
Satu tangan Alana mulai memukul bahu David saat mereka sudah berada di dalam kamar. Tidak boleh, mereka tidak boleh melakukannya lebih jauh dari pada itu. Jangan sampai mereka tidak bisa mengendalikan diri lalu melakukan perbuatan yang tidak pantas dilakukan oleh pelayan dan majikan.
David sudah duduk di sisi ranjang dengan Alana berada di atas pangkuannya. Bibir gadis itu belum dia lepaskan bahkan tangan Alana yang tadinya memukul bahu David sudah berada di genggaman tangan pria itu. David sangat ingin berhenti, dia tahu apa yang mereka lakukan saat ini adalah salah tapi dia tidak bisa berhenti sama sekali.
Satu tangan David sudah berada di dalam baju Alana. Tentunya hal itu membuat Alana semakin kalang kabut. Dia memang menggoda David waktu itu, tapi dia sudah berniat mati jika mereka sudah melakukannya. Sekarang sangatlah berbeda, dia tidak mau melakukannya dalam keadaan mereka yang seperti itu.
Bibir Alana dilepaskan, napas mereka berdua memburu. Alana mengatur napasnya sebelum berbicara sedangkan David mencium leher Alana tanpa henti.
"Hentikan, David. Hentikan sebelum kita berdua tidak bisa mengontrol diri lagi!" pinta Alana.
"Aku tidak bisa berhenti, Alana. Kau yang sudah membuat aku seperti ini jadi kau harus bertanggung jawab!" David kembali mencium lehernya, meninggalkan sebuah tanda merah di sana. Alana terkejut, kedua mata tertutup rapat. Dia merasa aneh, tubuhnya mendadak panas apalagi tangan David tak henti membelai tubuh bagian depannya.
"Ja-Jangan, David," pinta Alana yang masih memiliki sedikit akal sehat.
"Jangan? Bagaimana aku harus menghentikannya? Katakan padaku bagaimana caranya?"
Baju yang dikenakan oleh Alana sudah diangkat naik dan dilepaskan, penutup dada yang sedari tadi memang sudah terlepas dilemparkan entah ke mana. Alana sudah pasrah, dia benar-benar bisa menyerahkan dirinya dengan mudah karena sentuhan tangan David yang bermain di puncak dadanya tiada henti.
"Sekarang katakan padaku, bagaimana caranya untuk berhenti?" David memandangi wajah Alana namun tangannya tak henti bermain.
"Ss.. top!" pinta Alana dengan suara berat.
"Kau belum menjawab, bagaimana caranya aku harus berhenti?"
Alana menggigit bibirnya sekuat mungkin agar dia tidak semakin terbuai dengan sentuhan juga ciuman David yang kembali berada di lehernya. Bibir pria itu semakin ke bawah dan ke bawah. Tidak, David ingin dia yang menghentikan semua itu. Jika dia pasrah maka mereka akan berakhir di atas ranjang dengan keringat yang membanjiri tubuh. Sebelum itu terjadi, lebih baik segera dia hentikan.
Bibir David sudah hampir tiba dia di bagian itu, untuk menikmatinya. Alana yang masih memiliki sisa kesadaran, menunduk lalu menggigit bahu David dengan kencang. Pria itu berteriak, Alana menggigitnya sekuat mungkin agar mereka berdua kembali waras.
"Hentikan, Alana!" teriak David seraya mendorong tubuh Alana.
"Kita harus kembali waras, harus waras!" ucap Alana tanpa melepaskan gigitannya.
"Ingin waras ke rumah sakit jiwa, bukan menggigitku!" sekarang dia berusaha menyingkirkam wajah Alana.
Alana menggigit sampai puas, sepertinya mereka berdua kembali waras. David memegangi bahunya sambil meringis. Gigitan Alana benar-benar luar biasa sakit. Sekarang dia mendapatkan tiga bekas gigitan, sungguh luar biasa. Alana terengah, dia tampak puas.
"Beraninya kau, Alana?" kini dia tampak marah.
"Ka-kau yang mulai duluan!" Alana sudah beranjak dan berlari ke arah bajunya berada.
__ADS_1
"Yang memulai adalah kau!" David pun beranjak sambil memegangi bahunya.
"Kau yang duluan, bukan aku!" teriak Alana lagi sambil memakai bajunya.
"Kau akan membayar mahal untuk ini, Alana!" David sudah melangkah mendekat, tentunya Alana hendak lari namun dia kembali tertangkap.
"Aku akan menerima berapa pun penalty yang akan kau berikan padaku, David. Tapi biarkan aku pergi dari sini!" teriak Alana.
"Kali ini kau tidak akan bisa membayarnya dengan penalty!" ucap David. Tangan Alana ditarik hingga tubuh gadis itu berada di dalam dekapan David.
"La-Lalu?" Alana gugup luar biasa. Entah apa yang terjadi dengan mereka berdua, tapi dia lebih suka hubungan mereka yang seperti pelayan dan majikan.
