Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
PROLOG


__ADS_3

Dulu.. dulu sekali, 2 tahun yang lalu, pernah ada seorang yang mencintaiku. Melindungi dan memahami apapun yang menjadi bebanku, apapun yang ku keluhkan. Tentang cinta, tentang harapan, tujuan hidup, gimana aku harus bertahan, gimana menyelesaikan masalah, gimana aku harus sabar menerima, dan bersyukur dengan apa yang sekarang ku miliki. Bagaimana aku harus menghadapi kekecewaan karena memang semua hal tidak bisa seperti yang kita inginkan.


Dia seorang asing yang ku kenal lewat maya. Lewat ketikan-ketikan huruf di keyboard yang penuh makna, saling bercerita, ketawa, ada kala dia menggoda, kadang berdebat dan tak ada yang mau mengalah. Semua itu berlanjut hingga kita sama-sama berani untuk bertatap muka, walau hanya lewat layar kaca.


Setiap hari dia menemaniku bicara, melihat senyumnya, mendengar suaranya, sungguh menenangkan. Meskipun aku belum pernah berjumpa secara nyata. Kita bisa nyambung, selalu punya topik untuk dibicarakan. Tak pernah bosan aku bicara dengannya. Seperti ada kecocokan yang tak bisa dijelaskan. Mungkinkah sekedar mendengarnya telah membuatku jatuh cinta. Yang ku tahu aku tak pernah ingin berhenti ketika kita telah masuk dalam percakapan-percakapan meskipun dengan pembahasan yang sederhana. Yang ku tahu aku selalu ingin mendengar apapun tentang dia.


Pada bulan ketiga aku mengenalnya, kita merencanakan pertemuan. Tidak pernah ku sangka, walau hanya lewat maya kita akan melanjutkan hubungan lebih dari sekedar teman cerita. Dia pernah mengutarakan isi hatinya, tapi tak terlalu aku pikirkan karena ini Cuma tulisan belaka, hanya via teks saja. Namun aku sedikit, ya masih sedikit menanggapinya, pada awalnya, sebelum akhirnya aku benar-benar ingin bersamanya.


***


Pagi itu, hari ke-18 di tahun baru, seolah menjadi hari yang ku nantikan. Kita sepakat bertemu untuk pertama kalinya. Aku berharap dalam pergantian tahun itu, semua menjadi lebih baik lagi. Sedih-sedih yang pernah ku lalui semoga terbang bersama angin, menjemput bahagia yang selama ini ku ingini. Hatiku berdebar menunggunya, berharap pertemuan kali ini menyenangkan dan membawa harapan baru dalam hidupku. Ku buka tutup layar ponselku, menunggu kabar darinya. Dia tidak mungkin ingkar janjikan untuk pertama kalinya, pikirku.

__ADS_1


Hujan deras mendera, aroma tanah menguar di udara. Aku berharap air segera menguap ke tempat yang jauh. Aku menunggu sangat lama, hingga akhirnya ponselku berdering. Dengan cepat aku tekan tombol hijau, terdengar suara orang yang sangat ku nantikan kedatangannya. Dia bilang dia lagi dijalan kerumahku, namun dia salah jalan. Aku tertawa terbahak-bahak. Diapun menyeringai juga. Lalu, aku kirimkan maps via whatsapp.


Tengah hari, dia sampai di rumahku. Pertama kali melihat senyumnya, sungguh menawan. Hidungnya menjadi ciri khas di wajahnya. Dengan kaos putih bercorak warna biru langit, menambah kesan dirinya. Kalem dengan perpaduan celana pendek warna hitam. It’s simple tapi keren. Lalu dia berkata pelan menyapaku, suaranya nyaring ditelingaku. Aku terpesona, untuk pertama kalinya dia nyata dihadapanku. Dia menatapku dengan senyum yang mengesankan menurut perasaanku.


Dia meminta izin pada makcik ku, karena ibuku sedang memasak di acara reunian keluarga temannya. Ini pertama kalinya, ini nyata, dia lelaki pertama yang berani datang menjemputku. Pada pertemuan pertama, dan dia menjadi cinta pertamaku juga. Dia lelaki yang dengan waktu singkat mampu meraih hatiku yang telah kosong selama ini.


