Annoying Maid With Killer Bos

Annoying Maid With Killer Bos
Lost Memory


__ADS_3

David menunggu Alana sadar, dia tidak pergi ke mana pun. Seperti yang dokter katakan, kemungkinan Alana akan hilang ingatan saat dia sadar dan dia tidak mau hal itu terjadi. Perasaan cemas dan takut tak henti dia rasakan. Jujur saja, dibandingkan dengan hilang ingatan, dia justru takut Alana mengalami koma. Itu lebih buruk dari pada hilang ingatan.


Entah sudah berapa lama, David tidak tahu. Dia melupakan pekerjaannya, rapat penting yang harus dia hadiri pun dibatalkan. Semua itu terasa tidak penting lagi karena yang paling penting saat ini adalah keadaan Alana. David juga tahu jika Veronica sudah melarikan diri ke tempat lain. Veronica pasti akan dia temukan dan wanita itu harus mempertanggungjawabkan apa yang telah dia lakukan.


Alana yang sedang di antara mimpi dan kenyataan setelah kecelakaan itu membuka kedua mata dengan perlahan. tempat yang sangat asing, entah di mana dia saat ini. Alana pun melihat sekitarnya, seorang pria sedang duduk di sampingnya tapi pria itu seperti sedang tertidur. Siapa? Banyak pertanyaan dan dia tidak mengingat apa pun.


Aneh, dia bahkan tidak tahu siapa dirinya. Namanya saja dia tidak ingat. Alana memegangi kepalanya yang sakit, apa sebenarnya yang terjadi dengannya? Tiba-Tiba dia jadi haus, Alana melihat ke arah David dan gelas minuman yang ada di atas meja. Sepertinya mau tidak mau dia harus meminta bantuan pria asing itu.


"Hei, kau yang ada di sana!" Alana memanggil David untuk meminta bantuannya.


"Hei, kau yang di sana dan yang terlihat pelit!" teriak Alana lagi karena David tidak merespon.


David terbangun, buru-buru menghampiri Alana yang sudah sadar dengan ekspresi senang. Akhirnya gadis itu sadar juga, dia tampak lega karena apa yang dia takutkan tidak terjadi.


"Apa kau baik-baik saja, Alana?" tanya David, dia harap Alana baik-baik saja.


"Haus, ambilkan aku air!" pinta Alana.


David bergerak cepat, mengambil gelas dan setelah itu memberikannya pada Alana. Dia juga membantu Alana sampai gadis itu meneguk airnya sampai habis. Sepertinya Alana baik-baik saja namun pertanyaan Alana justru membuatnya terkejut.


"Siapa kau? Kenapa aku ada di sini?" tanya Alana sambil menatap David dengan tatapan curiga.


"Apa kau tidak mengingat aku, Alana?"


"Mana aku tahu siapa dirimu. Lagi pula kenapa aku ada di sini dan kenapa aku tidak ingat dengan apa pun?!"


"Kau tidak ingat dengan apa pun?" David mengernyitkan dahi, sepertinya yang diprediksi oleh dokter sangat benar jika Alana akan mengalami amnesia.


"Jika aku ingat maka aku tidak akan bertanya padamu! Sekarang siapa kau, dan siapa aku?!" tanya Alana.


David belum menjawab, apa Alana benar-benar tidak ingat apa pun? Atau dia hanya pura-pura saja untuk menipunya? Tapi jika dilihat dari sifatnya yang sedikit berubah, sepertinya Alana tidak sedang berpura-pura.


"Jawab, kenapa kau diam saja?!" teriak Alana. Sifatnya benar-benar berubah menjadi lebih galak dari pada sebelumnya.


"Tidak perlu berteriak, aku tunanganmu!" jawab David.


"Seriously?" teriak Alana tidak percaya.


"Kenapa berteriak seperti itu? Apa kau tidak percaya?"


"Tentu saja aku tidak percaya. Kau terlihat pelit, apa aku sudah gila mau bertunangan dengan pria pelit seperti dirimu?"

__ADS_1


"Kau!" David sangat kesal karena Alana tidak mau bertunangan dengannya. Meskipun Alana sedang hilang ingatan dan meskipun mereka memang bukan tunangan tapi rasanya tetap mengesalkan. Walau sedang dalam keadaan hilang ingatan, Alana tetap saja bersikap menyebalkan.


"Jika begitu siapa namaku, usia dan kenapa aku bisa bertunangan dengan pria pelit seperti dirimu?!"


"Ck, aku tidak pelit jadi jangan asal bicara!"


"Jika begitu siapa namaku dan namamu?" Alana menatapnya dengan tatapan galak.


"David, jangan lupakan nama tunanganmu dan kau Alana, Alana Douglas jadi jangan lupa!"


