Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Cibiran Di Pesta Dan Sebuah Persekongkolan


__ADS_3

Pesta ulang tahun Veronica benar-benar diadakan dengan meriah. Veronica yang menjadi bintangnya sudah terlihat cantik luar biasa. Para tamu undangan pun sudah berdatangan, semua dari kalangan sosialita dan beberapa dari mereka adalah mantan sahabat baik Alana yang meninggalkan Alana saat keluarga Alana jatuh bangkrut.


Veronica menyambut para tamu yang datang sambil mencari keberadaan David yang tak kunjung terlihat. Jangan katakan David benar-benar tidak datang karena rencananya akan gagal total. Veronia mencari David sambil melewati para tamu undangan dan tanpa sengaja mendengar percakapan para mantan sahabat Alana yang sedang menggosipkan Alana.


"Hei, apa kalian tahu di mana Alana sekarang?" tanya salah seorang dari mereka.


"Entahlah, tidak ada yang tahu di mana dia. Setelah bangkrut dia justru menghilang. Ada apa kau mencarinya? Apa kau ingin menolongnya?" tanya yang lainnya.


"Menolongnya? Jangan bercanda! Jangan sampai dia justru mempersulit aku. Dulu dia memang banyak uang tapi sekarang? Jangan sampai kita ketularan miskin seperti dirinya!"


"Dasar kau kejam!'  mereka semua tertawa, setelah memberikan cibiran pedas itu untuk Alana. Mereka menertawakan apa yang terjadi pada Alana padahal Alana sangat baik pada mereka dulunya namun tidak ada satu dari mereka pun yang mengingat kebaikan Alana.


Veronica yang mendengar pun melangkah mendekati mereka, sungguh menarik. Sepertinya dia bisa mempermalukan Alana di hadapan para mantan sahabatnya itu.


"Hai, maaf jika aku menyela tapi aku tahu di mana Alana Meyyer berada. Apa kalian mau tahu?" tanya Veronica.


"Jangan dekat-dekat dengannya, Vero. Bagaimana jika dia meminjam uang padamu? Lihat pesta ulang tahunmu yang mewah ini, dia pasti akan iri padamu."


"Benar, aku rasa dia sudah menjadi gelandangan sekarang!" cibir yang lain lalu mereka tertawa terbahak. Veronica pun tertawa, jika Alana ada di pesta ulang tahunnya saat ini, dia pasti akan malu setengah mati dan dia yakin Alana tidak akan memiliki muka lagi yang bisa dia pertunjukkan.


"Terima kasih mengkhawatirkan aku tapi dia memang tidak jauh berbeda dengan apa yang kalian katakan dan apa kalian mau tahu apa yang dia lakukan sekarang?" ucap Veronica.


"Apa? Apa dia jadi pemungut sampah?"


"Tidak, aku rasa dialah sampah itu!" cibiran pedas para putri pengusaha itu tidak juga berhenti dan tawa mereka pun kembali terdengar. Veronica benar-benar senang, dia sudah tidak sabar mempermalukan Alana melalui mereka nanti.


Veronica berbincang dengan mereka cukup lama, sebuah janji sudah mereka buat nanti. Acara tiup lilin pun sudah akan berlangsung, Veronica tampak kesal karena David belum juga terlihat padahal dia ingin David berada di sisinya saat dia sedang meniup lilin.


"Kenapa David belum juga datang, Nenek?" tanya Veronica pada nenek David.


"Mungkin dia sedikit terlambat, sebaiknya tidak menunda acaranya!"


"Baiklah," walau kesal karena David tidak juga terlihat, mau tidak mau acara tiup lilin pun dilakukan. Tepuk tangan meriah dan ucapan selamat pun diberikan untuk Veronica.


Veronica pun mendapatkan banyak hadiah tapi yang dia tunggu belum juga datang. David yang sengaja datang terlambat baru menampakkan diri, tentu suara riuh di acara pesta itu terdengar tentunya dari para gadis yang mengagumi David. Mereka tidak menyangka pria itu akan datang. Veronica yang sudah menunggu sangat senang, buru-buru menghampiri David dan memeluk lengannya agar orang-orang tahu jika David adalah miliknya.


"Kenapa kau baru datang, David?" tanya Veronica dengan manja.

__ADS_1


"Sibuk, ini untukmu!" David memberikan hadiah yang dipilih oleh Alana pada Veronica.


"Sibuk? Apa gara-gara pelayan tidak tahu dirimu itu?" tanya Veronica dengan suara sedikit keras.


"Diam, Veronica! Aku sudah selesai, aku mau pergi!" ucap David.


"Tunggu, David!" sela sang nenek, "Kau baru saja tiba tapi kau sudah mau pergi, apa kau tidak mau menghormati nenek?" tanya Neneknya.