Sepanjang jalan disertai rintik-rintik hujan, motornya melaju pelan, bahunya menguar kehangatan. Beberapa saat kita hanya terdiam, hanya deru mesin motor yang lalu lalang terdengar bingar. Angin berhembus menyeringai keheningan. Hingga suaranya memecah pikiranku, perlahan-lahan topik demi topik tercipta, berganti cerita, bercanda, dan membawa kita sampai pada tujuan.


***


Dia melajukan motornya, menembus pasir-pasir, menikmati aroma pantai setelah hujan, rasa ini beda. Aku begitu berani menaruh harapan, pada sosok asing yang belum lama ku kenal. Aku tak tahu, setahuku aku nyaman. Aku mulai membuka hatiku yang telah lama sepi. Aku benar-benar jatuh hati. Perkenalan yang belum begitu lama, aku gegabah menerima dia. Dengan keyakinan dia akan menjadi satu-satunya yang menemani dan membangkitkanku dari keterpurukan. Menciptakan kebahagiaan yang ku nantikan. Dan menjadi satu-sayunya lelaki yang akan menua bersamaku, bersama buah hati yang lucu-lucu.

__ADS_1


Namun pada akhirnya, dia Cuma menjadi kenangan, perkenalan kita hanya untuk perpisahan. Dia hanya mengajariku cinta tanpa bisa bertanggung jawab pada rasa yang ia cipta. Cinta kita hanya untuk saling menyakiti pada akhirnya.


Dan aku sekarang disini, duduk seperti kala itu, memandang pantai, merenungi kisah yang telah lama silam. Aku kembali ke tempat pertama kali kita bertemu, ke tempat pertama kali dia mampu menaklukkan cintaku, yang sekaligus menjadi tempat terakhir aku berpamitan dengannya. Sekarang aku hanya ingin mengingat saja, apa yang masih bisa ku ingat, untuk ku ceritakan kembali masa yang sudah lama berakhir, antara aku dan dia. Bercerita bersama angin, bahwa cintaku pernah bersemi lalu ditelan ombak dan tenggelam. Bercerita pernah ada sosok lelaki yang mencintaiku lalu demi cinta juga dia meninggalkanku.


Aku kembali disini, berharap bertemu dia. Ingin mengungkapkan apa yang tak pernah bisa ku utarakan selama ini. Setelah sekian lama, aku mengajaknya berjumpa lagi. Dalam diam aku menunggunya. Menandang jauh, mendengar riuh angin, mencoba berdamai pada diri sendiri. Bahwa kali ini aku datang hanya untuk menghentikan semuanya, tentang rasa, dan tentang cinta.


Hatiku berdebar seperti apa rupanya setelah dua tahun tak bertemu. Seperti apa dia menjalani kehidupannya. Berapa Kali dia mencoba mengenal wanita baru dalam kesehariannya. Berapa banyak wanita yang berharap menjadi pendampingnya. Aku membayangkannya, aku terlalu jauh berpikir apa yang belum ku ketahui. Aku selalu bertanya-tanya. Aku selalu ingin tahu apa yang dilakukannya meskipun hubungan kita hanya sekedar persahabatan. Karna cintaku telah lama diputuskannya. Namun dia masih berada disisiku. Sungguh aku tak memahami bagaimana hubungan ini sebenarnya. Kita yang diikat cinta, dipaksa berpisah tapi dia selalu mengelilingi hidupku seolah aku telah dikunci dan tak bisa lari.


Jauh ku menatap terdengar langkah kaki yang semakin mendekat. Berdecak dengan pasir yang menghampar. Berirama dengan detak jantungku yang semakin lama semakin berdebar. Pikiranku terhenti membayangkan, bagaimana aku akan bersikap. Akankah ada kecanggungan diantara kita? Bagaimana dia sekarang, masihkah pria yang sama seperti pertama kali aku menjumpainya?


“Hai..”

__ADS_1


Aku menoleh, dan itu dia..


__ADS_2