"Apa? Kenapa namaku begitu jelek?!" teriak Alana tidak terima.


"Apa maksudmu jelek?"


"Aku tidak suka nama bagian belakangnya, rasanya tidak enak didengar!" ucap Alana.


"Sembarangan, jangan asal bicara!" karena kesal, David mencubit pipi kanan dan pipi kiri Alana.


"Hei, sakit. Jangan menindas orang asik!" Alana memegangi tangan David menggunakan satu tangannya.


"Mulutmu ini semakin cerewet!" ucap David tanpa mempedulikan teriakan Alana.


"Tolong, pria ini tidak saja pelit tapi penindas!" teriak Alana.


"Tuan, tidak baik menindas orang sakit!" sang perawat menghampiri Alana di mana David sudah melangkah mundur.


"Bagaimana dengan keadaanmu, Nona?" tanya sang perawat.


"Tidak baik, apa yang terjadi denganku?" tanya Alana.


"Nona mengalami kecelakaan, apa Tuan ini tidak mengatakannya?" tanya perawat itu pula.


"Aku yang akan berbicara dengannya dan sekarang panggilkan dokter karena ada yang hendak aku bicarakan!" ucap David.


"Baik, Tuan," sang perawat itu keluar dari ruangan meninggalkan David dan Alana.


"Hei, serius aku mengalami kecelakaan?" tanya Alana.


"Yeah," David kembali menghampiri Alana dan duduk di sisinya. Tangan Alana di genggam, David menatapnya dengan serius.


"Aku sudah lalai menjagamu Alana, maafkan aku. Seharusnya aku bisa melindungi dirimu tapi aku membiarkan hal ini terjadi. Aku sungguh tidak menduga jika si licik itu akan melakukan hal keji seperti ini untuk mencelakai dirimu."

__ADS_1


"Si licik siapa? Apa selingkuhanmu?" tebak Alana.


"Sembarangan, aku tidak memiliki selingkuhan!"


"Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dan apa maksud ucapanmu?"


"Nanti kita bahas lagi, tapi dengarkan aku baik-baik. Selain denganku kau tidak boleh mempercayai siapa pun yang tidak kau kenal. Kau mengerti?"


"Kenapa tidak boleh? Kenapa aku harus mempercayai dirimu?"


"Apa kau tidak mempercayai aku saat ini, Alana?"


"Tentu saja aku tidak percaya, bisa saja kau menipu aku saat ini dan berkata jika kau adalah tunanganmu."


"Untuk itu, aku tidak bohong," ucap David tapi sebenarnya dia bohong.


"Baiklah, baik. Aku merasa aneh, beri aku waktu untuk mencerna semua ini," pinta Alana. Meskipun hanya pria itu saja yang ada di sisinya tapi dia tidak boleh percaya begitu saja.


"Baiklah, beristirahatlah. Aku akan berbicara dengan dokter mengenai keadaanmu."


"Kaki dan tanganku?" Alana melihat satu kaki dan tangannya yang tidak bisa digerakkan.


"Kaki dan tanganmu akan sembuh, tidak perlu khawatir."


"Baiklah, terima kasih," ucap Alana.


"Tidak perlu berterima kasih, semua gara-gara aku!" David menunduk dan memberikan kecupan di dahi Alana, "Aku akan selalu bersamamu dan menjagamu dan mulai sekarang, aku tidak akan membiarkan kau mengalami hal seperti ini lagi. Aku berjanji padamu," ucapnya lagi.


Alana hanya diam saja, kenapa dia merasa sangat asing dengan apa yang pria itu lakukan? Apa karena dia tidak memiliki ingatan apa pun atau jangan-jangan mereka bukanlah tunangan. Sebaiknya dia beristirahat sebentar, mungkin saja ingatannya kembali saat dia terbangun nanti.


David masih duduk di sisi Alana, sampai gadis itu tertidur dan ketika dokter masuk ke dalam, David beranjak untuk berbicara mengenai keadaan Alana yang kehilangan ingatannya.


"Bagaimana dokter, berapa lama dia akan mengalami hal seperti itu?" tanya David.


"Kita lihat nanti, Tuan. Bisa saja keadaannya seperti itu akibat shock yang sedang dia alami. Jika memang itu yang terjadi, maka keadaannya bisa kembali normal."


"Jadi itu berarti dia tidak akan mengalami hilang ingatan begitu lama?"


"Kita lihat saja nanti, semoga saja keadaannya seperti itu akibat shock."


David mengangguk, tatapan mata tertuju pada Alana. Dia harap ingatan Alana segera kembali agar dia mengingat semuanya. Seperti yang dia ucapkan, mulai sekarang dia yang akan menjaga Alana dan merawatnya sampai sembuh.

__ADS_1


__ADS_2