
Seperti yang sudah direncanakan, Veronica dan nenek David memutuskan untuk datang ke rumah David karena mereka ingin melihat keadaan David. Begitu tiba, Veronica langsung dikuasai oleh api amarah karena dia sudah memiliki bayangan jika David sudah melewati malam panasnya dengan Alana.
Tanpa basa basi, Veronica berteriak memanggil Alana. Sungguh dia tidak rela, dia tidak rela Alana yang mendapatkan keuntungan dari apa yang dia rencanakan. Alana menikmati madunya sedangkan setelah ini, dia akan mendapatkan racunnya yaitu kemarahan David.
"Alana Meyyer!" Veronica berteriak memanggil dengan emosi memuncak. Sudah begitu siang tapi Alana tidak juga terlihat. Jangan katakan akibat malam panas yang dia lewati dengan David membuat gadis itu tidak bisa bangun. Veronica kembali berteriak memanggil, sang nenek sudah duduk di sofa untuk menunggu David keluar.
Alana keluar dari kamar dengan rambut yang acak-acakan dan dengan penampilan yang sengaja dibuat berantakan. Alana pun sengaja berjalan sempoyongan sambil memegangi pinggangnya. Tentu saja ketika melihat itu, Veronica tampak tidak senang dan api amarah semakin menguasai hatinya.
"Untuk apa kau berteriak seperti itu?" tanya Alana. Dia semakin sengaja mengusap pinggangnya seolah-olah pinggangnya sedang terasa begitu nyeri.
"Di-Di mana David?" tanya Veronica.
"David masih tidur di kamar oleh sebab itu jangan berteriak, nanti tidurnya jadi terganggu!"
"Lancang, panggil dia segera!" teriak nenek David.
"Ya ampun, Nenek. Gara-Gara obat yang kau berikan, kami harus melewati malam yang begitu panjang dan melelahkan. Apa Nenek tidak bisa melihat? Aku lelah dan babak belur gara-gara David, pinggangku juga sakit!"
"Diam!" teriak Veronica tidak terima. Seperti yang dia duga, Alana yang menikmati madu dari rencana yang dia buat.
"Kenapa kau terlihat marah? Apa yang aku katakan memang sangat benar!" Alana mengangkat dagu, dia sengaja ingin membuat Veronica kesal. Lagi pula yang dia katakan memang benar, David harus melewati malam panjang yang melelahkan karena obat terkutuk yang mereka berikan sedangkan dia harus tertimpa tubuh pria itu yang berat saat membawa David keluar dari kamar mandi sehingga pinggangnya terasa sakit belum lagi David yang tertidur di atas tubuhnya. Dia sudah bagaikan kura-kura yang berada dalam posisi terbalik dan dia harus berusaha untuk keluar dari himpitan tubuh David yang berat.
"Tutup mulutmu, David tidak mungkin menyentuhmu!" teriak Veronica.
"Wah.. Wah, kau meremehkan aku. Sepertinya sebentar lagi aku akan hamil bayi lucu, semoga anak kembar!" ucap Alana seraya mengusap perutnya. Dia benar-benar sengaja membuat Veronica kesal.
"Diam, David tidak mungkin menginginkan anak dari pelayan rendahan seperti dirimu!" Veronica kembali berteriak penuh emosi.
"Aku memang pelayan rendahan tapi kau adalah wanita murahan yang telah menjebak dirinya menggunakan obat. Sekarang katakan, siapa yang lebih memalukan di antara kita berdua?" cibir Alana.
"Diam kau, kau tidak berhak menghina aku!" Veronica semakin dibuat kesal.
"Sayangnya, karena perbuatanmu yang memalukan aku tidak tahan untuk menghina dirimu!" Alana yang tadinya ingin membuat Veronica kesal justru jadi ikut terpancing emosi.
"Hari ini juga, aku akan merobek mulutmu!" Veronica melangkah mendekat, dia akan menghajar Alana Meyyer karena dia benci dengan wanita yang sudah mencuri keberuntungan miliknya.
__ADS_1
"Jangan coba-coba kau menyentuhnya, Veronica!" teriakan David membuat langkah Veronica terhenti.
Veronica melihat ke arah David yang keluar dari kamar Alana, nenek David pun beranjak dari tempat duduknya. David yang tampak begitu murka melangkah mendekati mereka dan mengabaikan rasa sakit di kakinya. Alana yang melihat itu berlari menghampiri David untuk membantunya.
"Kenapa kau keluar dari kamar, bukankah sudah aku katakan aku yang akan membawa mereka masuk ke dalam?" Alana segera memapah tubuh David agar dia tidak terjatuh.
"Jangan mencegah, aku sudah tidak tahan dengan mereka!"
"Bagaimana dengan keadaanmu, David?" tanya neneknya.
"Apa pedulimu, nenek tua?!" ucap David dengan emosi memuncak.
"Jangan bersikap kurang ajar, aku nenekmu!" teriak neneknya marah.
"Kau nenekku? Jika kau nenekku maka kau tidak akan bersekongkol dengannya untuk mencelakai aku!" teriak David penuh emosi.
