Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Terserah Kau Saja!


__ADS_3

Alana yang baru kembali dan mendapati David yang sedang murka, tidak berani memandangi pria itu. David pasti tahu jika dia pergi dengan Stanley. Supir pribadinya pasti mengatakan pada David jika dia tidak pulang dan pergi dengan seorang pria.


Padahal dia sudah mengambil keputusan jika dia akan menjelaskan hal ini pada David, dia akan mengatakan pada pria itu jika dia mengikuti Stanley hanya untuk mencari tahu apa sebenarnya tujuan Stanley dan mengatakan apa yang Stanley katakan padanya. Dia juga ingin meminta pendapat David mengenai perusahaan yang ditinggalkan oleh ayahnya tapi kenapa pria itu seperti tidak bisa diajak bicara untuk saat ini?


Dari pada mereka bertengkar, lebih baik dia membahas hal ini nanti dengan David saat suasana hati pria itu sudah lebih membaik. Berbicara sekarang tidaklah bijak karena hanya pertengkaran yang akan terjadi di antara mereka berdua jadi sebaiknya dia tidak menyulut api di atas rumput kering.


Alana menunduk dan melangkahkan kedua kakinya untuk menuju kamar karena dia tidak mencari gara-gara, sebisa mungkin dia harus menghindari pria itu. David yang sedang murka, justru semakin murka dengan apa yang dilakukan oleh Alana. Gadis itu sungguh berani mengabaikan dirinya tanpa memberinya penjelasan.


"Apa kau tidak melihat aku, Alana? Apa sekarang kau tidak melihat aku setelah kau bertemu dengan pria itu?" teriak David lantang. Dia benar-benar marah, kedua tangan bahkan sudah mengepal dengan erat.


"Bukan begitu, tolong jangan salah paham," pinta Alana seraya menghentikan langkah.


"Oh, salah paham? Untuk apa? Apa kau mau menjelaskannya padaku?" tanya David sinis.


"Bagaimana jika kita membahas hal ini nanti, David," pinta Alana.


"Kenapa harus nanti? Apa kau tidak ingin aku tahu apa yang kau bicarakan dengan pria itu? Apa kau kira aku akan salah paham akan pertemuan kalian berdua?" David melangkah mendekati Alana yang tampak sedikit ketakutan.


"Apa kau kira kau spesial bagiku sehingga aku harus salah paham?" teriak David lantang.


"Ti-Tidak!" Alana melangkah mundur, celaka. Dia benar-benar sudah membuat pria itu marah besar. Seharusnya dia tidak pergi dengan Stanley tapi dia sangat ingin tahu apa tujuan pria itu.


"Sekarang katakan padaku, kenapa kau pergi bersama dengannya? Apa yang dia tawarkan padamu sehingga kau mau pergi menemuinya? Apa tawaran yang dia berikan lebih menggiurkan dari tawaran nenekku?"

__ADS_1


"Apa maksud perkataanmu?" tanya Alana tidak mengerti.


"Apa kau kira aku tidak tahu apa yang kau katakan pada nenekku dan Veronica tadi pagi, Alana?" David menatapnya sinis dan setelah itu dia berteriak, "Aku tahu semua yang kau katakan jadi jangan pura-pura tidak tahu!"


Memang David sudah tahu karena setelah Alana pergi dari kantor, David mendapatkan kunjungan tak terduga dari neneknya dan Veronica. Ucapan Alana tadi pagi mengenai penolakannya akan tawaran yang diberikan oleh sang nenek dia dengar dari neneknya tentu dengan bumbu pemanis yang dicampurkan ke dalam ucapan itu.


Ellen Douglas yang tidak mau cucunya dimanfaatkan apalagi oleh pelayannya mengatakan jika Alana menolak tawaran yang dia berikan karena dia ingin menumpang hidup dengan David. Tidak hanya itu saja, Ellen sangat murka dan mengatakan pada David jika Alana akan menerima tawaran yang dia berikan jika dia menawarkan sebuah rumah dan sebuah perusahaan untuknya selain melunasi hutang-hutangnya.


Semula David tidak percaya, tapi Veronica meyakinkan hal itu bahkan mereka meminta David untuk mengecek Cctv yang ada di rumah. Semua perkataan yang neneknya ucapkan ternyata bukan tipuan belaka karena jelas-jelas Alana menolak penawaran yang neneknya berikan bahkan jelas-jelas Alana mengatakan akan menerima tawaran yang neneknya berikan jika neneknya memberikan sebuah rumah serta perusahaan untuknya.


