
Alana bekerja tanpa tahu jika ada yang sedang mengawasi dirinya. Tentunya orang yang mengawasinya adalah anak buah yang diutus oleh David untuk mengikuti Alana.
Karena ingin tahu ke mana Alana pergi karena dia tidak percaya jika Alana ingin membeli barang, jadi David memutuskan untuk memerintahkan anak buahnya untuk membuntuti Alana.
Foto Alana sudah sampai pada David, tentunya pria itu sangat murka. Dia tidak menduga Alana berani pergi bekerja di bar tanpa seijin darinya. Alana pun berani menipu dirinya selama ini. Dia jadi ingin tahu, sejak kapan Alana bekerja tanpa sepengetahuan darinya?
Rasanya ingin pergi ke bar untuk menarik Alana pulang tapi sebaiknya dia menunggu gadis itu kembali. Dia ingin mendengar alasan yang dimiliki oleh Alana sehingga gadis itu bekerja saat malam tanpa sepengetahuan darinya. David menunggu, dia bahkan tidak tidur sama sekali. Tidak peduli berapa lama, dia akan menunggu Alana kembali.
Alana bekerja seperti biasanya, walau dia lelah karena dia harus menjaga David dari malam tapi dia tidak menyerah apalagi tip yang dia dapatkan cukup besar. Jika seperti itu terus berarti dia bisa melunasi hutang-hutangnya dengan cepat tanpa menunggu dia menjadi tua.
Malam sudah semakin larut, sudah waktunya untuk pulang. Alana sedang menghitung uang tip yang dia dapat, cukup memuaskan walau dia merasa begitu lelah. Sebaiknya dia pulang, dia harap David tidak curiga sama sekali dengannya dan dia juga berharap David tidak mengetahui apa yang dia lakukan tapi sayangnya, pria itu sudah menunggu.
Saat Alana kembali, rumah begitu gelap. Tidak ada cahaya lampu sama sekali, aneh. Tidak mungkin mati lampu untuk rumah semewah itu. Pintu dibuka dengan perlahan, Alana melangkah masuk dengan cara mengendap sambil mencari saklar lampu. Dia tidak tahu David menunggu dirinya di ruang tamu. Saklar lampu sudah ditemukan, Alana pun menyalakan lampunya.
"Dari mana kau?" pertanyaan David membuat Alana berteriak karena terkejut. Alana berpaling, tubuhnya membeku mendapati David sedang menatap ke arahnya.
"Jawab, Alana. dari mana saja kau? Kenapa kau baru pulang?" tanya David lagi. Pria itu beranjak dan melangkah mendekati Alana. Dia harap gadis itu berkata jujur tapi sayangnya jawaban yang Alana berikan sungguh mengecewakan.
"Sudah aku katakan aku pergi membeli barang!"
"Tidak perlu berbohong, apa kau pikir aku tidak tahu apa yang kau lakukan?!" teriak David murka.
Alana terkejut, apa pria itu sudah tahu? Alana melangkah mundur, celaka. David melangkah mendekatinya dengan kemarahan di hati. Alana bisa melihatnya, dia bisa melihat amarah David yang tidak bisa dibendung oleh pria itu.
"Beraninya kau menipu aku, Alana. Beraninya kau pergi bekerja tanpa sepengetahuan dan tanpa seijin dariku?"
__ADS_1
Alana menelan ludah, sudah ketahuan. Ternyata pria itu sudah tahu tapi dia tidak akan takut karena dia bekerja saat malam dan tidak mengganggu waktunya sebagai pelayan.
"Jawab, Alana!" teriak David kesal.
"Ya, aku memang pergi bekerja karena aku ingin mendapatkan uang tambahan!" teriak Alana pula.
"Kau sedang bekerja denganku tapi beraninya kau pergi bekerja di tempat lain tanpa sepengetahuanku!"
"Aku melakukannya agar aku mendapat uang, David. Aku sudah menolak tawaran dari nenekmu dan Stanley, aku sudah memutuskan untuk membayar hutangku dari hasil keringatku sendiri seperti yang kau inginkan agar kau tidak meremehkan aku dan agar kau melihat, jika aku menolak tawaran mereka karena aku bisa melunasi hutang ayahku menggunakan hasil keringatku sendiri!"
"Tapi kau tidak perlu bekerja apalagi di bar!" teriak David lagi.
