Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Pindah Divisi


__ADS_3

Semua CPMI disuruh berkumpul di aula. Pemberitaan Tv yang ku dengar kemarin ternyata menjadi dampak untuk kita. Kita semua terancam gagal terbang. Raut wajah sedih terlihat di semua orang yang duduk saling berdampingan.


Banyak alasan mereka ingin segera berangkat ke negeri orang. Untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarganya yang terdesak dan ada juga yang memiliki alasan lain seperti aku yang ingin menenangkan diri.


"Kin, gimana nih? Masa kita harus nunggu lebih lama lagi?" aku mengeluh pada Kinasih yang juga kecewa.


"Semoga ada jalan keluar," harap Kinasih cemas.


"Sebenarnya pas interview kemarin ada sih majikan yang mau ngambil aku, tapi belum aku iyakan. Nah sekarang malah terancam gagal terbang," akupun mengeluh.


"Coba tanya sama Bu Tutik dulu, gimana baiknya," Kinasih menggandeng tanganku ke kantor depan.


"Semua penerbangan masih dihentikan, entah sampai kapan belum ada kepastian," Ujar Bu Tutik.


"Apa ada jalan lain bu, soalnya saya ingin segera berangkat," jawabku meminta kepastian.


"Bagaimana kalau pindah divisi saja," sela kak Napi. Salah satu staff yang mengantarku untuk medikal check up kemarin.


"Maksudnya kak?" aku belum paham begitu juga Kinasih.


"Pindah negara tujuan," Lalu kak Napi menjelaskan detailnya.


Setelah beberapa hari berlalu, aku sudah memikirkannya. Aku berencana pindah divisi untuk mempercepat keberangkatanku. Begitu juga Kinasih. Kita berencana ke Singapura.


"Kamu mau job apa Na?" Kinasih bertanya padaku.


"Apa aja deh yang penting cepet pergi," aku sendiri juga tak paham.


"Aku saranin ya, mending kamu ambil job jaga anak aja, nanti kan kalau kamu nikah kamu udah belajar, ya walaupun naluri keibuan itu akan terlahir dengan sendirinya." nada suara Kinasih sangat lembut.


Tersirat jelas dia merindukan kehadiran bayi di dalam rumah tangganya. Namun takdir berkata lain. Kandungannya bermasalah, mirisnya lagi mertuanya menyuruhnya bercerai. Aku ikut sedih mendengarnya. Bukankah semua ada jalan keluarnya? Adopsi anakkan bisa, nggak harus bercerai. Ya tapi aku nggak tau sih gimana pendapat mereka. Mungkin berpisah jalan terbaiknya? Ah, aku jadi ingat, aku putus dengan Danial yang seperti ini saja membuatku uring-uringan. Nggak nyangka kisah Kinasih lebih pedih endingnya.


"Iya juga ya, lagian aku juga suka sama anak kecil, mereka lucu dan menghibur, walau terkadang bisa bikin panas ubun-ubun," aku tertawa renyah untuk mengusir kesunyian.


"Bener tuh, kalau anak kecil kita yang ngatur, kalau jaga oma, kamu yang diatur," Kinasih tersenyum.


"Lagian ya, kalau aku pikir-pikir lagi, aku nggak mau jaga oma, karena aku ingin orang tua yang pertama ku jaga adalah orang tuaku. Berapa besarpun gajinya, aku nggak mau." aku menyuarakan pendapatku.


"Kamu bijak, kelak kamu akan mendapat pengganti yang lebih baik, yang memperlakukanmu dengan tulus, dan keluarganya akan menerimamu dengan sayang," Kinasih mengelus punggungku.

__ADS_1


Walau kita seumuran, tapi dia nampak lebih dewasa dariku. Mungkin karena dia sudah pernah menikah dan lebih banyak pengalaman dariku. Dia dengan senang hati menasehatiku yang masih labil ini.


"Jangan galau lagi, cowok banyak diluaran sana, move on!" ucap Kinasih sambil menyenggol lenganku. Kita tertawa bersama hingga beberapa teman yang duduk di sekitarku menoleh dan bingung. Lalu kita berjalan kembali ke asrama, menghiraukan tatapan-tatapan heran memandangi kita.


***


"Nanti kamu bikin paspor ya, berangkat jam 7 pagi." ucap Kak Napi memperingatkan. Aku hanya mengangguk.


Usai bersiap aku menaiki mobil dengan beberapa rekan yang lain. Aku duduk di pinggir jendela, mencari ketenangan. Beberapa dokumen yang lain sudah selesai dipersiapkan. Tinggal selangkah lagi aku benar-benar akan meninggalkan semuanya, termasuk kekecewaan.


Jalanan berliku membuatku de javu. Pepohonan hijau yang menjulang mengingatkanku dengan Danial. Dulu kita pernah melewati jalan seperti ini ketika berkunjung ke Bukit Awan, sebuah tempat wisata baru yang menyajikan pemandangan dari ketinggian dengan seduhan kopi hangat yang menguar. Rasanya aku seolah kembali ke momen itu.


Flash Back on,


"Pegangan," Danial menarik salah satu tanganku


"Ih, apaan sih, nggak mau," aku merajuk.


"Aku gas nih," Danial menambah kecepatannya sedikit.


"Aww, kamu nih," aku dengan refleks merangkulkan kedua tanganku di pinggangnya.


Danial sesekali mengelus tanganku sambil melajukan motornya. Menembus tikungan dan tanjakan dengan lihainya. Suasana ini romantis sekali menurutku. Aku yang jarang kencan dengan mantanku sebelumnya, semenjak bersama Danial selalu mendapati hal baru. Dia suka membawaku traveling ke tempat yang belum ku kunjungi sebelumnya.


