
David masuk ke dalam kamar untuk menenangkan dirinya. Air dingin sedang menyirami tubuhnya saat itu. David melakukannya untuk meredakan amarah juga gairah yang kembali mengebu saat tubuh polos Alana teringat. Dinding kamar mandi pun menjadi sasaran empuk bagi tinjunya, seharusnya dia tidak mengikuti Alana masuk ke dalam kamar, seharusnya tidak.
Dia tidak menyangka Alana akan melakukan hal nekad seperti itu. Sungguh dia kecewa pada Alana dan dia pun kecewa pada diri sendiri yang tergoda dan hampir saja menodai Alana dalam keadaannya yang sedang terpuruk. Entah apa yang telah membuat Alana mengambil jalan nekad seperti itu, yang pasti keputusan Alana sungguh mengecewakan. Setelah ini sebaiknya dia berbicara dengan Alana, jangan sampai gadis bodoh itu benar-benar mengakhiri hidupnya yang berharga.
Alana berbaring di atas ranjang dan menangis, tubuhnya masih polos dan belum ditutupi oleh sehelai benang pun. Dia tidak mau melakukan apa pun, dia ingin seperti itu untuk sesaat. Mungkin dengan berbaring seperti itu akan membuat perasaannya membaik meskipun dia tidak sedang baik-baik saja.
Pikirannya tidak menentu, kedua mata pun tidak bisa terpejam. Alana bahkan mengabaikan suara pintu yang diketuk, dia pun tidak memandang ke arah pintu yang terbuka. David menggeleng melihat keadaannya yang masih saja polos seperti saat ditinggalkan. Baju yang dia lemparkan tidak dikenakan oleh Alana bahkan gadis itu tidak menutupi tubuhnya dengan selimut. Keadaan Alana sudah seperti korban pemerkosaan dan beruntungnya, dia tidak melakukan hal itu.
Pria itu melangkah mendekat, Alana seperti tidak perduli dengan kehadiran pria itu bahkan dia masih tidak peduli saat David duduk di sisi ranjang dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang.
"Mau sampai kapan seperti ini?" tanya David tapi Alana tidak menjawab.
"Bukankah sudah aku katakan, jika kau mau mati maka kau boleh mati tapi jangan di rumahku. Pergi yang jauh, atau berdiri di atas rel kereta agar tidak menyisakan bekas dan agar tidak ada yang tahu jika itu adalah dirimu!"
Alana masih tidak menjawab, hanya air matanya saja yang terus mengalir tanpa henti. David kembali menggeleng melihat keadaannya. Untuk pertama kali dia melihat seseorang yang begitu putus asa. Dia bisa menutup mata dan tidak peduli pada Alana tapi entah kenapa, dia tidak bisa sama sekali.
"Mau sampai kapan kau seperti ini, Alana? Aku sungguh tidak mau peduli tapi melihat keadaanmu ini, aku benar-benar tidak suka!"
"Jika begitu pergilah, jangan pedulikan aku. Biarkan aku meratapi nasib burukku ini seorang diri dan jika aku sudah tidak tahan lagi, aku akan pergi seperti yang kau katakan. Berdiri di atas rel kereta dan mengakhiri hidupku di sana!" ucap Alana.
__ADS_1
"Jika kau mau mati, maka langsung saja mati. Jangan banyak berpikir sehingga kau jadi berubah pikiran!"
"Kenapa kau begitu jahat? Kenapa perkataanmu selalu pedas seperti itu?" Alana melihat ke arah David sejenak lalu dia kembali berpaling.
"Aku memang seperti ini, dari dulu sampai sekarang aku memang seperti ini!"
Alana diam, begitu juga dengan David. Melihat gadis yang tidak berdaya seperti itu, membuatnya semakin tidak tega. Alana yang tidak tahu apa-apa, harus menanggung apa yang kedua orangtuanya lakukan. Dia jadi seperti itu pun karena didikan kedua orangtuanya dan karena kedua orangtuanya yang memanjakan dirinya.
Kedua mata Alana sudah terpejam, dia mau tidur sebentar karena dia lelah. Sepertinya rencananya untuk mati gagal total. Semua gara-gara David yang tidak mau menyentuhnya dan sekarang, yang ada di dalam kepalanya bukan lagi rencana untuk mati tapi kini yang ada di dalam kepalanya penuh dengan ingatan akan sentuhan David di tubuhnya.