David tidak mau menyalah artikan perkataan Alana tapi ucapan gadis itu yang mengatakan jika dia sangat ingin menerima tawaran sang nenek membuatnya berpikir jika seandainya neneknya memberikan apa yang Alana mau, maka Alana akan menerima tawaran dari neneknya tanpa ragu dan pergi darinya. Sekarang dia tahu, kenapa Alana bertanya akan pendapatnya. Sepertinya gadis itu berpura-pura sok suci padahal sesungguhnya tawaran sang nenek kurang menarik saja.


Api kemarahan mulai berkobar dihati, neneknya dan Veronica semakin menambah bumbu yang membuat telinga panas. David berusaha menahan emosi, dia berniat membahas hal itu dengan Alana nanti tapi laporan yang dia dapatkan dari sang supir jika Alana pergi dengan Stanley justru membuat amarah yang sudah reda kembali berkobar bahkan amarah itu menguasai dirinya dengan cepat.


David meminta neneknya untuk pergi sedangkan dia kembali ke rumah untuk menunggu Alana kembali. David menunggu cukup lama tapi Alana tidak juga kembali oleh sebab itu dia semakin dikuasai oleh api amarah.


"Aku memang berkata demikian tapi ucapanku tidaklah serius," ucap Alana. Dia akan menjelaskan hal ini tapi apakah David mau mempercayai ucapannya?


"Tidak serius? Aku mendengar semuanya, Alana. Seperti yang nenekku katakan, kau benar-benar licik."


"Terserah kau saja, aku tidak mau berdebat!" ucap Alana seraya melangkah pergi. Sepertinya apa pun yang akan dia katakan, David tidak akan mempercayainya. Seperti yang sudah dia putuskan, sebaiknya dia membahas hal ini dengan David setelah suasana hati pria itu tenang.


"Tunggu!" teriak David seraya menarik tangan Alana.

__ADS_1


"Mau apa lagi, terserah kau mau menilai aku seperti apa!" teriak Alana kesal.


"Katakan padaku, apa yang kau lakukan dengan Stanley?!"


"Itu bukan urusanmu, kau tidak perlu tahu!" teriak Alana seraya menarik tangannya namun David tidak melepaskan tangannya.


"Oh, jadi aku tidak boleh tahu? Apa dia memberikan penawaran yang lebih menarik dari tawaran yang nenekku berikan?" David mencengkeram tangan Alana dengan kuat sampai membuat Alana meringis kesakitan.


"Sakit, apa kau gila?" teriak Alana.


"Jawab! Apa dia memberikan tawaran yang lebih menggiurkan dari tawaran yang nenekku berikan?" teriak David.


"Ya, dia memang memberikan tawaran yang lebih menarik. Tidak saja akan memberikan perusahaan dan rumah untukku, tapi dia juga akan melunasi semua hutangku dan membawa aku pergi dari pria jahat seperti dirimu!" teriak Alana murka. Cukup sudah, jika memang David menganggapnya licik maka biarlah pria itu tetap menganggapnya demikian.


"Bagus, sungguh bagus!" tangan Alana dilepaskan, David melangkah menjauh dan berdiri membelakangi Alana.


"Apa yang nenekku katakan tentang dirimu sangat benar, aku sungguh kecewa padamu!" ucapnya lagi.


"Maaf mengecewakan dirimu, Tuan Douglas. Tapi aku hanya seekor burung yang ingin lari dari sangkar emas ini oleh sebab itu aku akan menerima tawaran dari siapa pun yang penting menarik bagiku dan bisa membebaskan aku dari sini!" ucapnya.


"Jangan berharap kau akan bisa! Aku tidak menerima uang siapa pun. Kau tidak akan bisa pergi selain aku yang mengusirmu!" teriak David murka.


"Mau atau tidak, aku tetap akan membayar semua hutang ayahku padamu!" Alana melangkah pergi sambil menghapus air matanya yang sudah tidak bisa dia tahan lagi.

__ADS_1


Mereka berdua memang harus seperti itu. Dia pelayan dan David majikan. Mengenai hutang ayahnya akan dia bayar, apa pun caranya akan dia bayar. Akan dia buktikan jika dia mampu tanpa memerlukan bantuan orang lain agar David tidak menghina dirinya seperti ini lagi.


Alana masuk ke dalam kamar, sedangkan David pergi dari rumah dengan perasaan kacau. Seharusnya mereka tidak bertengkar seperti ini tapi semua jadi kacau karena adanya orang lain yang ikut campur dalam masalah mereka berdua.


__ADS_2