Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Jalan Keluar


__ADS_3

Danial Pov..


Dengan terburu-buru aku melajukan motorku keluar dari pelataran rumah Andi. Aku bergegas semangat mencari pak Ahmad. Aku ingin menanyakan tentang adat yang selama ini hanya ku ketahui sekilas intinya saja. Aku ingin mendapat penjelasan yang konkrit tentang hal ini.


Aku tak mau selalu dibayang-bayangi adat ketika aku ingin menjalin hubungan serius dengan seseorang. Aku tak ingin jika suatu hari nanti, ketika cintaku semakin lama semakin berkembang untuknya, namun harus terpaksa diakhiri begitu saja. Aku tak mau merasakan sakit dan susahnya move on lagi. Aku tak mau orang yang ku cintqi harus menderita lagi, dengan susahnya melupakan.


Tok..tok..


Aku mengetuk pintu rumah pak Ahmad. Berharap yang empunya rumah akan membukakan pintunya. Sebab aku tak sabar untuk membicarakan masalahku. Aku berdiri gusar menunggu, hingga suara handle pintu terdengar. Seorang wanita paruh baya membukakan pintu kayu yang warnanya sudah usang itu.


"Pak Ahmad nya ada Lik," Aku langsung to the point bertanya pada Bulik Rahmi, begitu aku memanggilnya.


"Dia di pantai, ada sosialisasi dari pak kepala desa, terkait acara yang akan dilaksanakan di akhir bulan Ramadhan," Bulik memberi tahu.


"Owh, oke bulik, aku cari kesana saja." Aku bergegas menghidupkan mesin motorku dan memacunya menuju pantai. Hari ini aku memang mengambil cuti kerja. Perasaanku sangat tidak mendukung untuk melakukan aktivitas kerja.


"Begitulah seharusnya, kita bisa membuka pantai ini sampai malam Hari Raya, jadi kita bisa takbir bersama disini, bersyukur memuji Tuhan akan keindahan alam yang tercipta. Bersyukur Tuhan telah memberikan pantai yang terjaga ini menjadi tumpuan rezeki kita,"


Dari jauh aku telah mendengar pidato pak kepala desa yang menggebu-nggebu. Suaranya yang mengeras dengan bantuan mikrofon ditangannya. Kata-katanya yang menghipnotis masyarakat untuk melakukan kebaikan.


"Maka dari itu, kita harus menjaga pantai ini se maksimal mungkin, jangan biarkan kerusakan mencemari alam yang begitu mempesona ini. Sekian terimakasih, assallamuallaikum warrahmatullahi wabarakatuh." Pak kepala desa mengakhiri pidatonya.


Setelah ku parkirkan motorku. Aku berjalan diatas pasir mencari keberadaan pak Ahmad. Alhasil aku melihat dua orang berbaju merah sedang berbincang. Salah satunya pak Ahmad dan aku menghampirinya. Usai acara selesai aku mengajak pak Ahmad duduk di kursi belakang menjauh dari keramaian.


Semilir angin ku rasakan namun tidak menenangkan kegundahan dalam hatiku. Debur ombak menambah kecam dalam gendang telingaku yang tak bisa berhenti mendengar tangisan Dyana kemarin, ketika aku dengan tega merusak pendengarannya dengan kata-kata yang melukai.


"Ada hal yang mau saya tanyakan pak," Aku mulai berbicara serius.


"Tentang apa Le, tumben kamu cari saya," Pak Ahmad penasaran.


"Tentang pernikahan dalam adat jawa pak," Aku membuka topik.

__ADS_1


"Kenapa memangnya, kamu mau menikah, bukankah bapakmu lebih tau?" Pak ahmad heran, sebab ayahku adalah ketua adat di kampung ini, sementara pak Ahmad hanya seorang mudin.


"Belum secepat itu kok pak," aku tersenyum cengengesan.


"Ehmm.. sebenarnya saya ingin menjalin hubungan serius dengan pacar saya, namun bapak melarang," raut wajahku berubah sedih saat menceritakan itu.


"Bapakmu tidak setuju? Apa masalahnya?" pak Ahmad ingin tau lebih jauh.


"Pacarku anak pertama, sementara aku anak ketiga pak, kata Bapak itu Lusan?" Aku ragu-ragu mengucapkan kata Lusan, yang sebenarnya tidak ku ketahui secara mendalam artinya. Pak Ahmad hanya berdehem.


"Begitu ya Le, itu sungguh berat kalau menurut adat," Pak Ahmad menyuarakan pendapatnya.


"Apakah tidak ada solusi?" aku berharap akan ada jalan keluar.


"Le, kamu yang dibesarkan dari keluarga yang menjunjung tinggi adat dan unggah-ungguh kesusilaan suku Jawa. Hidup diantara aturan yang menjadi identitas dimana sebagai satu hal sisi kekayaan budaya Nusantara. Terlalu sulit untuk melepaskan tradisi yang sudah melekat," ujar pak Ahmad menjelaskan panjang lebar.


