
Tanpa Alana duga, sore itu David pulang ke rumah. Alana sedang membuat makanan di dapur, meski David tidak pulang dia tetap membuat makan malam walaupun pada akhirnya harus dia habiskan sendiri. Suara pintu yang dibuka mengejutkan Alana, gadis itu melangkah sebentar untuk melihat siapa yang datang sampai akhirnya langkahnya terhenti ketika melihat David masuk ke dalam.
David melepaskan dasi, tatapan matanya pun tanpa sengaja melihat ke arah Alana. Mereka berdua saling pandang sesaat sampai akhirnya Alana melangkah pergi untuk melanjutkan membuat makanan yang tertunda. Celaka, sekarang dia jadi ragu untuk mengatakan pada David jika dia melakukan kerja sampingan. Dengan watak pria itu, dia bisa menebak apa yang akan terjadi dan mereka akan kembali bertengkar.
David pasti akan melarangnya untuk bekerja dengan banyak alasan yang tidak pernah bisa dia bantah. Apalagi penalty yang pria itu berikan, dia tidak akan bisa berkutik. Benar, lebih baik dia diam saja tanpa mengatakan apa pun pada David. Lagi pula dia tidak melakukan pelanggaran karena dia menggunakan waktu istirahatnya untuk bekerja.
Beruntungnya dia membuat makanan walau beberapa hari belakangan dia makan sendiri. Meski tidak banyak tapi cukup untukk David. Hari ini dia tidak boleh menyulut api sehingga membuat David emosi. Dia sudah belajar dari kesalahan, orang seperti David tidak boleh dibantah dan harus disanjung agar dia senang.
David pergi mandi terlebih dahulu, dia kira Alena sudah pergi dengan Stanley tapi nyatanya tidak. Apa yang gadis itu pikirkan? Padahal dia sudah memberikan kesempatan untuk Alana, dia bebas mengambil pilihan saat dia pergi tapi Alana justru menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
Entah apa yang dipikirkan oleh Alana, apa tawaran yang diberikan oleh Staley kurang menggiurkan? Meski dia sudah memperingati Stanley tapi dia yakin pria itu tidak akan menyerah sama sekali. Setelah mandi, David keluar dari kamarnya. Alana sedang membersihkan dapur karena dia sudah selesai memasak saat David masuk ke dalam. Mereka berdua jadi canggung, Alana pun bingung mau berbicara apa.
"A-Apa mau makan?" tanya Alana basa basi.
"Hm!" David duduk di kursi, Alana buru-buru mengambil piring dan meletakkannya ke hadapan David.
"Aku akan pergi," ucapnya.
"Tunggu!" perintah David sehingga Alana menghentikan langkahnya.
"Ada ada?" tanya Alana seraya berbalik.
"Aku sudah memberikan kesempatan untukmu, kenapa kau tidak pergi menemui Stanley? Bukankah kau berkata tawaran yang dia berikan sangat menggiurkan dari pada tawaran yang diberikan oleh nenekku tapi kenapa kau masih bertahan di sini?"
"Tolong, aku tidak mau membahasnya," jawab Alana.
"Kenapa? Apa yang kau pikirkan sehingga kau tidak menerima tawaran darinya?" tanya David
"Jika aku menerima tawaran darinya, apakah kau tidak akan mencegah?" tanya Alana pula.
"Untuk apa aku mencegah? Semua terserah padamu, aku tidak akan mencegahnya. Kau ingin menerima tawaran dari nenekku atau Stanley, aku tidak peduli!"
"Baiklah, tapi aku sudah memikirkan hal ini baik-baik. Aku tidak akan menerima tawaran dari mereka."
"Benarkah?" David melihat ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan tidak percaya.
__ADS_1
"Untuk apa aku berbohong? Aku memang naif dan bodoh, oleh sebab itu aku mudah tertipu. Aku pun sudah memikirkan hal ini dengan baik. Agar kau tidak menghina aku lagi, agar kau tidak meremehkan aku maka aku tidak akan menerima tawaran dari siapa pun. Tawaran dari nenekmu atau Stanley, aku tidak akan menerimanya meskipun menggiurkan karena aku sudah memutuskan untuk melunasi semua hutang ayahku dengan kemampuanku sendiri jadi kau tidak boleh melarang apa yang akan aku lakukan," ucap Alana.
"Bagus, keputusan yang sangat bagus jadi bekerjalah dengan baik. Aku ingin melihat kesungguhan tekadmu jadi tunjukkan padaku jika kau bersungguh-sugguh dengan ucapanmu!"
