
Veronica yang sangat menantikan acara ulang tahunnya sudah tidak sabar agar malam cepat datang. Semua rencana sudah dia persiapkan tentunya dengan bantuan nenek David. Dia sangat yakin David bisa menjadi miliknya karena sang nenek begitu mendukung.
Veronica memutuskan untuk datang ke kantor David siang itu, dia ingin mengingatkan David dan dia juga berharap David mengajaknya serta saat membeli hadiah yang akan dia dapatkan nanti. Sebuah kalung berlian mungkin akan dia dapatkan. Dia harap demikian walau dia tahu David adalah pria yang cukup pelit.
Veronica sudah begitu bersemangat, senyuman menghiasi wajah saat dia diantar ke dalam ruangan David namun senyuman itu sirna ketika melihat Alana berada di dalam sana bersama dengan David. Mereka berdua terlihat sedang menikmati makan siang yang dibawa oleh Alana.
David tampak tidak senang, melihat kedatangan Veronica. Apalagi yang mau wanita itu lakukan? Padahal dia sudah berkata jika dia akan datang ke acara ulang tahunnya, apa Veronica datang untuk bertanya hal yang sama lagi? Sungguh menguji kesabaran.
"Untuk apa kau datang? Bukankah sudah aku katakan, aku pasti datang ke acara ulang tahunmu nanti malam!" ucap David sinis. Sungguh menyebalkan karena Veronica menghancurkan suasana tenangnya.
"Aku diminta oleh nenekmu datang, David. Jadi jangan bersikap sinis seperti itu padaku!"
"Jangan bawa-bawa nenek. Sekarang katakan padaku, apa maumu?"
"Kalian hanya makan berdua, apa tidak mau mengajak aku?" Veronica justru mengalihkan pembicaraan dan melangkah mendekat serta duduk di sisi David.
Alana cuek dan diam, dia tidak mau ikut campur dalam pembicaraan mereka berdua. Veronica duduk semakin dekat, tentunya David jadi kesal.
"Duduk yang jauh, Veronica. Panas!" ucapnya kesal.
"Tidak mungkin, ruangan ini begitu dingin," ucap Veronica.
"Panas gara-gara ada kau!" David beranjak lalu duduk di dekat Alana.
Alana melotot, kenapa pria itu malah duduk di dekatnya? Apa David tidak tahu jika hal itu bisa membuat Veronica semakin membencinya?
"Jangan duduk di dekatku!" ucap Alana.
"Tidak ada tempat duduk lagi!" jawab David beralasan.
"Apanya yang tidak ada? Di sana masih luas!" Alana semakin kesal.
"Di sana panas, jangan mengatur aku harus duduk di mana karena sofa ini milikku!"
Alana sangat kesal, Veronica sedang menatapnya dengan tatapan penuh kebencian. Entah kenapa dia merasa, David justru semakin dekat dengan mantan nona muda itu. Alana bisa merasakan api kebencian dari tatapan mata Veronica, musuh yang tidak dia harapkan justru harus dia dapatkan.
"Karena ada dia, sebaiknya aku pulang saja!" ucap Alana.
"Jangan coba-coba, aku ingin pergi denganmu!" cegah David.
__ADS_1
"Ayolah, aku rasa kau tidak butuh aku!"
"Kau mau pergi ke mana, David? Aku ikut," ucap Veronica.
"Aku tidak mau pergi denganmu, pulang sana!"
"David, nenek bilang aku akan membelikan hadiah untukku oleh sebab itu aku datang ke sini."
"Cih aku bukan anak kecil yang harus diatur oleh mereka!" David meraih tangan Alana lalu beranjak, "Ayo pergi!" ucapnya.
Alana tidak membantah, dia hanya bisa mengikuti saat David menarik tangannya. Veronica pun beranjak, tidak akan dia biarkan mereka berdua saja. David tidak juga melepaskan tangan Alana, tentunya hal itu menjadi tontonan para karyawannya dan dengan cepatnya, isu cinta segitiga antara bos mereka dan kedua wanita itu langsung merebak.
Veronica sangat kesal, David benar-benar mengabaikan dirinya. Dia sibuk berdua dengan Alana dan menganggap dirinya tidak ada bahkan selama di perjalanan, David tidak melepaskan tangan Alana. Gadis itu pun tidak membantah, seperti sudah terbiasa. Jangan katakan hubungan mereka berdua sudah begitu jauh tanpa dia sadari.
"David, lihat gaun itu sangat bagus!" ucap Veronica sambil menunjuk ke arah sebuah toko pakaian karena mereka sudah berada di sebuah pusat perbelanjaan saat ini.
"Lalu, apa kau kira aku menggunakan gaun?" tanya David sinis.
