
Veronica yang menunggu kepulangan nenek David sangat senang mendapati wanita tua itu sudah tiba. Dia sangat yakin nenek David bisa menyingkirkan Alana Meyyer dari rumah David. Gadis yang sudah tidak memiliki apa pun itu tidak mungkin bisa menolak tawaran yang sangat menggiurkan dari sang nenek.
Veronica sudah tidak sabar, oleh sebab itu begitu nenek David duduk di tempat duduknya, Veronica langsung berdiri di belakang untuk memijat bahu sang nenek. Dia melakukan hal itu untuk mengambil hati Ellen Douglas dan mencari tahu apakah sang nenek sudah berhasil mengusir Alana atau belum.
"Bagaimana, Nenek?" tanyanya, kedua tangan tidak henti memijat bahu Ellen.
"Tidak perlu khawatir, Nenek sudah memberikan tawaran yang tidak mungkin dia tolak. Tinggal menunggu jawaban darinya saja, maka dia akan segera pergi!"
"Apa? Jadi Nenek belum mendapatkan jawaban darinya?"
"Dia meminta waktu untuk berpikir, besok aku akan menemuinya lagi!"
"Nenek," Veronica beranjak dan berlutut di bawah kaki Ellen, "Seharusnya Nenek tidak memberinya waktu, seharusnya nenek langsung memintanya mengambil keputusan saat itu juga agar dia tidak ragu dan agar dia langsung pergi saat ini juga!" ucapnya lagi.
"Dia yang meminta jadi nenek berikan saja," ucap Ellen.
"Nenek terlalu baik, seharusnya tidak memberikan kesempatan untuknya berpikir. Besok dia pasti menolak tawaran yang akan nenek berikan!" rasanya sangat kesal, wanita tua itu justru berbaik hati.
"Aku tidak memikirkan hal ini, tapi kau tidak perlu takut karena David tidak mungkin menyukai pelayannya. Sekarang nenek ingin tahu, siapa gadis itu?"
"Apa Nenek tahu suami istri yang baru saja bunuh diri beberapa waktu yang lalu?"
"Apa hubungannya dengan gadis itu?" tanya Ellen.
"Dia putrinya, seorang pecundang yang tidak berguna dan sekarang, dia jadi beban bagi David. Sekarang bagaimana, Nenek. Jika David tahu, dia akan membenci aku."
"Kau tidak perlu takut, besok aku akan menemuinya lagi. Jika dia menolak, kita cari cara lain untuk mengusirnya pergi dari rumah David."
Veronica mengangguk, meskipun dia tidak yakin. Sekarang dia hanya bisa mempercayai Nenek David saja, tapi besok dia harus pergi bersama dengan nenek David agar tidak ada kesempatan lagi untuk Alana. Besok, dia harus memastikan Alana pergi dari rumah David sehingga tidak mengganggunya dan David.
Tentunya yang menginginkan Alana pergi dari rumah David bukan Veronica saja, Stanley pun sedang mencari keberadaan Alana karena dia ingin membawa Alana. Seorang informan yang akan membantunya sudah datang, foto Alana pun sudah diberikan pada informan itu.
__ADS_1
"Aku ingin kau mencarinya!" perintah Stanley.
"Apa ada petunjuk?"
"Dia bersama dengan David Douglas, pria itu menyembunyikannya. Aku tidak punya waktu untuk mencarinya sebab itu aku butuh bantuan darimu."
"Baiklah, ini perkara mudah. Serahkan saja padaku!" foto Alana sudah berpindah tangan, mencari gadis itu tentunya bukan perkara sulit. Entah kenapa Stanley menginginkan Alana, yang pasti dia ingin merebut Alana dari tangan pria yang tidak dia sukai. Cukup satu kesempatan lagi untuk bertemu dengan Alana, dia ingin memberikan bantuan pada gadis itu tentu dengan sebuah tujuan. Sesungguhnya dia sudah meminta seseorang untuk memberi tawaran pada Alana, dan orang itu adalah pria yang Alana temui di kamar mandi restoran. Tapi sampai sekarang, Alana tidak menghubungi nomor ponsel yang diberikan. Sepertinya Alana tidak percaya dengan pria yang di utus oleh sebab itu, dia harus bertemu dengan Alana dan berbicara secara pribadi dengannya.
Alana yang masih harus banyak belajar dan tidak tahu apa pun sedang membersihkan piring kotor. Rasanya sangat lelah, lagi-lagi dia merasa menjadi pelayan tidaklah mudah. Setelah ini dia mau beristirahat tapi bos menyebalkannya itu tidak juga beranjak dari meja makan.
