
Aku telah lama merenungkan, memang salah menghindari masalah. Namun aku nggak bisa terus menetap disini. Setiap kenangan yang terukir selalu saja menempati pikiranku. Mungkin, dalam bayanganku, ketika aku sibuk, keluar dari zona nyaman, pergi sejauh mungkin, melakukan hal baru, aku akan bisa melupakannya. Meski aku belum tau pasti, bisa tidak mengusir dia dari hatiku. Aku akan berusaha move on darinya dan segala tentangnya. Meski sangat sulit.
"Buk, ada sesuatu yang mau aku omongin," aku bersandar di pangkuan ibuku.
"Kenapa lagi, setiap pulang cuti mesti galau begini," ibuku mengelus kepalaku.
"Aku mau keluar negeri," aku langsung mengatakannya tanpa basa-basi.
"Kamu itu bercanda ya, luar negeri kemana, kamu aja nama tetangga nggak hafal, jangan aneh-aneh." ibuku langsung mengomel panjang.
"Buk aku beneran," aku memohon izin pada ibuku.
"Memang kenapa kamu mau ke luar negeri, kamu nggak kerjapun ibu biayai," Ibuku menggenggam tanganku. Mengingat ayah kandungku tidak peduli, jangankan menafkahi, sekedar berkabar saja sudah jarang.
"Buk, kamu tau kan Cintya anaknya Budhe yayuk," aku mulai mencari alasan.
"Iya kenapa dia?" ibuku mulai serius.
"Dia kerja di Brunei buk, di toko juga,"
"Terus kamu mau ikut dia," ibuku bertanya.
"Hehe.. belum tau sih buk, masih nyari informasi," aku nyengir bingung.
"Memangnya kenapa kok kepikiran mau ke luar negeri, kerjamu sekarang udah enak, gaji cukup, banyak temen," ibuku mengingatkanku.
"Hmm.. nggak mungkin kan aku bilang sama ibu kalau gara-gara aku putus sama Danial, kalau gara-gara aku pengen kabur dari keadaan ini, gara-gara aku belum siap sepenuhnya merelakannya," batinku berbicara sendiri.
"Pengen ikut temenku aja buk," aku asal menjawab.
"Itu Kak Zul di Brunei, kerja di restoran, Si Nani di Malaysia," Aku melanjutkan bicaraku.
__ADS_1
"Itu si Wina sekarang di Hongkong juga loh buk," aku memberitahu ibuku tentang sahabatku itu.
"Wina yang selalu kamu ceritain itu, yang tiba-tiba resign?" ibuku sudah paham dan aku mengangguk.
"Mungkin aku mau proses ke Hongkong aja deh buk," aku berharap ibuku mengizinkan.
"Cerita ke ibuk kenapa kamu mau ke luar negeri?" ibuku mendesakku untuk jujur.
"Aku butuh uang buk," Aku mencari alasan.
"Apa gajimu nggak cukup selama ini?" Ibuku keheranan.
"Cukup kok buk, cuman.. ya ingin nyari pengalaman aja buk, keluar dari zona nyaman, nyari hal baru, ketemu orang baru," aku meyakinkan ibuku.
"Kayanya luar negeri itu asyik," candaku.
Salah satu cara move on adalah menyibukkan diri dan menyingkirkan segala tentangnya. Dan hal ini yang tengah aku lakukan, meski nggak tau kenapa ada rencana mau ke luar negeri. Padahal cepat atau lambat aku harus menghadapi ini. Mungkin jika aku pergi aku akan sedikit lupa tentangnya, tapi suatu saat aku juga harus kembali pulang. Akankah aku sudah siap dengan semuanya? Entahlah.
"Na, ibu kasih tau ya, jadi tkw itu nggak mudah, nggak segampang kelihatannya." ibuku menasehatiku.
"Iya buk, aku tau, tapi aku mohon izinkan aku. aku telah bertekad." ucapku meyakinkan ibuku lagi.
"Sudah kamu istirahat saja, ibu mau panasin makanan buat ayahmu, nanti sebentar lagi dia pulang," ibuku berlalu pergi ke dapur.
Pokoknya aku harus ke luar negeri," aku menggumam sendiri.
Ibuku tengah sibuk menyiapkan santapan malam. Aku membantunya membawa piring berisi lauk ke meja makan. Ayah sudah stand by di kursi tengah, sementara aku dan adik di samping kiri. Ibu yang di kanan dengan lihai mengambil lauk untuk ayah dan anak-anaknya.
