
Setelah selesai makan, Alana hendak melarikan diri tapi sayangnya David sudah menangkapnya dan menariknya menuju ke dalam kamar. Teriakan dan permohonan Alana tidak didengarkan, ternyata sangat menyenangkan menggoda gadis itu. Lain kali jika dia sedang kesal, dia akan menggoda Alana sampai puas.
Alana berusaha menahan tubuhnya dengan menginjakkan kakinya ke atas lantai kuat-kuat. Alana bahkan berpegangan pada daun pintu agar David tidak benar-benar menariknya masuk ke dalam kamar mandi tapi sayangnya, dia kalah tenaga.
"Jangan bercanda, David. Aku tidak mau!" teriak Alana.
"Bukankah kau yang ingin memandikan aku? Dua ribu dolar, Alana. Bisnis yang sangat menguntungkan bagimu dan dengan cara seperti ini, hutang ayahmu bisa cepat kau lunasi."
"Bisnis apa? Ini gila. Aku belum pernah melihat tubuh lelaki jadi jangan lakukan!"
"Kebetulan, ini kesempatanmu untuk belajar bentuk tubuh pria!"
"Apa? Tidak!" Alana berteriak namun pintu kamar mandi sudah tertutup rapat.
Alana berlari masuk, menyembunyikan diri di pojok ruangan. David semakin bersemangat untuk menggodanya. Baju pun dilepaskan sambil melangkah mendekati Alana yang tampak ketakutan.
"Jangan, David. Jangan!" teriak Alana.
"Come on, Alana. Dua ribu dolar sudah menanti, jangan kau sia-siakan kesempatan ini Alana."
"Tapi tidak seperti ini caranya!" Alana masih berteriak, kedua mata ditutup dengan rapat.
"Oh yeah?" David menarik tangan Alana dan meletakkannya ke atas otot dadanya yang telanjang.
Alana terkejut, pikirannya tiba-tiba kosong. Alana gugup luar biasa, dia jadi salah tingkah. Mau membuka mata malu, mau mengintip pun malu. Tangannya bahkan menjadi kaku, benar-benar situasi yang tidak sehat untuk jantungnya.
"Ayo cepat mulai, Alana. Jika kau berlama-lama dua ribu dolarnya akan berkurang menjadi seribu lima ratus bahkan menjadi seribu. Jadi cepat lakukan sebelum harganya turun!" ancamnya.
"Oh, tidak. Bos yang baik, aku kerjakan," ucap Alana. Walau dia mengumpat dalam hati akibat dongkol tapi Alana berusaha tersenyum meskipun terlihat terpaksa.
"Bagus, segera!" David menepuk pipinya dan tersenyum.
Alana kembali mengumpat, sungguh menyebalkan. Benar yang orang katakan, mulutmu harimaumu. Sebaiknya dia tidak asal bicara setelah ini, karena ucapannya bisa dianggap serius oleh David. Sekarang, lewati dulu waktu yang menyiksa ini sebelum dia pergi bekerja.
"Mau berendam atau bagaimana?" tanya Alana.
"Aku ingin kau menggosok semua badanku sampai bersih!"
"Cih, sial. Aku tidak mau bagian yang lain, hanya bagian atas saja!"
__ADS_1
"Oh, bagian yang mana yang kau maksud?"
"I... Itu," Alana gugup tapi dia melirik dengan matanya bagian yang tidak mau dia lihat.
David tersenyum lebar, semangatnya untuk menggoda Alana semakin besar. Tangan Alana ditarik menuju shower, Alana pun terkejut dan firasat buruk.
"Ma-Mau apa, David?"
"Mandi, bukan? Jadi gosok yang bersih jangan sampai terlewat!" tangan Alana dilepaskan, lalu David membuka kancing celananya.
Kedua mata Alana melotot, teriakannya terdengar saat David menarik celanya ke bawah. Kedua tangannya pun menutup matanya, Alana membalikkan tubuhnya dengan cepat.
"Apa yang kau lakukan?" teriaknya.
"Mandi, kau tidak berpikir aku akan mandi menggunakan baju, bukan?"
"Ta-Tapi jangan lepas semua, please!" pinta Alana memohon.
"No!" semakin Alana bersikap demikian justru semakin membuat David sengaja. Alana kembali berteriak karena David sudah melepaskan semua pakaiannya. Gadis itu kalang kabut, tidak berani berbalik ke arah David.
"Cepat, Alana. Aku kedinginan. Jangan sampai dua ribu dolarmu menjadi seribu lima ratus dolar."
David menunggu, ingin melihat apa yang Alana lakukan. Dia pun tidak berkata apa-apa saat Alana memutar keran shower padahal gadis itu berdiri tepat di bawah shower. Air dingin langsung membasahi tubuh Alana yang membuat gadis itu berteriak. David melangkah mendekat, Alana yang sedang panik terkejut saat pria itu memeluk pinggangnya dari belakang.
"A-Apa yang mau kau lakukan, David?"
