya.


"Sudah, tidak akan terjadi apa pun!" David meletakkan tangan ke atas kepala Alana.


Alana mengangguk tapi terus terang saja, perasaan tidak nyaman itu masih dia rasakan. Semoga saja tidak terjadi apa pun, dia benar-benar takut. Mereka sudah hampir tiba di kantor, Veronica yang mengambil jalan lain sudah tiba terlebih dahulu. Dia tidak salah menebak, ternyata David benar-benar pergi ke kantor. Dia sengaja mengambil jalan lain agar David tidak tahu jika dia mengikutinya.


"Hari ini kau harus mati, Alana!" ucap Veronica saat dia melihat mobil David sudah berhenti. Mobil pun dijalankan dengan perlahan, kesempatannya hanya satu kali saja.


David turun terlebih dahulu dari sisi lain, sedangkan Alana turun dari sisi di mana mobil masih bisa melintas. Gadis itu tidak menyadarinya dan ketika pintu mobil sudah tertutup, mobil yang dibawa oleh Veronica melesat dengan kecepatan tinggi. Alana yang hendak menghampiri David terkejut, begitu juga dengan David.


"Alana, awas!" teriak David namun terlambat karena mobil yang dibawa oleh Veronica menghantam tubuh Alana dengan keras. Alana tidak sempat menghindar, tubuhnya terpental akibat mobil yang menabraknya. Kedua mata David melotot saat menyaksikan tubuh Alana terpental ke sisi jalan.

__ADS_1


"Alana!" David kembali berteriak, pria itu berlari ke arah Alana dan mengabaikan rasa sakit akibat luka yang ada di pahanya.


Veronica tertawa terbahak, dia berhasil, dia berhasil melenyapkan gadis itu. Veronica tampak puas saat melihat ke arah spion di mana David sedang berlari ke arah Alana dan memeluk gadis itu. Tentunya aksi yang Veronica lakukan dilihat oleh mata-mata yang diutus oleh Stanley.


__ADS_2