
Cahaya mentari menembus tralis-tralis coklat yang terbuat dari kayu, membuatku terbangun dari tidur lelapku. Aku buka mata, berusaha tersadar dari keterjagaanku, menyudahi mimpi-mimpiku. Aku teringat sesuatu, bayangan kak Fariz selalu merajaiku.
Sore ini, aku telah berjanji menemaninya ke pusara kak Ari. Tanpa sepengetahuannya, aku mengajak kak Lily. Aku harus berdamai dengan perasaanku. Bahwa aku tidak bisa memaksakan keinginanku. Aku yang menyuruh kak Lily mundur, sekarang malah aku sendiri yang dicampakkan. Siapakah yang jahat ? Aku hanya ingin memperjuangkan cintaku. Namun Kak Fariz yang menyatakan ingin mencobanya denganku, malah menyerah terlebih dulu. Aku sungguh tak paham alur cinta ini. Apakah aku sedang dipermainkan takdir?
Jika kak Ari saja, mau mengorbankan kebahagiaannya untuk kak Lily, mungkin aku juga bisa demikian. Sebab jika aku memaksakan tidak akan ada hati yang bahagia. Meski sulit, meski sakit, aku harus merelakannya, semua tidak bisa dipaksa, bolehkah aku egois, ingin sekali rasanya aku mengikatnya untuk diriku dan untuk cintaku.
Apa dayaku, cinta keduanya begitu kuat aku yang hanya orang asing, sejejak saja datang dalam hidupnya, tidak bisa merubah apa-apa karena belum lama mengisi hari-harinya. Aku hanya hadir untuk menyembuhkan lukanya. Di saat dia benar-benar terkapar akan rasa bersalah pada sahabatnya. Dia menjadikanku pelampiasan saja. Aku yang tersakiti disini namun dia tak pernah mengerti sampai segitunya. Lalu aku hanya bisa menerima sebab dia telah membuatku jatuh cinta. Aku, ikhlas. Akan cintaku untuknya.
Aku percaya sesuatu yang hilang akan digantikan. Allah Maha Tahu segalanya, Allah lebih tahu akan semuanya, Allah tahu yang terbaik untukku. Terlihat kak Fariz jahat, terlepas dari semua itu, dia orang yang pernah membuatku berasa terbang, memberikan kenyamanan selayaknya rumah. Tempat dimana aku bisa mengeluh akan hidupku. Aku begitu mencintainya sebab itu aku tak mampu membencinya.
“Kak besok ikut aku ke pusara kak Ari ya,” aku chat kak Lily via whatsapp.
“Nggak Cuma aku, kak Fariz juga, ada hal yang harus diluruskan diantara kita.”
“Maksudmu? jangan mengungkit luka lama,” kak Lily membalasku setelah tujuh menit berlalu.
“Bukan begitu, kita harus bertatap muka untuk memperjelas semuanya.”
Akhirnya kak Lily menyetujuinya. Kita sepakat bertemu di toko bunga, sekalian membeli bunga untuk kak Ari.
Ketika aku dan kak Fariz sampai, kak Lily juga tengah menanti kita. Kak Fariz terperanjat melihat kak Lily.
__ADS_1
“Nggak papa, aku yang nyuruh kak Lily ikut,” aku menjelaskan.
Dalam hatiku penuh dengan kecewa yang tertahan. Aku berusaha menyatukan orang yang ku cintai dengan orang yang dia cintai. Ini bentuk cintaku untuknya meski luka dan kecewa. Mungkin ini yang dinamakan aku bahagia melihat orang yang ku kasihi bahagia juga.
Kami berjalan menuju pusara, jaraknya tak jauh dari toko bunga, sekalian kita titip motor di toko bunga. Keheningan, tak ada satupun yang memulai pembicaraan. Kita jalan masing-masing. Berkutat dengan bayangan dalam pikiran. Hingga pusara yang mulai ditumbuhi rerumputan nampak di depan kami.
“Ar, maafin gue, gue nggak bisa nahan lagi. Perasaanku terhadap Lily nggak bisa ku bendung lagi. Salahkah aku seperti ini, aku mohon restui kami,” Kak Fariz bersuara lirih.
Kak Faris mengusap nisan pelan-pelan. Nisan bertuliskan Ari Chandra Mahendra, yang mulai usang tertutup debu, membawa cerita pilu. Aku tak kuasa menahan air mataku. Bagaimana persahabatan mereka dulu aku tak tahu. Hanya beberapa kisah saja yang ku tahu, selebihnya aku hanya berusaha paham.