"Kau sudah basah seperti ini, jadi mandi denganku!" ucap David.
"Ja-Jangan, akan aku kerjakan tugasku sekarang!" spon mandi diambil, sabun pun dituangkan ke atasnya. Alana berbalik dengan kedua mata tertutup. Jangan sampai pakaiannya pun berakhir di atas lantai karena dia tidak yakin mereka bisa menahan diri lagi seperti yang sudah-sudah.
Satu tangannya meraba otot dada David dan satu tangannya menggerakkan spon yang sudah bersabun. Meski dia melakukannya sambil menutup mata, namun jantungnya berdegup dengan kencang bahkan napasnya terasa sangat berat.
David diam memperhatikannya, rasanya ingin meraih pinggang Alana lalu ******* bibirnya. Alana menggosok bagian tubuhnya dari atas sampai ke bawah namun dia semakin gugup saat tangannya harus ke bagian bawah. Semoga tidak ada yang tersenggol tangannya atau apa pun, dia benar-benar berharap.
Tangan yang memegang spon terus ke bawah, menggosok dengan perlahan. Alana bahkan menelan ludahnya, lupakan saja. Jangan sampai dia terlambat pergi bekerja. Alana berjongkok dengan perlahan, kini tinggal bagian kaki dan punggung lalu dia bisa lari dari tempat itu tapi naas tanpa sengaja, Alana menyentuh suatu benda yang terasa kenyal.
"A-Apa itu?" tanya Alana kebingungan.
David mengumpat, sial. Alana masih seperti orang linglung, namun dia mulai menggosok paha David dengan perlahan sehingga tanpa sengaja punggung tangannya kembali menyenggol sesuatu yang semakin besar tidak seperti tadi. Alana berteriak, benda apa yang tanpa sengaja dia sentuh itu? Apa itu cacing yang mendadak tumbuh dengan cepat?
__ADS_1
"Apa itu? Apa kau memelihara seekor cacing?" teriaknya.
"Apa kau sengaja, Alana?" tanya David sambil berusaha menahan diri.
"Tidak, memangnya itu apa?" rasanya ingin mengintip tapi dia tidak berani.
"Apa kau tidak tahu, Alana? Atau kau pura-pura tidak tahu?"
"Apa maksudmu? Apa kau kira aku tahu itu apa?"
"Mau coba pegang?" David jadi ingin tahu akan reaksi Alana.
"Tidak mau, aku takut!" Alana beranjak, "Aku ingin cepat keluar dari tempat menyebalkan ini!" ucapnya. Selagi masih aman sebaiknya dia bergegas.
"Sepertinya kau tidak suka berduaan denganku, Alana,?" David meraih pinggangnya, dia sudah tidak tahan ingin menggoda Alana lagi dan lagi.
"Ma-Mau apa kau?" kini Alana membuka kedua matanya, napasnya tertahan karena David mendekatkan wajah mereka berdua.
"Besok malam ikut denganku, aku akan memberimu dua ribu dolar!" ucap David.
"Besok malam?"
"Yeah, jangan katakan kau tidak bisa. Temani aku pergi ke acara ulang tahun Veronica."
"Apa? Aku tidak mau!" tolak Alana.
"Kenapa? Aku beri dua ribu dolar jadi temani aku!"
"Maaf, aku tidak mau jadi bahan cibiran di acara ulang tahun itu apalagi kau akan malu jika kau datang dengan pelayanmu. Sebaiknya kau pergi sendiri saja."
"Tidak akan ada yang berani membicarakan dirimu, Alana. Aku pastikan tidak akan ada!"
"Maaf aku tidak bisa, Tuan. Meskipun menggiurkan tapi aku tidak mau menjadi bahan cibiran nenekmu dan Veronica. Ajaklah yang lain, jangan aku," Alana berbalik untuk menggosok punggung David sampai bersih.
"Aku rasa tugasku sudah selesai," Alana mengambil handuk dan memberikannya pada David, "Aku rasa tugasku hanya memandikan dirimu saja tanpa mengeringkan tubuhmu dan membantumu memakai baju. Aku keluar dulu," setelah berkata demikian, Alana keluar dari kamar mandi.
Tawaran yang diberikan oleh David memang menggiurkan tapi dia masih memiliki harga diri karena dia tahu dia akan menjadi bahan cibiran. Lagi pula dia sedang bekerja, dia tidak bisa melakukannya. David keluar dari kamar mandi setelah Alana pergi tidak lama. Padahal dia ingin mengajak Alana tapi dia tidak bisa memaksa jika Alana tidak mau.
Alana segera bersiap-siap, selagi David berada di kamarnya sebaiknya dia pergi bekerja. David memang tidak keluar dari kamar sehingga Alana bisa pergi tanpa ketahuan. Hari ini masih aman, dia bisa pergi tanpa ketahuan tapi nanti, saat David tahu dia melakukan pekerjaan sampingnya, sepertinya perang dunia kedua pun akan terjadi di antara mereka berdua.
__ADS_1