Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Meeting


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu, keadaan mulai membaik, hubunganku dengan kak Fariz mengalir seperti yang ku harapkan. Namun, belum lama kebahagiaan itu berjalan, selalu saja ada masalah yang merenggangkan hubungan kami.


Kala itu aku sedang menangis di balkon, aku rindu ayahku yang tak pernah ku tau kabarnya. Jarang sekali kita komunikasi. Bukan hanya jarak yang menjadi pemisah tapi ibu tiriku juga. Dia membatasi pertemuan kami.


“Kamu kenapa?” kak Fariz menghampiriku.


“Gapapa kok,” aku berusaha tersenyum untuknya.


“Cerita?” dia duduk disampingku dan menggenggam tanganku.


Bibirku menceritakan semua padanya, tentang perasaanku, tentang semuanya. Kak Fariz memahami apa yang ku rasa, karena dia berasal dari keluarga broken home juga. Dia bisa lebih lembut padaku untuk menyatakan opininya.


Ketika kita bercerita pada yang pernah merasakannya, pernah berada di keluarga broken home juga, akan lebih mudah dipahami, walau kisah-kisah kita berbeda. Namun bila aku bercerita dengan yang tak pernah paham dan mengalaminya, yang ada aku dihujat. Mereka akan berkata kamu kurang sabar, kamu kurang bersyukur, banyak yang lebih menderita dari kamu, dan bla-bla lainnya.


Aku paham akan itu, manusia nggak sama, batas dia bisa berada dititik terendah berbeda dengan orang lain. Mungkin yang dilihat orang aku kurang bersyukur, karena mereka tak mengerti cara bersyukurku, mereka dan aku punya persepsi sendiri memaknai rasa syukur itu, dan seberapa mampu aku bersabar, Cuma aku yang tau.


Apalah daya karena kebanyakan hanya menilai apa yang mereka lihat, tanpa mau peduli dari sudut pandangku juga. Haha aku hanya bisa tertawa dan berkata, “ya aku paham, aku mengerti,” dan hanya mengiyakan semua pendapat mereka yang selalu bertentangan dengan nuraniku, yang tak selalu seperti apa yang ku rasa.


Lebih susah berdebat dengan orang yang nggak paham situasi, daripada aku terus memaksakan rasaku, yang ada hanya kata-kata yang semakin menjatuhkan, lebih baik aku memposisikan bahwa aku sependapat dengan mereka. Meskipun Ya inilah aku, orang yang selalu banyak mengeluh.


Terkadang aku juga iri melihat mereka, mereka dengan keadaan sepertiku namun begitu tegar, selalu pandai menyembunyikan rasa sakitnya, selalu bisa tertawa. Tapi itu hanya apa yang aku lihat, aku nggak tau seberapa banyak mereka berjuang, sebanyak apa rasa sabarnya, seperti apa cara bersyukurnya, pernahkah mereka mengeluh, aku tak mendalami perasaan mereka.


Di sisi lain, aku tak bisa membandingkan diriku dengan orang lain, jika aku seperti ini, ya inilah aku. Aku bukan yang pandai menangis dalam diam, yang pandai ketawa padahal terluka, yang pandai baik-baik saja ketika aku begitu rapuh dan kecewa.


Di fase ini, aku bahagia menemukan kak Fariz yang bisa kujadikan sandaran. Aku merasa dia memang pantas aku pertimbangkan.


***


Di tempat lain, Ulya tengah asyik ngobrol di ayunan bersama Riska.


“Eh.. tengok dehh ke atas, bukankah itu kak Fariz sama Dyana.” Riska memberitahu Ulya.


“Iya ya,, harus bilang nih sama koordinator,” Ulya berseru.


“Kayanya mereka pacaran deh,”


“Masak sih, aku sebel banget tau Ris, sama Dyana, aku denger dia mau dijadiin bendahara,”


“Benarkah? Secepat itu dia mau naik pangkat,”


“Padahal aku pengen banget di posisi itu,” Ulya mengharapkan.

__ADS_1


“Dyana emang nyebelin, kayanya dia pinter banget menggoda orang, aku udah suka lama sama Kak Fariz, bahkan sebelum dia datang. Dulu kak fariz sering nyamperin aku, sekarang nggak pernah.” Riska memberitahukan perasaannya pada Ulya.


“Hah, baru tau gue, lo suka kak Fariz,” Ulya mengherankan.


"ya gue pendem aja, berharap di respon, tapi Dyana dateng, nggak tepat banget, padahal aku merasa aku udah mulai deket banget sama kak Fariz.


“Kita harus bilang sama koordinator.” Riska merencanakan sesuatu.


***


Aku menangis di pundak kak Fariz, dia mengelus kepalaku lembut. Aku nyaman, aku udah nggak berpikir kalau sampai ketahuan orang, yang aku tau aku ingin keluar dari kekacauan batinku.


Angin malam menyejukkan, langitpun bertabur bintang, menambah suasana damai setelah pikiranku melambung jauh dan menguras tenaga.