Kak Lily juga menangis, dia nggak sanggup melihat kenyataan. Bahwa cintanya akan sesakit ini juga. Dia mencintai kak Fariz, namun rasa bersalahnya sama besarnya.
“Maafkan aku juga Dyana,” kak Lily mengusap punggungku.
Aku berusaha tersenyum dengan deraian air mata. Aku menyatukan tangan Kak Fariz dan Kak Lily.
“Mungkin ini bentuk dari rasa cintaku untukmu kak, nggak selalu kan cinta harus sama-sama. Kalau cintamu bisa bahagia, meski bukan bersamaku, aku juga tenang. Kalaupun ku paksa, aku juga akan semakin terluka.” Aku berusaha bijak menghadapi diriku sendiri yang sebenarnya susah payah berpura-pura tegar untuk saat ini. Aku berupaya untuk bersabar akan takdir ini. Mungkin ini yang dinamakan cinta nggak bisa dipaksa. Cinta nggak tau mau ditujukan pada siapa, mau dimana ia ingin berlabuh, di waktu kapan ia ingin singgah, dan denganku cinta memilih hadir pada saat yang tak tepat dan kondisi yang salah. Sedari awal memang dia bukan untukku.
***
Akhirnya aku suruh kak Fariz mengantar kak Lily pulang. Aku mengalah. Aku naik bus, pulang ke rumah. Aku tak ingin kembali ke asrama. Aku meminta cuti pada koordinatorku.
__ADS_1
Ku pandang jauh keluar jendela, gelap senyap hanya beberapa lampu jalan yang menyala. Kendaraan tak ramai juga. Penumpang bus hanya beberapa. Aku memikirkan banyak hal. Lewat tengah malam aku baru sampai di terminal kotaku. Aku suruh temanku menjemputku.
“Pe, jemput aku di terminal.” Aku chat temanku.
Dia teman semasa kecilku. Dia selalu ada untukku. Dari TK kita teman sekelas, hingga harus pisah pas secondary school. Dia memilih sekolah berbasis agama, dan aku di terima di sekolah formal. Hingga kita sama-sama mendapat pekerjaan, setelah lulus SMA kita tetap menjalin komunikasi. Walau aku kerja di beda kota, dia kadang menyempatkan mengunjungiku. Jika aku cuti dia selalu main ke rumahku. Dia selalu menyempatkan datang walau hanya sekedar membawa makanan.
Aku menunggunya di sebuah kedai kopi dekat terminal, hingga akhirnya sebuah motor beat full modifikasi berhenti di depan kedai. Aku yang melihatnya langsung keluar.
“Dasar kecot, lama banget, ngantuk nih gue,” aku menunggunya dari jarum panjang di angka 4 hingga berhenti di angka 11.
“Ya maaf, tadi aku lagi ngepos sama anak-anak.” KDP membela diri.
KDP adalah orang yang aktif di organisasi. Selain dia punya club motor yang biasanya touring ke luar kota, dia juga relawan di IEA, Indonesian Escorting Ambulance. Dia adalah pribadi yang friendly. Makanya aku sama dia klop banget. Dia selalu tau cara untuk menghiburku.
Malam itu aku terhanyut dalam keheningan. Pikiranku yang tak kunjung reda sangat mengganggu. Jalanan sepi karena sudah lewat pukul 12. Hanya beberapa kendaraan saja yang melaju cepat. Suasana hatiku sungguh kacau. KDP menghentikan motornya, aku telah sampai pada rumah, yang sebenarnya aku tak ingin singgahi juga. Aku kurang bisa menemukan kenyamanan dalam rumahku sendiri. Mungkin keadaan yang tak harmonis menjadi pemicunya.
***
“Mungkin kalau kak Ari masih hidup, dia akan melakukan hal yang sama denganku, mengalah untuk cinta.” Aku bergumam sendirian.
Hingga waktu subuh aku belum bisa memejamkan mataku. Suara adzan bergema merdu. Aku ambil air wudhu, ku basuh wajahku. Aku ambil mukena dan bergegas ke masjid. Aku menggelar sajadah lalu menunaikan sholat sunnah terlebih dahulu seraya menunggu iqomah. Bukankah sholat sunnah sebelum subuh lebih baik dari dunia dan seisinya. Mungkin ini cara Allah agar aku semakin dekat dengannya. Untuk tak bergantung pada makhluk ciptaannya. Cuma Allah yang akan menolongmu dari kebimbangan dan ketidaknyamanan dihatimu. Aku berdoa, semua akan digantikan dengan yang lebih baik lagi. Aku berdoa kelak menemukan seseorang yang tepat.
__ADS_1