Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Kembali Bekerja


__ADS_3

Sudah hampir lima hari aku tak bekerja. Koordinatorku selalu saja menanyakanku kapan kembali. Karena bulan Ramadhan, seharusnya aku tidak diperkenankan cuti. Toko sangat ramai dan butuh tambahan tenaga untuk mengurusinya. Namun pengecualian untukku sebab sakit.


Sore itu aku menyuruh ibuku mengantarkanku ke toko pusat. Jaraknya mungkin hanya tiga puluh menit. Aku berencana untuk ikut mobil barang yang keesokan harinya akan mengantarkan pesanan ke kota Blitar.


Tak banyak yang berubah dari toko pusat meski bulan selalu saja berganti. Aktivitas yang sibuk setiap hari sudah menjadi hal biasa. Nofia yang masih saja menyebalkan juga menjadi pemandangan tak menyedapkan hati di mata anak baru dan beberapa senior yang lain. Biasanya setiap bulan aku cuti, aku akan mampir kesini, namun tiga bulan terakhir ini aku nggak sempat.


"Dyana lama nggak kesini," sapa Umi yang melihatku di depan pintu rumah utama.


Aku berjalan memasuki ruang tamu lalu menembus ruang keluarga. Umi sedang berkumpul dengan anak dan cucu pertama laki-laki yang sangat ia banggakan. Lantas aku menyalami semuanya. Setelah sedikit berbincang, aku pamit ke ruang atas dimana asrama karyawan berada.


"Hai," aku sapa anak-anak yang sedang beristirahat. Mereka menyambutku dengan senyuman. Rencananya aku akan menginap malam ini dan besok pagi ikut ke Blitar bersama pak Rifai.


Banyak anak baru juga disini. Setelah berbincang dan berkenalan dengan beberapa nama baru. Aku mengenal satu nama. Rina, yang ternyata dia adalah keponakan Ulya.


"Rina," seseorang menyodorkan tangannya.


"Dyana," aku menyambutnya dengan senyuman juga.


"Kamu dari cabang mana kak?" Rina ingin tahu.


"Dari Blitar, kemarin aku sakit jadi cuti deh," seraya memberi penjelasan pada Rina, Nofia memasuki kamar. Semua anak terdiam menunduk. Seolah semua takut akan Nofia.


"Cihh .. masih saja dia orang yang menyebalkan disini." aku membatin.


"Cepet turun makan, setelah itu pergi ke gudang timur, ada barang baru datang." Nofia memerintah tegas, lalu ia menuruni tangga. Ia juga menatapku seolah aku juga harus menuruti perintahnya.


Dia nampak sekali tidak menyukaiku. Padahal aku tidak salah disini. Kalau Fajar tak menyukainya kan juga bukan salahku. Salahkan saja dirimu sendiri yang tidak menarik dimata Fajar, sebab sifatmu itu yang suka mendoktrin orang. Hufft.


Semua tergesa-gesa ingin secepat kilat menuruni tangga. Mereka takut pada Nofia, bukan takut sih, mungkin lebih ingin menghindari percekcokan sebab tau jika Nofia pandai mencari muka dihadapan Umi.


"Kak turun yuk," Rina mengajakku. Sepanjang koridor dia banyak mengajakku bercerita. Ternyata dia orang yang asyik, beda dengan Ulya yang tidak menyukaiku.


"Aku doain deh, mudah-mudahan kamu cepet dipindah ke Blitar, nanti biar bisa ketemu aku," aku menepuk pundak Rina.

__ADS_1


"Aamiin kak, disini bete banget sama kak Nofia." Rina mengeluh.


"Ya udah, sabar dulu, yuk temen-temen dah nungguin," aku menggandeng tangannya menuju dapur umum.


Rasanya sudah lama tidak merasakan masakan Mak Ni, panggilanku pada pemasak yang sudah bertahun-tahun bekerja disini. Suasana dapur umum selalunya menyenangkan, namun karena Nofia berada diantara kami jadi membosankan.


Semua diam dan fokus pada makanannya, biasanya dulu aku dengan beberapa teman yang lain selalu saja bercanda dan bercengkrama. Aku mengambil sambal kangkung kesukaanku dan ayam goreng.


"Wah, peka banget nih mak, masak sambal kangkung kesukaanku, kebetulan pas aku nginep,"


"Tadi Uje minta dimasakin itu," Mak Ni menyeringai. Aku jadi teringat, aku pernah bertemu Uje pas rekreasi di Kota Batu.