Tiba-Tiba saja wajahnya menjadi panas, Alana tidak berani membuka mata karena dia takut David melihat ekspresi wajahnya namun jantungnya hampir melompat keluar karena tiba-tiba saja David memeluknya dari belakang. Entah kenapa jadi terasa berbeda, tidak seperti beberapa saat yang lalu. Alana semakin memejamkan matanya dengan rapat, jantungnya berdegup dengan begitu kencangnya sehingga dia bisa mendengar detak jantungnya sendiri.
"Jangan berpikiran bodoh, Alana. Memang tidak ada yang menangisi kematianmu tapi jika kau melakukannya, bukankah kau tidak berbeda jauh dengan kedua orangtuamu?"
"Aku putus asa, David. Hanya itu yang terpikirkan olehku!"
"Sungguh pikiran bodoh dan sempit. Aku bersikap keras padamu agar kau berubah, agar kau tahu bagaimana kerasnya kehidupan dan agar kau tahu jika apa yang kau inginkan tidak akan mudah kau dapatkan lagi seperti dulu. Mau aku katakan berapa kali jika kau harus bisa menerima keadaanmu dan berubah tapi kau justru putus asa seperti ini."
"Aku manusia biasa, David. Aku akan merasa lelah jika sudah berada di ambang batasnya. Kau tahu aku hidup serba berkecukupan sejak kecil, kedua orangtuaku tidak pernah membentak dan memarahi aku tapi kau, kau memperlakukan aku seolah-olah aku benar-benar tidak berguna sama sekali!" ucap Alana.
__ADS_1
"Aku memang seperti ini jadi kau harus terbiasa denganku. Malam ini saja, lupakan hubungan pelayan dan majikan di antara kita tapi besok, bekerjalah dengan sebaik mungkin!"
"Jika begitu," Alana berbalik dan memeluk David Douglas, pria yang sangat dia benci selama ini.
"Untuk malam ini saja, tolong ijinkan aku memelukmu agar aku merasa jika aku tidak sendirian dan agar aku merasa jika aku bisa melewati semua yang akan terjadi di kemudian hari. Tolong jangan memperhitungkan hal ini sehingga hutangku semakin banyak!"
"Ck, pelukanku tidak gratis. Kau harus membayarnya."
"Menyebalkan, saat seperti ini masih saja penuh perhitungan!" ucap Alana dengan nada kesal.
"Sudah aku katakan, tidak ada yang gratis!" ucap David namun satu gigitan kembali dia dapatkan di otot dadanya.
David berteriak, sial. Ini yang namanya diberi hati tapi minta ginjal. Sepertinya dia terlalu baik pada Alana sehingga membuat gadis itu begitu berani menggigitnya tapi entah kenapa, dia tidak mendorong tubuh Alana untuk menyingkirkan gadis itu. Seperti yang dia katakan, hanya malam ini saja, mereka bukan pelayan dan majikan.
Setelah menggigitnya, Alana tampak puas walau David kesal setengah mati. Lagi-lagi bekas gigi tercetak di tempat yang tidak jauh dari bekas pertama. Beruntungnya hanya malam ini karena jika sampai mereka memiliki hubungan yang berbeda, dia rasa akan terdapat bekas gigi di mana-mana.
"Sebaiknya kau tidur sebelum aku memperhitungkan semuanya sehingga hutangmu semakin banyak!"
"Terima kasih," ucap Alana dengan kedua mata yang masih terpejam. Dia sudah merasa lebih baik, setidaknya pria itu bersikap baik padanya walau hanya malam ini karena dia tahu, besok David Douglas akan kembali menjadi majikan yang menyebalkan dan penuh perhitungan.
__ADS_1
David tidak menjawab namun kedua tangan tak henti mengusap kepala Alana sampai gadis itu tertidur. Sekarang dia merasa sangat aneh, benar-benar aneh. Mereka sudah seperti pasangan kekasih saat ini tapi bukan itu yang membuatnya merasa aneh dan sesungguhnya dia harus menahan diri karena di balik selimut yang menutupi tubuh Alana, gadis itu tidak memakai apa pun. Sial, sungguh malam yang aneh dan siksaan yang sangat menakjubkan.