Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Bisnis Yang Gagal


__ADS_3

Setelah memeriksa Cctv rumah sakit dan mendapati Alana dibawa pergi oleh seorang perawat dan dua orang petugas rumah sakit yang tidak dikenal sama sekali, pihak rumah sakit melaporkan hal itu pada kepolisian. Mau tidak mau David bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melacak ambulance yang dicuri oleh anak buah Stanley namun dia meminta bantuan seorang sahabatnya yang berada di kepolisian.


David tidak menolak bergabung dengan sahabatnya karena dia memiliki alasan. Saat dia membunuh Stanley nanti maka tidak ada yang akan menyalahkannya karena dia bersama dengan sahabatnya yang adalah seorang polisi. Dia pun akan terbebas dari hukum saat dia membunuh Stanley. Oleh sebab itu dia harus cerdik saat menghadapi Stanley.


Sahabat baiknya membawa pasukan karena mereka akan mengadakan penyergapan secara mendadak, oleh sebab itu David tidak membawa anak buah karena dia akan mempercayakan hal itu pada sahabat baiknya yang secara kebetulan ingin menangkap Stanley karena Stanley sudah terbukti pelaku Human Trafficking yang sedang diburu.


Perjalanan yang harus mereka tempuh pun cukup jauh karena Stanley memang membawa Alena ke tempat yang jauh di mana sang pembeli sudah datang untuk melihat gadis yang akan dijual oleh Stanley padanya hari ini. Sang pembeli melihat Alana dan tampak puas meski kaki dan tangannya cidera. Itu lebih bagus, dengan begitu wanita itu tidak akan bisa lari ke mana pun. Lagi pula yang dijual adalah rupa cantiknya dan juga tubuhnya.


"Bagaimana? Apa kau puas dengan yang kali ini?" tanya Stanley.


"Sangat sempurna walau tangan dan kakinya cacat!"


"Tangan dan kakinya bisa sembuh tapi keadaannya sangat menguntungkan karena kau dia tidak akan lari ke mana pun. Kau bisa menjualnya pada miliarder mana pun jadi kau tidak akan rugi sama sekali."


"Baiklah, mari kita bicarakan harga!" ajak pembeli itu.


"Enak saja, aku bukan barang yang bisa kalian perjual belikan!" teriak Alana marah.


"Wah, dia marah. Aku suka karakter galak seperti ini!" dagu Alana dipegang, Alana sangat kesal dibuatnya.


"Jangan coba-coba menyentuh aku dengan tangan kotormu itu!"


"Bagus, tunjukkan kemarahanmu. Semakin kau marah, semakin aku ingin mendapatkan dirimu!"

__ADS_1


"Bagaimana, kau puas bukan?"


"Tentu saja, aku benar-benar puas. Mari kita membicarakan harga!" dagu Alana dilepaskan lalu pembeli itu melangkah mendekati Stanley yang sudah menunggu.


"Tunggu, lepaskan aku dari sini!" teriak Alana lagi.


"Duduk baik-baik di sana, Alana. Sebentar lagi kau pasti akan pergi dari sini!" ucap Stanley sinis.


"Kau ba*ngan! Lepaskan aku dari sini!" pinta Alana lagi tapi Stanley tidak mempedulikan teriakan Alana.


Alana mengumpat kesal. Tidak mau, dia tidak mau dijual oleh pria itu. Lagi pula dia tidak melakukan kesalahan, dia tidak mengenal pria itu jadi dia tidak mau dijual. Dengan satu tangannya yang bisa digerakkan, Alana mengangkat tubuhnya. Dia harus pergi dari sana, harus namun yang dia lakukan sia-sia.


Alana bahkan mencoba memutar roda kursi roda tapi sia-sia. Apa yang dia lakukan tidak berarti sama sekali. Alana mengumpat, seandainya dia bisa menggerakkan kursi roda itu? Dia pasti bisa pergi dari tempat itu. Alana mulai putus asa, jangan katakan dia benar-benar akan dijual. Semoga saja ada keajaiban yang terjadi namun dia tidak menyerah untuk turun dari kursi roda.


Di luar sana, David dan beberapa orang polisi sudah tiba. Mereka sedang mengintai saat itu. Beberapa anak buah Stanley tampak berjaga di luar sana. Sebuah pistol sudah berada di tangan, David mengikuti sahabatnya mengintai sedangkan pasukan lain berpencar.