Setelah kelelahan berderu dengan mesin motor, kita sampai di Bukit Awan. Lumayan ramai orang ketika waktu menjelang malam. Sebab tempat ini sangat indah untuk bersantai. Tempat yang cocok untuk menghabiskan malam dengan suasana kembali ke alam. Kita duduk di gazebo dengan lampu temaram. Memandang pemandangan di bawah sana yang tenang.


Langit berbintang seolah mendukung malam ini lebih berkesan. Ada perform musik dari penyanyi lokal sambil memetik gitar. Beberapa hidangan yang dipesanpun sudah tertata di meja.


"Kamu yang nyiapin semua ini?" aku terpukau. Tidak menyangka Danial menyiapkan candle light dinner romantis di atas bukit.


"Kamu suka?" Danial mengeluarkan pemantik api dan menyalakan lilin satu per satu.


Entah perasaan apa yang pantas untuk mewakili ini. Hatiku hanya merasa bahagia seolah semua ini tak pernah ingin berakhir.


"Makasih ya, aku nggak tau mau ngomong apa," aku bingung mengutarakan perasaanku.


"Kamu mau dengar satu cerita," Danial memegang tanganku. Aku antusias, mengangguk lembut mengisyaratkannya untuk lekas bercerita.


"Ibaratkan lilin ini adalah damai," Danial menunjuk satu lilin di depanku.

__ADS_1


"Namun hari-hari ini tampaknya sudah susah bagiku untuk tetap dapat menyala," Danial meniupnya. Matilah lilin pertama.


"Aku adalah iman, tapi tampaknya hari-hari ini aku sudah jarang dibutuhkan, dan sering kali dilupakan." Danial mengangkat lilin kedua dan meniupnya. Matilah lilin kedua.


"Aku adalah cinta, tapi sering kali aku dilupakan dan tidak dimengerti, oleh sebab itu aku nggak sanggup lagi," Danial meniup lagi lilin ketiga.


"Kenapa kamu mematikan ketiganya, harusnya mereka menyala sampai akhir," aku bertanya heran.


"Tenanglah, masih tersisa satu lilin," Danial tersenyum menyiratkan sesuatu.


"Aku adalah harapan, selama aku masih menyala aku bisa menghidupkan lilin lainnya." Danial menyodorkan lilin terakhir yang masih menyala kepadaku. Dia menyuruhku menggunakan lilin itu untuk menyalakan kembali ketiga lilin itu. Aku hanya menurutinya.


"Kamu tau nggak sih, seburuk apapun situasi dan kondisimu sekarang, selama masih ada harapan, cinta, damai dan iman akan tetap dapat menyala terang dalam hidup kita, maka jangan pernah mematikan api harapanmu, sebab jika harapanmu mati, habislah semua." Danial memegang tanganku, mengucap tulus dari hatinya. Aku terharu mendengar filosofi yang ia kisahkan. Tidak ku sangka dia bisa sangat lembut dan peka seperti ini.


"Kamu harus tetap semangat, apapun yang kamu hadapi sekarang, percayalah suatu hari nanti akan ada kebahagiaan yang hanya untukmu, tidak terbagi dengan siapapun," Danial menguatkan aku, sebab ia tau aku sangat rapuh, terlebih menghadapi masalah keluargaku.


"Aku tersentuh," hanya itu yang mampu ku ungkapkan.


"Ya sudah, ayok makan keburu dingin." ajak Danial


Di meja sudah tersedia berbagai menu favoritku. Mulai dari appetizer ada salad buah dan coctail. Main course berupa kepiting masak merah, udang crispy, karena aku suka seafood dan sepiring spaghetty. Untuk dessert nya Danial memesankan sundae ice cream dan apple pie.


Danial menyuapi buah ke dalam mulutku. Aku sungguh menikmati malam ini. Sambil bercengkrama ringan membahas hal-hal yang menyenangkan. Lalu menyantap hidangan utama.


"Sini aku kupasin," Danial meraih kepiting dari tanganku. Dia membantuku mengais dagingnya dan menyuapiku. Sesekali dia menyeka mulutku dengan tissue. Benar-benar membuatku diambang kebaperan.


Setelah selesai dengan hidangan utama. Rasa ice cream coklat memanjakan lidahku. Ditambah topping choco cips benar-benar lumer.


"Aaa.." aku menyuapi Danial ice cream. Namun dengan kejailannya, dia malah menoel hidungku dengan jari yang penuh ice cream.


"Ihh, rese banget sih," aku seolah cemberut. Dan Danial malah mengeluarkan ponsel dari sakunya dan memotretku.


"Hihh, kamu nih," Hingga akhirnya aku malah ikut-ikutan selfie. Mengabadikan momen yang kelak akan terkenang suatu hari.


Flash back off,


"Hah, benar Dan, semua itu tinggal kenangan yang tertinggal dalam bahasa asing." Tanpa sadar air mataku meleleh dengan sendirinya. Mobil masih melaju menyusuri padatnya ibu kota hingga akhirnya sudah terparkir di kantor imigrasi. Aku menyeka air mataku.


Aku turun dari mobil dan memperhatikan penjelasan Kak Napi tentang prosedur pembuatan paspor. Aku menunggu giliranku sebab nomor antrianku masih lama. Usai berjam-jam cuma duduk, akhirnya tiba giliranku dan semua proses berjalan lancar. Tinggal menunggu paspornya selesai di cetak dan di kirimkan ke agensi.

__ADS_1


__ADS_2