"Hanya itu yang aku bisa, apa kau akan mengijinkan aku bekerja tanpa menjadi pelayanmu? Oh.. aku lupa jika kau mengijinkan tapi syarat darimu bagaikan tali gantungan bagiku oleh sebab itu aku bekerja pada malam hari tanpa mengganggu jam kerjaku sebagai pelayanmu jadi jangan melarang karena aku menggunakan waktu luangku untuk bekerja!"
"Sudah aku katakan aku melakukannya agar aku bisa mendapatkan uang dengan cepat supaya aku bisa segera melunasi hutanmu!" teriak Alana.
"Aku tidak peduli, mulai besok kau tidak boleh pergi bekerja!"
"Apa? Aku tidak mau. Gaji di sana lumayan dan aku mendapatkan tip setiap hari jadi jangan melarang aku untuk bekerja!"
"Tidak boleh membantah, kau adalah pelayanku jadi kau tidak boleh bekerja di mana pun tanpa seijin dariku!"
"Jangan, David. Ijinkan aku bekerja sampingan. Aku tidak akan mengecewakan dirimu sebagai pelayan. Aku akan mengerjakan apa pun yang kau perintahkan jadi ijinkan aku tetap bekerja di bar," pinta Alana memohon.
"Tidak, kau benar-benar naif. Untuk mendapatkan uang yang tidak seberapa kau mengabaikan bahaya yang akan terjadi saat berada di bar. Apa kau pikir para pengunjung bar adalah orang-orang yang baik? Para pria yang ada di sana adalah orang-orang yang ingin mencari kesenangan. Saat salah satu dari mereka menyukaimu, mereka akan melakukan apa pun untuk mendapatkan dirimu. Apa kau tidak pernah melihat berita kriminal? Kejahatan terjadi dari tempat yang tidak baik pula!"
__ADS_1
"Bohong, tidak semua pengunjung bar itu penjahat!" ucap Alana menyangkal.
"Memang tidak tapi bagaimana jika kau bertemu dengan orang jahat? Apa kau bisa melarikan diri dari mereka?"
Alana diam saja, apakah yang David katakan benar? Tapi dia sudah bekerja beberapa hari di bar itu dan tidak ada seperti yang David katakan. Apa pria itu hanya ingin menakuti dirinya saja? Sepertinya demikian agar dia tidak pergi bekerja.
"Mulai besok, jangan pergi lagi karena aku tidak mengijinkan!"
"Tidak mau, aku tidak bisa berhenti begitu saja!" teriak Alana juga.
"Aku tidak peduli, kau bekerja tanpa sepengetahuanku jadi aku tidak mengijinkan dirimu untuk bekerja di luar apalagi kau masih bekerja denganku!"
"Jangan seperti ini, David. Biarkan aku pergi bekerja agar aku bisa membayar hutangku dengan cepat!"
"Tidak, Alana. Jika kau memang ingin bekerja di bar maka jangan bekerja denganku. Ikuti aturan awal yang aku berikan. Kau boleh bekerja di luar asal kau bisa membayar aku dua ratus ribu dolar perbulan. Kau bilang tip dan gajinya lumayan, bukan? Jadi pergilah bekerja di bar jika kau yakin penghasilan di sana bisa membuatmu membayar hutang dengan cepat!" David melangkah pergi setelah mengatakan hal ini.
"Jangan pergi, David. Biarkan aku tetap bekerja di bar!" teriak Alana, dia pun mengejar David.
"Putuskan salah satu, tetap bekerja denganku atau bekerja di bar. Jangan serakah, Alana!"
"Aku tidak serakah, aku hanya ingin bisa melunasi semua hutangku sesegera mungkin!" Alana masih berteriak namun David sudah menutup pintu. Tidak akan dia ijinkan Alana bekerja di bar karena Stanley atau Veronica yang sakit hati menjadi ancaman tapi jika Alana lebih memilih bekerja di bar maka dia tidak akan mencegah dan gadis itu, bukan tanggung jawabnya lagi.
"David!" Alana memukul daun pintu dengan perasaan kesal.
David tidak menjawab lagi, Alana berteriak marah. Pada akhirnya dia diharuskan kembali memilih padahal dia hanya ingin mencari uang lebih untuk melunasi hutang tapi lagi-lagi David memberikan pilihan seperti yang dulu dia berikan. Dua ratus ribu dolar perbulan? Sekalipun dia mendapatkan tip setiap hari, dia tidak akan mampu membayarnya.
__ADS_1