"Tidur denganku, maka aku akan melupakan apa yang telah kau lakukan padaku dan aku pun akan lupa dengan apa yang telah kita lakukan tadi."
"Ha-hanya tidur saja, bukan?" jika hanya tidur saja maka dia tidak akan keberatan karena mereka sudah pernah melakukannya.
"Apa kau ingin yang lainnya?" tanya David.
"Tidak, aku tidak mau!" jawab Alana dengan cepat.
"Jadi, apa kau bersedia tidur denganku malam ini?"
"Jika begitu pergi, aku tunggu nanti malam. Awas jika kau tidak datang, aku yang akan ke kamarmu. Kau mengerti?"
"A-Aku tahu!" Alana melarikan diri dengan terburu-buru setelah David melepaskan dirinya.
David merasa sangat aneh, apa yang telah terjadi? Seharusnya tidak melakukan hal demikian pada mantan nona muda yang tidak berguna itu tapi kenapa dia justru meminta Alana tidur dengannya.?Aneh, gadis itu benar-benar sudah berhasil menggodanya. Sebaiknya dia mandi saja, menjernikan pikirannya tapi terus terang, dia sangat menantikan malam cepat datang.
Alana pun berendam di dalam bathtub dan tak henti mengusap tanda merah yang dibuat oleh David di leher dan dadanya. Gila, sepertinya mereka berdua sama-sama sudah gila. Alana terus mengusap tanda merah yang tidak juga hilang. Sebaiknya dia menyembunyikan tanda itu agar tidak ada yang melihat terutama nenek david. Jangan sampai ada yang salah paham dengan tanda tersebut.
Alana berendam cukup lama, dia malas keluar. Rasanya ingin bersembunyi, jika ada sebuah lubang mungkin sudah dia lakukan. David yang sudah menanti pun tampak tidak sabar, oke... memang ada yang aneh pada dirinya tapi dia tidak mau memikirkan hal itu. Segelas minuman justru menjadi pelarian atas apa yang dia alami saat ini.
David menunggu di dalam kamar sampai akhirnya, pintu kamarnya diketuk oleh Alana. Ternyata sudah waktunya, senyuman menghiasi bibir, entah kenapa malam ini dia benar-benar senang. pintu kamar kembali diketuk, gelas minuman di letakkan dan setelah itu David melangkah menuju pintu.
Alana pasti memakai sebuah gaun tipis dan terlihat cantik tapi nyatanya? David terkejut melihat penampilan gadis itu.
"Apa yang kau pakai?" tanya David sambil memijat pelipis.
"Aku pakai baju," jawab Alana seraya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
"Berapa lapis, hah?" tanya David dengan nada kesal.
"Sepuluh, dua puluh. Entahlah!" jawab Alana.
"Apa kau pikir aku mau memperkosa dirimu?" teriak David kesal.
"Untuk jaga-jaga. Sudah, aku mau tidur!" Alana cuek saja dan melangkah menuju ranjang.
"Sial!" David membanting pintu dengan kasar. Malam ini dia benar-benar mendapat bantal yang empuk yaitu Alana dengan baju berlapis-lapisnya. Sungguh luar biasa. Alana bahkan sudah berbaring dan menyembunyikan diri di dalam selimut. Dia jadi ingin tahu, apa tidak panas?
David yang kesal mematikan pendingin ruangan, dia ingin lihat sampai di mana Alana bisa bertahan. Alana yang berada di bawa selimut sudah tidak tahan, dia merasa berada di dalam oven.
"Kenapa begitu panas?" teriaknya.
"Pendingin ruangannya rusak!" jawab David.
"Bohong!" Alana menatapnya tajam.
"Tidak percaya yang sudah!" David berbalik, pura-pura tidak peduli.
"Kau?" Alana sangat kesal.
David cuek saja, pura-pura tidur. Alana berusaha bertahan, tapi pada akhirnya dia tidak tahan juga sehingga mau tidak mau bajunya yang berlapis-lapis dilepaskan hingga menyisakan yang tipis. Sial, dia hampir jadi daging bakar akibat panas.
David tersenyum dalam diam, akhirnya. Salah sendiri menggunakan baju sebanyak itu. Apa dia penjahat?
"Kemari!" perintahnya sambil mengulurkan tangan.
"Menyebalkan!" sudah dia duga pria itu sengaja.
"Kemari, cepat!" perintahnya lagi.
Mau tidak mau Alana berbaring di sisinya. Pendingin ruangan kembali dinyalakan sebelum David memeluk Alana.
"Dasar kau curang!" ucap Alana kesal.
"Aku tidak mau tidur dengan roti lapis!"
"Hm!" Alana mendengus, sebaiknya dia tidur saja dari pada berdebat. Kedua tangan David tak henti mengusap rambut Alana sampai gadis itu tidur tapi sayangnya, David tidak bisa tidur sama sekali. Pria itu mengumpat dalam hati, sepertinya dia sudah menggali lubang kuburnya sendiri.
__ADS_1