Segelas minuman hangat sudah berada di atas meja, Alana merasa tidak nyaman karena David menatapnya sedari tadi. Sebenarnya apa yang diinginkan oleh pria menyebalkan itu? Rasanya sudah tidak tahan, lebih baik mencari tahu apa yang pria itu mau.
"Sebenarnya apa yang kau inginkan?" tanya Alana seraya berbalik.
"Katakan padaku, kenapa kau bertanya padaku apakah aku mau menerima uang nenekku atau tidak? Bukankah kau bisa mengambil tawaran menggiurkan itu tanpa perlu bertanya padaku?"
"Aku memang bisa menerimanya tanpa perlu bertanya," Alana menghela napasnya dan kembali berbalik.
"Aku memang ingin terbebas dari bos menyebalkan seperti dirimu tapi setelah aku pergi dari sini, aku mau tinggal di mana? Apa yang bisa aku lakukan? Bukankah kau berkata aku tidak berguna? Tidak ada yang akan memberikan pekerjaan pada mantan Nona muda yang tidak berguna ini. Jangan sampai aku jadi gelandangan di luar sana setelah aku terbebas darimu!" jelas Alana.
"Bagus," jawaban yang diberikan oleh Alana benar-benar memuaskan karena sekarang gadis itu sudah bisa mengambil keputusan untuk dirinya sendiri.
"Apanya yang bagus?" Alana berpaling dan menatapnya dengan sinis.
"Bagus karena otakmu berfungsi sekarang!"
"Sembarangan, apa kau kira otakku tidak berguna selama ini?" teriak Alana marah.
"Bukannya demikian? Jika otakmu berfungsi maka kau tidak akan berpikir untuk bunuh diri saat itu!"
"Jangan menghina, waktu itu otakku sedang ketinggalan di kamar!" ucap Alana beralasan.
__ADS_1
"Oh, jadi sebab itu kau melepaskan bajumu tanpa malu dan menggoda aku untuk tidur denganmu?"
"Ja-Jangan diungkit lagi hal memalukan itu!" Alana memalingkan wajahnya yang memerah.
"Untuk apa malu sekarang, aku sudah melihatnya!"
"Stop, malam itu aku memang kehilangan akal sehatku. Maaf karena aku sudah menggoda dirimu, aku harap kau melupakannya," pinta Alana.
"Apa kau kira mudah melupakan hal seperti itu, Alana?" David beranjak dan melangkah mendekatinya.
Alana menahan napas saat David sudah berdiri di belakangnya. Jantungnya hampir melompat keluar ketika kedua tangan David berada di pinggangnya. Apa yang ingin pria itu lakukan? Alana jadi salah tingkat saat David memutar tubuhnya dengan perlahan, tangan David sudah berpindah dari pinggang ke dagunya.
"Ma-Mau apa kau?" tanya Alana dengan napas yang tertahan.
"Mau apa?" David melangkah mendekat hingga langkah Alana semakin mundur ke belakang. Kakinya sudah membentur lemari, ruang untuknya lari sudah tidak ada sehingga dadanya sudah terhimpit oleh dada David yang bidang.
"Da-David, jangan main-main!" pintanya. Kini napasnya memburu, jantungnya pun berdetak kencang.
"Main-Main? Waktu itu kau tidak main-main jadi aku juga tidak akan main-main!" dagu Alana diangkat tinggi, Alana semakin salah tingkah.
"Kini giliranku yang menggodamu!"
"Apa?" Alana terkejut saat bibir David yang dingin menempel pada bibirnya. Alana linglung seketika, otaknya tidak bisa lagi berpikir dengan jernih. David pun demikian. Ciumannya semakin dalam, lidahnya pun sudah masuk ke dalam.
Dia hanya ingin menggoda Alana saja, hanya ingin menggoda gadis itu tapi kenapa jadi tidak bisa berhenti? Tubuh Alana diangkat lalu didudukkan ke atas meja. Alana yang tadinya diam saja, tiba-tiba saja memeluk leher David dan membalas ciuman pria itu.
Celaka, mereka berdua sudah melewati batas antara pelayan dan majikan. Tidak ada yang menghentikan apa yang mereka lakukan, bibir Alana masih dicium dengan buas dan tubuhnya dipeluk dengan erat. Detak jantung Alana terdengar, kepalanya kosong. Sepertinya otaknya ketinggalan di kamar lagi oleh sebab itu dia mau melakukan hal itu.
"Ikut denganku!" ucap David setelah melepaskan bibir Alana.
"Apa?" Alana belum mengerti namun tubuhnya sudah berada di gendongan David dan pria itu kembali mencium bibirnya. David membawa Alana menuju kamarnya, kini akal sehat Alana mulai kembali. Apa yang mau dilakukan oleh David?
__ADS_1