"Bukan begitu, David. Apa kau tidak merasa jika gaun itu cocok denganku?"
"Entahlah, aku tidak tahu!" David kembali menarik Alana pergi. Padahal dia sengaja mengajak Alana tapi Veronica justru menghancurkan kebersamaan mereka.
"Aku tidak akan mengijinkan, ikut aku!" David menarik Alana menuju sebuah toko pakaian.
"Tunggu aku David!" teriak Veronica yang mengejar.
"Jangan menarik aku seperti ini, David. Bukankah kau ingin mencari hadiah untuknya?" ucap Alana dengan pelan.
"Sudah, ikuti saja. Cari sebuah gaun untuknya tapi anggap kau yang menginginkan gaun itu!" perintah David.
"Baiklah, baik. Tapi jangan tarik seperti ini, lepas ah!" ucap Alana seraya menarik tangannya dari genggaman tangan David.
"Ya, sudah. Kali ini jangan membantah!" David meraih pinggang Alana, tentunya hal itu membuat Veronica yang sudah kesal, semakin kesal.
Alana berusaha menyingkirkan tangan David tapi pria itu justru semakin memeluk pinggangnya dengan erat. Sekarang yang jadi seperti pelayan justru Veronica karena dia mengekori mereka berdua seperti pelayan yang sedang mengekori kedua majikannya yang hendak berbelanja.
Mereka pun sudah masuk ke dalam toko pakaian, David menunggu dan membiarkan Alana mencari apa yang dia mau. Gadis itu tampak canggung, terus terang saja, dia sudah tidak bisa seperti dulu lagi. Dulu dia akan mengambil apa pun yang dia mau tapi sekarang, dia tidak bisa melakukannya lagi.
"Hei, kau?" Veronica menyenggol lengan Alana yang sedang melihat sebuah gaun. Tentunya gaun itu dia pilih untuk Veronica.
__ADS_1
"Ada apa?" Alana bersikap bersahabat, dia tidak mau cari gara-gara.
"Tidak perlu melihat gaun itu, apa kau mampu membayarnya?" cibir Veronica.
"Hanya melihat saja, apa perlu membayar?"
"Sudah aku duga, kau tidak akan mampu!" Veronica melangkah pergi namun dia meminta seseorang untuk mengambil gaun itu.
Alana hanya menggeleng, dia kembali melihat gaun lain tapi lagi-lagi Veronica mengambilnya. Entah sudah berapa kali, sampai dia bingung sendiri. Alana mendekati David dan duduk di sisinya, David sangat heran karena Alana kembali tanpa membawa apa pun.
"Mana yang aku perintahkan?" tanya David.
"Lihat itu, setiap kali aku ingin mengambil dia justru mengambilnya terlebih dahulu!" ucap Alana kesal.
"Apa kau tidak bisa mengambilnya terlebih dahulu?"
"Oh, jadi kau ingin aku rebutan dengannya?"
David sangat kesal, Veronica benar-benar mengganggu. Mereka berdua justru melihat Veronica yang sedang sibuk mengambil apa pun yang dia inginkan.
"Aku ada ide," ucap Alana.
"Ide? Mau apa?" tanya David.
"Kabur denganku!" jawab Alana sambil memperlihatkan senyuman manisnya.
"Ide bagus!" David meraih tangan Alana sebelum beranjak dan setelah itu mereka keluar dari toko pakaian itu tanpa diketahui oleh Veronica.
"Lari!" ucap Alana seraya menarik tangan David. Mereka berdua berlari menjauh dan berhenti setelah mereka cukup jauh.
Alana tertawa, dia tampak puas. Rasakan, semoga saja Veronica mampu membayar semua gaun yang dia ambil.
"Aku harap dia mampu membayarnya," ucap Alana setelah tawanya terhenti.
"Sepertinya aku sangat senang?"
"Aku kesal dengannya, dan ini balasan yang setimpal untuknya!"
"Bagus, kau sudah bisa membalas dendam rupanya. Biarkan saja dia, ayo pergi ke tempat lain!" ajak David.
__ADS_1
Alana mengangguk, rasanya sangat puas. Mereka pergi dari tempat itu, sedangkan Veronica kebingungan karena David tidak ada di mana pun. Sekarang, siapa yang akan membayar setumpuk pakaian yang sudah dia ambil itu? Veronica mencari keberadaan mereka berdua tapi tidak ada di mana pun. Umpatan dan makian pun terdengar, karena saat itu dia harus membayar dan dia rasa ini adalah hari sialnya karena dia tidak memiliki cukup uang untuk membayar semua pakaian itu. Rasanya sangat malu, benar-benar malu.