
Hari itu tidak ada yang berbicara di antara mereka berdua. Akibat pertengkaran mereka semalam, membuat David enggan mengatakan apa pun. Dia sudah memberikan pilihan pada Alana oleh sebab itu dia tidak akan menahan Alana meskipun dia tidak suka gadis itu pergi dari rumahnya.
Entah apa yang terjadi dengannya, yang pasti dia sangat kecewa dengan Alana yang sudah menipu dan tidak meminta ijin padanya untuk bekerja di luar. Rasa kecewa yang dia rasakan pun cukup aneh, perasaan kecewa yang dia rasa bukan perasaan kecewa terhadap bawahannya tapi perasaan kecewa yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Alana pun malas berbicara, dia tahu mereka akan berakhir dengan pertengkaran. Tapi dia masih berharap David mengijinkan namun diamnya mereka berdua membuat David gusar dan tidak tahan dengan situasi yang ada. Entah kenapa dia yang jadi tersangka padahal Alena yang salah.
"Kenapa kau diam saja? Apa tidak ada yang mau kau katakan padaku?!" ucap David.
"Mengatakan apa? Aku sedang tidak mau berdebat denganmu!"
"Jangan menghindar, sekarang juga beri aku kepastian. Apa kau masih mau menjadi pelayan di rumah ini atau tidak? Jika kau masih ingin bekerja di sini jadi bekerjalah dengan baik tapi jika kau ingin bekerja di bar, maka pergilah. Aku tidak akan mencegah tapi kau harus tahu satu hal, kau bukan tanggung jawabku lagi dan aku tidak akan peduli dengan apa yang kau alami di luar sana. Meskipun aku melihamu tergeletak di jalan, aku tidak akan membantumu dan aku akan pura-pura tidak mengenal dirimu!" ucap David.
"Tidak perlu mengancam di atas ketidakberdayaanku!" ucap Alena dengan sinis.
"Apa maksudmu tidak berdaya? Kau bisa mengambil keputusan untuk dirimu sendiri jadi jangan berbicara seolah-olah aku tidak memberikan kebebasan untukmu memilih!"
"Kau memang memberikan aku kebebasan untuk memilih tapi kau memberikan aku pilihan yang tidak sanggup aku jalankan!"
"Jadi? Apa keputusanmu?"
"Tidak perlu bertanya, kau sudah tahu jawabannya. Dasar menyebalkan!" ucap Alena.
"Bagus, dari pada kau mencari uang di luar, sebaiknya kau berbisnis di rumah!" ucap David. Dia cukup puas dengan jawaban dari Alana.
"Tidak perlu kau ajari, aku tahu. Jadi jangan coba-coba memanfaatkan aku karena aku akan memperhitungkan apa pun yang kau lakukan padaku!" ucap Alana.
"Tidak jadi soal, pintar-pintarlah berbisnis!"
"Hm!" Alana mendengus dan melangkah pergi setelah meletakkan segelas kopi hitam yang David inginkan. David hanya tersenyum, tatapan matanya tidak lepas dari Alana yang keluar dari dapur. Setidaknya Alana tidak pergi akibat persyaratan yang dia berikan. Dia tahu Alana tidak mungkin mampu membayar dua ratus ribu dolar untuk setiap bulannya dan tentunya keputusan Alana membuatnya lega.
Alana melakukan pekerjaannya di luar sana, membersihkan ruang tamu. Dia benar-benar tidak punya pilihan padahal dia sudah merasa memiliki penghasilan tambahan tapi dia terpaksa mengambil keputusan itu setelah memikirkannya semalaman.
Napas berat dihembuskan, biarlah apa yang akan terjadi. Jika memang harus sampai tua berada di rumah itu maka dia akan bekerja sampai tua. Satu saja yang dia harapkan, semoga David tidak menikah dengan wanita yang memiliki sifat seperti Veronica. Alana kembali menyibukkan diri, tanpa mau memikirkan pekerjaan yang mungkin akan semakin berat saja, nasibnya memang sudah seperti itu maka dia akan menerimanya. Pada saat itu, bel di depan pintu berbunyi. Alana bergegas membuka pintu dan mendapati nenek David berdiri di luar.
__ADS_1
"Apa David ada di rumah?" tanya sang nenek sambil menatapnya dengan tatapan tajam.
"Tentu saja ada, masuklah."
"Aku tidak akan berterima kasih padamu!" nenek David mendengus dan masuk ke dalam.
"Hal itu tidak perlu kau lakukan, Nenek!"
Nenek David tidak mempedulikannya, wanita tua itu melangkah menuju ruang tamu sedangkan Alana pergi ke dapur untuk memanggil David yang sedang sarapan.
"Nenekmu menunggu."
"Kenapa kau membiarkan nenekku masuk?" tanya David dengan nada tidak senang.