Langkah kaki berderap dari koridor menuju dapur. Aku menoleh sebab mendengarnya. Dan mataku menemukan Uje yang semakin mendekat. Dari jauh dia tersenyum padaku.


"Baru diomongin udah disini orangnya, panjang umur banget," Mak Ni menggoda Uje yang baru sampai di dapur.


"Haha, ngomongin aku kenapa nih," Uje menebak-nebak seraya memandangku jail.


"Itu loh, Dyana bilang tumben masak sambal kangkung, Mak kasih tau kalau kamu suka juga makan itu," Mak Ni menjelaskan.


"Iya, apalagi masakan Mak, sedeeep.." aku mengacungkan jempol.


Nofia yang melihatku bercanda dengan ceria berusaha merusak suasana.


"Yang sudah selesai cepat ke gudang timur."


Aku selesaikan makanku dengan santai, aku tak menggubris Nofia. Toh aku disini cuma nginep. Kalau aku mau bantu ya aku lakuin.


"Kamu sama aku aja ke gudang timur, aku makan dulu," Uje menawarkan.


"Boleh juga," aku menengguk minumanku.


Uje mengambil nasinya dan duduk di sebelah mak Ni yang sedang memotong wortel. Aku mencuci piringku dan membantu mak Ni sedikit seraya menunggu Uje.

__ADS_1


Setengah jam berlalu, Uje telah menyuapkan nasi terakhirnya, lalu kita menuju gudang timur.


"mak berangkat ya," Uje berpamitan pada mak Ni sambil mengambil bakwan. Dia emang suka bertingkah.


"Makasih sambal kangkungnya mak," kataku memberi dua ibu jari ke hadapannya.


"Kita naik motor aja ya, biar cepet sampai," Uje menawarkan seraya menduduki jok motor beat merah yang sudah dimodifikasi.


Akupun mengikutinya dan menduduki jok belakang. Sepanjang jalan kita bersenda gurau. Uje ternyata jail banget, dia lajukan motor cepat dan rem mendadak karena lampu hijau telah berubah menjadi merah.


***


Tak jauh dari lampu merah, ada sebuah caffe baru yang sedang opening. Caffe klasik dengan menu kekinian yang instagramable banget. Banyak spot foto yang menarik dan menu yang memanjakan lidah pengunjungnya. Kesan santai terpancar dari dekorasi yang simple namun sedap dipandang mata. Memancarkan jiwa muda, tempat yang recommended untuk hang out.


Sekedar minum milk tea atau kopi seraya bercengkrama dengan sahabat maupun keluarga, kaffe ini menjadi salah satu pilihan menyenangkan. Kursi kayu yang berjajar berpadu dengan lukisan-lukisan dan quotes yang di pigora bambu, serta meja yang berbentuk tak beraturan, ada segitiga, ada trapesium, dan beberapa model lain, beda dari biasanya. Kaffe unik yang menjadi terobosan terbaru memadukan seni dan estetika. Makanan dan minuman yang bercita rasa. Sungguh nyaman untuk relaksasi pikiran dan mengenyangkan perut yang kelaparan. Konsep yang benar-benar berbeda, ditambah lampu temaram dan lampion yang menyambut hangat. Suasana romantis.


Andi dan Dicko yang mengetahui opening kaffe baru, dengan sigap berencana mencoba menunya. Sore itu jauh-jauh dia mengendarai motornya bersama pacar masing-masing keluar dari kotanya. Double date merayakan weekend.


Andi yang memandang keluar jendela, tak disangka melihat Dyana yang sedang merangkul pinggang Uje karena mau jatuh, keseimbangan tubuhnya tak terkendali sejak motornya berhenti mendadak.


"Eh.. bukannya itu Dyana ya," Andi menepuk punggung Dicko.


"Mana sih?" Dicko celingukan mencari.


"Noh, di sono noh," Andi mengacungkan telunjuknya geram.


"Wah, abadiin nih, semudah itu lupa sama Danial," Dicko mengambil ponselnya dan menyalakan kameranya. Membidik fokus pada pacar sahabatnya itu.


"Mereka udah putus beneran yak?" Andi menggumam bodoh seraya menggaruk kepalanya yang padahal tidak gatal.


"Auk ah," Dicko heran.


"Bukannya Danial mau perjuangin?" begitu pikir Dicko lagi.

__ADS_1


Sebab Andi dan Dicko belum mengetahui kelanjutan hubungan Danial dan Dyana.


__ADS_2