Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Bimbang


__ADS_3

Alana mengikuti Stanley pergi ke sebuah restoran. Bukan tanpa alasan dia mau mengikuti Stanley, dia mengikuti pria itu karena dia ingin mencari tahu apakah yang dikatakan oleh Stanley benar atau tidak dan dia pun ingin tahu apa sebenarnya tujuan Stanley.


Bukan waktunya untuk lari, dia tidak mau menghindar lagi dan harus tahu apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtuanya dan apa yang terjadi pada perusahaan ayahnya. Lagi pula mereka akan berbincang di tempat ramai, jadi dia tidak perlu khawatir.


Stanley sangat senang karena Alana mau mengikutinya, dia akan membujuk Alana agar gadis itu mau mengikuti dirinya dan pergi dari David. Sebisa mungkin dia harus membujuk Alana.


"Pesanlah makanan apa pun yang kau mau," ucap Stanley seraya memberikan buku menu pada Alana.


"Terima kasih tapi aku tidak lapar," tolak Alana.


"Ayolah, segelas minuman jika kau tidak mau makan."


"Aku juga tidak haus!" Alana masih menolak.


"Jangan bersikap seperti itu padaku, kita memang tidak saling mengenal sebelumnya tapi aku kenal baik dengan ayahmu. Aku juga banyak mendengar tentangmu, saat itu aku sangat ingin bertemu denganmu tapi tidak ada kesempatan sama sekali."


"Maaf, karena aku tidak tahu apa pun oleh sebab itu aku tidak tahu apakah kau kawan ataukah kau seorang lawan!" ucap Alana terus terang.


"Baiklah, tapi seharusnya kau tahu musuh sebenarnya yang harus kau jauhi adalah David Douglas, pria yang sedang bersama denganmu saat ini!"


"Aku sudah tahu tapi menurutku dia tidak jahat seperti yang terlihat," ucap Alana.


"Jangan tertipu dengan kebaikan yang dia tunjukkan padamu, Alana. David tidak sebaik yang kau kira. Dibalik kebaikan yang dia tunjukkan padamu ada sebuah rencana licik tersimpan oleh sebab itu kau harus berhati-hati dengannya!"


"Apakah benar?" tanya Alana, dia seperti tidak mempercayai perkataan Stanley. Walau David bermulut pedas dan selalu memberinya penalty, walau pria itu jahat tapi sampai sekarang pria itu peduli dengannya.


"Percayalah padaku, aku tidak berbohong padamu. Sebelum ayahmu bunuh diri, dia datang menemui aku dan memohon padaku agar aku menjagamu dengan baik. Dia juga meminta aku mengelola sebuah perusahaan yang dia tinggalkan untukmu. Aku tidak tahu jika itu adalah permintaan terakhirnya. Jika aku tahu setelah ayahmu meminta hal itu dia akan melakukan bunuh diri, aku pasti sudah mencegahnya."

__ADS_1


Alana seperti tidak percaya, entah kenapa dia justru curiga dengan Stanley. Dia pun tidak yakin jika ayahnya meninggalkan sebuah perusahaan untuknya. Apakah benar? Tapi jika dipikirkan hal itu bisa saja terjadi apalagi mengingat permintaan ayahnya sebelum dia pergi jalan-jalan waktu itu. Ayahnya memang meminta dirinya untuk belajar dan mengelola perusahaan. Apakah perusahaan yang disebutkan oleh Stanley memang disiapkan oleh ayahnya untuk dikelola untuknya?


Hal itu harus dia pertimbangkan dengan baik. Mungkin ayahnya memang sudah menyiapkan sebuah perusahaan selain hutang-hutangnya. Tidak ada orangtua yang ingin mencelakai anaknya jadi dia rasa, kedua orangtuanya tidak mungkin hanya memberikan kemalangan tapi juga memberikan harapan untuknya. Tapi apakah perusahaan itu ada ataukah hanya fiktif belaka?


"Kenapa kau diam saja, Alana? Apa kau masih tidak percaya padaku?" tanya Stanley.


"Bukan begitu, aku hanya sedang berpikirr. Jika yang kau katakan benar bahwa ayahku meminta kau menjaga aku, kenapa kau tidak segera mencari aku? Kau tidak mungkin tidak mendapatkan kabar kematian kedua orangtuaku, bukan? Kenapa kau baru datang setelah aku menjadi pelayan di rumah David untuk melunasi hutang ayahku?"


"Kau menjadi pelayan di rumah David?" Stanley tampak tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Jangan pura-pura tidak tahu, aku yang tidak berguna ini bisa melakukan apa? Bahkan menjadi seorang pelayan saja aku tidak becus!"