"Makan yang banyak, ini tambah lagi telurnya," suruh ibuku padaku yang jarang sekali ikut makan bersama. Sebab pulang hanya sebulan sekali, terkadang itupun aku sudah ketiduran karena kelelahan di perjalanan. Aku yang merantau jauh dari keluarga, banyak kehilangan moment kebersamaan seperti ini.
"Buk, boleh ya," aku membuka obrolan yang sempat tertunda tadi.
__ADS_1
"Yah, anakmu ini katanya mau ke luar negeri, orang tidur aja masih melukin itu nemo, kok mau pergi jauh," ibuku mengomel karena khawatir.
"Buk, yakin deh sama aku, aku bakal hati-hati, nyari uang banyak, nabung, traveling, pokoknya bakal bahagiain ibuk deh," aku menutupi alasanku sebenarnya.
Aku hanya ingin menenangkan hatiku untuk sementara. Memberi jeda terhadap orang-orang yang ku kenal. Aku ingin sendiri, kembali menata hati yang telah koyak oleh cinta yang tak direstui. Masa ini sungguh berat ku lalui, sebab dia menjadi cinta pertamaku sejauh ini.
"Ibu tanyakan teman ibu dulu, biasanya dia membantu proses pengurusan kerja ke luar negeri." Ibu mulai mengiyakan namun nampak mata berkaca-kaca yang disilaukan oleh cahaya lampu, hatiku jadi tersentuh, serasa tidak tega.
Apakah aku egois? Aku hanya ingin menjauh sebentar saja, rasanya disini setiap hari yang ku lewati hanya berpikir untuk bertemu dengannya. Mungkin aku masih bisa menahan untuk tidak menjumpainya, mengingat mudah sekali akses untuk menemukannya. Namun aku takut jika tidak sanggup menahannya. Jika aku di luar negeri sudah tidak ada alasan untuk bertemu karena aku terikat kontrak, begitu pikirku.
"Ayah nggak melarang kamu kerja jauh, tapi pikirin baik-baik, kamu ke negara orang, nggak kenal siapa-siapa, kalau terjadi apa-apa gimana?" Ayah tiriku mengkhawatirkanku. Sementara aku enggan memberi tahu ayah kandungku tentang rencanaku ini. Rasanya yang dulunya sedekat nadi sekarang menjadi sejauh matahari.
"Aku yakin kok yah, aku bisa, aku udah nekad," aku menenangkan kedua orang tuaku.
***
Pagi menjelang, matahari bersinar. Sayup-sayup angin menyusup tirai kamarku. Mataku yang sembab susah sekali untuk terbuka. Ketika semalam diam-diam aku menangis di atas kasurku. Aku yang terlihat santai, ceria dan selalu baik-baik saja dihadapan orang, sebenarnya sangat rapuh. Aku berusaha menutupi kesedihanku, aku simpan sendiri rasaku. Aku rindu Danial. Susah sekali membuangnya dari hidupku.
Apa cuma aku yang merasa seperti ini? Mungkinkah Danial juga merasa kehilangan? Apa cuma aku yang merasa rindu? Ataukah Danial juga menginginkan pertemuan? Ah .. adanya hanya pertanyaan dan kehaluan yang memenuhi otakku.
Usai mandi dan sarapan aku rebahan di sofa. Main sosial media yang sebenarnya nggak tau juga lihat apa. Saat aku tengah asyik menonton performnya BTs di youtube, suara motor terdengar. Aku bangkit dan melihat dari kaca jendela. Teman ibuku datang. Ibu menyuruhnya masuk. Tak lama obrolan seriuspun dimulai setelah secangkir teh dihidangkan.
"Jadi kamu beneran mau ke luar negeri?" Tanya Bu Mamik kepadaku.
"Iya bu," aku jawab sambil tersenyum.
"Tujuan kamu kemana?" Dia mewawancaraiku.
"Hongkong sih kalau bisa," Karena kebanyakan temanku disana.
"Prosesnya agak lama, kamu harus belajar bahasa di Agensi, minimal 3 bulan." Bu mamik menjelaskan.
__ADS_1
"Nggak masalah bu, asal bisa berangkat saja," Lalu aku menyerahkan persyaratan untuk mendaftar.
Aku benar-benar nekad dengan niatku. Aku hanya berdoa semoga ini jalan yang terbaik yang bisa ku pilih.