"Aku memang akan bersungguh-sungguh, lihat saja nanti!" akan dia tunjukkan pada pria itu jika dia mampu tanpa bantuan orang lain.
"Bagus, sekarang duduk dan makan denganku!" perintah David.
"Maaf, Tuan. Aku tidak bisa makan dengan majikanku. Aku harap kau ingat dengan status kita berdua. Aku adalah pelayanmu, lebih baik kita tidak melewati batas lagi," ucap Alana.
"Oh.. jadi kau sedang membatasi diri denganku?" David beranjak dan terlihat tidak senang.
Alana menelan ludah dan melangkah mundur, apa yang mau pria itu lakukan? Sebaiknya dia melarikan diri saja, jangan sampai mereka berdua kelewat batas lagi.
"A-Aku sakit perut!" teriak Alana seraya mengambil langkah seribu.
"Tunggu, Alana. Makan denganku!!" teriak David.
"Aku sudah kenyang, Tuan!" teriak Alana.
David telah menunggu, dia yakin Alana pasti kembali. Alana kembali masuk ke dapur dan menatapnya dengan ekspresi kesal. Selalu saja menggunakan kelemahannya saat mengancam.
"Kenapa? Bukannya sudah kenyang?" tannya David mencibir.
"Sebal, awas kau nanti!" ancam Alana.
"Oh, berani sekali kau mengancam majikanmu, Alana! Sepertinya kau benar-benar senang mendapatkan penalty dariku."
"Cerewet!!! Apa aku sudah gila begitu senang karena hutang yang semakin bertambah? Makan ya makan jadi jangan cerewet!" ucap Alana kesal. Kursi ditarik lalu Alana duduk sedikit jauh. Sebal, padahal dia mau istirahat sebentar tapi sekarang dia harus menemani bosnya yang menyebalkan untuk makan.
"Ambilkan!" perintah David.
"Apa kau anak kecil?" Alana semakin kesal dibuatnya.
"Ya, aku anak kecil jadi ambilkan dan suapkan!" David semakin sengaja membuat Alana kesal.
__ADS_1
"Apa?"mulut Alana mengangga, tidak percaya mendapat permintaan tidak masuk akal itu.
"Apa kau tidak sedang bercanda?" teriak Alana kesal.
"Tidak, sekarang!"
"Sial, aku tidak percaya ini. Kenapa kau tidak menggunakan popok dan menghisap sebuah dot saja?" Alana sedang mengambil makanan dengan perasaan kesal.
"Boleh juga, sepertinya kau harus memandikan aku setelah ini," ucap David yang semakin sengaja saja.
"Tidak sudi, bayaran satu kali mandi harganya mahal!" Alana pun semakin kesal.
"Berapa? Aku harap kau memberikan harga bersahabat untukku," semakin Alana kesal, semakin dia ingin menggoda Alana.
"Dua ribu dolar, tidak boleh kurang!" ucap Alana. Dia kira David hanya bercanda saja tapi jawaban David justru membuatnya shock.
"Deal, dua ribu dolar untuk biaya mandi!" David tersenyum lebar saat mengatakan hal itu.
"Apa? Apa kau serius, apa kau tidak sedang bercanda untuk hal ini?" tanya Alana.
"Apa aku terlihat bercanda? Aku serius mengatakan hal itu!"
"Oh, No. No!" Alana melangkah mundur dan terlihat shock.
"Bagus, Alana. Kau sudah pandai berbisnis sekarang, dengan begini hutangmu bisa lunas dengan cepat."
"Tidak, aku hanya bercanda saja, tidak serius!"
"Tapi bagiku serius, sekarang cepat makan, sudah tidak perlu kau suapi dan setelah ini aku mau mandi!" David mengambil makanan yang ada di tangan Alana.
"Bu-Bukannya kau sudah mandi?"
"Bagaimana ya, dapurnya panas!" senyuman David kembali lebar, Alana terduduk dengan wajah pucat. Yang benar saja, dia kira pria itu bercanda saja. Sial, jika dia tahu pria itu serius akan dia berikan harga yang lebih tinggi. Rasanya sangat menyesal dan sialnya, setelah ini dia harus memandikan bayi besar yang menyebalkan.
Alana menatap David dengan tatapan tajam sambil menggerutu, sedangkan pria itu tersenyum dan dia sangat tidak sabar.
__ADS_1