"Benar-benar keterlaluan. Dia menjadikan dirimu sebagai pelayannya?" Stanley terlihat marah dan tidak terima.


"Sepertinya kau tidak terima dengan perlakuannya padaku, Ada apa, Stanley?"


Alana menunduk, apa yang dikatakan oleh Stanley sangatlah benar. Karena dia adalah putri dari musuh David, oleh sebab itu David memperlakukannya sebagai seorang pelayan. Itu hal yang wajar, dia tahu akan hal itu.


"Ikutlah denganku, Alana," Stanley memegangi tangan Alana yang ada di atas meja. Alana mengangkat wajah, memandangi pria itu dengan penuh selidik.


"Percayalah denganku dan jangan takut. Aku akan memberikanmu sebuah tempat tinggal yang nyaman, aku pun akan mengajari dirimu mengelola perusahaan yang ayahmu tinggalkan. Soal hutangmu pada David, aku yang akan membantumu untuk membayarnya. Ikut aku kembali, jangan mau diperbudak olehnya. Dia sedang memperdaya dirimu untuk membalas dendam pada ayahmu!" ucap Stanley.


"Jika boleh aku tahu, apa yang terjadi pada mereka berdua sehingga mereka menjadi musuh?" tanya Alana. Sungguh dia sangat ingin tahu apa yang telah terjadi sehingga ayahnya dan David menjadi musuh bahkan ayahnya selalu berpesan agar tidak berhubungan dengan David Douglas.


"Tidak banyak yang tahu, dulu ayahmu menipu ayah David. Mereka hampir jatuh bangkrut tapi perusahaan mereka terselamatkan," ucap Staley.


"Astaga, apa ayahku melakukan hal itu?" tanya Alana tidak percaya.

__ADS_1


"Yeah, karena hal itu ibu David sakit keras dan karena hal itu pula, ayah David tidak mempedulikan ibunya setelah kembali berjaya. Semua gara-gara ayahmu oleh sebab itu, David sangat membenci ayahmu meskipun sekarang hubungan David tidak akur dengan ayahnya. Seandainya ayahmu tidak menipu mereka, ibunya tidak akan sakit keras dan ibunya tidak akan dibuang oleh ayahnya yang sedang mendekati seorang putri konglomerat untuk menjayakan perusahaan mereka kembali."


"Oh my God," Alana tidak bisa berkata apa-apa. Jadi itu sebabnya David sangat membenci dirinya?


"Oleh sebab itu, ikutlah aku Alana. Kau hanya diperbudak oleh David saja. Aku akan menjagamu dengan baik. Tidak perlu khawatir, jika kau setuju ikut denganku maka aku akan membayar semua hutangmu saat ini juga!"


Lagi-Lagi Alana diam, apakah dia harus mempercayai pria itu? Apakah dia harus mengikuti Stanley pergi?


Apa yang kau ragukan, Alana? Ikut denganku maka semuanya akan terjamin."


"Aku?" Alana jadi bimbang dan tidak tahu apa yang harus dia putuskan.


"Kenapa, Katakan?" tanya Stanley.


"Aku mau pulang," ucap Alana seraya beranjak.


"Kau belum menjawab aku, Alana!" Stanley juga beranjak.


"Beri aku waktu, semua terasa mendadak. Aku tidak tahu harus mempercayai siapa," ucap Alana. Dia sudah bagaikan kapal yang terombang ambing di laut lepas tanpa adanya nakhoda.


"Baiklah, hubungi aku jika kau sudah mengambil keputusan," Stanley mengambil kartu namanya dan memberikannya pada Alana, "Hubungi aku, aku akan datang menjemputmu!" ucapnya lagi.


"Baiklah, aku harus pergi!" Alana memilih pergi setelah mengambil kartu nama yang diberikan oleh Stanley.


Alana kembali dengan perasaan bimbang, entah apa yang harus dia lakukan. Dia benar-benar bingung. Jika dia pergi dengan Stanley, maka semua hutang lunas dan dia memiliki tempat tinggal juga perusahaan tapi apakah semua yang diucapkan oleh pria itu adalah benar?


Selama di perjalanan, Alana memikirkan hal itu tapi dia masih tidak mendapatkan jawabannya. Mobil David sudah berada di rumah, celaka. Dia lupa minta ijin dengan pria itu, semoga saja David tidak marah. Alana masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru dan benar saja, David sudah menunggu. Alana menelan ludah karena David terlihatĀ  begitu murka.

__ADS_1


__ADS_2