"Aku memang hanya seorang pengusaha tapi aku ingin memastikan keadaan kekasihku apakah dia baik-baik saja," dusta David. Padahal dia mengikuti sahabatnya agar dia bisa membunuh Stanley dan tidak perlu repot menyingkirkan mayatnya nanti.


"Baiklah, berhati-hatilah!" pasukan diminta untuk maju, mereka bergerak dengan hati-hati dan bersembunyi di balik semak dan apa saja yang bisa mereka gunakan untuk bersembunyi. Mereka pun mendekati bangunan di mana Stanley menyekap Alana.


David berada di dekat sahabatnya, dia benar-benar memanfaatkan situasi. Mereka sudah semakin dekat oleh sebab itu mereka berhenti sejenak tapi tidak lama karena setelah itu, para polisi itu mulai menyergap dan menembaki anak buah Stanley yang sedang berjaga di depan sehingga salah satu dari anak buah Stanley terkejut karena rekannya tiba-tiba saja mati.


"Apa yang terjadi?" salah seorang anak buah Stanley menghampiri rekannya yang ternyata sudah mati. Tentunya keadaan itu langsung dilaporkan pada Stanley melalui sebuah talkie walkie. Stanley yang mendapat laporan sangat terkejut, dia hendak bertanya namun suara tembakan sudah terdengar yang sudab pastu bertanda buruk baginya.

__ADS_1


"Ada apa ini? Apa kau ingin menjebak aku?" teriak sang pembeli yang baru saja ingin melakukan pembayaran karena mereka sudah sepakat.


"Tidak, tentu saja tidak. Aku tahu siapa yang datang, aku akan membuat perhitungan dan mengakhiri ini semua. Kau bisa membawa gadis itu melalui jalan belakang!" ucap Stanley.


"Awas jika kau menipu aku, Stanley. Aku tidak akan mau berbisnis denganmu lagi!"


"Aku tidak menipu, segeralah pergi bawa gadis itu dari sini. Biarkan aku yang menangani keributan di luar!" ucap Stanley. Dia yakin itu pasti David tapi dia tidak tahu jika David datang dengan pasukan polisi yang memang sedang memburunya.


Suara tembakan terdengar semakin ramai saat mereka keluar. Mereka segera bergegas, mendekati Alana tapi mereka harus dikejutkan karena Alana tidak berada di kursi rodanya lagi bahkan kursi roda itu sudah jatuh terbalik. Stanley mengumpat, tidak mungkin David begitu cepat membawa Alana dan memang tidak.


"Mana gadis itu?" teriak sang pembeli.


"Aku tidak tahu, dia pasti berada tidak jauh dari sini!" jawab Stanley.


"Ck, kau mempersulit aku. Aku tidak jadi membelinya!"


"Apa? Jangan lakukan! Aku akan segera menemukannya!" cegah Stanley.


"Aku sudah tidak butuh, aku mau pergi dari pada aku mati konyol di sini!"


"Tunggu!" Stanley berusaha mencegah namun rekan bisnisnya sudah pergi.


Stanley mengumpat marah, semua gara-gara Alana yang hilang entah ke mana. Dia yakin gadis itu tidak mungkin jauh dan masih berada di dalam ruangan itu. Stanley mulai mencari, Alana yang menjatuhkan diri dari atas kursi roda masih berusaha menarik tubuhnya dengan susah payah menggunakan satu tangan. Seluruh tubuh terasa sakit, tapi Alana masih berusaha untuk melarikan diri dari tempat itu.

__ADS_1


"Jangan harap kau bisa pergi, Alana!" teriak Stanley. Teriakannya itu dapat didengar oleh Alana juga David yang sedang berusaha menerobos masuk ke dalam dengan mengalahkan anak buah Stanley terlebih dahulu. Sial, jika bukan karena tidak ingin berurusan dengan hukum apalagi Stanley adalah buronan, sudah dia hadapi seorang diri tapi risiko yang harus dia hadapi akan panjang karena para polisi akan mengusut kematian Stanley dan dia malas menghadapinya karena buang waktu. Tidak ada pilihan lain selain bersabar mengikuti para polisi itu tapi sepertinya dia harus mencari jalan lain agar dia bisa sampai ke tempat Alana terlebih dahulu.


Stanley yang sedang mencari Alana mengambil sebatang kayu, dia tampak marah karena bisnisnya gagal. Akan dia pukul jika ketemu dan sialnya, Stanley melihat Alana sedang berusaha menggapai hendle pintu dari kaca penghubung ruangan lain. Stanley tersenyum licik, habislah kali ini.


__ADS_2