“Kamu diam deh, posisi kaya gitu,” kak Faris beranjak dari duduknya seketika aku angkat kepalaku yang dipundaknya.


“Hah?” aku menoleh kak Fariz. Bingung.


Kak Fariz menggoyang-goyangkan tab nya sambil tersenyum. Aku paham maksud dia. Dia emang suka menggambar, gambaran dia begitu bagus. Terkadang dia romantis, apalagi dalam suasana hatiku yang sedih, dia bisa menenangkanku.


Menit berlalu, gambaran dia selesai. Aku melihat diriku yang dia aplikasikan dengan pena di tabnya, sungguh mirip. Aku terkagum melihatnya. Sesederhana itu aku bahagia.


Malam semakin larut, akupun turun ke kamarku. Hatiku menjadi lebih tenang. Seperti biasa aku bersihkan tubuhku sebelum tidur.


“Gapapa kok, ayunan tadi diluar,”


“Kak Fariz lagi?”


“Nggak kok, cuman aku rindu ayahku aja,”


“Sabar ya yung, semua akan berlalu,” Upil mengusap bahuku.l


“Iya pil, tadi kak Fariz gambar aku, tengok deh, aku seneng!” aku menunjukkan screenan gambar di hp ku.


“Wahhhh sweet banget sehh, jadi iri.” dengan nada suara mengejek.


“Haha, apaan sih, malu tau,” aku tersipu.


“Pinjemin donk kak Fariz ke aku, katanya saling membantu,” Upil ngledekin aku.


"Aku lagi kesepian," lanjut Upil.

__ADS_1


“Haha loe kira barang apa, pinjem-pinjem, bayar donk!”


Kita ketawa bersama. Upil emang ngerti banget gimana harus menghibur aku. Aku bertekad akan menjaga persahabatan ini apapun yang terjadi.


***


Pagi-pagi sekali aku dapat kabar dari koordinatorku, bahwa ada meeting dadakan. Secepat kilat aku bergegas merapikan badan. Karena aku bangun kesiangan setelah semalam tak bisa tidur nyenyak.


"kok nggak bilang dari kemarin sih," batinku mengumpat kesal, aku tak tau materi apa yang harus dimeetingkan.


Ketika aku masuk ke kantor, cuma ada kak Fariz dan koordinatorku. Awalnya aku nggak curiga, karena kak Fariz asistennya, jadi setiap kali meeting selalu ada dia. namun setelah lebih dari sepuluh menit cuma diam, aku heran, karena tidak ada satupun temanku yang datang.


"ada apa ya mbak?" aku tanya sama koordinatorku.


"Semalam kamu dimana setelah tutup toko?"


Deg.. aku kaget dengan pertanyakan itu,


"Semalem aku di balkon mbak," aku tak bisa berbohong padanya.


"Kalian berdua pacaran ya?" koordinatorku bertanya tegas.


Aku masih diam, hingga kak Fariz bersuara.


"Iya mbak," kak Fariz mengiyakan. Dan itu artinya kita harus rela menerima konsekuensi bahwa salah satu dari kita harus dipindahkan.


Aku cuma menunduk nggak bisa omong apa-apa lagi. Siapa yang memberi tahu koordinatorku, aku menduga-duga. Semalam setauku nggak ada orang disekitarku. Aku berusaha mengingat.


Tak lama aku ingat bahwa semalam, aku masuk kamar bersamaan dengan Ulya. kita berpapasan di gerbang. Aku berpikir, pasti ini ulah Ulya. Cuma dia yang diluar selain aku. Cuma dia yang kelihatan banget nggak suka sama aku.


Sejak koordinatorku menjadikanku orang kepercayaannya, dia mulai nggak suka sama aku. Aku melihat jelas gelagat dia yang ingin sekali menjadi bendahara dan berusaha menjatuhkanku.


Padahal aku tidak menginginkan posisi itu, uang bersifat sensitif menurutku. Aku pernah menolak, namun ini suruhan Umi langsung. Sebab aku telah bekerja disini, aku harus mengikuti peraturan, jika aku menolak aku nggak enak sama Umi yang langsung menunjukku. Bukankah ini juga menunjukkan bahwa bagusnya kinerjaku. Makanya aku terima juga pada akhirnya tugas itu.


"Kalian tau kan kalau pacaran konsekuensinya apa?"


Aku dan kak Fariz membisu. Kita hanya menunduk. Tak berani menatap matanya.


"Mulai besok, kamu Fariz, kamu pindah ke toko pusat,"


Akhirnya hal yang aku takutkan terjadi, kita ketahuan. Ini resiko yang harus diterima. Aku juga salah dikeadaan ini. Aku dan Kak Fariz telah melanggar peraturan.

__ADS_1


Aku dan kak Fariz meninggalkan ruangan dengan hampa.


"Yang sabar ya untuk kita," kak Fariz menenangkan. Aku hanya menunduk kembali ke tempat kerjaku.


__ADS_2