"Aku melakukan hal itu untuk kebaikanmu, David. Apa kau tidak tahu itu?"
"Kebaikan yang mana nenek maksud? Apa dengan tidur dengannya adalah sebuah kebaikan bagiku?" teriak David penuh emosi.
"Sudah nenek katakan padamu, yang paling pantas untukmu hanyalah Veronica!"
"Aku melakukan hal itu karena aku mencintaimu, David. Aku sudah mencintaimu sejak dulu tapi kau tidak pernah peka sama sekali dengan perasaanku. Kau lebih tertarik dengan orang lain sedangkan aku, kau selalu menganggap aku sahabatmu saja!" teriak Veronica. Sudah cukup, dia sudah tidak bisa menahan perasaan yang menyesakkan dada itu.
"Aku meminta bantuan nenekmu karena aku ingin memiliki dirimu, aku tidak bisa diam saja saat kau dekat dengan pelayan hina itu. Aku tidak rela wanita yang baru masuk ke dalam rumahmu ini justru memiliki dirimu apalagi aku yang mencintai dirimu terlebih dahulu!" Veronica melangkah mendekati Alana dan David dengan kemarahan di hati. Akibat emosi, air matanya bahkan mengalir. Dia benar-benar sudah tidak tahan.
"Semua jadi berubah gara-gara pelayan tidak tahu ini!" teriak Veronica seraya mendorong Alana yang sedang memapah tubuh David.
Alana terkejut karena Veronica melakukannya secara tiba-tiba. Tidak saja Alana, David pun terkejut. David yang sudah emosi semakin emosi dibuatnya apalagi Alana sampai terjatuh ke atas lantai.
"Apa kau sudah gila?" teriak Alana kesal.
"Aku akan membunuhmu!" Veronica hendak mendekati Alana tapi tanpa dia duga, sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya.
Veronica berpaling, David kembali melangkah mendekati Veronica dan kembali memukul wajahnya dengan keras sehingga tubuhnya terdorong ke belakang. Veronica berteriak, darah bahkan mengalir dari sisi mulutnya. Alana yang melihat terkejut, begitu juga dengan neneknya.
__ADS_1
"Hentikan David!" teriak neneknya.
"David, kenapa kau memukul aku?!" teriak Veronia pula.
"Tanganku ini tidak pernah memukul wanita tapi denganmu, pengecualian!" ucap David penuh emosi. Dia bahkan hendak menghampiri Veronica untuk memberinya pelajaran lagi. Tidak akan dia ampuni wanita itu, sekalipun mereka sahabat.
"Hentikan, David. Apa kau sudah gila?!" teriak neneknya.
"Diam, semua gara-gara kau!" teriak David.
"David, tenanglah," Alana buru-buru menghampiri dan menenangkan amarah pria itu.
"Jangan marah seperti itu, bagaimanapun dia nenekmu. Dia hanya ingin membantu Veronica saja jadi jika ingin marah, yang harus kau marahi adalah Veronica. Kau sudah memukulnya, jadi aku rasa kau sudah impas," bujuk Alana.
"Tidak ada kata impas. Mulai sekarang, kau tidak boleh datang ke rumahku lagi dan kau, bukan sahabatku lagi!" ucap David pada Veronica.
"Apa? Jangan lakukan hal ini padaku, David!" teriak Veronica.
"Apa yang kau lakukan sudah sangat fatal, Veronica. Aku sudah memutuskan tali persahabatan di antara kita jadi pergi sebelum aku memerintahkan mereka untuk menyeretmu keluar dan nenek, pergilah. Mulai sekarang nenek tidak akan bisa masuk ke dalam rumahku dengan mudah lagi karena kau bukan nenekku lagi!" ucap David. Dia memutuskan hal demikian karena dia sudah terlanjur kecewa pada neneknya.
"David, apa maksud ucapanmu?" teriak neneknya.
"Pergi!" teriak David penuh emosi.
"Tidak mau, David. Jangan memutuskan tali persahabatan di antara kita!" teriak Veronica.
"Keluar kalian berdua sebelum aku memerintahkan para penjaga untuk menyeret kalian keluar!" teriak David penuh emosi.
"Aku tidak mau, David. Tidak mau!"
"Pergi!" teriak David lantang.
"Sudahlah, David. Sebaiknya kau beristirahat," bujuk Alana.
David yang masih dikuasai oleh api emosi, melihat ke arah Alana yang berusaha menenangkan dirinya. Jika tidak ada gadis itu, mungkin Veronica sudah berakhir di rumah sakit.
__ADS_1
"Pergi kalian berdua!" setelah berkata demikian, David melangkah menuju kamar dibantu oleh Alana.
Veronica berteriak memohon sambil menangis, sang nenek pun juga berteriak tapi David yang sedang emosi tidak akan mudah diajak bicara. Sang nenek memutuskan untuk mengajak Veronica pergi, mereka tidak akan mendapatkan apa pun hari ini tapi nanti, dia akan kembali lagi nanti untuk berbicara dengan cucunya.