"Apakah artinya aku benar-benar tidak dapat menikahi dia," aku kecewa.


"apakah itu?" aku penasaran.


"Boleh saja kau menikah sama pacarmu itu, asal ada hari baik manurut hitungan kelahiranmu," Pak Ahmad mencoba menenangkanku yang gusar.


"Hari baik, maksudnya?" aku semakin bingung.


"Kamu harus tahu weton dia apa, nanti kamu harus diruwat juga,"


"Di ruwat?" aku mengerutkan keningku.


"Tradisi di kampung ini untuk anak pertama sepertimu," Pak Ahmad menjelaskan lagi.


"Betapa tidak leluasanya yang dilahirkan sebagai anak pertama" aku membatin.

__ADS_1


"Pacarmu itu, nantinya harus kamu kasih tahu untuk menjalani pingitan selama 40 hari, lalu kamu tak boleh bercampur dulu hingga malam ke tujuh, kamu juga harus terima jika harus menikah diam-diam. Tak boleh saling undang. Tak boleh kasih tahu siapa saja biarkan mereka tahu sendiri sekalipun kakekmu." Pak ahmad melanjutkan bicaranya yang panjang lebar, aku hanya menyimak dalam diam.


"Aku sudah paham, terimakasih ya pak penjelasannya," aku berpamitan melangkah pergi. Setidaknya ada jalan keluar, bukan tidak mungkin untukku untuk menikahinya.


***


Setibanya di rumah, aku rebahkan tubuhku. Aku memikirkan bagaimana cara ayah bisa merestuiku.


"Mungkin jika aku sering membawa Dyana kesini ayah akan luluh," begitu pikirku.


Sudah dua hari aku tak menerima pesan dari Dyana. Tak ku sangka ketika aku menunggu pesan darinya, seperti Tuhan memberkatiku. Hp ku bergetar.


drrtr.. drrtt..


"Dan," begitu Dyana selalu memanggilku. Kita jarang sekali mengatakan sayang atau honey, dan panggilan sayang pada umumnya, yang menurutku juga terkesan alay untuk beberapa hal. Aku menyukai dia yang berbeda dari wanita-wanita yang sebelumnya ku kenal.


Dia yang sebenarnya sangat mandiri namun bisa berubah manja dihadapanku. Dia yang selalu tertawa ngakak di depanku ketika bahagia. Dia yang suka jail dan keterlaluan kalau bercanda. Dia yang menjadi dirinya sendiri, seperti apa dia biasanya, yang tidak perlu menjaga image di hadapan orang lain. Dia yang kalau sedih selalu memendamnya sendiri, namun ku biarkan dia dengan leluasa menangis di bahuku tanpa rasa malu.


Dia, wanita kuat yang tau bagaimana menempatkan diri dimanapun dia berada. Tau bagaimana bersikap ketika berhadapan dengan berbagai tipe manusia. Bisa membuat ku menjadi lelaki paling beruntung karena telah memilikinya. Dan membuatku merasa bangga sebab ia memilihku untuk berbagi kisah kehidupannya.


Membawaku melampaui batas ketidakbisaanku, mengajariku untuk terus tegak ketika kakiku melemah, memandu jalanku ketika aku sudah tidak tau kemana tujuanku. Dia, wanitaku yang sederhana, namun membuatku merasa istimewa.


"Sudah baikkah perasaanmu?" Secepat kilat ku ketik balasan seperti itu. Memastikan dia harus baik-baik saja. Aku senang sekali mendapat sapaan darinya.


"Sudah bisa untuk bicara, aku udah mikirin." begitu kata Dyana. Aku langsung meminta maaf padanya dan berusaha mencari jalan keluarnya untuk hubungan kita.


"Kita belum putuskan?" aku meminta kejelasan perasaannya.


Sebab aku ceroboh tak berpikir panjang, semudah itu aku bilang putus padanya Seharusnya kalau ada masalah, masalahnya yang diselesaikan bukan hubungannya yang diakhiri. Sungguh suatu kebodohan aku bisa menyakitinya. Seseorang yang walaupun belum lama ku mengenalnya, namun membuatku yakin bahwa dialah yang dihadirkan Tuhan untuk mengisi kekosongan hatiku setelah lama menepi. Bahwa dialah yang patut ku perjuangkan untuk saat ini. Dan semoga kelak di kemudian hari semua kebahagiaan akan menghampiri. Semua orang tua akan merestui.


"Aku harap kedepannya kita baik-baik saja ya," harapan dari Dyana yang mudah-mudahan aku adalah orang yang mampu untuk mewujudkannya.

__ADS_1


Akhirnya malam itu aku bisa tidur nyenyak setelah hubunganku kembali baik. Aku memimpikannya dalam keterjagaanku.


__ADS_2