"Aku sibuk, Nenek!" jawab David beralasan.


"Tidak bisa, jangan pergi ke mana pun!" cegah neneknya.


"Jangan begitu, David.  Kau benar-benar jahat, aku bahkan belum memberikan sepotong kue untukmu," ucap Veronica.


"Tidak perlu!" David menepis tangan Veronica lalu melangkah pergi. Veronica sangat kesal, dia jadi malu karena David memperlakukannya seperti itu.


David duduk sendiri, dia tidak mau diganggu oleh siapa pun. Segelas minuman menjadi temannya, David justru sedang memikirkan apa yang terjadi dengannya. Dia ingin tahu, kenapa dia jadi selalu ingin mencium Alana? Kenapa dia selalu ingin menggoda Alana? Sepertinya ada yang salah dengan dirinya, dia tahu itu.


Minuman di teguk sampai habis, David memperhatikan orang-orang yang ada di pesta itu tanpa melakukan apa pun. Sudah cukup, sebaiknya dia pulang saja.


"Tuan, Nyonya memanggil anda dan meminta anda untuk menemuinya," ucap seseorang pelayan yang diutus oleh sang nenek untuk memanggil David.


"Ikutlah denganku," pinta pelayan itu.


David beranjak, setelah menemui neneknya maka dia akan pulang.  Pelayan itu membawanya masuk ke dalam sebuah ruangan di mana nenek dan ayahnya sudah menunggu beserta istri kedua ayahnya. David tampak enggan, dia bisa membayangkan akan adanya sebuah pertengkaran.


"Kenapa berkumpul di sini dan meminta aku datang?"


"Ada hal penting yang hendak nenek bicarakan denganmu," ucap neneknya.


"Apa lagi, Nenek? Aku sudah datang sesuai dengan permintaan nenek jadi apa lagi yang ingin nenek bahas?"


"Anak kurang ajar, apa kau tidak bisa duduk diam dan berbicara dengan kami!" teriak ayahnya marah.


"Aku tahu apa yang hendak kalian bicarakan jadi jangan basa basi!"


"David, jaga sikapmu. Kami ingin membicarakan sesuatu padamu jadi duduklah," ucap neneknya.

__ADS_1


"Baiklah, katakan!"


"Kapan kau akan melamar Veronica?" tanya neneknya.


"Apa? Pertanyaan macam apa itu? Untuk apa aku melamar Veronica?"


"Dia sudah kami kenal lama, David. Veronica juga menyukaimu sejak kecil jadi hanya dia yang pantas menjadi istrimu!"


"Omong kosong, aku hanya menganggapnya sebagai teman saja. Tidak ada perasaan spesial di antara kami berdua!"


"Jangan membantah, David. Segera tentukan dan lamar dia!" perintah ayahnya.


"Jika Daddy begitu menyukainya kenapa tidak Daddy saja yang melamarnya dan menjadikannya istri ketiga Daddy?"


"David!" ayahnya berteriak lantang karena emosi.


"Cukup, David. Kenapa kau tidak bisa menerima ibumu?" tanya neneknya yang juga mulai emosi.


"Dia bukan ibuku!" jawab David sambil memandang ke arah ibu tirinya dengan tajam.


"Cukup, David!" ayahnya kembali berteriak marah, sedangkan istrinya menunduk.


"Sudah... Sudah, jangan emosi. Minum ini," sang nenek mengambil segelas minuman yang ada di atas meja dan memberikannya pada David.


"Kami hanya ingin kau segera menikah dan calon yang tepat untukmu adalah Veronica."


"Sudah aku katakan, aku tidak memiliki perasaan apa pun pada Veronica!"


"Jika begitu, apa ada kandidat yang lain?" tanya neneknya.


"Tidak ada!" jawab David tapi entah kenapa dia justru teringat dengan Alana.


"Kami keluar sebentar!" ucap ayahnya seraya beranjak bersama dengan istrinya.


David meneguk minumannya sampai habis, dia tidak curiga sama sekali. Neneknya pun beranjak, pura-pura hendak mengambil sesuatu tapi sesungguhnya dia hendak memanggil Veronica. persekongkolan yang sangat sempurna.


Minuman yang ada di dalam gelas pun sudah habis, David melihat jam yang melingkar di tangannya. Sebaiknya dia pulang saja dari pada berada di pesta itu. David beranjak tapi tiba-tiba saja dia merasa kepalanya pusing, David duduk kembali. Sial, ada apa dengannya?

__ADS_1


Dia merasa semakin aneh, tubuhnya terasa panas. David melihat sekitar, lalu melihat gelas minuman yang ada di tangan. Celaka, jangan katakan? Di saat dia menyadari ada yang tidak beres dengan minuman itu di saat itu pula Veronica masuk ke dalam dan mengunci pintu.


__ADS_2