"Jangan seperti itu, David. Apa kau tega membiarkan dirinya berdiri di luar untuk menunggumu?" tanya Alana pula.
"Dia sudah begitu berani menjebak aku, untuk apa lagi aku menemuinya!" David benar-benar tidak senang.
"Ck, tidak perlu kau ajari!" David sudah beranjak, dia malas bertemu dengan neneknya tapi dia memang tidak bisa menghindari hal itu.
David keluar dari dapur dibantu oleh Alana. Ellen beranjak dari tempat duduk, saat cucunya melangkah menghampiri dengan tertatih-tatih. Dari ekspresi wajahnya sudah terlihat jika dia menyesali perbuatan yang dia lakukan sehingga membuat cucunya jadi seperti itu.
"Bagaimana dengan keadaanmu, David?" tanyanya.
"Seperti yang nenek lihat. Untuk apa Nenek datang?"
"Nenek ingin meminta maaf padamu, David. Maaf nenek sudah bersekutu dengan Veronica untuk mencelakai dirimu," ucap neneknya.
"Daddy sudah mengecewakan aku dan sekarang nenek juga mengecewakan aku hanya karena ingin mendekatkan aku dengan Veronica. Jika aku memiliki perasaan pada Veronica, aku tidak perlu bantuan nenek untuk mendekati kalian berdua!" ucap David.
"Baiklah, Nenek memang salah. Kau tidak memiliki kekasih sampai sekarang jadi nenek khawatir, nenek takut kau tidak mau menikah!"
"Nenek tidak perlu mengkhawatirkan hal itu!" David melangkah menuju sofa dan duduk di sana, "Aku akan menikah jika aku sudah mau menikah!" ucapnya lagi.
__ADS_1
"Kapan? Pacar saja kau tidak punya," ucapnya.
"Sudah punya, nenek saja yang tidak tahu!" ucap David.
"Siapa? Aku tidak pernah melihat kau bersama dengan wanita selama ini."
"Orang itu sudah ada di dekatku!" ucap David asal.
"Apa?" tatapan mata melihat ke arah Alana, apa yang dimaksud oleh David adalah gadis itu?
"Ja-Jangan melihat aku seperti itu, aku bukan pacarnya!" ucap Alana sambil melotot ke arah David. Kenapa pria itu sembarangan berbicara? Bagaimana jika nenek David semakin membenci dirinya?
"Tidak perlu menyangkal, mulai sekarang kau sudah menjadi pacarku!" ucap David.
"Tidak mau, aku tidak mau menjadi pacar pria pelit dan penuh perhitungan seperti dirimu!" setelah berkata demikian, Alana melangkah pergi. David justru menatap kepergian Alan. Tidak mau? Awas saja gadis itu nanti.
"Sungguh gadis yang tidak sopan. Gadis seperti itu, kenapa kau jadikan sebagai kekasih? Dia hanya pelayan saja, apa tidak ada yang lebih baik dari pada dirinya?"
"Tutup mulutmu, Nenek. Jika bukan karena dia yang membela nenek sejak kejadian itu, aku pastikan saat ini aku tidak akan menemui nenek bahkan aku tidak sudi untuk berbicara dengan nenek lagi!" ucap David.
Ellen diam, apakah yang David katakan itu benar? Rasanya tidak mungkin Alana melakukan hal itu mengingat apa yang pernah dia lakukan pada gadis itu.
"Mulai sekarang Nenek jangan berbicara buruk tentangnya dan jangan berbicara lagi dengan Veronica!" ucap David.
"Nenek benar-benar menyesal untuk hal ini, David. Nenek sudah mengusirnya pergi dan tidak akan berbicara dengannya lagi!"
"Bagus jika begitu, aku harap Nenek tidak mengulangi kesalahan yang sama karena jika sampai Nenek melakukannya, sekalipun Alana membujuk seperti apa pun aku tetap akan membenci Nenek!"
"Nenek tahu, David. Nenek sungguh bodoh membantu Veronica dan mengkhianati dirimu!"
David tidak berkata apa-apa, neneknya yang biasanya angkuh kini terlihat menyesal. Alana kembali membawa dua gelas minuman, dia masih menatap David dengan tatapan tidak senang karena pria itu sembarangan berbicara sedangkan di luar sana, Veronica memandangi rumah David dengan perasaan kesal luar biasa. Dia tidak diperbolehkan masuk oleh penjaga, oleh sebab itu Veronica hanya bisa menunggu di depan.
Tidak akan dia biarkan, dia harus bisa menyingkirkan Alana tapi bagaimana caranya? Veronica masih berada di luar dan bukan dia saja yang sedang mengintai, anak buah yang diutus Stanley pun berada tidak jauh dan mendapati Veronica yang terlihat dipenuhi oleh dendam dan kebencian.
__ADS_1